
Kami baru saja sampai di kamar hotel
Hilton San Francisco Union Square Washington DC pukul 23.00, tidak sempat membereskan semua barang karena perjalanan 4 jam itu cukup melelahkan.
Reyhan memesan 5 kamar, satu untukku dan dia, 4 lainnya terbagi untuk para pengawal yang berjumlah 20. Setiap 5 jam sekali, lima pengawal akan bergantian berjaga di depan kamar kami.
"Aku ingin kau!" Kata Reyhan setelah duduk diatas kasur.
"Apa kau tidak lelah?" Tanyaku.
"Aku ingin kau!" Reyhan berdiri dari tempat duduknya, berlahan berjalan mendekati ku. Aku hanya diam saat Reyhan mulai mendekat.
"Jadwal mu bahkan lebih padat dari pada aku" Kataku, bukannya aku menolak saat Reyhan menginginkanku, tapi benar-benar melihat jadwal dia lebih padat daripada yang akan aku kerjakan.
"Aku ingin kau. Se,ka,rang" Reyhan berbisik di telingaku lembut, membuat sepontan tubuhku bergidik geli. Aku ingin sekali mendorongnya, tapi kalah cepat dengan Reyhan yang sudah melumat telingaku tanpa ampun.
Ada yang berbeda dari Reyhan memperlakukan ku malam ini, sentuhannya, pandangannya, dan cara dia melakukannya. Ada rasa seperti tidak ingin berpisah dari diriku. Tapi yang ku pahami selama ini, pernikahan ini tidak pernah tercipta karena rasa cinta, semuanya hanyalah keterpaksaan.
"Kau mau apa?" Tanyaku saat dia mulai turun kebawah. Reyhan hanya tersenyum.
"Aaaah, jangan lakukan itu, aku mohon Rey, hentikan" Aku kaget bukan main saat Reyhan mulai menciumku tapi berada di bawah sana.
Tubuhku bergetar, suaraku tercekat karena desahan, Reyhan tidak mau berhenti dengan tindakannya.
"Ah, ah, Aku mohon Rey, hentikan" kataku, tidak kuat dengan sensasi yang disajikan. Tapi Reyhan lebih memperdalam lidahnya.
"Ya Tuhan, hentikan Rey, aku mohon" Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh ku, nyawaku benar-benar seperti melayang, aku meminta Reyhan berhenti tapi nadaku seperti meminta lebih.
Sampai aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir, Reyhan baru menghentikan aksinya, dia hanya melihatku yang masih merasakan, ah entah apa itu. Dia tersenyum.
Reyhan mulai naik keatas, kembali mencium ku dengan lembut, *** kedua punyaku yang masih mungil, karena aku memang masih baru beranjak dewasa.
"I Love You" katanya.
Aku baru mau membuka mataku, meminta penjelasan tentang apa yang barusan dia katakan. Tapi Reyhan sudah memasuki ku terlebih dahulu. Membuatku kembali terpejam. Merasakan sesuatu yang terus dipaksa untuk kami bersatu, dan untuk pertama kali juga, kami merasakan puncak secara bersamaan, Merasakan kembali sensasi yang tidak bisa aku deskripsikan.
Ini pertama kalinya aku melakukan sampai selesai dengan waktu yang cukup lama, yah, tidak lain karena Reyhan lebih banyak mempermainkan aku. Dia lebih banyak membelai ku, mencium hampir seluruh tubuhku. Aku tidak tahu dia kenapa, karena biasanya, kami langsung melakukannya tanpa ada sedikitpun pemanasan.
Umurku masih muda, tubuhku masih sangat sensitif dengan hal-hal seperti itu. Jujur ada sedikit ketagihan saat Reyhan melakukan itu padaku. Tapi aku masih punya malu yang sangat kuat jika harus meminta kejadian itu diulang.
"Hah, hah, hah," nafasku lebih lelah daripada Reyhan, karena ini pertama kalinya aku merasakan hal yang lebih dari malam-malam sebelumnya.
"Jangan menatapku seperti itu" kataku. Aku sangat malu saat Reyhan menatapku terus menerus.
"Istirahatlah, ini mungkin akan menjadi istirahatmu yang paling tenang dalam Minggu ini" kata Reyhan, tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya dariku.
