Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Keikhlasan Ibu


__ADS_3

Di dapur aku melihat ibu membersihkan pecahan beling di lantai.


"Ibu ngga kenapa-kenapa??" Aku khawatir melihat Ibu yang sedang jongkok di bawah.


" Ibu ngga apa-apa nak, tadi hanya tersenggol". Ibu masih sibuk membersihkan sisa-sisa pecahan


"Sini bu, biar Elis yang membersihkan" aku mengambil sapu di tangan Ibu dan langsung ku bersihkan sisa-sisanya.


Ibu duduk di ruang tamu, aku hanya melihat sekilas, setelah selesai aku langsung mendatangi ibu, takut kalau ibu ada yang terluka.


"Ibu baik?" Tanya ku khawatir.


"Iya, ada yang ingin ibu tanyakan pada mu nak" muka ibu begitu serius.


"Ada apa Bu?" Tanyaku penasaran.


"Apa kau sudah yakin mau kuliah disana, tinggal bersama ayah mu?" Aku menatap wajah ibu, wajah yang serius, tapi ada rasa menunggu disana.


"Ma'af bu" aku tak mampu menjawab, hanya kata ma'af yang terucap.


Sekali lagi aku menatap wajah ibu, ada rasa kecewa disana, aku tau ibu pasti sangat berat, aku hanya diam menunggu perkataan ibu selanjutnya.

__ADS_1


"Ibu sayang kamu nak, ibu tak mau berpisah dengan mu, ibu kira sudah cukup berpisah dengan ayahmu" mata ibu mulai berkaca-kaca.


"Ma'af Bu" hanya itu yang mampu ku ucapkan.


"Nak" aku tau panggilan itu adalah panggilan permohonan untuk ku. Tapi aku sungguh ingin berjumpa dengan ayah.


"Ma'af bu" sekali lagi hanya kata itu yang mampu ku ucapkan.


"Singapura itu nak, walaupun negara kecil tapi disana maju, orang-orangnya pasti berbeda dengan Indonesia" aku mendengarkan apa yang Ibu katakan, ibu sedang menakut-nakuti aku kah atau sedang apa, batinku mulai bertanya-tanya.


"Ayahmu itu walaupun hanya seorang supir, tapi dia supir orang penting, pasti sangat sibuk pekerjaannya, Duta Besar itu tidak pernah berhenti bekerja" Ibu terus memberi tau, tapi aku belum tau magsud Ibu apa.


"Walaupun kau bersama ayahmu nanti, kau akan sering ditinggal nak" Air mata Ibu mulai turun, setelah beberapa menit tertahan.


"Kau sudah yakin?" Tanya ibu atas pendirian ku.


"Aku sudah memikirkannya matang-matang bu" jawab ku mantap.


Ibu hanya terdiam, menatap ku sampai sekian detik, sampai kedua tangannya membuka, merangkul ku dengan begitu erat, aku merasakan punggung ku mulai basah oleh air mata Ibu, "ibu ma'af" batin ku berucap.


"Ibu izinkan kau menemui ayahmu nak, walau ibu begitu berat, ibu akan berusaha mengikhlaskan mu" Kata-kata ibu terjeda karena terisak.

__ADS_1


"Kau harus bisa menjaga diri dengan baik, jangan terlalu percaya dengan orang asing, siapapun yang kau kenal, kenalkan pada ayahmu" Ibu mulai sedikit tenang walau air matanya belum bisa berhenti.


"Iya bu, aku akan ingat pesan ibu" aku mengusap air mata ibu yang terus menetes, aku tak tau apa yang aku rasakan, sedih senang semua tercampur dalam hati, ibu kembali memeluk ku, kali ini lebih erat.


Aku akan selalu ingat pelukan ini, pelukan yang sudah bersarang sejak aku pertama lahir, "terimakasih ibu" hanya itu yang mampu ku ucapkan.


###


"Kapan kau berangkat nak?" Ibu bertanya keesokan harinya.


"Nanti bu, nunggu ayah kasih kabar".


"Ayahmu pasti masih sibuk, sampai belum sempat menghubungi mu nak" Ibu tau bagaimana membuat aku merasa tenang.


"Iya bu. Bu besok hari kelulusan ku, ibu bisa datang ke sekolah? Mengambil hasil pengumuman" baru kali ini aku meminta Ibu mengambilkan sesuatu di sekolah ku, sebelumnya ibu tak pernah sempat mengambil hasil rapot ku karena mengejar waktu cucian tetangga agar tepat waktu.


Yah, ibu ku hanya bekerja sebagai tukang cuci baju tetangga, aku tak pernah tau berapa gajih ayah yang setiap bulan ibu terima, ibu selalu bilang bahwa itu cukup untuk orang pengangguran sampai dua bulan, hanya saja ibu tidak ingin diam di rumah katanya, jadi dia menerima pekerjaan itu.


"Pasti sayang, untuk kali ini ibu akan datang" jawaban ibu membuat ku sepontan langsung memeluk ibu


"Makasih bu, besok berangkat bareng ya bu" senyum ku tak berhenti mengembang.

__ADS_1


" Iya, sayang" ibu tak kalah mengeluarkan senyum termanisnya.


Next....


__ADS_2