Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Kembali


__ADS_3

"Ayah, ibu, Elis ingin pulang" Ayah dan ibu terdiam.


"Pulang? Pulang kemana nak? Bukankah ini sekarang ini rumahmu juga?"


"Ketanah lahiran bu, Elis ingin pulang ke Indonesia"


Setelah mendengar keputusan Reyhan, jalan satu-satunya adalah meninggalnya. Karena aku tahu sifatnya, sekali dia bilang harus digugurkan maka tidak ada pilihan lain.


"Ada apa nak?" Ibu mendekati ku, mengelus pundak agar aku sedikit tenang.


"Kita bisa bicarakan ini dulu" perintah ayah.


"Tidak yah, tidak ada yang perlu dijelaskan" Aku terus membereskan semua bajuku.


"Memangnya ada apa? Katakanlah dulu pada ayah dan ibu masalahnya" Aku terdiam.


"Elis hamil yah" aku melihat ekspresi mereka, ada senyum yang mengembang di kedua bibir mereka.


"Itu berita bagus bukan?" Kata ibu dengan senyumnya yang menawan.


"Itu memang bagus, tapi tidak untuk Reyhan dia ingin menggugurkan bayi ini bu" Air mata ini mulai menetes.


"Kenapa bisa? Suami macam apa yang malah menginginkan menggugurkan anaknya!" Nada ayah mulai meperlihatkan kemarahannya.


"Itulah sebabnya yah, Elis juga tidak tahu, ayah tahukan siapa Reyhan, sekali dia mengatakan apa, itulah yang akan dilakukan. Bantu Elis yah, Elis tidak ingin menggugurkannya" Aku memohon kepada ayah.


"Apa kau tidak ingin membicarakannya dulu?"


"Percuma bu? Kalau saja orang itu bisa diajak bicara, aku pasti tidak akan menikah dengannya" kataku, aku buat nadaku dengan memelas.


"Baiklah, ayah ada sedikit tabungan, kau bisa gunakan itu untuk keperluan mu, kalau kau ingin pergi darinya maka jangan gunakan ponsel atau apapun, dia pasti akan dengan mudah melacak mu" Aku tersenyum setelah mendengar perintah ayah. Ayah pasti juga paham tentang sifat Reyhan.


"Terimakasih yah, bu"


"Kami hanya ingin terbaik untukmu nak" ibu mulai ikut menangis.


Setelah cukup membawa beberapa pakaian aku langsung bergegas keluar, sebuah taksi online sudah siap dipesankan ayah.


"Tunggu nona! Anda mau kemana?" Tuan Richard sudah berdiri disamping mobilnya.


"Tuan"


"Biarkan anak kami pergi tuan, dia tidak ingin menggugurkan kandungannya, jika Tuan Reyhan tidak mau menerima anak ini, biarkan kami yang merawatnya" Aku sangat tersanjung dengan pengakuan ayah.


"Tapi non, Bigg Bos hanya menyuruh untuk..."


"Tuan aku mohon, biarkan aku pergi, dia boleh ambil nyawaku tapi izinkan anak ini tetap hidup"


"Tapi nona"


"Sekali ini saja tuan, aku tidak pernah meminta apapun dari mu, sekali ini saja tolong bantu aku tuan, kalau Reyhan tidak mau mengakui anak ini aku tidak masalah, tapi biarkan kami pergi"


Tuan Richard terdiam.


"Baiklah, aku akan membantumu nona, tunggulah sekejap"


Tuan Richard mengambil ponselnya, dia menelepon seseorang.


"Hello Bigg Bos" Tuan Richard mengeraskan suara Reyhan.


"Ada apa paman?"


"Nona ada masalah dalam kandungannya, dia tidak bisa asal digugurkan di sembarang dokter, ada salah satu rumah sakit di Korea Selatan yang bisa menangani penyakit ini, saya meminta izin untuk membawanya kesana"


"Apa tidak bisa menunggu aku?" Tanya Reyhan.