"Bagaimana aku bisa tidur, kalau kau terus seperti mengawasiku?" Reyhan tersenyum setelah aku mengatakan itu
"Dengan rubah kecil, apapun yang terjadi nanti, kau akan tetap menjadi milikku, aku tidak akan melepaskanmu sedikitpun, saat kau sudah mulai tahu fakta demi fakta siapa aku sesungguhnya, maka jangan pernah berharap kau akan bebas dariku" yang Reyhan katakan adalah sebuah ancaman, tapi saat dia mengatakannya dengan begitu lembut, aku merasa itu seperti sebuah perhatian yang masih terpendam.
"Iya" hanya itu jawabanku sebelum kami berdua terlelap.
💖💖💖
__ADS_1
"Silahkan nona" Tuan Richard membuka pintu mobil untukku.
"Apa aku akan berlatih sendiri?" Aku ingin bertanya tentang Reyhan, tapi aku malu mengatakannya kepada Tuan Richard.
"Anda akan dilatih oleh pengawal 1 dan 3 untuk tahap menembak nona" Kata Tuan Richard.
"Hemm, baiklah"
Mobil terus melaju, melewati sebuah lorong besar di belakang hotel Hilton San Francisco Union Square Washington DC, disana terlihat sebuah bangunan besar bertingkat dua.
"Wellcome Mr. Richard" beberapa penjaga gedung itu keluar menyambut kedatangan kami.
"Please sir, this is the latest release weapon. But it is very suitable for beginner practice" Kata salah satu orang yang menyambut kami, katanya senjata ini adalah senjata pengeluaran terbaru. Tapi sangat cocok untuk latihan pemula.
"Okay, thank you" Kata Tuan Richard.
"You're welcome Mr Richard"
Mereka semua pergi, menyisakan aku, Tuan Richard, dan 3 pengawal yang akan melatihku.
"Silahkan nona" Tuan Richard memberikan sebuah pistol. Saat aku ingin memegangnya aku langsung teringat kejadian di kapal pesiar. 'Klotak' pistol itu terjatuh sebelum ada di tanganku.
"Ada apa nona?" Tanya Tuan Richard heran.
"Tidak apa-apa tuan, aku hanya masih sedikit troma dengan sebuah pistol" kataku terus terang pada Tuan Richard.
"Oooh, baiklah, pertama lihatlah pistol ini nona, bayangkan kalau ini kue, kue yang berbentuk roti, cobalah bayangkan nona" Aku mulai mengikuti instruksi Tuan Richard.
"Sudah?"
"Sekarang peganglah kue ini" perintah Tuan Richard. Aku mulai memegangnya, masih membayangkan bahwa itu hanyalah kue. Saat aku mulai memegangnya tromaku sedikit menghilang.
"Pelajaran pertama, lihatlah arah musuh mu nona, arahkan padanya" Aku melihat sebuah gambar didepan. Mengikuti gerakan dari pengawal 1 yang di instruksikan Tuan Richard.
"Kedua, perhatikan jarak musuhmu, pistol ini hanya bisa menembak dengan jarak 50 meter, tempat anda berdiri sudah cukup" kata Tuan Richard.
"Gunakan mata anda untuk menemukan titik yang tepat pada musuh saat menembak" katanya lagi, aku mengarahkan pistol ku kesalah satu gambar yang ada di depan. 'DOR' satu tembakan meluncur. Taun Richard melihat hasil tembakanku melalui teropong pembesar.
"Waaah, bagaimana anda bisa melakukannya hanya sekali percobaan nona?" Kata Tuan Richard setelah melihat hasil tembakanku.
"Tepat mengenai dahi musuh, silahkan coba lagi nona, saya tidak ingin ini hanya sebuah kebetulan"
Aku mengarahkan pistol ku lagi, ada empat gambar yang berdiri di depan, aku mulai konsentrasi, menarik pelatuk pistol empat kali tembakan sekaligus, hanya terjeda dua detik per tembakan. 'Dor, Dor, Dor, Dor'. Tuan Richard kembali melihat hasil tembakanku.
"Fantastis, tembakan nona semuanya tepat sasaran, dan semuanya tembakan mematikan, sungguh hal yang mustahil"
Tuan Richard tidak berhenti memujiku terus, aku hanya bisa tersipu malu. Bagaimana Tuan Richard tidak cengang, aku sendiri saja kaget dengan kemampuanku.
"Kalau seperti ini, kita tidak perlu memerlukan waktu sampai 3 hari, kita habiskan saja semua latihan hari juga" kata Tuan Richard lagi.
