
"Hay sayang" Reyhan langsung memeluk ku dari belakang. Aku sempat sedikit kaget karena kedatangannya tidak aku ketahui.
"Kata Richard kau tidak mau makan karena menunggu ku" Kepalaku langsung berputar keras.
"Kapan aku mengatakannya?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Sudah kau tidak perlu malu mengakuinya, ayo kita makan, sebentar lagi pelayan datang" dan benar, setelah Reyhan mengatakan itu, pelayan restoran meminta izin masuk, membawa berbagai jenis makanan lezat.
Sepuluh menit sudah berlalu dari pelayanan makanan itu selesai menaruh makanan dimeja, tapi Reyhan tidak sedikitpun melepas pelukannya.
"Apa kita akan terus berdiri seperti ini?" Tanyaku dengan memegangi tangan Reyhan.
"10 menit lagi" kata Reyhan lebih mempererat pelukannya.
"Aku kesusahan bernafas, dan kaki ku sudah mulai semutan"
"Cium aku, kalau kau mau aku melepasnya sekarang" Perintahnya.
Dulu aku sangat ketakutan saat dia terus mencoba mencuri ciuman ku, bahkan aku sangat takut kalau Tuhan menjadi murka. Tapi sekarang bukankah semuanya menjadi terbalik, mau ku akan menjadi palaha tersendiri, melawan akan menjadi murkanya Tuhan.
"Kau mau apa?" Reyhan bertanya setelah aku berusaha melepas tangannya di perutku.
"Bagaimana aku bisa melakukannya kalau kau terus dibelakang ku?"
Dia tersenyum, melepaskan tangannya seketika, aku berbalik, dengan jantung berdetak tak berirama, aku mulai mendekat, memejamkan mataku karena rasa malu. Cup. Satu kecupan singkat mendarat di bibirnya. Reyhan tersenyum.
"Let's go, we have dinner" katanya dengan menggendongku ke meja makan.
"Makanlah yang banyak"
Aku melihat sisi lain dari seorang Reyhan Anggara, dia mau mengambilkan makanan untuk ku, menuangkan minuman disaat aku baru mau mengambilnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanyaku setelah selesai makan.
"Apa?" Jawabnya singkat, tapi dalam bentuk pertanyaan.
"Kenapa kau bisa menganggap keluarga ku adalah keluarga keturunan dengan silsilah kerajaan?"
"Memang"
"Tapi ayah tidak pernah menceritakan apapun, tidak pernah ada kata silsilah kerajaan dalam keluargaku"
"Keturunan mu memang sengaja di sembunyikan, karena ada orang-orang yang tidak suka kalau masih ada keturunan dari kerajaan mu yang masih hidup" penjelasan Reyhan membuat aku semakin penasaran.
"Aku belum paham maksud dari semua itu"
__ADS_1
"Kau selalu merasa bahwa kau hanya keturunan orang biasakan?"
"Memang itu yang selalu ayah ajarkan padaku"
"Apa kau tidak pernah curiga? Bagaimana bisa seorang ayah berkerja selama tiga tahun tapi dia tidak pernah pulang sama sekali? padahal aku yakin, gajih seorang supir Duta Besar itu pastilah lebih dari cukup. Apa kau tidak curiga? Bagaimana seorang ibu yang sudah cukup dengan gajih ayah mu itu, tetap melakukan pekerjaan sebagai tukang cuci baju tetangga-tengga mu?" Pertanyaan Reyhan benar, semua itu memang tidak masuk di akal kalau kita mengikuti pada umumnya.
"Aku mohon berikan Jawabannya" kataku sangat penasaran dengan keluargaku sendiri.
"Cium dulu" Reyhan tersenyum nakal.
Disaat seperti ini dia masih mau mempermainkan ku. Cup. Aku tidak berfikir panjang untuk melakukan apa keinginannya. Dan aku berpindah duduk didepannya.
"Thank you. Pertama ayah mu sudah tahu kalau ada yang mengincar keluarganya, jadi dia memutuskan untuk pergi bekerja ke negara ini agar tidak ada yang tahu keberadaan kalian, begitu juga ibu mu, aku yakin ibu jarang sekali keluar rumah bukan?"
"Benar" aku mengingat, ibu memang sangat jarang keluar rumah, baju-baju yang ibu cuci, para tetangga yang mengantarkan dan mengambilnya sendiri.
"Karena ibu mu juga sedang menyembunyikan identitasnya, ibu ingin para tetangga tahu kalau ibu mu hanya bekerja sebagai tukang cuci, padahal dia adalah keturunan keraton"
"Benarkah, apa semua yang kau katakan tidak bohong Rey?" Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan penjelasan Reyhan tentang keluarga ku sendiri.
"Untuk apa aku mengejar-ngejar dirimu sampai mengeluarkan uang miliaran hanya untuk sebuah kebohongan. Dan didalam jiwa mu kau memiliki darah garis biru, darah garis para bangsawan, banyak orang yang sedang mencari dari garis keturunan mu ini, beruntung aku yang mendapatkannya dulu, hahaha" kata Reyhan dengan tawa seperti orang baru mendapatkan undian.
"Keturunan kerajaan mana yang kau maksud?"
