
Setelah sampai didepan gedung utama universitas teknologi ini, aku baru menyadari tempat parkiran kampus hampir semuanya menggunakan mobil mewah, bahkan ada yang baru saja turun dari salah mobil sport itu dengan mengendarai mobilnya sendiri.
"Bagaimana aku bisa beradaptasi, kalau yang ku lihat hampir sebagian dari kalangan atas" Aku berkata lirih, tapi terus berjalan mencari ruang kelasku hari ini.
Kampus yang memiliki luas kurang lebih 200 hektar ini sangat membuat aku kesusahan dalam mencari kelasnya, aku juga belum punya kenalan, sampai aku ingat satu nama. Yacob, aku mencari ponsel ku dalam tas dan ku cari kontaknya.
"Hello" Aku menyapa dulu saat panggilan sudah terhubung.
"Hello, Elis kan, kenapa tidak lewat grab saja kalau mau pesan mobil?" Yacob langsung menebak bahwa aku yang menelepon dan mengira aku mau pesan grab onlinenya.
"Iyah, aku Elis, aku sudah di kampus, apa kau akan kekampus hari ini Yacob? aku butuh bantuan" Aku langsung pada keintinya, karena seperempat jam lagi perkuliahan akan di mulai.
"Aku baru ada jam kuliah nanti sore, Apa yang bisa ku bantu?" Tanyanya.
"Kau tahu gedung kelas bisnis? Sebentar lagi aku mau masuk, tapi aku tidak tahu kelasnya"
"Oh ya, masih di gedung utama lantai 7, kau naiklah menggunakan lift, belok ke kanan, kau akan menemukan nama kelasnya disana" jelasnya.
"Baiklah, terimakasih Yacob"
"You're welcome" Aku langsung mematikan ponselku, beruntung aku berdiri tepat di depan gedung utama, aku langsung naik dengan terburu-buru, menaiki lift bersama mahasiswa lain yang juga mengejar jam kelas seperti ku.
Sampai tiba di lantai 7, aku langsung belok kanan, melihat beberapa deret nama kelas yang ada dan aku menemukan satu nama kelas ku hari ini, aku cepat-cepat berlari menuju kelas, kurang dua kelas lagi yang ku lewati, aku menabrak seseorang sampai kami bersama-sama terjatuh.
"Aaaah" Wanita yang bertabrakan dengan ku menjerit. Aku juga mengaduh karena sikutku terbentur ke lantai.
"Oh my God!" Wanita itu berdiri sambil membersihkan bajunya.
"Sorry, I accidentally" Aku meminta ma'af padanya menggunakan bahasa Inggris karena dia menyebut menggunakan bahasa Inggris, dan aku memang tidak sengaja menabraknya.
"What? You said it accidentally?" Wanita itu membentak ku karena aku mengatakan tidak sengaja.
"Yes, I am sorry, are you oke?" Aku ingin ikut membersihkan bajunya yang terus dibersihkan olehnya dengan tangan, tapi sebelum aku menyentuh bajunya, dia sudah mendorong ku sampai aku terjatuh lagi untuk kedua kalinya ke lantai.
"Your hands are dirty! So don't try to hold my shirt" aku mencerna apa yang dia katakan, kurang lebih dia mengatakan seperti ini "Tangan kamu itu kotor, jadi jangan mencoba memegang baju ku" Aku hanya diam saat dia mengatakan itu kepadaku.
"You okay Shinta?" Tanya salah satu temannya.
"My shirt got dirty" Suaranya benar-benar di buat manja, dia dengan terus membersihkan yang katanya 'bajunya jadi kotor' setelah bertabrakan dengan ku.
Saat aku mau berdiri untuk cepat-cepat menunju kelas ku, wanita yang bernama shinta itu malah menendang ku dengan kuat.
"Aah" Aku sedikit mengaduh, karena dia menendang dengan sepatunya yang bagaikan batu di lenganku.
"It's a punishment that deserves you" katanya 'itu hukuman yang pantas untuk mu'. Aku masih diam, Ingin sekali rasanya membalas tendangan tadi, tapi kelas ku akan masuk kurang dari satu menit lagi, jadi setelah dia pergi bersama teman-temannya, aku juga langsung berdiri dan berlari ke kelas ku. Aku menahan rasa marah di hati.
Setelah Aku sampai kelas, aku melihat seorang laki-laki yang masih muda sudah berdiri didepan mahasiswa yang lain, dia sedang menjelaskan sesuatu.
__ADS_1
"Hello, sorry I'm lite" Aku meminta ma'af karena telat.
"It's okay, sit down" Suaranya sangat menyejukan, membuat aku tenang setelah terkena masalah sebelumnya.
Aku mencari tempat duduk yang kosong, dan masih ada sekitar tiga bangku kosong di belakang. Aku segera menuju kebelakang.
"Where do you come from?" Laki-laki itu bertanya tempat tinggalku setelah aku duduk.
"I am Indonesian" Jawabku.
"Indonesia? kalau begitu kita melanjutkan menggunakan bahasa Melayu saja yah, karena kebanyakan di kelas ini berasal Indonesia, Malaysia, dan negara ini sendiri" katanya kepada semua mahasiswa yang ada.
"Okay" hampir semua mahasiswa menjawab.
"Perkenalkan nama saya Adrian Arlengga, kalian bisa panggil saya Kak Ian, saya berasal dari Australia, tapi karena saya sudah sedikit lama disini jadi saya sudah bisa bahasa Indonesia atau Melayu" Dari penjelasan Kak Ian sudah jelas bahwa dia adalah kakak senior kami.
