
Diana hanya punya waktu 2 hari untuk istirahat dan persiapan sebelum pertandingan, aku mengantarnya kesebuah hotel tempat penginapan para atlit lomba pencak silat asal Indonesia.
Diana hanya diperbolehkan berbeda saat jemput tidak untuk terpisah saat penginapan.
"Semangat Na, aku pasti akan datang" kataku sebelum berpisah dengan Diana.
"Harus. Bapak presiden akan datang besok, kau tidak mau ikut menyambutnya?" penawaran Diana sangat menggoda, tapi Reyhan hanya mengizinkan ku keluar untuk hari ini.
"Sepertinya tidak, tapi aku akan berusaha tetap melihat pertandingan mu" Kataku agak sedikit menyesal menolak ajakan Diana.
"Okke tidak apa-apa, kau memang harus datang saat pertandingan ku, itu wajib" Aku memeluk Diana sebelum kami berpisah.
Setelah aku sampai di apartemen, aku mendengar suara seperti pecahan piring. prang, prang, prang.
"Stupid! Kalian tahu acaranya tinggal 4 hari lagikan, aku tidak mau tahu, selesaikan sekarang juga!"
Aku melihat Reyhan sedang marah-marah dengan para pengawalnya. Saat dia melihat aku masuk, dia langsung menatapkan.
"Berhenti! Kesini kau!" Aku langsung merasakan sprot jantung saat Reyhan memanggil ku.
Aku terus berjalan menghampiri Reyhan, berdiri dengan jarak lima langkah darinya.
"Aku bilang kesini!" Reyhan masih membentak ku.
"Ah ujung-ujungnya aku juga yang kena marah" Aku hanya mengatakan itu di hati dan melangkah lebih dekat padanya.
"Ah! Kenapa kau sangat suka membuat aku marah!" Reyhan yang melihat aku hanya maju dua langkah darinya mulai bertambah emosi.
"Kalian boleh pergi! Selesaikan hari ini juga!" Perintah Reyhan pada para pengawalnya setelah dia sendiri yang mendekat tepat di depan ku.
"Baik Bigg Bos" para pengawal itu segera meninggalkan tempat.
Reyhan tidak melakukan apa-apa dan tidak mengatakan apapun juga. Dia benar-benar hanya berdiri tepat di depanku.
__ADS_1
"Emmmm, a,aku boleh pergi melihat..."
"Tidak boleh!" Kata Reyhan tegas.
"Tapi Diana ada pertandingan, a,aku sudah berjanji akan menghadirinya" Hatiku terus berharap Reyhan mengizinkan ku pergi.
"Ada syaratnya!"
"Syarat? Emmmm, katakanlah aku akan berusaha melakukannya" Aku tidak yakin dengan apa yang ucapkan sendiri.
"Lihat" Aku menatap wajah Reyhan, dan dia hanya menunjuk mulutnya dengan salah satu jarinya.
"Apa?" Aku bertanya karena tidak tahu maksud Reyhan.
"Jangan buat aku menunggu!" Katanya tanpa memberi tahu apapun. Dia hanya terus menunjuk mulutnya dengan salah satu jarinya. Sampai aku baru tersadar makna dari itu.
"A,aku, aku tidak bisa" Jawabku.
"Kalau begitu tidak ada kata pergi!" Hanya untuk menghadiri pertandingan Diana aku harus melakukannya.
Aku mulai mendekat, berharap apa yang aku lakukan adalah mimpi, aku bahkan seperti mendengar detak jantungku sendiri. Reyhan hanya berdiri dengan terus menatapku. Aku harus berjinjit, entah karena Reyhan yang terlalu tinggi atau aku yang terlalu pendek. Dengan jantung terus berdetak kencang, 'muah' satu kecupan ku berikan sebagai syarat agar aku bisa pergi melihat pertandingan Diana.
"Boleh aku pergi?" Dengan malu-malu aku bertanya pada Reyhan.
