Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Perusahaan Tekstil


__ADS_3

"Bang, kau tidak serius kan?"


"Kenapa? Kau tidak setuju?" Reyhan dengan tenangnya bertanya itu padaku.


"Kau boleh menikah lagi, aku akan setuju, tapi tolong jangan sahabat ku, biarkan dia bahagia dengan pilihannya"


"Dengan si Roy itu, aku tidak akan membiarkan Ana menikah dengan anak berandal itu?"


Reyhan memanggil Diana dengan nama kecilnya 'Ana', hanya beberapa orang saja yang tahu nama kecilnya itu, kenapa dia bisa tahu? atau hanya kebetulan.


"Anak berandal, aku lihat dia anak baik-baik"


"Rambut disemir, celana sobek-sobek, baju setengah dimasukan, telinga sama mulutnya ditindik, apalagi kalau bukan berandal?"


"Kau hanya menilainya secara fisik, bagaimana bisa kau mengatakan itu berandal"


"Pokoknya dia tidak pantas untuk Ana"


"Jadi menurutmu kau lebih pantas untuk menikahinya?"


"Aku tahu, kau berfikir aku menikahinya karena aku laki-laki penafsu, egois, laki-laki yang suka memaksa keinginan?"


"Kalau bukan itu lalu apa lagi?" Aku berusaha menahan air mata ku.


"Kau tahu biologis ku hanya bisa tercurahkan padamu, aku tidak pernah bisa berhubungan dengan orang lain selain dirimu"


"Iyah aku tahu, lalu kenapa kau tetap mau menikahi Diana? Itu sama saja kau merenggut kebahagiaannya bang, aku mohon lepaskan dia, kau boleh cari orang lain, siapapun dia aku akan setuju"


"Tidak! kalau aku mau menikah lagi, aku mau itu Ana" Wajah Reyhan memerah, itu tanda dia serius.


"Kasih aku satu alasan kenapa kau memilih Diana" Kataku, aku sudah tidak bisa berdebat dengannya lagi.


"Karena kau"


"Aku?"


"Yah kau"


"Kenapa?" Reyhan mengacungkan jarinya padaku, lalu menarikku hingga aku jatuh dalam pangkuannya.


"Karena kau hanya bisa melepaskan senyummu, tawamu, saat kau bersama dia, kau adalah milikku kenapa kau tidak pernah tersenyum dan tertawa padaku selepas saat kau bersama Ana!"


"Kau cemburu dengan Diana?"


"Mungkin"


"Tapi tidak perlu dengan cara menikahinya"


"Aku selalu ingin melihat senyum dan tawa mu selepas itu, dan kau hanya bisa melakukannya saat kau bersama Ana, jadi aku tidak akan melepas Ana untuk orang lain"


"Baaang, tolong jangan seperti ini, jangan kau menginginkan kebahagiaanku dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain, apalagi dia sahabat ku"


"Memang itu yang dilakukan kekasih kepada seseorang yang dicintainya bukan? Salahku dimana?"


"Rey" Ah, tadi Reyhan mengatakan apa? Kepada seseorang yang dicintainya? Apakah itu aku?.


"Panggil aku abang!" Aku terkejut saat Reyhan tiba-tiba membentak ku karena aku tidak sadar memanggilnya Rey.


"Ma, ma'af abang, aku tadi tidak sadar"


"Baik, aku tidak akan menikahinya. Tapi aku kasih waktu dalam satu Minggu ini untuk kau mencari informasi tentang perusahaan tekstil itu, kalau kau berhasil Ana lolos, tapi kalau tidak, dia akan tetap menikah"


"Akan aku lakukan, boleh aku memulainya hari ini"


"Tidak"


"Semakin menunda waktu nanti semakin..."


"Aku ingin kau"


"Baaang"


"Aku ingin kau, sekarang"


Reyhan menggendongku menuju singgasana, kali ini dia tidak menjatuhkan ku dengan kasar, melainkan menurunkan dengan amat pelan, mulai mengecup setiap inci tubuhku.


Tidak apa, akan aku selesaikan dulu tugasku sebagai istri, setelah itu aku akan sekuat tenaga menolong sahabatku.


"Pelan-pelan" Kataku setelah kami bersiap akan bersatu.


"Aku tahu, aku tidak akan membangunkan anak rubah ini" kata Reyhan sambil mencium perut ku, tapi aku justru merasakan tendangan hebat dari dalam.


"Ah, ini pertama kalinya aku merasakan tendangan hebat dari anakku setelah mendapat ciuman dari ayahnya" Kata hatiku, aku hanya tersenyum.


Beberapa menit setelahnya, aku kembali merasakan seperti terbang diatas langit. Tapi tidak sampai itu saja, setelah kami tertidur, dimalam hari aku merasakan gangguan, ternyata Reyhan sudah diatasku, mulai membuat rusuh tidurku yang tadi sudah nyenyak.


