Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Pergi


__ADS_3

"Elis Hp mu berbunyi, sepertinya telepon" suara ibu terdengar dari ruang tamu, aku masih sibuk menyiapkan apa saja yang akan ku bawa ke Singapura, semuanya ingin di bawa, tapi itu tidak mungkin, aku pasti akan kelelahan sendiri disana.


"Iya bu, sebentar" aku berjalan menuju ruang tamu, mencari Hp yang masih berbunyi. Melihat sejenak no di layar ponsel.


+65********* "No apa ini" batin ku mulai bertanya-tanya, tidak menunggu lama langsung ku angkat panggilan itu.


" Hello, siapa ini" Tidak ada suara disana, aku mengulang beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban, "mengganggu pekerjaan ku saja" batinku mulai menggerutu, tapi belum sampai mematikan ponsel, baru ada suara.


" Aku menunggu mu" suara laki-laki.


"Apa, apa maksudmu? ini siapa?" Aku mulai bertanya-tanya


"Aku menunggu mu" Hanya itu lagi yang dia dikatakan, belum sampai ku tanyakan lagi apa maksud perkataannya, teleponnya sudah terputus.

__ADS_1


"Siapa El?" tanya ibu, setelah tahu aku tidak lagi menelpon.


"Entah bu" Aku menjawab ibu, masih dengan rasa penasaran yang muncul karena telepon tadi, Suara itu begitu asing, suara yang berat, kau tau suara laki-laki yang baru mengalami pubertas, yah seperti itulah suara laki-laki tadi, dia hanya mengatakan "aku menunggu mu" dia sedang menunggu ku? untuk apa?.


" Cepatlah El, waktu mu tidak banyak untuk mengejar pesawatnya" ibu membangunkan lamunan ku, ah benar kata ibu, waktu ku hanya tinggal tiga jam lagi untuk sampai di bandara. Sebenarnya semua sudah siap, tinggal memasukkan semua kedalam mobil dan berangkat. Untung saja waktu untuk sampai ke bandara hanya satu jam dari rumah.


Saat aku sedang memasukan barang-barang kedalam mobil, ada sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang, seseorang membuka pintu mobil itu dan keluar. Dia hanya berdiri dengan tatapan serius, aku memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia mulai berjalan menghampiri ku. Aku tetap diam, sedikit demi sedikit dia mulai berlari, aku hanya bisa membuka kedua tangan ku, ku persiapkan pelukan hingga dia sampai di depan ku. Air matanya mulai pecah, belum ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


"Jangan lupain aku El" Katanya di tengah-tengah isak tangis yang terus mengalir.


"Gue antar lo bolehkan?" Diana memohon, ah temen ku yang satu ini, harusnya aku yang memohon sama dia buat anterin aku kan??...


"Ngga boleh!" Jawabanku sedikit dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Sekarang keliatan siapa yang jahat" Diana masuk kedalam dengan nada kesal.


"Tante, anak tente ini ngga punya perasaan" Dia mulai mengadu, setelah selesai mencium tangan ibu ku.


"Hahahaha. Iya, ya, gitu aja marah, tuh dilap dulu matanya, tadi cilok Lo kebawa air mata" Diana tambah kesal dengan candaan ku, tapi dia tetap mengelap matanya yang masih basah. Eh ngga ada ciloknya ko.. hehehe


"Udah, udah, ayo berangkat. Diana duduk sama Elis, biar ibu duduk depan" perintah ibu.


"Siap tante" tak ketinggalan setiap Diana mengucapkan kata "siap" tangan kanannya, akan ikut terangkat memberi hormat.


"Siapa juga yang mau duduk sama Lo" Canda ku pada Diana.


"Tanteeeeeee" dia merengek pada ibu. aku hanya tertawa lepas. Ahahahaha, Diana aku memang takan bisa melupakan mu, kecuali kalau aku amnesia.

__ADS_1


Saat di perjalanan ke bandara, aku memikirkan panggilan laki-laki tadi, Elis masih penasaran dengan nomer yang masuk, nomer itu bukan dari negaranya +65******* itu dari negara lain, aku ingin mencari tahu nomer itu dari mana, tapi ah mungkin nanti saja setelah aku sampai di Singapura.


Next....


__ADS_2