"Tidak boleh!" Aku ingin sekali marah karena Reyhan tetap tidak membolehkan ku pergi dan mengingkari janjinya.
"Kalau tidak dengan ku" kata Reyhan, setelah itu dia pergi begitu saja, menyisakan aku yang mematung dengan kebingungan.
"Apa itu artinya boleh?" Aku bertanya dengan berteriak karena Reyhan sudah berjalan sampai pintu depan, dan jawabannya hanya sebuah jari ibu dan jari telunjuk yang ujungnya dipertemukan hingga membentuk huruf O. Yang artinya 'okke'.
"Yeeeeeeees" aku mengepalkan tangan ku, ah senang sekali bisa hadir di pertandingan Diana nanti.
###
__ADS_1
Diana sudah menggunakan perlengkapan pertandingan, dia berada dikubu merah, ditandai dengan pita merah yang melingkar di pelindung body-nya.
"Dianaaa, fighting!" Aku memberi semangat dari atas podium pertandingan.
Diana bersiap-siap, dia berdoa dahulu sebelum pertandingan dimulai, lawan Diana agak sedikit gendut, tapi aku yakin Diana pasti bisa.
Prriiiiit, bunyi peluit sudah dibunyikan, pertandingan dimulai, Diana mengambil ancang-ancang, memulai dengan sedikit pemanasan, tapi sang lawan dengan tidak sabar langsung menyerang Diana dengan tendangan A nya. Diana berhasil menghindar, menyerang balik menggunakan pukulan dan tendangan, sampai 'bet' tendangan yang terakhir Diana masuk mengenai perut lawan, 2 poin untuk Diana.
10 menit pertandingan masih sangat sengit, di hasil skor, Diana masih unggul 14-10.
Para pemain kembali pasang, mengambil ancang-ancang, Diana bersiap-siap, dia berinsiatif menyerang dahulu, tendangan bebasnya melayang, ternyata sang lawan bisa menangkap tendangan bebas Diana, dia mulai kewalahan karena kakinya tidak bisa lepas, sang lawan memuntir kaki Diana kebelakang, Diana terjatuh.
Seharusnya itu sudah selesai, tapi sang lawan belum melepas kaki Diana, dia malah menjepit kaki Diana dengan kakinya. Sang lawan menjepitnya dengan lebih kuat Dan aku melihat detik-detik Diana menjerit kesakitan.
"Hentikan! Dia curang!" Kataku meneriaki pemain dari kubu biru.
Prriiiiit, wasit membunyikan peluit, melihat keadaan Diana, Diana menangis kesakitan, dari dulu sekuat apapun orang memukul Diana dia tidak pernah menangis, tangisan Diana aku merasakannya, itu karena kakinya patah.
"Dianaaa" aku turun ke area pertandingan. Berlari secepat mungkin, menerobos orang-orang yang juga penasaran dengan keadaan Diana.
"Ah, sakit, sakit" Aku menangis melihat dia kesakitan, lututnya memang langsung terlihat memar.
"Bawa dia ke balai pengobatan" Kata pelatih Diana.
Sebelum aku pergi mengantar Diana, aku mendengar wasit mengumumkan hasil pertandingan.
"Kubu biru didiskualifikasi, karena menyerang melebihi batas, sementara pertandingan di menangkan oleh kubu merah" Kata wasit.
Ah, aku tidak peduli siapa nantinya yang menang, aku hanya ingin Diana tidak apa-apa, aku hanya ingin dia tidak terus menerus menjerit kesakitan.
Setelah kejadian itu, aku tidak melihat lagi pertandingan sampai selesai, aku menunggu Diana yang sudah dirawat di rumah sakit. Sampai suara ketukan pintu terdengar.
"Nak, ini ada Bapak presiden ingin menjenguk keadaan mu" kata pelatih Diana. Diana langsung terbangun, dia tersenyum padaku.
__ADS_1
"Apa? Bapak presiden?" Jantungku langsung terpompa kuat. Aku membalas senyuman Diana, akhirnya aku juga bisa melihat beliau.
Next...