Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Janji Ayah


__ADS_3

"Untuk kejadian ini masih aku ma'afkan, tapi lain kali, bukan hanya kau yang akan masuk ke rumah sakit itu, tapi kau akan berjejer dengan kedua orang tua mu!" Kata Reyhan.


Ancaman Reyhan membuat sakit kepala ku menjadi terasa. Bagaimana dia bisa mengatakan itu, jika aku bisa memilih, aku juga tidak mau bagaimana rasanya di cium mobil.


"Jangan pisahkan aku dengan mereka Rey, aku butuh mereka selama masa pemulihan" Reyhan terdiam.


"Itu tergantung bagaimana ayahmu menepati janjinya" kata Reyhan setelah terdiam sejenak.


"Ayah berjanji untuk apa?"


"Kau bisa tanyakan sendiri pada ayah mu" perkataan Reyhan membuat aku semakin penasaran tentang janji yang di buat ayah sama Reyhan.


Reyhan terus melaju mobilnya, tanpa ada pembicaraan lain. Dia mengantar ku ke apartemen yang di belinya, dan ternyata, mobil yang di naiki ibu dan ayah juga terus mengikuti ku dari belakang.


Para pengawal Reyhan membukakan pintu untuk kami, dan Reyhan sudah berdiri di samping pintu mobil yang ku naiki.


"Aku bisa berjalan sendiri!" Kataku sebelum Reyhan mau menggendongku.


"Jangan menolak! Dan jangan membuat aku marah!" Dia malah membentak ku.


Aku melihat ibu dan ayah menyaksikan bagaimana aku selalu tidak punya pilihan, jika sudah didepan laki-laki yang belum ku tahu identitasnya ini aku hanya bisa pasrah.


"Silahkan ayah, ibu" Reyhan mempersilahkan ayah dan ibu ku untuk masuk kedalam. Reyhan menurunkanku di shofa, dan dia mendekati ayah.


"Tinggallah dengan nyaman disini, aku akan selalu menunggu anda menepati janji mu, ayah" Reyhan menekan pada kata ayah. Seolah dia sedang menantang kemampuan ayah untuk bisa menepati janjinya. Dan aku semakin penasaran tentang apa janji itu.


"Ingat! Tiga bulan, itu sudah waktu yang paling lama yang pernah ku berikan selama aku membuat janji" Kata Reyhan.


"Aku ada perjalanan bisnis selama 1 Minggu, kau baik-baik, dan aku tidak suka kau terus bersama laki-laki Fortuner itu" laki-laki Fortuner? Yacob, Reyhan tahu aku bersama Yacob.

__ADS_1


Setelah Reyhan berkata seperti itu, dia pergi, tapi sebelum dia pergi, Reyhan mendekatkan wajahnya, aku menunduk, tidak mungkin melakukan hal itu di depan ayah dan ibu, tapi Reyhan tetap mendekatkan wajahnya dan mencium keningku.


"Ingat pesan ku!" Katanya dengan nada begitu dalam.


Setelah Reyhan benar-benar pergi, ibu langsung berlari dan memeluk ku sangat erat.


"Sabarlah nak, ibu akan selalu ada di samping mu" aku masih diam.


Sudah tiga orang yang berpesan agar aku tetap sabar, Tuan Richard, Bibi Agatha, dan ibu ku sendiri. Tapi aku merasa aku masihlah berumur anak-anak, aku belum dewasa untuk bisa memahami masalah yang ku hadapi, tapi kenapa keadaan selalu memaksa aku untuk terus bersabar tanpa aku tahu dimana batas kesabaran ku.


"Kau anak ayah yang cerdas, sejak kecil kau sudah memiliki IQ tinggi, ayah berharap kau tidak hanya mampu menjawab setiap soal yang ada nak, tapi kau juga mampu menerima keadaan"


Wajah ayah sangat terlihat sedih, aku juga tidak tahu harus berkata apa, ibu hanya mampu terus memeluk, tapi itu lebih baik dari pada menghadapinya sendiri.


"Silahkan di minum dulu, tuan, nyonya, non" Bibi Agatha keluar dengan membawa minuman.


"Kenalkan yah, bu, ini Bibi Agatha, dia orang Indonesia juga, bekerja sebagai TKI, dia yang menemani Elis selama di apartemen ini" Bibi Agatha bersalaman dengan ayah dan ibu.


"Saya yang senang nyonya, bisa mengenal Non Elis"


Setelah perkenalan itu, kami menjalani hari-hari seperti biasa, ayah masih tetap menjadi supir Bapak Duta Besar, dan ibu masih menemani aku selama pemulihan. Oppa sudah dirawat oleh tante, jadi ibu bisa tinggal lebih lama di Singapura.


Sampai suatu hari aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan ibu di kamar.


"Waktunya tinggal 2 bulan kurang satu Minggu lagi" Kata ibu.


"Iya aku tahu bu, aku sedang usaha terus mengumpulkan uang itu untuk melunasi hutangnya" Aku melihat ayah terus memegangi kepalanya.


"Ibu tidak mau kalau Elis terpaksa harus menikah dengan nak Reyhan itu, dia memang kaya, tapi kehagiaan Elis harus menjadi prioritas utama yah" ibu terus memojokkan ayah.

__ADS_1


"Itukah janji ayah pada Reyhan?" Aku menebak dalam hati.


"Kalau ayah tidak bisa melunasi hutangnya, ayah akan tetap memilih masuk penjara, Elis akan tetap menikah dengan pilihannya sendiri, ibu tenang saja" Ibu hanya diam, ibu pasti bingung harus memberati yang mana.


Dan aku, aku tahu itu hanyalah tipuan Reyhan, dia akan tetap pada tujuan pertamanya, dia sudah menggertak ku dengan hutang 14 milyar, tentu hutang ayah tidak seberapa dari hutang ku. Walaupun ayah bisa melunasinya, hasilnya juga akan tetap sama.


Ternyata waktu ku untuk mencari bukti juga sudah terlewat jauh, dan aku belum tahu apa yang akan terjadi suatu hari nanti.


*Jakarta, ibukota Indonesia


Jakarta, kota kebanggaan kita


Jakarta, hai kota metropolitan


Jakarta, penuh dengan keramaian


Gedungnya tinggi-tinggi, mencakar langit


Kotanya sangat indah, duhai selangit


Jakarta, ibukota Indonesia


Jakarta, kota kebanggaan kita*.


Ponsel ku berbunyi, aku sengaja menggunakan nada dering itu, untuk selalu mengingatka ku, bahwa Jakarta adalah ibu kota Indonesia, yah, walaupun aku mendapat kabar bahwa akan ada perpindahan, setidaknya selalu mengingatkan ku bahwa itu tempat lahirku.


Aku melihat kelayar ponsel dan satu nama yang mampu membuat aku tersenyum seketika. Diana.


"Hello na" Sapaku pada Diana.

__ADS_1


"Woi boss, Minggu depan gue berangkat ke Singapur" Katanya, Aku kaget karena suara Diana yang begitu kenceng, dan lebih kaget karena berita dia akan datang ke negara ini.


Next...


__ADS_2