Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Kapal Pesiar


__ADS_3

"Welcome to my big boss" seseorang dengan tatanan ramput rapi itu menyambut kami dengan sangat santun.


"Siapakan gadis kecil ini yang membuat mu menunda keberangkatan kita ke ibukota?" Tanyanya pada Reyhan. Aku hanya menunduk, memperhatikan terus sesuatu yang ada di tangannya.


"Aku sudah menunggunya sejak lama, akhirnya ku temukan dia di pelabuhan ku, aku menangkapnya sendiri" Reyhan menatapku dengan lekat, melihat ku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"kau menangkapnya sendiri? bagaimana dengan anak buah mu" laki-laki itu bertanya pada Reyhan dengan nada penasaran.


"kalau anak buah ku bisa menangkapnya sejak satu tahun yang lalu, aku pasti tidak akan susah payah turun tangan sendiri" Mukanya mulai kesal, dia merilik ku dengan sinis.


"Ah, andai pistol itu tidak terus menatapku, aku pasti sudah menendang wajahnya. Tapi apa yang barusan dia katakan? Dia sudah menunggu ku sejak lama, sejak kapan aku ada hubungan dengan dia" aku mulai bingung dengan situasi ini, pertanyaan demi pertanyaan terus menjalari hatiku, apakah aku pernah melupakan sesuatu?.


"Aku masih melihat dia gadis yang polos?" Orang itu bertanya lagi pada Reyhan, tapi matanya terus menatap ku.


"Gadis polos? Hahahaha, kau akan melihat kebusukannya jika kau tahu apa yang dia lakukan satu tahun yang lalu" Reyhan menatapku, dan dimatanya sekarang aku seperti wanita yang menjijikan.


Aku? Satu tahun yang lalu? Apa yang sudah aku lakukan, aku hanya ingat aku selalu belajar dengan baik bersama Diana dan ibu. Tapi laki-laki ini menuduhku melakukan sesuatu? Aku yakin dia pasti salah orang.

__ADS_1


"Tuan-tuan, ma'af kalau saya lancang, tapi saya kira ada kesalahpahaman disini, aku belum pernah mengenal tuan sebelumnya" aku memberanikan untuk membela diriku, memanggil mereka dengan sebutan 'tuan' berharap mereka memang salah orang.


"Salah!!! Aku Reyhan Anggara, putra Diwirya Anggara Ningrat, tidak pernah salah dalam menilai apapun, dan kamu, aku tidak mengizinkan kamu untuk bicara" suara Tuan Reyhan semakin meninggi, wajahnya memerah memperlihatkan betapa murkanya dia.


Aku ingin membela diriku lagi, tapi belum sempat mutulku berkata, dia sudah berdiri dan menodongkan pistol itu tepat di keningku.


"Aku tidak akan melupakan bau parfum ini, kau berani menjebak ku, menaruh obat perangsang dan mengunciku dalam lemari kecil, kau tahu betapa tersiksanya aku disana!!!" Dia mendorong ku dengan pistolnya, aku tersungkur ke lantai, aku ingin menjerit, membela diri ku bahwa aku tidak pernah melakukan itu.


"Aku tidak pernah melakukan itu, kau salah orang tuan" aku membela, berusaha berbicara dengan nada pelan dan sopan. Tapi dia malah menginjak kaki ku.


"Aku sudah pernah katakan, Aku Reyhan Anggara tidak pernah salah! Kecuali, kau bisa membuktikan aku salah" Dia melepaskan kaki ku, kaki ku langsung terlihat biru karena dia menginjaknya dengan sepatu.


"A, aku, a, akan buktikan" suara ku tertahan karena tangisku belum bisa berhenti.


"Buktikan!! aku masih mengampuni kau itu sudah beruntung, jika tidak, aku sudah menebak mu di tempat ruang tunggu pelabuhan itu. Tapi dengar! Waktu mu hanya satu bulan, kalau kau belum bisa membuktikan, aku akan membunuh seluruh keluarga mu, kau mengerti!!!" Ancaman Reyhan seketika membuat bulu kuduk ku merinding.


Bagaimana bisa aku sekarang malah membahayakan keluarga ku. Aku datang kesini hanya ingin melanjutkan studi, hanya ingin bertemu dengan ayahku, bukan membuat mereka dalam ambang kematian... Ibu, ayah, apa yang harus aku lakukan?.

__ADS_1


"A, aku mengerti, tapi bisakah tuan melepaskan aku, aku akan mencari bukti itu" aku mengajukan permintaan.


"Dan setelah itu kau mau melarikan diri lagi?" Tuan Reyhan kembali menatapku. Aku hanya bisa menunduk, tatapan itu selalu mampu membuat hati ini seperti tersengat listrik.


"Tidak, tidak tuan, aku berjanji tidak akan melarikan diri, tapi izinkan aku bertemu ayah ku" aku memohon padanya.


"Baik, kau tahu sendiri akibatnya jika berani melawan ku. kapal ini akan berhenti di ibukota, anak buah ku akan mengantar mu ke rumah Duta Besar itu, dan ingat, kau akan selalu dalam pengawasan ku, dan jika kau berani menceritakan kejadian ini pada siapapun, tamatlah riwayat mu!" Tuan Reyhan membalikkan badannya. Ancaman darinya pasti akan menjadi hantu selama aku hidup disini.


"Ricard!!" Dia memanggil orang dengan tatanan rambut rapi itu.


"Yes, my big bos" orang bernama Ricard itu mengangguk dengan hormat pada Tuan Reyhan.


"Antarkan gadis ini pulang, terus awasi dia, jangan sampai dia berbuat apa-apa yang aku tidak suka" Tuan Reyhan memberi perintah. Tapi perintah apaan itu, aku tidak boleh melakukan apa yang dia tidak suka. Bagaimana aku tahu apa yang dia tidak suka.


"Baik tuan" Tuan Ricard mengantar ku meniaki kabin kapal, ada tempat istirahat disana, dia memberikan obat salep, ah iya, aku sampai lupa luka kaki ku yang sudah mulai lembam. Aku duduk, mulai mengolesi kaki ku, dan dengan beribu pertanyaan yang masih berputar-putar dalam kepalaku, aku mulai meneteskan air mata lagi, apa yang terjadi padaku? Apa salah ku? Apa yang sudah aku lakukan?. Pertanyaan itu terus seperti itu, sampai aku terlelap karena lelah.


Next...

__ADS_1


__ADS_2