
Satu Minggu sudah aku tinggal di kamar hotel ini, walaupun memiliki desain yang sangat mewah, bagiku aku ini tidak lebih seperti didalam penjara.
"Silahkan nona" Tuan Richard mempersilahkan ku menaiki mobil pribadi milik Reyhan.
"Bigg Bos ada urusan bisnis di kota, tidak bisa mengantarkan nona" Tiba-tiba Tuan Richard memberi tahu keadaan Reyhan, padahal aku hanya celingukan mencari ayah atau ibu yang mungkin ikut menjemput ku.
"Ayah dan ibu ku sekarang tinggal dimana tuan?"
"Masih di apartemen yang sama dengan nona, hanya saja mereka sekarang terpisah, Bigg Bos membelikan satu lagi untuk tuan dan nyonya"
"Jadi kami sekarang tidak bisa tinggal bersama?"
"Tentu bisa nona, tapi kata Bigg Bos sudah tidak boleh 24 jam"
"Oh Ya Tuhan, kenapa dia semakin posesif? Apa salahnya kalau tinggal bersama?" Aku mulai emosi.
"Tidak apa nona, seharusnya nona masih beruntung tuan dan nyonya hanya tinggal bersebelahan"
"Hah, baiklah Tuan Richard, terimakasih"
"Kita langsung pulang ke apartemen nona?" Tanya Tuan Richard.
"Ah, kita kekampus dulu tuan, hari ini aku ada kuliah, aku sudah terlalu lama tidak masuk"
"Oh baiklah" Mobil ini langsung melaju dengan cepat.
Saat ditengah perjalanan, aku melihat patung yang sangat khas dengan negara ini, sang singa putih atau terkenal dengan patung Merlion, berdiri dengan gagahnya dengan memancurkan air dari mulutnya.
"Tuan, setelah aku perhatikan sepertinya patung Merlion itu tidak seutuhnya berbentuk singa, apakah aku salah?" Aku bertanya setelah melihat sendiri wujud patung Merlion itu.
"Ada tidak salah nona, patung Merlion itu memang berbentuk kepala singa dengan badan berbentuk ikan"
"Kenapa bisa seperti itu tuan?" Aku mulai penasaran.
"Ah ini sedikit panjang jika di ceritakan nona"
"Aku adalah orang yang siap mendengarkan jika itu tentang pengetahuan" kataku dengan memberikan senyuman termanis.
"Haha, baiklah. Saya mulai dari kepala singa, kepala singa melambangkan sosok singa yang pernah dilihat oleh Pangeran Sang Nila Utama. Sang pangeran menjumpai sosok singa tersebut saat menemukan kembali Singapura di tahun 11 Masehi. Sebenarnya kisah ini tak hanya menyebar lewat cerita, akan tetapi juga tertulis dalam sejarah Melayu”.
"Jadi itu seperti sebuah legenda?"
"Yah kurang lebih begitu, tapi banyak yang menyatakan bahwa itu nyata terjadi"
__ADS_1
"Lalu, untuk badan yang berbentuk ikan?"
"Sedangkan untuk bentuk badan ikan, menurut cerita, ikan dalam patung Merlion melambangkan kota kuno Temasek, yang jika diartikan dalam bahasa Jawa artinya laut, dahulunya mereka adalah perkampungan nelayan yang sederhana.Temasek ini adalah nama Singapura sebelum Pangeran Sang Nila Utama mengubahnya menjadi “Singapura” yang dalam bahasa Sansekerta bermakna Kota Singa"
"Anda tahu nona, patung Merlion ini punya anak" kata Tuan Richard, membuat aku lebih penasaran.
"Maksudnya dia melahirkan anak?" Tanyaku dengan polosnya.
"Hahaha, bukan melahirkan seperti layaknya singa hidup nona, tapi setelah patung ini di buat, Mr. Lim membuat lagi patung yang lebih kecil dari Merlion dan dinamakan Cub"
"Apa orang bernama Mr. Lim itu sang pembuat patung?"