"Ma'af, adik kecilku bangun lagi" kata Reyhan. Aku hanya tersenyum, pasrah dengan semua tingkahnya, dan ini pertama kalinya aku mendengar kata ma'af dari seorang Reyhan Anggara.


3 hari setelah kejadian itu, aku baru diperbolehkan untuk mencari informasi tentang perusahaan tekstil, artinya aku hanya memiliki waktu 4 hari untuk menyelesaikan tugasku. Aku tidak mau menunda lagi, ku cari no Stiven dan langsung menelponnya.


"Hello Elis, kau baik? Aku sangat khawatir padamu, kau sekarang bagaimana?"

__ADS_1


"Boleh kita berjumpa?" Aku langsung pada intinya, tidak menjawab satupun pertanyaan Stiven.


"Tentu saja boleh, kau mau aku jemput dimana?" Stiven langsung menggebu-gebu mendengar tawaran ku.


"Kita bertemu saja di Restoran Jakarta City, aku akan sampai disana setengah jam lagi"


"Oke, aku datang"


Ku matikan panggilan itu, ada sedikit ragu dihati saat akan berjalan, bertanya hati terhadap diri sendiri, tidakkah apa yang aku lakukan akan menyakiti orang lain?. Tapi setelah keluar dari kamar, aku menengok ke kamar samping, ada Diana disana dia menungguku. Aku harus menyelesaikan tugas secepatnya.


"Hello El" Stiven menyapaku dulu, dia lumayan cakep menggunakan kemeja polosnya.


"Hello Stiv, ah ma'af sebelumnya aku memanggilmu hanya namanya saja"


"No problem, justru itu yang ku inginkan" dia tersenyum.


"Kau mau pesan apa?" Tanyaku.


"Aku mau pesan minum saja"


Aku memanggil pelayan, memesan minuman Stiven.


"Kau baik El?" Stiven membuka percakapan ini.


"Aku baik"


"Kau bisa datang padaku jika terjadi sesuatu"


"Aku baik Stiv, bagaimana dengan pekerjaan mu" Aku langsung pada intinya.


"Pekerjaan ku baik, aku yang tidak baik, aku terlalu khawatir padamu El"


"Sekarang kau sudah lihat aku, tidak ada yang dikhawatirkan" Kataku.


"Yah, aku sangat senang bisa melihat mu"


"Aku dengar ada sembilan perusahaan tekstil yang sudah ditutup? Apa itu benar?"


"Benar" Stiven menjawabnya singkat.


"Apa salah satunya adalah perusahaan mu?"


"Salah satunya punyaku, tapi kau tenang saja, aku masih punya dua perusahaan yang masih stabil" katanya, entah mengapa dia mengatakan aku harus tenang.


"Kalau kau mau, aku akan mempertahankan dua perusahaan tekstil itu untuk mu" tambahnya.


"Untukku? Kau tidak boleh seperti itu Stiv, kau harus punya keluarga sendiri dan hidup bersama mereka"


"Stiiiv"


"Haha. Aku hanya bercanda, tapi aku sangat senang jika bisa meraih itu, dua perusahaan tekstil itu bisa aku korbankan untuk mendapatkannya" Katanya, aku sedikit miris setelah mendengar kata-kata itu.


"Kalau kau kehilangan perusahaan tekstil mu, bagaimana kau akan menghidupi keluarga mu"


"Aku akan membangunnya lagi dari nol"


"Jadi kau mau membuat keluargamu merasakan susah?"


"Ah bukan itu maksudku El" Stiven jadi salah tingkah.


"Boleh aku bertanya tentang perusahaan tekstil mu?"


"Tanyakanlah"


"Berapa pendapatan dari perusahaan tekstil itu?"


"Tidak menentu, dalam setahun bisa mencapai 500-700 miliar"


"500-700 miliar? Itu angka yang sungguh fantastis"


"Memang, tapi sebuah perusahaan tekstil diawal mereka memiliki hutang modal yang cukup fantastis juga"


"Berapa?"


"3 sampai 4 triliun"


"Wow"


"Dan penghasilan 500-700 miliar dalam setahun itu belum terbagi untuk gaji para karyawan yang sampai ribuan"


"Ribuan karyawan?"


"Yah, dalam satu perusahaan bisa memiliki 1500 sampai 3000 karyawan"


"Tempat bekerjanya pasti sangat besar"


"Itulah kenapa diawal kita memiliki hutang yang sangat besar juga, untuk pembangunan dan modal lainnya, kalau berhasil, setelah pelunasan hutang maka itu akan menjadi sesuatu yang tidak terhitung jumlahnya"


"Kalau tidak bisa"


"Maka akan mengalami nasib seperti 9 perusahaan itu"

__ADS_1


"Faktor lainnya karena apa?"


