
"El, ini buat kamu" Diana membawa dua kantong plastik belanjaan.
"Buat aku? Bukannya kamu yang beli?"
"Bukan, ini dari Bang Stiven, dia nitip keaku, katanya buat teman gue yang paling manis" Diana sedikit tertawa.
"Naaa"
"Heemm"
"Lo sudah bilang apa saja ke Bang Stiven?"
"Bilang apa?"
"Naaa" Aku menatap Diana dengan serius.
"Hehehe, Oke-oke, aku jelasin, yang pertama Bang Stiven yang maksa aku buat nyeritain tentang kamu, awalnya aku sudah nolak El, tapi setiap kali aku jalan sama Roy, Bang Stiven selalu ada disana dan maksa aku buat cerita semua tentang kamu. Kan gue jadi sebel kalau lagi jalan sama pacar gue tercinta terus ada monster pengganggu, ya ngga sih!"
Diana terlihat kesal tapi dia juga sengaja menggunakan kata gue supaya kesalnya tidak terlihat serius.
"Terus kenapa kamu ceritanya setengah-setengah? Kamu harusnya tahu Na, aku belum cerai sama Reyhan, aku masih istrinya yang sah"
"Yah aku tahu, tapi kan katanya kalau, kalau seorang istri udah ditinggal lebih dari tiga bulan, ngga ada kabar, ngga dikasih nafkah, itu sudah bisa dibilang, ceraikan?"
"Na, itu kalau Reyhan yang ninggalin aku, tapi sekarang keadaannya kebalik, aku yang pergi darinya Na, kau tahu apa yang dikatakan Bang Stiven?"
"Apa?" Diana mengambil posisi duduk, dia bersiap mendengar ceritaku.
Lima bulan sudah berlalu, hariku hanya berjalan itu-itu saja, sangat jarang keluar rumah, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan ku, jadi aku lebih banyak beristirahat, dan tidak ada yang spesial untuk diceritakan, sampai pada sebuah panggilan yang ternyata dari Bang Stiven, dan cukup membuat aku terkejut.
"Hello manis"
"Ma'af ini siapa?"
"Apa suara ku terdengar berbeda ditelepon?" Laki-laki itu malah bertanya balik padaku.
"Bang Stiven?" Tebakku setelah kembali mendengar suara laki-laki itu.
"Yah tepat. Kau baik?" Ternyata benar Bang Stiven.
"Aku baik, ada apa bang?"
"Bisakah kau tidak memanggil ku Abang juga! Kau bisa memanggilku Stiven saja" Katanya.
"Ah bagaimana bisa, umur abang emang sedikit diatasku"
"Yah memang benar, tapi ah ya sudahlah. Kau sedang sibuk?"
"Tidak begitu"
"Boleh aku berjumpa dengan mu?"
"Abang bisa datang ke kontrakan, kita bisa jumpa disini"
"Tidak bisa diluar?"
Aku berfikir sejenak, keluar dengan Bang Stiven tanpa ditemani Diana, ini pasti bukan sesuatu yang biasa.
"Ma'af aku tidak bisa, aku harus lebih banyak beristirahat" Kataku menolak ajakan Bang Stiven.
"Karena kehamilan mu?" Ternyata Bang Stiven sudah tahu.
"Begitulah"
"Elis"
"Heemm"
"Bolehkah aku..." Suara Bang Stiven terceda, tapi aku masih menunggu apa yang ingin dikatakannya.
"Bolehkah aku menjadi ayahnya juga?"
Tiba-tiba jantungku seperti terhantam sesuatu.
"Maksud Abang?" Aku mencoba tenang.
"Aku ingin menjadi ayah anak mu juga, aku, aku mencintai mu El, aku berjanji akan melindungi mu, menjadi suami dan ayah yang baik untuk mu"
"Tunggu-tunggu, kenapa Abang tiba-tiba seperti ini?"
"Diana sudah cerita semuanya, aku bisa menerima mu apa adanya El, aku akan menerima anak itu, aku akan menganggap dia seperti anak ku sendiri"
"Ma'af bang aku tidak..."
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kau berkata iya, aku tidak mau mendengar jawaban tidak, aku akan selalu menunggu mu, kau juga boleh menjawab setelah anak mu lahir"
"Tapi..."
Panggilan terputus, Bang Stiven memutusnya begitu saja. Aku masih bingung dengan perkataan Bang Stiven, itu seperti petir yang menyambar disiang bolong.
Dia seorang direktur utama, salah satu bos yang cukup disegani di dunia perusahaan tekstil, bagaimana bisa dia jatuh hati denganku, bahkan setelah dia tahu aku sedang hamil.