"Dan seperti yang sudah saya jelaskan diawal, bahwa saya akan menjadi pembimbing kelas ini selama masa orientasi nanti, ada yang ditanyakan?" Tambahnya. Tapi semuanya masih mematung, sampai tiba-tiba ada seorang anak baru masuk mengetuk pintu dengan nafas yang terengah-engah.
"Ma'af, saya telat" Katanya dengan mengangkat satu tangannya.
"Hari saya ma'afkan, lain kali kalau telat lagi, tunggu di luar. Silahkan duduk" Kak Ian tetap mempersilahkan dia duduk.
Dia mencari tempat duduk yang kosong, dan hanya ada dua bangku kosong disampingku, dia langsung menuju kebelakang dan duduk disalah satunya.
"Huh, lelah sekali" Dia berbicara sendiri sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
"Novita, kau bisa panggil aku Ita" kata wanita berkacamata ini setelah menerima uluran tanganku.
"Okay, hanya itu saja dulu, jangan lupa, selalu aktifkan ponsel kalian, kita akan sering-sering berdiskusi digrup dan informasi-informasi yang kalian butuhkan. Saya akhiri selamat siang"
"Selamat siang kak Ian" Para mahasiswa menyapa balik.
Hampir semua mahasiswa yang ada di kelas langsung pergi keluar, tapi tidak dengan Ita, ternyata dia malah tidur setelah mendengarkan informasi dari Ka Ian setengah jam yang lalu.
"Ita, kau baik?" Aku mencoba membangunkan Ita. Tapi dia tidak bangun-bangun. Sampai beberapa kali ku goyangkan badannya dia tetap tidak bangun. Aku berinisiatif mengangkat tubuhnya agar kepalanya terangkat, tapi dia tetap diam.
"Ita bangunlah, kita sudah selesai" aku mengangkat kepalanya, dan aku melihat wajah Ita tidak seperti pertama masuk kelas, aku panik, Ita terlihat sangat pucat.
"Ita, kau baik?" Ita tidak bergeming.
"Tolong! dia pingsan" aku berteriak, meminta tolong pada teman-teman yang masih tinggal di kelas. Meraka langsung datang, seorang laki-laki yang belum ku kenal namanya langsung menggendong Ita keluar kelas. Aku mengikutinya dari belakang.
"Bawa ke klinik kampus" Ada suara entah siapa menyuruh kami ke klinik kampus, laki-laki yang menggendong Ita berlari lebih cepat, melewati lorong-lorong menuju ke lift. Disana sudah banyak orang yang menunggu pintu lift terbuka.
"Ma'af, teman saya pingsan, mohon untuk mendahulukan kami melewati lift ini" Aku memohon dengan panik, untungnya mereka mau mengerti, hanya kami bertiga yang menaiki lift itu. Setelah pintu lift terbuka di lantai dasar kami langsung berlari menuju depan gedung.
"Ma'af kau tahu klinik kampus sebelah mana?" Aku bertanya pada salah satu orang disana. Kami bertiga mahasiswa baru belum tahu tempat-tempat yang ada di universitas ini.
__ADS_1
"What? I don't understand what you say" Dia malah tidak tahu apa yang aku katakan karena aku menggunakan bahasa Indonesia.
"Oh sorry, You know where this famaous clinic is?" Pertanyaan aku ulang menggunakan bahasa Inggris.
"Oh yes, You go straight, then turn left, go straight again, the clinic is next to the existing gazoba ace room"
"Okay, thank you" Kataku setelah mendapat informasi darinya.
"You're welcome" Setelah dia mengatakan itu aku langsung menyuruh laki-laki yang menggendong Ita untuk jalan mengikuti ku.
Informasi orang tadi kurang lebih begini, 'jalan lurus, kemudian belok kiri, jalan lurus lagi, dan klinik kampus ini berada di samping gazebo yang berace'. Dan benar aku membaca tulisan.
"Nanyang technology university clinic, cepalah" aku menyuruh mereka laki-laki itu untuk cepat, dia membawa Ita masuk.
Disana sudah ada dokter, salah satu dari mereka sedang menangani pasien lain.
"Tolong dok, tiba-tiba dia pingsan" laki-laki itu menaruh Ita di kasur pasien.
"Silahkan salah satunya mengisi indentitas pasien" Aku mengikuti perintahnya.
"Silahkan duduk" Aku duduk tepat didepan dokter yang ku tahu dari tanda pengenalnya bernama "Size Yang Li"
"Siapa nama pasien?" Dokter itu mulai bertanya.
"Aku hanya tahu namanya Novita dok" Jawabku yang baru kenalan dengan Ita satu jam yang lalu.
"Kalau umur"
"Kayanya dia sama denganku dok, 18 tahun"
"Alamat?"
"Kami baru kenal dok, jadi saya tidak tahu dimana dia tinggal mana?"
"Hemm, okay, tunggu sebentar yah"
Aku menunggu Ita yang diperiksa oleh dokter yang lain, sedangkan laki-laki yang menggendong Ita aku tidak tahu dia pergi kemana.
Disaat aku sedang menunggu dokter memeriksa Ita, pintu depan klinik terbuka dengan sangat keras, membuat semua orang yang didalam ketakutan.
Aku juga kaget setelah mendengar pintu itu terbuka dengan sangat keras dan membentur dinding, tapi aku tidak ingin melihat apa yang sedang terjadi, karena aku sedang menunggu Ita, dan ada keributan kecil yang ku dengar. Sampai suara dan panggilan yang sangat aku kenal menggelegar di telingaku.
"Rubah kecil!!!!" Suara sang raja singa menggelegar tepat di belakang ku. Aku langsung berdiri dan membalikkan badan ku.
"Reyhan" ?????????????
Next...
__ADS_1