
"Lo ngga lagi bercanda kan Na?" Aku bertanya pada Diana.
"Ya nggaklah, gue udah bela-belain beli pulsa banyak biar bisa ngabarin ke Lo tahu, emang murah telepon keluar negeri" Diana langsung nyolot.
"Hahaha, iya, ya gue percaya, kenapa? Lo udah rindu setengah mati sama gue, sampai mau nyusulin gue ke Singapur?" Kalau udah bicara sama Diana rasanya hanya ada senyuman di kehidupan ini.
"Eh, eh, eh, pede gile, mana tahan gue nanggung rindu haha, uang gue juga belum cukup kalau gue datang kesono cuma-cuma"
"Hahaha, terus mau ngapain?" Tanyaku penasaran, kenapa Diana tiba-tiba mau datang ke Singapura.
"Cona tebak" Diana malah nyuruh aku untuk nembak.
"Apa?"
"Ya tebak dulu"
"Kau ada studi tour kesini?"
"Haha, keren gila kalau sampai studi tour ke luar negeri" kata Diana.
"Lalu?" Diana berhasil membuat aku penasaran.
"Pencak silat kita go internasional El, Minggu besok ikut pertandingan Singapore Open Pencak Silat Championship, dan aku masuk seleksi dari 1 bulan yang lalu mengikuti pertandingan" Diana begitu semangat bercerita.
"Benarkah? Wah keren, aku tunggu kedatangan mu Na" hatiku menggebu-gebu sangat bahagia.
Setelah mendengar kabar tidak menyenangkan dari ayah, kini langsung terganti berita yang mengharukan dari negara kelahiran. Indonesia, melalui pencak silat yang sering kami sebut Semut Ireng, salah satu bagian dari anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), telah lolos seleksi perlombaan internasional.
"Tentu, kau tahu bagaimana aku berjuang sampe aku masuk seleksi ini, latihan ku hanya 2 Minggu, tapi aku punya semangat yang kuat hanya karena kau El, jadi kau harus menyambut ku dengan khusus"
"Kau ingin aku sambut dengan apa?" Kataku menantang Diana.
"Hanya 2 Minggu latihan untuk masuk seleksi sampai ke internasional, Diana pasti berusaha sangat keras" batinku.
"Tentu saja dengan pesawat jet mu itu" kata Diana.
"Pesawat jet?" Aku malah kebingungan sendiri.
"Iya, kata ayahmu bercerita pada ibu, kau pernah dibawa pake pesawat jet"
"Aku?" Aku mengingat kajadian yang pernah ku alami, ah ternyata saat bersama Reyhan saat pertama kali datang ke universitas teknologi.
"Iya, pokoknya harus, kalau ngga gue ngga jadi berangkat" nada Diana benar-benar di buat kesal.
"Hahaha, gue ngga bisa jamin lo jemput pake pesawat jet, tapi gue bisa jamin jemput pake mobil sport, mau?" Kataku, mengingat ada mobil yang ngga akan keluar kalau aku juga ngga keluar.
"Mau bangeeeeeet" Suara Diana langsung berganti manja.
__ADS_1
"Hahaha, sejak kapan temen gue jadi matre?" Tanyaku menggoda Diana.
"Sejak pacar gue jadi orang kaya" suara Diana semakin dibikin gemes.
"Hahaha, Lo kapan sembuhnya si Na, mending Lo beneran cari pacar deh, biar otak Lo itu agak waras dikit"
"Hahaha, entar ah, nunggu gue putus sama pacar gue yang satu ini"
"Dasar gila" Tawa Diana tambah meledak.
"Hahahaha, udah ah perut gue sampai sakit, jadi kebelet gue" Aku langsung tertawa puas mendengar Diana bilang kaya gitu.
"Hahaha syukurin" Tapi aku juga sama, menahan tawa itu memang ngga enaknya di perut.
"Ayah ibu baik?" Tanya Diana. setelah tawa kami mulai reda
"Baik, sekarang kami tinggal bersama Na?"
"Syukurlah, apa yang dulu kau impikan, terwujud sudah" kata Diana. Yah Diana memang benar, tapi ada harga sangat mahal yang harus kami bayar.
Pintu depan tiba-tiba terbuka lebar,
"Siapa yang membuka? Pintu itu hanya bisa buka oleh aku dan...." aku langsung teringat.
"Sudah dulu ya Na, besok-besok aku yang akan menghubungi mu" Kataku cepat-cepat mengakhiri panggilan.
"Okkee, siap menunggu" Diana langsung memutus sambungan. Dan aku hanya mematung melihat siapa yang berjalan kearah ku.
"Aku, aku tidak mendeng...." Aku belum selesai berbicara, Reyhan sudah membungkam mulutku dengan mulutnya.
"Kau tidak perlu banyak beralasan, karena kau sudah kalah!" Katanya, tapi tidak sedikitpun melepas pelukannya.
"Kau jangan seperti ini, Ada ayah dan ibu" aku mencoba melepas tangannya, dan Reyhan sama sekali tidak perdulikan hal itu.