__ADS_1
Aku duduk didepan kaca, melihat diriku sendiri, ada yang salahkah dengan diri ini, wajahku pas-pasan saja, rambut lurus alami yang tidak pernah masuk salon, aku juga tidak pernah berhias yang mencolok. Tapi kenapa aku yang mengalami ini.
Setelah mendengar pernyataan Bang Stiven, kenapa aku jadi beranggapan bahwa laki-laki semua sama, pemaksa.
"Hah? Jadi Bang Stiven nembak Lo? Gue ngga nyangka bisa secepat itu El" Diana kaget setelah mendengar ceritaku.
"Apalagi gue, gue mau sekarang Lo yang tangguh jawab"
"Ko gue si?"
"Ya Lo yang ceritanya ngga benar"
"Ya tapikan..."
"Ngga ada kata tapi-tapi, Lo harus jelasin. Titik"
"Iyah oke, nanti gue bilang"
"Gue tunggu"
"Tapi kalau Lo berubah pikiran, Lo bilang aja ngga usah malu-malu, nanti gue juga yang bakal bilang"
"Naaa" Aku pasang muka paling serius.
"Hehehe, iya-iya bercanda, ya udah ni minum susu dulu biar tambah sehat ibu dan adik gue"
"Kapan gue ngelahirin Lo"
"Ya pokoknya ini misi gue yang ngga mau jadi tante-tante, pokoknya dia harus panggil gue Kaka"
"Kaka yang seumuran sama ibunya"
"Hahaha, iya juga yah"
Beginilah hari-hari ku bersama sahabatku yang satu ini, tidak ada hari tanpa canda, bersamanya aku selalu tersenyum membicarakan hal yang mampu membuat masalah menjadi mudah, kecewe menjadi bahagia, sedih menjadi senang, dialah satu-satunya yang mampu membuat hati ini memiliki arti, dan hidup menjadi penuh tujuan.
Bahkan hanya sekali saja aku menceritakan masalah dengan Bang Stiven, yang tadinya resah dan bingung, semuanya kembali biasa setelah bersama Diana.
"El jadi ikut jalan-jalan ngga, kamu ngga jenuh apa di rumah terus?"
"Pengin si, Tapi ko perasaan aku ngga enak ya Na" Entah kenapa hati ini merasa gelisah.
"Makanya ikut aku jalan-jalan aja, biar fres gitu. Ayo buruan ganti baju, aku tunggu didepan"
"Ya tunggulah sebentar"
"Oke"
"Na, ayo aku sudah siap" Kataku berjalan terus kedepan.
"Selamat pagi taun putri" Suara yang tidak asing menyapaku dari samping.
"Bang Stiven"
"Hello manis, pagi yang menyenangkan bukan?"
Aku melirik ke Diana, meminta penjelasan kenapa ada Bang Stiven.
"Naaa"
"Hehehe, gue mau jalan sama Roy, tuh Monsternya ngikut aja El, hehe ma'af"
"Aku akan menjadi monster pelindung, kau tidak perlu khawatir, lagian kau hanya akan jadi lalat kalau cuma berangkat bertiga El, mereka aja berpasangan kenap kita ngga" Diana tertawa, aku hanya membalas dengan senyuman.
"Ayolah, nanti rundingannya sambil jalan aja" Kata Roy yang tiba-tiba muncul dari dalam mobil.
"Ayo El, kali ini aja, plies" Diana menarik tanganku, aku tidak enak kalau langsung menolak.
"Hanya kali ini" kataku.
"Janji" Diana mengangkat kedua jari telunjuk dan tengah kanannya.
Selama diperjalanan aku lebih banyak diam, hanya mendengarkan canda mereka bertiga, ternyata Bang Stiven maupun Roy adalah keluarga yang humoris.
"Kita mau kemana?" Tanyaku.
"Ada taman hiburan yang baru dibuka, disana banyak sekali penjual, siapa tahu aja ada yang cocok untuk mu manis" Kata Bang Stiven.
Aku hanya tersenyum, dan entah kenapa hati ku masih saja merasa resah.
"Kata Diana, kau orang pandai, boleh aku mengetesnya?"
"Emangnya ujian bang pake tes-tesan" Kata Roy, semua orang hampir tertawa.
"Katakan padaku tentang Tugu Monas?"
"Pertanyaan anak SD itumah bang" kata Diana, aku hanya diam masih bingung pertanyaan yang maksud Bang Stiven.
"Detailnya" Pinta Bang Stiven.
"Jelaskan El, Lo mah mana ada yang kelupa"
__ADS_1
"Monumen Nasional yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan yang berdiri setinggi 132 meter (433 kaki) dibuat untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda"
"Waaah, mb memang hebat, lagi mb" Kata Roy yang memotong penjelasan ku.
"Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Ir. Sukarno dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat" kataku, menjelaskan sedikit yang aku tahu.
"Cerdas" Pujian singkat dari Bang Stiven.
"Siapa dulu gurunya" Diana menyombongkan diri. Semua orang tertawa.
Setelah sampai di taman hiburan kami hanya jalan-jalan, sampai bawaan seorang ibu hamil muncul, lebih sering buang air kecil.
"Temenin aku ke toilet Na"
"Boleh aku yang menemani" Bang Stiven menawarkan diri.
"Naaa" aku menarik tangan Diana.
"Biar aku saja bang. Ayo"
Kalau saja itu Reyhan, aku pasti tidak akan menolaknya karena dia memang suamiku.
"ah, kenapa akhir-akhir ini aku sering memikirkannya" Kataku tiba-tiba.
"Memikirkan siapa?" Tanya Diana yang bingung dengan ucapanku.
"Ah, tidak ada"
"Itu ada toilet di depan, tapi tidak ada ruang tunggunya, aku tunggu disini yah, ngga apa-apakan?"
"Iya"
Aku berjalan sendiri ketoilet. Setelah selesai, aku mencari Diana yang sudah tidak ada di tempat duduknya.
"Naaa" Aku memanggilnya berulang-ulang, tapi keadaan tempat yang ramai sulit untuk aku menemukan Diana. Aku terus mencarinya. Karena mataku yang terus mencari Diana aku sampai tidak melihat ada dua orang didepan yang sedang melihat kearah ku. Mereka mendekat dan menyapa.
"Nona" mereka memanggilku, Aku menengok kearah mereka.
"Ya Tuhan" Aku berlari secepat mungkin, menyelinap diantara banyaknya pengunjung, berharap kedua orang itu tidak menemukan ku.
"Aduh" Aku menabrak seseorang. Jangtungku mulai terpompa. Sangat takut kalau orang yang aku tabrak adalah...
"Bang Stiven"
"Kau kenapa lari-lari El, ada apa?"
"Ayo kita pergi bang, ada seseorang yang ingin menangkap ku" Nafasku terengah-engah.
"Orang yang ingin menangkap mu, siapa?"
"Aku!" Jantungku seperti terlepas dari porosnya mendengar suara seseorang dibelakang.
"Siapa kau? Ada masalah apa kau dengan wanitaku?"
Wanitaku? Ya Tuhan kenapa Bang Stiven mengatakan itu, didepannya. Aku jadi semakin tidak berani menatap wajahnya.
"Bawa dia!" Perintah suara menggelegar itu.
"Hey tunggu! Siapa kalian berani membawa wanitaku? Jangan kau pikir kau punya pengawal aku tidak berani melawannya"
"Berhentilah memanggil ku wanita mu bang" kataku dalam hati. Aku tahu kalimat itu akan memicu kemarahan Reyhan.
"Hah, wanita mu? Aku bilang bawa dia! Cepat! Dan hajar orang itu"
"Baik Bigg Bos"
"Tunggu Rey, aku mohon jangan sakiti dia, dia hanya Kaka dari pacarnya Diana, dia tidak ada hubungannya denganku, aku akan ikut tapi aku mohon lepaskan dia"
"Begitukah? Kalau dia berani bilang wanitaku lagi, akan aku ledakan mulutnya! Dan berhenti memanggil dia Abang!"
"Elis"
"Berhenti Stiv! aku tidak apa-apa, aku mohon pergilah, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa"
"Tapi El, dia berbahaya, dan kau tidak tahu dia siapa bukan?"
"Dia suamiku"
"Apa"
Aku melihat ekspresi wajah Bang Stiven yang tidak bisa tergambarkan, mungkin sedih, bingung, atau malah kecewa. Tapi bagaimanapun inilah kenyataannya, Reyhan masih suamiku dan dia datang ke Indonesia untuk memcariku.
"Kesini kau! Berani sekali kau pergi dariku, wanita seperti mu memang harus diberi pelajaran!" Reyhan benar-benar tidak akan membiarkanku pergi, dia bahkan menggendongku menuju mobilnya.
"Diana" Aku melihat Diana disalah satu mobil pengawal Reyhan, tapi dia seperti tertidur.
"Apa yang kau lakukan pada Diana Rey, aku mohon lepaskan dia"
"Itu tergantung kau! Dasar rubah kecil! Hanya bisa membuat orang marah! Masuk!"
Aku masuk ke mobil, mataku tertuju pada mobil depan dimana Diana berada. Inikah jawaban perasaan tidak enak ku itu?????
__ADS_1
Next...