Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Duta Besar Indonesia Untuk Amerika


__ADS_3

"Cepatlah nona! Waktu anda tidak tersisa banyak" Tuan Richard memberi tahuku, aku jadi semakin panik.


Kami tiba disalah satu bandara milik Amerika. Bandara Internasional John F. Kennedy New York City, Aku langsung berlari sekencang mungkin memasuki tempat pesawat yang akan di naiki bapak duta besar Indonesia untuk Negara Amerika. Bapak Iwan Freddy Hari Santoso.


"Excuse me, please show your ticket" salah satu penjaga menahku masuk, dan menanyakan tiketku.


"Oh, sorry" Aku langsung mengambil tiket pesawat di saku jaket ku yang entah kapan Tuan Richard memesannya. Aku bahkan tidak tahu tujuan tiket itu kemana, aku melihat arloji, waktuku kurang 7 menit lagi.


"Okay, go ahead" Setelah penjaga memberikan tiket itu lagi padaku, aku langsung bergegas lari, mencari salah satu pesawat yang akan berangkat sebentar lagi.


"Excuse me, do you know which plane will depart shortly?" Aku bertanya kepada salah satu petugas yang berjaga didalam. Bertanya apakah dia tahu pesawat yang akan berangkat sebentar lagi.


"Oh yes, the plane Airline" Mataku melihat satu Pesawat Airline yang mesinnya sudah mulai menyala.


"Okay thank you Mr"


"You're welcome"


Sambil berlari aku kembali melihat arloji, kurang 5 menit, lariku semakin kencang, aku sampai bertabrakan dengan seseorang karena saking gugupnya.


"Ah, sorry, sorry, I accidentally" Saya tidak bisa menunggu orang itu menjawab permintaan ma'afku, waktu ku tidak banyak. Untungnya aku masih bisa mencapai pesawat yang ku tuju.


"Please sit in your chair miss" Salah satu pramugari cantik menyuruh ku untuk duduk di kursiku sendiri.


Tujuanku adalah bertemu Bapak Iwan Freddy Hari Santoso, Duta Besar Indonesia untuk Amerika, tapi waktu ku sangat terbatas. Aku melihat arloji, kurang 4 menit lagi pesawat ini akan terbang. Aku hanya bisa menurut untuk duduk di kursi pesawat sesuai dengan tiketku.


"Hello Tuan Richard, bagaimana ini?, aku belum bertemu dengan Bapak Iwan Freddy Hari Santoso, pesawat ini hanya memiliki waktu 4 menit lagi untuk terbang" Setelah aku duduk aku langsung menelpon Tuan Richard, memanfaatkan waktu sebelum semua seluler harus dinonaktifkan.


"Tidak apa nona, nikmati saja perjalanannya, kau bisa bertemu nanti setelah turun dari pesawat" suara Tuan Richard terdengar seperti menertawakan sesuatu. Tapi karena aku sedang merasa kelelahan aku tidak ada niat untuk menanyakan hal itu.


"Ah baiklah" Aku menutup panggilannya, bersandar di kursi pesawat yang nyaman, mengistirahatkan tubuhku yang merasa lelah.


Setelah beberapa menit penerbangan, tiba-tiba aku ingin melihat tiket pesawat yang masih tersimpan di saku jaket ku. Aku mulai membuka lipatan tiket itu.


"Ya Tuhan! Pesawat ini menuju Kanada! ah apa yang harus aku lakukan, kenapa aku tidak melihat dulu tujuan tiket ini, bagaimana ini?" Beberapa orang disampingku melihat aku yang sedang kepanikan, aku ingin menelpon Tuan Richard tapi saat sebuah pesawat dalam penerbangan tidak boleh ada komunikasi dengan ponsel atau yang lainnya yang masih berkaitan dengan sinyal, karena itu akan mengganggu sistem penerangan.


Aku hanya bisa pasrah, menunggu pesawat ini benar-benar mendarat, perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam itu, membuat aku merasakan yang namanya tidur walaupun hanya sebentar tapi itu cukup untuk memulihkan tenagaku. Dan aku terbangun saat ada informasi persiapan mendarat karena tujuannya sudah sampai.