"Akan aku katakan, tapi tidak sekarang, karena kau pasti akan mencari tahu kebenarannya, saat kau mencari kebenaran itu, maka orang-orang yang sedang menunggu akan tahu, bahwa keturunan kerajaan itu memang masih ada, dan mereka akan langsung memburu mu"
"Ah kau ini memang keras kepala, baik, pertama kerajaan ini adalah kerajaan paling berjaya diantara kerajaan sebelumnya, berdiri pada tahun 1293-1500 M. Dan menjadi kerajaan Hindu-Budha yang terakhir" Reyhan terdiam, dia sengaja membuat aku lebih penasaran.
"Lagi" kataku meminta identitas kerajaan itu lebih lengkap. Tapi Reyhan hanya tersenyum.
"Satu kecupan" katanya dengan jari yang sudah menempel di bibir.
"Rey...."
"Kalau begitu aku tidak akan melanjutkan" Ah benar-benar membuat hatiku ingin meledak.
Cup. Satu kecupan lagi sudah mendarat.
"Untuk identitas kerajaan hanya sampai itu" kata Reyhan dengan seenaknya.
"Reyhaaaaaaaan" Aku memukulnya dengan batal, jika di depanku ada palu, sudah ku pecahkan kepalanya.
"Hahahaha. Tapi kau masih boleh bertanya yang lain" Aku berhenti memukulnya.
"Apa untungnya jika sudah mendapatkan keluarga ku?" aku langsung bertanya, tidak ingin kehilangan kesempatan ini.
__ADS_1
"Di dalam kerajaan pasti punya warisan berlimpahkan, apa lagi nenek moyangmu adalah kerajaan terkaya. Piring yang untuk makan saja terbuat dari emas dan perak. Tentu hanya keturunannya yang berhak atas warisan itu, dan bisa mendapatkan mu adalah sebuah keuntungan besar" kata-kata Reyhan menyinggung perasaan ku.
"Dan kau begitu keras ingin mendapatkan ku karena itu?" Tanyaku dengan hati sedikit kecewa.
"Hahaha, harta ku sampai tujuh turunan pun tidak akan habis, untuk apa aku mendapatkan mu hanya untuk mencari harta yang tidak seberapa itu"
"Lalu?"
Reyhan tidak langsung menjawab, dia terdiam sejenak, hanya terus memperhatikan ku dengan lekat.
"Kau sudah tahu silsilah keturunan ku bukan? Percaya atau tidak, keturunan ku hanya bisa berhubungan dengan keturunan kerajaan dan terutama garis keturunan dari kerajaan jawa, aku sudah memeriksakan keseluruh hospital terbaik, tapi tidak ada bisa menyembuhkan hal itu, tentu itu membuat laki-laki perkasa seperti ku sedikit frustasi" katanya.
Aku masih menunggu kelanjutan fakta kedua dari seorang Reyhan Anggara.
"Aku mulai mencari, menelusuri satu demi satu yang berhubungan dengan keturunan kerajaan, sampai suatu hari aku berpapasan dengan seorang sopir, bau darahnya seperti energi di tubuhku, aku menyuruh Richard untuk menyelidiki siapa dia, dan informasi yang ku tahu, dialah ayah mu, sang supir Duta Besar Indonesia untuk negara Singapura ini" Penjelasan Reyhan membuat bulu kuduk ku merinding.
"Setelah Richard mencari lebih detail tentang ayah mu itu, ada fakta yang sangat mencengangkan, ternyata dia memang keturunan kerajaan, aku berfikir, aku tidak mungkin berhubungan dengan seorang laki-laki, jadi ku cari keturunannya lagi, aku menemukan kabar gembira tiadatara, ayahmu memiliki kamu, seorang gadis yang sangat kutunggu-tunggu"
"Jadi saat kejadian di pelabuhan?. Aku ingin penjelasan lebih tentang penodongan di pelabuhan Jurong Singapore 2 bulan yang lalu" kataku menahan emosi.
"Hahaha, bagaimana ektingku? sudah layak masuk ekting penjahat terkeren bukan?" Reyhan tertawa dengan enaknya, sedangkan aku harus menanggung troma berat dengan sebuah pistol.
"Kau sudah tahu aku akan berangkat ke negara ini?"
"Tentu, aku menyadap semua panggilan ayah mu, dan tidak ingin pertemuan pertama kita terkesan biasa-biasa saja"
"Kenapa kau bisa seperti itu?" Hatiku sangat sakit setiap kali teringat kejadian di kapal pesiar itu, tapi lihatlah orang yang melakukannya, dia tertawa bahagia, bahkan dia sudah menjadi suami ku sendiri.
"Itulah salah satu ambisi ku, sekarang aku sudah memberikan beberapa fakta ku secara cuma-cuma, kau harus memberikan imbalannya padaku"
Aku masih mencerna dari pernyataan Reyhan, tapi fikiranku terganggu saat Reyhan menginginkan sebuah imbalan.
"Kamari!" Aku diam, dengan tidak mengindahkan permintaannya.
"Aku bilang kemari!" Reyhan membentak ku. Aku lebih mendekat kearahnya. Ya Tuhan, sekalipun hati memberontak tidak menginginkannya, tapi sekarang aku bisa apa.
"Aku"
"Aku"
"Ah cepat! Aku ingin kau!"
Reyhan menarik ku dengan kasar, mulai menjelajahi wajahku, sampai tubuh kami seperti bayi polos tanpa busana.
"Dia yang melakukan kejahatannya, aku juga yang harus memberikan imbalan" Kataku dalam hati.
__ADS_1
Next....