"Yah anda benar nona, dia sang pembuat patung Merlion dan anaknya Cub"
"Berapa kira-kira tingginya patung itu tuan?"
"Kalau menurut informasi yang ada patung Merlion punya tinggi sekitar 8,6 meter dengan berat hampir 70 ton, dan anaknya Cub hanya punya tinggi 2 meter dengan berat tidak kurang dari 3 ton"
"Wah, itu patung yang berat, tapi aku yakin mereka hanya akan terus segitu"
"hahaha, tentu nona, mereka tidak pernah tumbuh lagi"
"hahaha. Apa tujuan dibuatnya patung hanya untuk lambang negara ini tuan?" Aku mulai senang mengobrol dengan Tuan Richard.
"Artinya, patung yang diresmikan oleh Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada tanggal 15 September 1972 ini memang ditujukan untuk siapapun yang datang ke Singapura" Tambahnya.
"Pantas sekali patung ini terkenal di dunia"
"Yah mungkin hampir sama dengan Monas nona terkenalnya"
"Ah monas itu hanya terkenal di semenanjung Asia saja tuan"
"Benarkah? Tapi itu adalah lambang ibu kota negara andakan nona?"
"Yah benar, tapi dulu aku pernah messenger dengan orang luar negeri, saat dia bertanya aku berasal dari mana, aku jawab Indonesia, dia tidak tahu Indonesia tuan, kalau Indonesia saja dia tidak tahu apalagi tugu monasnya"
"Hahaha, benarkah? Mungkin dia bukan orang terkenal nona, atau orang itu mainnya yang kurang jauh"
"Tapi saat aku bilang Bali, dia baru tahu tuan, katanya 'oh yeah, I know Bali' tapi dia tidak tahu kalau Bali berada di negara Indonesia"
"Hahaha, kalau aku bertemu orangnya pasti aku akan tertawa terpingkal-pingkal didepannya"
"Aku masih punya masengger nya, kau lihatlah tuan, ini orangnya" Aku memperlihatkan sebuah foto laki-laki itu padanya. Tuan Richard terdiam setelah melihat foto itu.
__ADS_1
"Hahahaha"
"Kenapa tuan?" Aku bingung kenapa Tuan Richar tiba-tiba tertawa begitu keras.
"Hahahaha, apa kau tidak mengenali orang itu nona? Kau bahkan pernah bertemu dengannya"
"Benarkah? Siapa dia tuan"
"Kau ingat saat kita datang di apartemen?"
"Yah"
"Apa nona tidak mengingatnya?"
Aku berfikir sejenak dengan terus mengamati foto yang ada di ponsel ku.
"Ya Tuhan, ternyata ini Mr. Lee"
"Hahahaha, tepat nona" Aku baru menyadari orang yang sedang aku ceritakan adalah Mr. Lee.
"Tapi Mr. Lee orang sini, bagaimana dia tidak tahu Indonesia tuan?"
"Mr. Lee baru pindah 1 tahun yang lalu, dan masengger anda 4 tahun yang lalu, saat Mr. Lee masih di negaranya sendiri"
"Dimana itu tuan?"
"Argentina"
"Wah cukup jauh"
"Benar, kita sudah sampai nona" perjalanan ini tidak terasa karena terlalu asyik mengobrol dengan Tuan Richard.
"Oh iya ada pesan dari Bigg Bos nona, 2 Minggu lagi anda akan terbang ke Amerika"
"Untuk apa tuan?"
"Silahkan tanyakan langsung pada Bigg Bos, saya permisi undur diri nona"
"Ya tuan, terimakasih" setelah Tuan Richard pergi, aku memikirkan pesan Reyhan.
"Aku? Akan pergi ke Amerika? Oh ya Tuhan rintangan apa lagi yang akan aku hadapi" :(
Next....
__ADS_1