Setelah cukup dengan percobaan latihan kurang lebih 50 tembakan dengan pistol yang berbeda, kini aku mulai berlatih menggunakan belati, ini juga tidak terlalu sulit untukku, karena dalam latihan beladiri ku selama di SMA, salah satunya juga diajarkan menggunakan belati. Tiba-tiba pintu gerbang utama terbuka, saat aku mau bertanding melawan pengawal 3.
"Selamat datang Bigg Bos" semua turun menyambut Reyhan.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah bilang! Untuk latihan pertama adalah senapan api!" Reyhan datang-datang langsung membentak semua yang ada diruangan.
"Sudah Bigg Bos, kemampuan nona sangat luar biasa, dia sudah mencoba semua senjata yang ada, dan semua tepat sasaran dengan tembakan yang mematikan" Kata Tuan Richard, mencoba menenangkan kemarahan Reyhan.
"Benarkah? bagus, sekarang sedang tahap apa?" Tanyanya dengan terus menatapku.
"Akan berduel beladiri dengan menggunakan belati bersama pengawal 3" kata Tuan Richard.
"Berduel denganku!" Perintah Reyhan.
"Apa?"
"Kenapa? Kau lebih suka berduel dengan pengawal daripada denganku?"
"Tidak, bukan seperti itu, hanya saja kemampuanku masih tahap belajar" kataku, sebenarnya aku malu kalau harus berhadapan langsung dengan Reyhan, apalagi kalau mengingat kejadian tadi malam, tapi aku lebih malu untuk mengakuinya.
"Aku ingin lihat" Reyhan sudah naik di atas ring pelatihan.
"Apa kau tidak menggunakan belatinya?" Tanyaku karena ini tahap latihan belati.
"Kau pegang erat-erat saja belatinya" kata Reyhan.
"Mulai"
Kami berputar, mencari titik yang tepat untuk menyerang, Reyhan hanya berjalan santai dengan terus menatapku.
"Hiaa" Aku menyerang terlebih dahulu, sebuah tendangan melayang, Reyhan mampu menghindari, aku berbalik badan, menyerang dengan belatiku, tiga kali serangan bertubi-tubi Reyhan tetap mampu menghindarinya dengan santai.
"Kurang cepat!" Katanya dengan tegas.
Aku menyerang kembali, memainkan taktik mematikan dari sebuah belati tajam, dua kali tendangan bebas, disusul pukulan dan sikutan, secepat mungkin aku melakukan serangan secepat itu pula Reyhan mampu menghindari gerakanku, seolah-olah semua gerakan dapat terbaca mudah olehnya.
"Menyerah?" Hatiku langsung panas saat Reyhan meremehkan kekuatan ku.
"Tidak ada kata menyerah" Aku langsung bangkit kembali menyerang Reyhan dengan semua kemampuanku, tapi tidak satupun pukulanku yang berhasil mengenai tepat sasaran.
Reyhan maju, bergantian menyerangku, aku terus berusaha menangkis dan balik memukul, tapi setiap kali pukulannya hendak menghantam tubuhku, dia mengeremnya dengan mudah, padahal kecepatan memukulnya sangat luar biasa.
Aku menyodorkan belati tepat diwajahnya, Reyhan mampu menghindar, memegang tangan ku dengan kuat, memelintirnya kebelakang, kini aku ada dipelukan Reyhan, dengan nafas yang terengah-engah tak beraturan.
"Kau hanya kurang cepat, 2 hari kedepan terus latihan tanpa henti, sekalipun kau sudah bisa, tapi kemampuan mu harus yang paling luar biasa, paham!" Reyhan berbisik di telinga ku.
"Paham" kataku pelan, dengan terus mengatur nafasku.
"Sekarang bagaimana kau akan melepaskan ini" kata Reyhan, yang di maksud adalah dekapannya padaku.
Aku tidak kekurangan akal, satu teknik saat engkau disekap dari belakang adalah berganti mengincar salah satu kaki mereka.
"Hiaaa!" Aku menginjak dengan sekuat tenaga, untuk kedua kalinya Reyhan terkena seranganku yang satu ini.
"Aaaaaaahhh, Sit!"
"Hahahahaha" Aku tertawa puas saat melihat Reyhan kesakitan memegangi salah satu kakinya yang sudah ku injak dengan keras.
__ADS_1
"Kau rubah kecil yang licik" Katanya.
Next....