Setelah sampai di Bandara Internasional Vancouver Kanada, aku langsung mengambil ponselku, mencari Nomer Tuan Richard.


"Tuan apa yang harus aku lakukan disini?"


"Oh, anda sudah sampai nona" Tuan Richard tidak langsung menjawab pertanyaanku.


"Sudah" Kataku pelan.


"Kalau begitu segera temui duta besar itu nona" Perintah Tuan Richard.


"Lalu?" Aku belum tahu aku harus apa jika sudah bertemu dengannya.

__ADS_1


"Berbincang-bincanglah dengannya, anda bebas bertanya apapun padanya" kata Tuan Richard.


"Tapi tuan, bagaimana aku bisa melakukan itu?, aku bukan siapa-siapa, dan yang pasti aku akan diusir oleh para pengawalnya jika tiba-tiba mendatanginya"


"Kalau belum mencobanya nona, dan dia hanya seorang duta besar, anda bahkan sudah bertemu beberapa presiden, dan semuanya baik-baik saja"


"Iyah itu karena aku merasa tidak sendiri tuan, sekarang aku berada di negara yang berbeda lagi, aku merasa sendiri, aku sedikit takut tuan, aku tidak tahu harus kemana"


"Apa anda sudah bertemu dengan duta besar itu nona?"


"Belum"


"Kalau begitu dia satu-satunya yang dapat menolong anda nona, saya permisi, selamat siang dan selamat menjalankan misi" setelah Tuan Richard berpamitan dia benar-benar langsung memutus panggilannya. Aku mencoba memanggilnya kembali.


"Sorry, the number you have dialed is currently busy or is out of range" 'Ma'af nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan' Tuan Richard sengaja mematikan ponselnya. Dia benar-benar tidak membuat pilihan lain kepadaku selain bertemu Bapak Iwan Freddy Hari Santoso.


Aku melihat ponselku, mencari foto Bapak Iwan Freddy Santoso, sekilas melihat profilnya, seorang duta besar yang menjabat sejak Oktober 2019.


"Wah ternyata beliau baru dilantik satu bulan yang lalu" kataku sendiri.


Setelah melihat beberapa profil tentang Bapak Iwan Freddy Hari Santoso, aku melihat wajah yang sama dengan foto di ponselku, ah ternyata itu Bapak Iwan Freddy Hari Santoso, berjalan keluar dari Bandara dengan di ikuti dua pengawalnya.


Dengan hati mulai berdebar-debar, aku mengikuti Bapak Iwan Freddy Hari Santoso dari belakang.


"Hey, why you??" Salah satu pengawal Bapak Iwan itu tahu kalau aku sedang mengikutinya dan langsung menahan pergelangan tangan ku.


"Oh sorry, saya Elis" kataku berusaha memancing menggunakan bahasa Indonesia, dan berhasil membuat Bapak Iwan Freddy Hari Santoso melihatku.


"Benar, ma'af sudah mengganggu perjalanan bapak"


"Oh ya tidak apa-apa, siapa kamu? Kenapa mengikuti saya?" Tanyanya dengan nada lembut.


"Saya Elis Stania Yulianti, mahasiswa universitas teknologi di Singapura" kataku memperkenalkan diri.


"Kau mahasiswa Singapura? Lalu sedang apa kau di Kanada? Ah, kau bisa menjawabnya sambil berjalan, mari ikut saya" Aku langsung berjalan disampingnya.


"Saya ada tugas disini Pak, dan sangat beruntung sekali saya bisa bertemu bapak" aku mulai basa-basi dengannya.


"Tugas kuliah?"


"Ah bukan, ini tugas pribadi" kataku.


"Tugas pribadi? Ah atau kau hanya ingin jalan-jalan?" Tanyanya meledekku.


"Haha, tidak pak, emmm bapak tahu ini?" Aku memperlihatkan arloji milik Reyhan.


"Oh Ya Tuhan, ma'af saya tidak mengenali anda nona" Bapak Iwan langsung bersikap formal setelah melihat arloji ditanganku.