"Tidak bisa Bigg Bos, usia kandungan muda sekarang-sekarang ini yang masih memiliki resiko kecil untuk melakukan operasi, kalau terlalu lama ditunda akan semakin sulit"


Aku tahu, Tuan Richard hanya mencari alasan yang tepat. Dengan kesibukan Reyhan sekarang tentu akan membuatnya tidak bisa berfikir panjang.


"Benarkah begitu? Emmm, baiklah, kau urus dia, ingat! Kalau ada apa-apa dengannya aku tidak akan mema'afkan mu paman! Aku hanya perintahkan menggugurkan anak itu, aku tidak perintahkan untuk terjadi sesuatu pada Elis!"


"Baik Bigg Bos" Tuan Richard mematikan panggilannya.

__ADS_1


"Silahkan nona, saya akan mengantar mu ke bandara"


"Terimakasih banyak taun"


"Sama-sama nona, hanya ini yang bisa saya lakukan, semoga kau selalu baik-baik saja, ah dan ini kau bisa gunakan kartu kredit ku jika kau membutuhkannya pinnya tanggal lahir Bigg Bos, 090392"


Aku menerima kartu kredit pemberian Tuan Richard, dan aku sangat senang saat Reyhan sudah memanggil Tuan Richard dengan sebutan paman, tapi disisi lain aku sangat kecewa karena Reyhan benar-benar tidak mau menerima anak ini.


Perjalanan ini benar-benar tidak ada hambatan dari Reyhan, Tuan Richard memberi tahuku bahwa Reyhan sedang mengerjakan mega proyeknya di Belanda yang memakan waktu kurang lebih 3 bulan, tentu ini sangat menguntungkan bagiku untuk pergi darinya.


"Para penumpang yang terhormat, kita telah sampai di Negara Indonesia, dan akan melakukan pendaratan, diharapkan untuk duduk tenang dan memakai sabuk pengaman, terimakasih, sekali lagi..."


Pengumuman dari salah seorang pramugari terus berbunyi, aku menghirup nafas dalam, menikmati udara negaraku kembali.


"Wellcome to back di tanah kelahiran" kataku pada diri sendiri.


Di luar bandara internasional Soekarno-Hatta, seseorang sudah berdiri tersenyum padaku.


"Dianaaaaa" aku berteriak padanya dari dalam. Dia hanya melambaikan tangannya dengan terus tersenyum.


"Assalamualaikum cinta" Diana menyapaku dengan gombalan yang pernah tenar disalah satu film Malaysia.


"Wa'alaikum salam rindu" balasku.


"Aaah, kangen banget gue El" Diana memelukku erat.


"Gue juga"kami berpelukan diantara ingin tersenyum dan menangis.


"Kau sendirian El?" Diana celingukan mencari seseorang.


"Aku tidak sendirian"


"Terus sama siapa? Apa ayah dan ibu masih di belakang?"


"Tidak, aku tidak sama ayah dan ibu"


"Lalu? Your husband?"


"Atau kau pulang kesini juga di kawal para bodyguardnya dia?"


"Bukan"


"Lalu siapa? Ah Lo bikin penasaran gue aja El"


Aku memegang tangan Diana, ku taruh tangannya tepat didepan perutku. Aku tersenyum melihat ekspresi wajah Diana yang kebingungan.


"Aaaaaaaaah" Diana teriak sangat kencang setelah tahu apa maksudku menaruh tangannya di perutku.


"Ngga usah sekencang itu juga kali teriaknya" Kataku, ada sedikit malu karena teriakan Diana menjadikan hampir semua orang jadi memperhatikan kami.


"Ya Tuhan, Lo kesini sama Beby Lo?"


"Baru calon" kataku tersenyum.


"Ah ngga nyangka gue, sahabat gue udah mau jadi ibu-ibu"


"Dan Lo jadi tantenya"


"Tante? Ah pokoknya kalau dia lahir, dia harus panggil gue Kaka, gue ngga mau jadi tante-tante"


"Hahaha, Kaka dari Hongkong"


"Bisa jadi, hehehe, eh udah berapa bulan tuh si Beby"


"Harusnya udah dua Minggu"


"Baru dua Minggu? Dan Lo melakukan perjalanan dari Singapura kesini sendirian? Itukan usia yang masih rawan-rawannya El, kenapa Lo bisa sendirian?"


