
Tak berbayang, aku seorang Elis Stania Yulianti kini berada di negara kecil tapi memiliki kemajuan yang luar biasa. Singapura adalah negara dengan pusat keuangan terdepan ketiga di dunia, sebuah kota dunia kosmopolitan yang memainkan peran penting dalam dunia perdagangan dan keuangan internasional.
Aku kini berdiri di pelabuhan Singapura, pelabuhan dari lima pelabuhan tersibuk di dunia. Ah ya, aku akan menceritakan kenapa sekarang aku berada di pelabuhan, setelah keluar dari bandara, ternyata aku harus naik bis lagi menuju pelabuhan, kata ayah, rumah ayah dekat dengan pelabuhan, dan aku disuruh menunggu disana.
Setelah sampai di pelabuhan, aku hanya duduk di bangku ruang tunggu, melihat orang-orang melakukan aktivitas seperti perdagangan, transaksi loket, orang-orang yang memindahkan barang-barang dalam truk, mengatur mobil-mobil masuk kedalam kapal dan masih banyak lagi lainnya. Sampai aku tidak menyadari, ada seseorang yang terus mengawasi ku.
"Menunggu seseorang?" Laki-laki itu berdiri tepat di samping ku.
"Yah" aku hanya menjawab singkat, aku belum mengenal siapapun disini, hanya berjaga-jaga dan selalu mengingat pesan ibu untuk tetap waspada pada siapapun.
Laki-laki itu menjulurkan tangannya, matanya tak beralih dari wajah ku, aku sedikit gugup. Laki-laki itu cukup tampan, dengan tinggi 185 kurang lebih, kulit yang putih dan memiliki wajah yang sangat serius.
"Reyhan" Laki-laki itu memperkenalkan diri, dan langsung duduk di samping ku.
__ADS_1
"Elis" Jawab ku, aku tidak ingin bertanya balik padanya, aku melihat-lihat sekitar berharap ayah sudah sampai di pelabuhan untuk menjemputku. Tapi tidak ada tanda-tanda wajah ayah, dan laki-laki ini kenapa dia tidak melepaskan tanganku, dia bahkan memegangnya lebih erat.
"Ma'af, tangan ku" aku meminta pada orang yang bernama Reyhan itu untuk melepaskan tangannya. Tapi dia hanya melihat ke depan tanpa ada niat melepaskan tanganku, genggamannya semakin erat. Rasa takut mulai menjalar dalam hati ku.
"Ayahmu tidak akan datang" kata laki-laki itu.
"Apa maksud mu?" Dia tahu aku menunggu ayah, siapa laki-laki ini. Aku mencoba menarik tangan ku, tapi saat aku melihat diantara pahaku dan paha dia, sebuah pistol menancap tepat di pinggang ku.
"Ikut" kataku dengan suara pelan.
Dia berdiri dan menyuruh ku untuk berjalan didepan, aku hanya bisa menurut, kami berjalan menelusuri lorong-lorong pelabuhan, banyak orang disana tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, ancamannya membuat hati ku semakin takut.
"Kalau kau berani berteriak, kau akan langsung merasakan panasnya peluru ini, kalau kau meminta bantuan, orang itu yang akan menggantikan mu menerima ini" Dia semakin menekan pistolnya ke punggung ku.
__ADS_1
Tubuhku bergetar, hati ini berdetak 100 kali lebih cepat, air mata ini ingin sekali menetes tapi aku menahannya dan saat itu aku hanya teringat seseorang "ibu, jika aku harus mati secepat ini, maka do'akan aku bisa bertemu ayah sebelum ajalku menjemput" batinku terisak, aku teringat ibu, Diana, akankah pelukan mereka kemaren adalah yang terakhir.
Sampai tiba di ujung lorong, sebuah kapal besar dengan banyaknya orang menggunakan seragam jas menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang bos" kata mereka dengan serentak.
"Ayah dimana engkau, tolong aku ayah" tubuh ku mulai lemas, dengan batin yang terus meminta pertolongan. Aku dipaksa menaiki kapal itu dengan tangga otomatis yang mendorong ku masuk kedalam.
"Jangan membuat kegaduhan, atau aku akan mengeksekusi mu disini" Tatapan yang begitu dalam, hanya bisa membuat aku menunduk tak melawan.
"Ayah dimana engkau" Dengan batin yang semakin terisak.
Next...
__ADS_1