"Tidak apa-apa pak, bukan hal yang serius"

__ADS_1


"Kalau begitu mari ikut dengan saya, saya sudah memesan tempat peristirahatan yang cukup bagus"


"Terimakasih" aku terus mengikutinya.


"Saya minta ma'af sebelumnya, yang saya tahu pemilik arloji seorang laki-laki, dan dia sudah dinobatkan menjadi pewarisnya"


"Seterkenal itukah seorang Reyhan Anggara. Sampai bapak duta besar bukan dari negaranyapun tahu" batinku mulai bertanya-tanya.


"Memang benar pak, saya hanya dikasih misi oleh Tuan Reyhan, dan dia memberikan ini padaku" Jawabanku mampu membuat seketika Bapak Iwan terdiam cukup lama.


"Anda pasti bukan orang biasa nona" kata Pak Iwan menebak-nebak.


"Saya istrinya Tuan Reyhan"


"Ah sudah ku duga. Apa yang bisa saya bantu nona?" Tanya Pak Iwan.


"Saya akan berterus terang, saya sedang menyelidiki kasus ilegal persenjataan yang menurut informasi akan tersebar di seluruh benua Asia, mungkin bapak bisa memberikan sedikit informasi tentang itu?" Kataku, mulai pada topik yang sesungguhnya.


"Ah, masalah itu, saya memang sedikit tahu nona, separuh persenjataan itu memang akan di kirim dari negara ini" Kata Bapak Iwan, aku mulai antusias mendengarkannya.


"Anda bisa datang ke gedung ini, mereka menyimpan sebagian persenjataan itu disana, tapi saya peringatkan, tempat itu sangat berbahaya, memiliki penjaga lebih dari 100, kalau anda tidak bisa berhati-hati nona, anda hanya akan mengantarkan nyawa disana" Aku melihat sebuah alamat yang sangat asing, aku tidak tahu dimana letak tempat itu.


"Terimakasih banyak atas informasinya pak, saya kira saya cukup sampai disini mengikuti bapak, sekali lagi terimakasih" Kataku.


"Eh, anda tidak mau mencicipi dulu makanan disini nona?"


"Tidak pak, terimakasih"


Aku langsung pergi dari rombongan Bapak Iwan Freddy Hari Santoso, mencari Sebuah tempat yang lebih nyaman, sampai suara dari perutku terdengar begitu keras. Ah, aku memang baru mengisinya pagi tadi, dan kini perutku meronta-ronta meminta jatahnya. Sedikit menyesal karena sudah menolak tawaran Bapak Iwan.


"Hello sayang" Reyhan menyapaku dulu setelah dia mengangkat panggilanku.


"Kau ada dimana?" Tanyaku.


"Kenapa? Kau sudah rindu?"


"Oh ayolah, kenapa kau mengirimku ke Kanada? Sekarang aku kelaparan, tapi aku tidak memegang uang sedikitpun" Aku mengeluh pada suami ku.


"Pergilah ke Rihanna Caribbean restaurant, kau tinggal menunjukkan arloji ku" Reyhan langsung menutup teleponnya setelah mengatakan nama salah satu restoran yang ada di Kanada ini.


"Ah sesibuk itukah dia sekarang, hanya sebentar sekali menyapaku" Batinku bertanya. Ada sedikit rinduku padanya.


Tidak menunggu lama aku langsung pergi mencari restoran itu, dan menemukan disebuah tempat yang cukup mewah dengan nama Rihanna Caribbean restaurant. Belum sempat aku memasuki restoran itu, seseorang entah siapa sudah berdiri tepat dibelakang ku.


"Permisi nona" Setelah dia mengatakan itu, tangannya mendekap mulutku, dan lagi-lagi aku menghirup bau tidak sedap dari selembar kain yang ada ditangannya.


"Eemmm" aku berusaha melepas, ingin bertriak minta tolong. Tapi obat bius itu lebih cepet bekerja hanya dengan lima kedipan mata, aku tidak sadarkan diri. Ditengah-tengah kesadaranku yang menipis, aku hanya ingat satu nama.


"Reyhan, tolong aku" ???????

__ADS_1


Next....


__ADS_2