"Faktor lainnya, karena sudah banyak barang ekspor yang masuk, harganya juga lebih murah, itu membuat daya saing yang sulit untuk perusahaan tekstil"


"Kenapa salah satu perusahaan mu sampai ditutup"


"Karena adikku"


"Roy"


"Yah, dia tidak bisa mengolahnya, hanya bisa menghamburkan semua uang yang dihasilkan, padahal seharusnya uang itu masih dalam perputaran sampai hutang perusahaan lunas, tapi perusahaan itu bahkan tidak bisa menggaji karyawannya, sekarang Roy malah pergi entah kemana"


"Apa Roy tidak pernah mencari Diana? Atau mungkin pernah menanyainya?"


"Ma'af aku harus bilang ini, tidak, setelah kejadian di taman hiburan, Roy juga menghilang, dia membawa semua uang perusahaan"


Sekarang aku percaya pada Reyhan, Roy memang berandal.


"Bagaimana dengan kedua perusahaan mu yang lain"


"Sekarang aku sedang mempertahankannya mati-matian, aku akan mempertahankannya agar bisa hidup tenang dengan..."


"Apa kau kesulitan dalam pembayaran pengembalian hutang?" Aku mengalihkan kata-katanya.


"Awal iya, tapi sekarang tidak begitu, aku sedang mengerjakan proyek lain, sungguh menguntungkan dan bisa membantu kedua perusahaan ku yang sedang kritis"


"Proyek apa itu?" Stiven tidak langsung menjawabnya. Dia seperti memikirkan sesuatu.


"Aku hanya memberi tahukannya padamu, persenjataan"


Hah, persenjataan? Yang aku tahu jika orang biasa melakukan transaksi persenjataan, artinya proyek itu ilegal. Tapi aku berusaha tenang, berusaha seperti tidak tahu masalah tentang itu.


"Apa temanmu itu dari Amerika?"


"Kenapa kau bisa tahu?" Stiven sedikit terkejut.


"Ah, Reyhan juga pernah melakukan transaksi dengan orang Amerika, dan orang itu bilang sedang menjalankan proyek persenjataan juga"


"Ooh, Suami mu itu" Aku berhasil membuat Stiven tidak curiga, walaupun harus di bayar dengan nada kecemburuan dia pada Reyhan.


"Apa kau belum punya kekasih?"


"Kekasihku tinggal aku pilih, tiduri mereka habis itu aku putusin, tapi kalau aku bersama mu, aku janji akan selamanya"


Mendengar pernyataan dia saja aku sudah mulai muak, bagaimana dia bisa dengan mudahnya seperti itu.


Aku jadi teringat kata-kata Reyhan.


"Jika seorang laki-laki terbiasa mencampakkan wanita, sekalipun dia menikah suatu hari dia akan dengan mudahnya mencampakkan istrinya" Kata Reyhan kala itu.


"Oke Stiv, sepertinya kita sampai disini dulu"


"Lain kali kita bisa bertemu lagikan?"


"Mungkin"


"Aku akan menunggu"


"Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya Stiven Daniel" Aku hanya mengatakannya dalam hati.


Setelah aku menyuruh Stiven untuk pergi dulu, Reyhan datang menjemput ku sendiri tanpa supir pribadi.


"Masuk!" Aku membuka mobil Lamborghininya yang baru dibeli 2 hari yang lalu.


"Apa maksudmu dengan semua ini?" Tanyaku pada Reyhan.


"Kau sudah tahu sekarang? Aku ingin kau dengar sendiri dari mulutnya yang berani menggoda istri Reyhan Anggara" Katanya dengan senyuman mengejek.


"Jadi Abang sebenarnya sudah tahu semuanya, tentang Stiven, Roy, dan perusahaan tekstil itu?"


"Mendapatkan informasi seperti itu sangat kecil untukku, aku hanya kesulitan mendapat kepercayaan mu saat ku ceritakan itu semua, jadi lebih mudah untuk kau mendengarnya sendiri"


"Lalu bagaimana dengan pernikahannya?"


"Ana akan tetap menikah"


"Apa?"


"Pernikahannya sudah tetapkan besok"


"Besok? Abang bilang dalam satu Minggu lagi?"


"Aku yang minta dipercepat"


"Baaaang" Aku mulai khawatir.


"Kau hanya perlu jalankan peran mu, kau akan tahu yang kebenarannya, tapi kalau aku beri tahu sekarang, cerita ini tidak akan lagi membuat penasaran"


"Maksud Abang?"


"Tunggulah sebentar lagi, akan ada yang lebih menarik dari cerita kita"

__ADS_1


Next.....


__ADS_2