
"Karena kau sudah mengganggu pekerjaan ku jadi kau harus menemani ku sekarang" Reyhan duduk dengan santai, melupakan begitu saja apa yang barusan terjadi.
"Kemana? Aku tidak bisa pulang setelah petang" aku memberanikan bertanya karena ayah pasti akan menunggu ku.
"Ke hotel" Reyhan memandangku. Melihat ekspresi ku setelah dia mengatakan kata hotel.
"Kau jangan main-main" Aku mulai gelisah.
"Siapa yang main-main? Kau sendiri yang membuat masalah! Jadi kau harus menerima hukumannya" Katanya membentak ku.
"Aku sudah bilang jangan membuat aku menunggu dan jangan membuat aku marah! Atau kau mau melihat supir kesayangan mu itu babak belur lagi" Reyhan kembali keaslinya, bicara dengan nada tinggi dan suka sekali mengancamku.
"Kau tidak boleh lagi melakukan itu padanya, aku mohon, kalau kau ingin menyakitinya maka biarlah aku yang akan menerima" Rasa marahku sedikit hilang rasa, berganti memohon padanya untuk tidak meyakiti ayah.
"Hahaha, benarkah? Kalau begitu tanda tangani ini!" Reyhan memberikan tumpukan kertas yang berisi syarat-syarat selama aku membuktikan bahwa aku tidak bersalah.
"Apakah hutang itu masih berlaku?" Tanyaku mengenai syarat yang kedua.
"Tentu saja, aku sudah membayar biaya kuliah mu sampai kau lulus, jadi jika kau berani macam-macam, aku akan menuntut mu dengan uang itu" Jawabnya.
"Tapi aku tidak pernah meminta mu untuk membayar semua itu" Aku meminta kejelasan.
"Benar, memang aku yang mau sendiri, karena aku tidak suka kau melawan terus" katanya dengan tegas.
"Tanda tangani cepat! Dan tidak usah banyak bertanya" Katanya, dia melemparkan sebuah pena untuk ku tanda tangani. Aku tidak punya pilihan lain, ku goresakan tinta itu pada kertas perjanjian yang hampir semuanya memberatkan ku.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan sampai Bigg Bos" Pilot yang didepan memberi tahu kepada Reyhan.
"Hemm" Jawabannya dengan cuek. Tapi dia terus memandangi ku dengan tajam.
Selang beberapa menit, helikopter itu mendarat di atas atap gedung. Saat aku turun dari helikopter, pemandangan danau dari atas gedung ini sungguh memanjakan mata yang memandang, sungguh indah nan menawan. Dengan pancaran cahaya lampu warna warni dari hiasan gedung, danau itu juga ikut berkilauan karena terkena lampu dan memantulkan cahayanya kembali. Ditambah ada sebuah kincir angin yang begitu besar menghiasi kota ini, membuat setiap orang terkagum-kagum, bahkan bisa membuat hati yang tadi begitu resah menjadi tentram tak terkira.
"Kau sedang apa? Cepat jalan! Atau aku akan menggendong mu lagi?!" Suara Reyhan membuat aku tersadar dari pesona kemewahan yang ada.
"Hemm, bolehkan aku menunggu disini?" Tanyaku dengan hati-hati.
"Tidak! Kau harus ikut aku kebawah!" Bentaknya.
" Kau tahu aku tidak suka apakan? Cepetlah! aku tidak suka menunggu!" suaranya lebih membahana. Membuat jantungku tiba-tiba terpompa 100 kali lipat.
"Ba, baik" Aku mengikutinya dari belakang.
Saat kami keluar dari pintu lift, mataku kembali dimanjakan oleh bangunan super mewah dari hotel ini, arsitektur yang sungguh menakjubkan dihiasi air mancur dan taman yang asri didalamnya. Entah mengapa setelah aku melihat danau menawan itu dari atas gedung, kini aku mulai menikmati kemewahan yang ada di depan mata.
"Selamat datang di hotel Marina Bay Sands Singapore. silahkan mau pesan berapa kamar?" seorang pelayan dari hotel ini menyambut kami. Dan pertanyaan pelayan itu tentang pesan berapa kamar, seketika membuat jantungku yang sudah tenang kembali meloncat-loncat.
"Ya Tuhan, apa yang sedang aku lakukan disini, aku ingin pulang" didalam hati, aku ketakutan setengah mati. Tapi Reyhan dengan santainya menanggapi para pelayan itu.
"Kamar VVIP satu, dan VIP dua" katanya kepada para pelayan hotel.
"Baik Tuan, mohon tunggu sebentar" pelayan hotel itu begitu ramah setelah Reyhan memesan kamar VVIP.
__ADS_1
"Untuk satu kamar VVIP nya US$1.245, dan dua kamar VIP US$1.518" Pelayan itu memberi tahu harga yang harus dibayar Reyhan.
Salah satu pelayan Reyhan langsung memberikan kartu kredit berwarna emas kepada pelayan itu.
"Apa tidak salah, satu kamar seharga US$1.245? itu setara dengan 18 juta rupiah bukan?" batinku mulai terkagum-kagum karena mahalnya harga yang ditawarkan.
Setelah membayar Reyhan langsung pergi menuju kamar yang sudah di pesan. Aku sangat ragu-ragu untuk ikut, aku hanya berdiri mematung saat Reyhan sudah mulai berjalan.
"Kenapa kau suka sekali membuat aku marah! Jangan buat aku menunggu!!" Reyhan membentak ku, karena aku tidak mengikutinya jalan. Semua orang yang ada disana menatap kami. Bahkan ada yang Sampai kaget karena suara Reyhan.
Dengan jantung yang terus berdetak kencang, hati yang menjerit karena rasa takut yang luar biasa, keinginan untuk memberontak, dan secepat kilat ingin menghilang dari tempat itu. Tapi aku tidak punya daya untuk kabur, sepuluh pengawal terus mengikuti ku dari belakang.
"Masuk" kata Reyhan setelah membuka kamar hotel.
"Aku mohon tuan, ma'afkan aku kali ini saja, aku janji tidak akan membuat Tuan Reyhan marah lagi" kataku memohon sebelum aku masuk kekamar itu dan memanggilnya namanya kembali dengan sebutan tuan.
"Aku bilang masuk!" Reyhan terus menyuruh ku untuk masuk. Menarik tanganku untuk ikut bersamanya masuk kedalam.
"Aku mohon" Aku mengangkat kedua tanganku, menyatukannya, dan terus memohon pada Reyhan untuk melepaskanku. Tapi dia tidak memperdulikan permohonan ku.
Dia memelukku dari belakang, dan terus mendorong ku untuk masuk kedalam kamar. Aku benar-benar tidak bisa melawannya karena dia begitu sangat kaut.
"Aku mohon tuan, lepaskan aku" Reyhan malah semakin erat pelukannya. Aku berusaha mengumpulkan tenagaku, mencoba melepas tangannya yang semakin erat di perutku.
Sampai aku benar-benar sudah masuk kedalam kamar hotel itu, hatiku semakin takut. Yang ku ingat hanyalah ibu dan ayah, wajah mereka terbayang-bayang di kepalaku.
__ADS_1
"Ayah, tolong aku" Hatiku menjerit.
Next...