"Ada yang lebih rawan dari itu Na"


"Maksudnya?" Wajah Diana terlihat serius.


"Gue bakal ceritain semuanya, tapi nanti aja yah, gue lelah mau istirahat, Lo tega biarin bumil terus berdiri kaya gini?"

__ADS_1


"Hahaha, ah iya sorry sorry. Ayo ikut aku El, udah ada supir yang menanti"


"Kau udah pesan mobilnya?"


"Tidak, kau akan tahu sendiri nanti"


Aku mengikuti Diana dari samping, dia tidak bosan-bosannya mengatakan kangen padaku.


Didepan parkiran, seorang laki-laki tinggi menyapa Diana.


"Apakah ini teman kau itu? Ayo kita langsung berangkat saja, aku ada miting mendadak" kata laki-laki itu.


"Iya bang, perkenalan ini Elis, El ini Bang Stiven"


"Pacar?"


"Hahaha, anak ini bukan tipeku El, teman mu ini memang lebih pantas dengan adikku, dia memaksaku untuk ikut menjemput mu"


"Ah aku minta ma'af sudah ikut merepotkan Bang Stiv"


"Tidak apa-apa, aku senang bisa direpotkan wanita semanis dirimu"


"Baaang, jangan menggodanya" Kata Diana. Aku hanya tersipu malu.


"Hahaha, baiklah, ayo kita pergi, aku akan mengantar kalian pulang dulu"


Selama diperjalanan aku terus memandang kota kelahiran. Jakarta, aku merindukanmu. Senang sekali rasanya bisa melihat mu kembali, melintas di jalan mu yang ramai, kau memang memiliki kesibukan luar biasa, tapi bersamamu sejak aku lahir adalah sebuah kebanggaan ku sendiri.


"Na"


"heem"


"Aku boleh tinggal bersama mu?"


"Kau mau tinggal bersama ku, tapi kontrakkan kecil El"


"Tidak masalah, aku hanya tidak ingin tinggal sendirian"


"Eemm, baiklah, nanti aku akan mencari tempat yang lebih nyaman lagi"


"Tidak perlu, itu akan lebih membuat mu repot"


"Aku dulu lebih sering merepotkan mu El, aku sangat senang bisa membalasnya"


"Sepertinya aku memang hanya menjadi seorang sopir pribadi" Kata Bang Stiv yang merasa dicuekin.


"Hehehe, sorry bang, ini memang percakapan khusus orang-orang pelepas rindu" Kata Diana.


"Hahaha, awas saja kau anak kerdil" Bang Stiv mengancam Diana.


"Enak aja, siapa yang anak kerdil"


"Eh, ngomong-ngomong tentang kontrakan, Abang punya tempat, yah mungkin cocok untuk kalian, itu juga kalau kalian mau"


"Boleh, nanti Ana liat dulu bang, eemm gratis tapi kan bang?"


"Dasar anak gratisan"


"Ah sama adik sendiri juga"


"Baru calon aja aku udah kerepotan kaya gini"


"Abang baiiik" Diana merajuk pada Abang Stiv.


Tapi Bang Stiven terus memandangi ku, aku memalingkan wajahku kesamping mobil.


"Hati-hati bang, nanti matanya jadi katarak" Kata Diana, Bang Stiven hanya tertawa. Diana juga tahu Bang Stiv terus-terusan melihat kearah ku.


Melihat keakraban mereka, aku ikut merasa senang, sekilas terlupakan masalah dengan Reyhan, masalah yang pernah aku alami di Singapura. Rasanya semua itu hanya seperti mimpi yang ku alami dalam waktu semalam, hanya satu rasa yang tidak seperti mimpi sekarang, sesuatu yang ada dalam perutku, jika dia selamat dia akan menjadi saksi biksu antara aku dan Reyhan.


"Nak, kau harus tumbuh sehat, ibu akan menjaga mu, akan melindungi sekuat tenaga, ibu tidak akam membiarkan siapapun melukai mu, sekalipun itu ayah mu sendiri" Kataku dalam hati.


Next....

__ADS_1


__ADS_2