Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Singapore Changi Airport


__ADS_3

Aku menaiki helikopter milik Reyhan, penerbangan untuk kedua kalinya hanya aku seorang, dan bersama dua pilot di depan.


Tujuanku adalah bandara Singapore Changi Airport salah satu bandara terbaik di dunia, memiliki 4 terminal sekaligus, jika kau datang ke bandara ini hanya untuk transit atau memang datang ke Singapura, maka akan ada yang selalu bisa kau lakukan setiap jamnya di area keempat terminalnya.


Aku turun dari helikopter, memasuki terminal bandara, mencari seseorang yang sudah aku tunggu-tunggu kedatangannya.


"Dianaaaaaa" aku memanggil sahabat ku yang sedang asyik menonton pertunjukan.


"Eliiiiiiss" Diana berteriak lebih kencang setelah melihat siapa yang memanggilnya.


Kami berlari bersama, hatiku seperti melayang melihat sahabatku di depan mata, dengan jarak kurang satu langkah kami melompat bersama dan...


"Hap" kami saling berhadapan, melakukan yang sering kami lakukan dulu waktu masih sekolah. Menepukan salah satu tangan kami. Plak, plak. Suara benturan antara tanganku dan Diana berbunyi dan terakhir mendayung kan keduanya dan berkata.


"Eyaaaah" Kami berpelukan sangat erat. Dan hal yang tidak bisa kami tahan adalah menangis bersama.


"Miss You" kata Diana ditengah-tengah pelukan kami.


"Miss you to Na" kataku lebih mempererat pelukanku.


"Aku masih ingin melihat pertujukan di terminal itu, kita lihat dulu yah" Dengan sisa-sisa tangis aku hanya mampu tersenyum, Diana langsung menarik tanganku.


Setelah aku melihat beberapa atraksi di salah satu terminal bandara Singapore Changi Airport ini, aku semakin terkagum dengan keindahan bandara ini, Diana juga sama, sedikit-sedikit dia tertawa dengan apa yang dilihatnya.


"Pantes saja bandara ini terus menerus meraih gelar bandara terbaik di dunia, aku pasti tidak akan merasa bosan jika harus berdiri seharian disini" Kata Diana.


"Kalau Lo mau seharian berdiri disini, bakal gue tinggal" Kataku bercanda mengancam Diana.


"Ngga papa, tinggalin 10 juta aja udah cukup" katanya.


"Belum sembuh matrenyaa?" Diana langsung tertawa.


"Hahaha, selagi Lo masih jadi orang kaya" Katanya mulai asal.

__ADS_1


"Wah alarm bahaya ini" kami berdua kembali tertawa.


"Apalagi kemewahan dari bandara ini El?" Tanya Diana ditengah-tengah kami menikmati kuliner yang ada di bandara ini.


"Kalau setahu aku, reputasi mewah yang di miliki adalah saat check-in karena memiliki konsep fast and seamless travel yang di ringkas dalam suite otomatis sepenuhnya untuk check-in, pelabelan bagasi, dan boarding penerbang" kataku menjelaskan yang aku tahu.


"Waaah, Terus?"


"Ada yang paling unik disetiap restoran atau tempat makan biasa disini" kataku.


"Apa itu"


"Kalau lihat tisu-tisu yang ada di atas meja itu" Diana langsung memperhatikan meja-meja yang terisi tisu.


"Yah, apa uniknya?" Tanya Diana heran.


"Kau tidak boleh duduk di setiap meja yang sudah ada tisunya, karena tisu diatas meja pertanda bahwa meja itu sudah di boking, dan orang yang membokingnya sedang mengantri membeli makanan" kataku menjelaskan.


"Yah, seperti itu adat yang sudah melekat di warga Singapura, dan mereka juga memiliki budaya tertib mengantri yang paling bagus"


"Ternyata bukan hanya Indonesia saja yang punya budaya mengantri. Lalu?" Tanya Diana lagi. Hal yang sama antara aku dan Diana adalah kita tidak akan puas kalau informasi yang kita dapat hanya setengah-setengah.


"Yah, seperti yang kau lihat, dibandara ini tidak kalah dengan mall-mall, ada yang jual kosmetik, jam tangan mewah dan bermerek, sampai aksesoris busana"


"Habis ini kita shoping yah, pacar gue kan kaya" Diana mulai lagi dengan gilanya.


"Lo bakal diem kalau Lo tahu, sekarang gue punya hutang, hutang gue udah kaya orang pembisnis aja Na" kataku, membicarakan hal nyata itu seperti sedang bercanda.


"Lo punya hutang? Sejak kapan?" Diana mulai penasaran dengan apa yang aku katakan walaupun dia mengira aku bercanda.


"Sejak hidup di negara ini" kataku.


"Emang berapa El?" Diana meminum jus alpokatnya setelah bertanya.

__ADS_1


"14 miliar"


"Uhuk, uhuk, uhuk" Diana tersendat setelah mendengar jumlah hutang ku.


"Lo kalau mau bercanda kira-kira dong nyebutin angkanya, sejuta atau dua juta ke, ini 14 miliar" kata Diana sambil mengelap mulutnya. Tapi kembali meminum minumannya.


"Emang segitu, dan gue Minggu besok mau nikah" kataku.


"Uhuk! Eliiiiiiis" Diana kembali tersendat kali ini sampai tumpah kemeja makan.


"Hahaha, yang santai bos" aku membantu Diana mengelap meja.


"Lo mau bunuh gue?" Aku hanya tertawa.


"Tapi itulah kenyataannya Na" Batinku menambahkan.


"Kau benar-benar menjemput ku memakai pesawat jet?" Diana terlihat sangat senang setelah dia tahu aku benar-benar menjemputnya pake helikopter milik Reyhan.


"Sesuai pesanan mu Nona" kataku menggoda Diana seperti seorang pelayan.


"Aaaaaaah, senang sekali rasanya" Diana langsung naik dan aku mengikutinya dari belakang.


"Bagaimana bisa?" Diana masih terheran-heran dengan helikopter yang dinaikinya.


"Pemiliknya tahu aku mau menjemputmu di bandara, lalu dia menyuruhku menggunakan helikopter ini saja, aku hanya menurut, dan untuk memenuhi sesuai pesanan juga" kataku. dan berhasil membuat Diana tertawa.


Aku langsung teringat sebelum aku menjemput Diana, Reyhan mencegah ku, melarang aku untuk berpergian karena katanya pernikahan akan terlaksana 4 hari lagi. Aku berbicara baik-baik, meminta keluar hanya untuk menjemput Diana. Reyhan membolehkan ku pergi, asalkan menggunakan helikopternya. Dan soal pernikahan, aku maupun keluargaku benar-benar tidak punya pilihan, karena aku tidak mau ayah yang masuk penjara.


"Lihatlah pemandangan dari atas sini, sangat indah sekali El" Kata Diana, dia terus melihat kebawah.


Dan untuk pertama kalinya aku juga menikmati perjalanan ini. :)


Next...

__ADS_1


__ADS_2