
"Hello" aku menyapanya dulu.
"Hai rubah kecil! Berani sekali kau tidak mengangkat telepon ku, bahkan membuat aku menunggu kau menjawab panggilannya! Kau dengar! Kalau kau berani mengabaikan panggilan ku lagi, aku akan langsung mendatangi rumah mu, ku hancurkan semua yang ada disana!" Dia mulai mengomel, kembali dengan ancamannya yang menakutkan. "Dasar laki-laki tidak berperasaan" Batinku.
"Ma'af aku tidak mendengar panggilannya" kataku mencari alasan yang mungkin tepat.
"Ooh, kau malah mau berbohong padaku?! kau tahu apa sistem yang aku pasang di ponsel itu hah? Penyadapan! Aku bisa mendengar semuanya tanpa lewat panggilan" katanya dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
"Kalau begitu kenapa kau memanggilku Tuan Reyhan?" Aku bertanya, ada rasa marah dan kesal karena dia bahkan menyadap ku, dia pikir aku ini apa? Penjahat kelas kakap? Yang harus diselidiki bahkan dengan penyadapan suara? Batinku mulai memberontak.
"Karena aku ingin kau mendengar perintah ku! Besok kau harus segera kekampus! Tidak ada kata dua hari lagi! Serahkan berkas-berkas ijazah mu dan yang lainnya" perintahnya.
"Apa? Kenapa aku harus mengikuti perintah mu? Dan aku belum mendaftar kesana!" Kataku dengan kesal luar biasa. Dia benar-benar tahu apa yang aku bicarakan dengan ayah sebelumnya, dan Aku tidak akan memanggilnya lagi sebagai tuan.
"Dengar Tuah Reyhan yang terhormat, aku tidak akan lagi memanggil mu tuan, dan aku tidak akan mengikuti perintah mu itu" Aku mencoba melawannya, meyakinkan hati ku bahwa aku tidak perlu takut. Tapi tidak ada jawaban dari pernyataanku, aku sedikit tersenyum.
"kau pikir aku tidak berani melawan" batinku mulai bangga. Tiba-tiba ayah mengetok pintu kamarku.
__ADS_1
"Nak, ayah ada panggilan, ayah akan kembali nanti sore sekalian mengambil berkas-berkas ijazahmu" kata ayah. Aku membuka pintu.
"Iya yah, hati-hati dijalan" Aku mencium tangan ayah, sekilas melihat senyum ayah yang bahagia. Aku melihat layar ponsel, ternyata panggilan itu belum mati.
"Oooh, sepertinya rubah seperti mu harus diajari bagaimana caranya patuh yah. Baik kalau itu yang kau mau, jangan salahkan aku kalau ada korban karena kau!" Ancamnya.
"Dan ingat! akan aku pastikan kau memanggilku nanti" tambahnya lagi.
"Jangan harap!" Nada ku sengaja aku tinggikan. Akan aku buktikan aku bisa melawan. Aku langsung menutup telepon itu, aku matikan ponselnya, ku ambil semua kartu yang terpasang. Dan aku menaruh ponsel itu dibawah bantal.
Aku masih lelah karena perjalanan dan kejadian yang ku alami. Membaringkan tubuhku adalah hal yang sangat aku inginkan. Aku mencium bau bantal dan kasur, mata ku mulai terpejam, beberapa menit setelahnya aku terlelap tak tersadar.
"Ayah baik?" Aku bertanya pada ayah.
"Ayah tidak apa-apa nak, kau kembalilah istirahat" ayah menjawab, tapi tubuhnya tetap menghadap jendela. Aku ingin menghampiri ayah, masih penasaran kenapa ayah tidak mau melihatku. Setelah aku berhadapan dengan ayah, aku menjerit dalam hati.
"Apa yang terjadi pada ayah? Kenapa wajah ayah lembam seperti ini? Siapa yang melakukannya yah?" Aku duduk di depan ayah, mengamati wajah ayah yang biru-biru, seketika jantungku berdetak kencang dan terpikirkan satu nama. Reyhan!.
__ADS_1
"Ayah tidak apa-apa nak, tadi hanya terjadi kesalahpahaman" jawaban ayah masih belum membuatku puas. Aku meminta lebih.
"Bagaimana bisa seperti ini yah kalau hanya sebuah kesalahpahaman?" Aku terus bertanya.
"Tadi ayah sedang menunggu Bapak Duta Besar, ada seseorang lewat menabrak ayah, mereka berjumlah lima orang, orang yang menabrak ayah terjatuh dan leptopnya rusak, dia menyalakan ayah, meminta ayah untuk menggantinya, ayah tidak menyanggupi karena leptop itu terlalu mahal, harganya sebelas juta. Keempat temannya langsung menyerang ayah tanpa ampun, karena mereka tahu ayah tidak bisa membayar ganti rugi. Masih untung ada pengawal Bapak Duta Besar yang menolong" Ayah menjelaskan sambil sesekali menahan sakit di mulutnya yang terkena pukulan.
Aku mulai menangis mendengar penjelasan ayah, "ma'af yah" dalam hati aku ingin menjerit, semua ini salahku.
"Aku akan mengambilkan obat, ayah tunggu sebentar" aku sedikit berlari, mengambil obat P3K. Tapi saat baru keluar dari kamar aku menangis, menabrakan tumbuhku pada dinding.
"Kenapa bisa jadi seperti ini, dia benar-benar melakukannya pada ayah" aku berbicara sendiri sepelan mungkin, menyesali karena sudah melawan laki-laki kejam itu. Aku mencoba tenang, mengambil obat P3K dan segera menghampiri ayah.
"Ma'afkan Elis yah, kedatangan Elis telah membuat ayah menderita" aku terus mengobati ayah, air mataku terus mengalir melihat wajah penuh dengan luka pukulan.
"Kenapa kau yang meminta ma'af nak?, kau tidak melakukan apapun" kata ayah.
"Tidak yah, justru memang karena aku ayah seperti ini" aku menjawab pertanyaan ayah dalam hati.
__ADS_1
Setelah mengobati ayah aku segera kekamar, mencari ponsel yang aku simpan di bawah bantal, memasang kembali kartu-kartunya, mengaktifkan kembali ponsel itu, mencari satu nama yang sangat aku benci. "Bigg Bos" dan menekan tombol call.
Next.....