"Minggu depan kau harus menikah dengan ku" Aku menengok kewajah Reyhan meminta penjelasan, dia hanya memandang ku lekat-lekat.
"Kau jangan bercanda Rey" aku terus berusaha melepas tangannya, berharap ayah dan ibu belum melihatnya.
"Memang seperti itu perjanjiannya bukan?" Reyhan tersenyum, dengan senyuman yang licik.
"Anakku tidak akan pernah menikah dengan mu" tiba-tiba ayah muncul dan ibu di belakangnya.
"Perjanjian itu belum berakhir, masih ada 2 bulan lagi, kau harus ingat!" Kata ayah, agak sedikit bicara dengan suara tinggi.
Aku mencoba melepas dari pelukan Reyhan, tapi tangannya justru semakin erat. Sekalipun dia melepaskan, hanya untuk berpindah memeluk ku dari belakang.
"Ayah ibu baik?" Pertanyaan Reyhan seperti pertanyaan mengejek.
__ADS_1
"Lepaskan putri ku, kau tidak punya hak" Ayah sambil menunjuk-nunjuk pake jarinya pada Reyhan.
"Oh ayolah ayah, kita mau jadi besan, apa salahnya aku memeluk calon istri ku" Katanya dengan seenaknya.
"Aku sudah bilang, perjanjiannya belum selesai!" Ayah semakin marah.
"Perjanjian kita memang belum selesai ayah, tapi perjanjian calon istri ku sudah selesai sejak 1 bulan yang lalu, benarkan sayang?" kata Reyhan dengan sengaja mencium kepalaku.
"Kau!" Ayah mau maju untuk memukul Reyhan, tapi aku mencegahnya dengan cepat.
"Tunggu ayah, Reyhan Benar, sekalipun ayah bisa melunasi hutang ayah, tapi aku juga terikat hutang ku sendiri" kataku mulai membuka masalah dengan laki-laki ini.
"Berapa hutang mu nak, katakan! ayah akan berusaha melunasinya" Reyhan benar-benar hanya diam, dia memang ingin aku sendiri yang mengatakannya.
"14 miliar lebih, walaupun ayah bisa melunasinya mungkin membutuhkan waktu yang lama yah" kataku dengan nada suara pelan.
"14 miliar?, kau berhutang sebanyak itu untuk apa nak?" Ibu sangat kaget dengan jumlah yang aku sebutkan.
"Reyhan sudah membayar semua biaya kuliah ku sampai lulus bu, dan satu kendaraan mobil yang di depan itu" Mereka melihat mobil BMW i8 yang terparkir didepan.
"Ayah sudah dengar? Dan perjanjian kami hanya satu bulan, ini sudah lewat dari masa perjanjian, jadi aku hanya minta konsekuensinya, minggu depan kita akan menikah. Titik" Kata titik menunjukkan tidak ada lagi tawar menawar.
Kedua orang tua ku hanya diam, dari dulu kami belum pernah bertemu masalah seperti ini, keluarga ku adalah keluarga yang sangat tidak menyukai hutang, kami lebih baik menahan keinginan kami dari pada harus berhutang pada orang lain.
Setelah Reyhan berkata seperti itu, ponselnya mendapat panggilan. Lagi-lagi aku mendengar lagu kebangsaan Singapura itu berbunyi dari nada deringnya.
"Hello Richard" Ternyata Tuan Richard yang memanggil.
"Hemm, perlombaan Singapore Open Pencak Silat Championship?, untuk apa harus menghadirinya" Aku melepas pelukan Reyhan, Reyhan memegang tangan ku dengan sangat kuat, dan sorot matanya seperti bertanya aku hendak kemana.
"Mau mengambil minuman" kataku lirih. Reyhan baru mau melepas genggamannya, dan ibu mengikuti ku dari belakang.
Ayah dan Reyhan duduk bersama di ruang utama, tapi tidak ada satupun yang mau bicara diantara mereka.
"Aku diundang menghadiri perlombaan
Singapore Open Pencak Silat Championship, hanya karena perlombaan itu dihadiri oleh presiden dari negara Indonesia" kata Reyhan menceritakan percakapannya dengan Tuan Richard.
"Bapak presiden juga akan hadir?" Aku bertanya lirih. Berusaha menanggapi apa yang dikatakan Reyhan.
Bisa bertemu seorang presiden adalah impian ku sejak dulu, sejak zamannya persiden yang memiliki inisial 3 huruf, sampai seorang presiden yang sekarang sangat suka memakai kemeja putihnya, aku tetap ingin bertemu dengan para beliau itu.
Ayah hanya diam, dia mengambil minuman yang aku sajikan.
"Yah, sayang sekali aku tidak bisa menghadirinya, tapi aku akan mengundang presiden itu untuk hadir di acara pernikahan kita besok"
"Praaaang" Perkataan Reyhan membuat ayah kaget dan menjatuhkan gelas minuman yang di pegangnya.
__ADS_1
"Dia mau mengundang Bapak presiden?"
Next.....