
keesokan harinya.
"Ayah, Elis akan pergi ke universitas teknologi, ayah istirahat saja, Elis bisa pergi sendiri" Pagi itu aku sudah siap, berpamitan pada ayah.
"Kau hati-hatilah nak, kalau ada masalah kau harus langsung menghubungi ayah, jangan selesaikan sendiri" Pesan ayah.
"Iya yah, jangan khawatirkan Elis kalau belum sampai petang" kataku.
"Apa kau akan pergi sampai petang?" Tanya ayah.
"Elis belum tahu yah, semoga saja tidak, ayah baik-baik di rumah, jangan lupa makan siang" Aku mencium tangan ayah. Berusaha tersenyum sebaik mungkin.
"Ayah selalu menunggu mu" Ada rasa sakit menusuk hati ketika melihat wajah ayah penuh dengan luka pukulan.
Aku langsung keluar setelah kata terakhir ayah, menahan air mata ini untuk tidak menetes didepannya.
Setelah keluar dari gedung kedutaan. Aku menunggu mobil yang sudah aku pesan lewat online. Tiba-tiba sebuah mobil Fortuner terpakir tidak jauh dari tempat aku berdiri. Seseorang turun dari mobil itu dan menanyai nama ku.
"Nona Elis Stania Yulianti?" Tanya laki-laki itu.
"Yah benar" Jawabku.
"Oh iya, ma'af nona saya supir mobil yang anda pesan" katanya lagi. Aku langsung mengecek data mobil yang aku pesan, ternyata memang benar sebuah mobil fortuner terpilih untuk ku. Pikiranku masih kacau saat keluar dari rumah, sehingga tidak bisa melihat mobil jenis apa yang aku pesan.
Aku langsung naik mobil itu, membuka pintu tengah, sedikit bertanya-tanya dalam hati, "ternyata di Singapura ada grab dengan mobil jenis fortuner?" Aku tersenyum sedikit menikmati mobil yang begitu sangat nyaman ini.
__ADS_1
"Keuniversitas teknologi nona?" tanya supir online itu.
"Iyah tuan" Aku memanggilnya tuan karena tidak tahu namanya, dan dia sebeneran masih muda.
"Ah, jangan panggil aku tuan, aku hanya bekerja sebagai supir, kau bisa panggil namaku saja kalau lain kali kita bertemu, panggil saja Yacob" Yacob memperkenalkan diri dengan bahasa yang lebih Santai.
"kuliah disana nona?, Kebetulan saya juga mahasiswa di NUS (singkatan Nanyang Technological University)" katanya lagi, aku langsung menanggapi apa yang dia bicarakan.
"Benarkah? Sudah semester berapa?" Tanyaku mulai tertarik karena dia satu kampus dengan ku nantinya.
"Saya sudah semester lima. Sebentar lagi kita sampai" jawabnya. Dan menunjuk bahwa di depan sudah terlihat bangunan kampus itu. Aku masih ingin bertanya banyak hal padanya, tapi sudah kedahuluan tempat tujuanku.
"Ma'af Yacob, apa aku bisa minta bantuan pada mu kalau suatu saat aku memerlukannya?" Tanyaku sedikit berhati-hati.
"Tentu saja, kalau kau mau pesan grab lagi, kau bisa hubungi aku juga" Dia menjawabnya dengan nada yang sangat santai.
"Boleh tahu panggilan namamu?" Tanyanya sebelum aku menutup pintu mobil.
"Kau bisa panggil aku Stania" jawabku, dan aku langsung turun dari mobilnya.
Sampailah aku di Nanyang Technological University (NUS), sebuah kampus yang memiliki bangunan seperti tumpukan roti terbalik dengan keunikan tersendiri itu kini ada di hadapanku.
Universitas yang sudah berdiri sejak tahun 1991 itu memiliki fasilitas modern untuk pembelajaran dan riset, diantaranya jaringan internet tanpa kabel yang mampu menyalurkan data 54 Mbps, sehingga semua penghuni kampus seperti staf, dosen, dan mahasiswa dapat menggunakan peralatan geraknya untuk mengakses layanan internet dari seluruh lokasi kampus ini tanpa mengganti-ganti jaringan.
Aku masih berdiri dibawah gedung unik itu, bingung hendak mau menuju kemana, Karena sistem pendaftaran seharusnya dilakukan lewat online. Tapi aku hanya menuruti perintah Reyhan untuk datang kekampus, sampai seseorang dengan menggunakan baju dan kacamata hitam menghampiriku.
__ADS_1
"Ma'af nona, Tuan Richard sudah menunggu anda ada di gazebo samping" kata laki-laki itu menyampaikan sebuah pesan. Aku mengikutinya tanpa bertanya apapun.
"Selamat datang nona, silahkan duduk" Tuan Richard dengan ramahnya menyambut kedatangan ku.
"Terimakasih" kataku
"Baik nona, kita langsung saja, anda masih di beri kesempatan untuk memilih fakultas yang anda inginkan disini, silahkan pilih salah satu nona" Tuan Richard menyodorkan beberapa kertas, aku melihat sederet fakultas yang ada di NUS seperti Fakultas teknik, sains, bisnis, humaniora dan seni.
"Aku memilih satu jurusan yaitu fakultas bisnis dengan prodi bisnis" kataku pada Tuan Richard.
"Baik, kami akan mencatatnya. Dan silahkan anda melihat bagian belakang nona, disana ada dana senilai $1.000.000 yang sudah dimasukkan di universitas ini untuk anda, tentu saja dengan syarat" Aku masih mendengarkan penjelasan Tuan Richard tanpa sedikitpun bertanya.
"Pertama. Anda hanya memiliki waktu satu bulan untuk membuktikan bahwa anda tidak bersalah pada Tuan Reyhan" Persyaratan ini aku sudah tahu sejak awal.
"Kedua, Jika anda bisa membuktikan bahwa anda tidak bersalah, maka nona harus mengembalikan dana yang sudah Tuan Reyhan berikan"
"Apa! Bagaimana bisa seperti itu, aku tidak membutuhkan dana itu, kau bisa mengambilnya kembali sekarang juga" kataku mulai sedikit kesal atas syarat yang kedua.
"Tapi dana itu tidak bisa diambil lagi nona, sudah dibayarkan semua atas nama nona selama nona studi disini" Tuan Richard menjelaskan.
"Kalau begitu aku akan mengembalikan uang itu. Hanya satu juta kan?" Kataku enteng.
"Ini bukan uang satu juta rupiah nona, ini satu juta US dolar. Kalau di rupiahkan sekitar empat belas milyar lima ratus juta (14.500.000.000.)"
"Apa?! E,e, empat belas milyar?" suaraku tercekik, seketika badan ku terasa tersengat listrik.
__ADS_1
"Lelaki bedebah, dia membuat aku memiliki hutang sampai empat belas milyar???"
Next...