
Pintu itu terbuka otomatis, bergeser ke kiri dan kanan, kami masuk ruang utama bangunan itu, begitu luas dan mewah, bangunan kelas bangsawan ini sebagian dihiasi dengan dinding kaca.
"Anda tidak perlu khawatir tentang diding kaca ini Mr. Lion, kami memakai kaca yang sangat tebal sehingga tidak mudah pecah kalau terlempar benda, bahkan memiliki sistem anti peluru" kata Mr. Lee.
Setelah mendengar penjelasan dari Mr. Lee tentang kaca dinding itu, Reyhan langsung mengambil sesuatu dari balik bajunya yang dibelakang, itu adalah sebuah pistol, pistol yang sangat aku ingat, selalu menodongku saat berada di pelabuhan. Dan tanpa menunggu aba-aba, Reyhan langsung menekan pelatuk pistol itu dan berbunyi 'door!!!'.
"Aaaah" Aku yang tidak tahu dia benar-benar melakukannya, aku menjerit ketakutan, reflek berjongkok, menutup telinga ku rapat-rapat. Hingga suara benturan antara peluru dan kaca dinding itu tidak lagi berbunyi.
"Aku baru tahu selera wanita mu adalah gadis lugu Mr. Lion" kata Mr. Lee menggoda Reyhan dengan sedikit tawa karena melihat reaksiku.
"Dia lugu hanya di luarnya" Tiba-tiba Reyhan mengangkat tubuhku untuk berdiri tepat didepannya, tanpa ada jarak sedikitpun antara aku dan dia karena punggung ku bisa merasakan dadanya yang bidang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku pelan, nafasku masih ku atur agar stabil.
Reyhan tidak menjawab pertanyaan ku, dia hanya memegang kedua tanganku untuk menggantikannya memegang pistol itu, dan menuntun jariku untuk masuk ke pelatuknya.
Jantungku kembali berdetak kencang. Aku bingung, dengan sebuah pistol di tangan ku yang masih mengacungkan pada kaca dinding itu. Tiba-tiba dengan suara membahana Reyhan memberikan sebuah perintah.
"Tembak sekarang!" Suara Reyhan tepat di ujung telinga ku, sehingga membuat aku reflek menarik pelatuknya, dan untuk kedua kalinya, 'dooor!' suara tembakan disusul suara benturan terdengar.
Tubuhku bergetar hebat, aku lemas seketika, dengan jantung yang terus terpompa cepat, dan untuk ketiga kalinya aku tidak sadarkan diri. Aku merasakan tangan Reyhan menangkap tubuhku yang mau jatuh kebawah.
"Baiklah, saya senang, begitu juga dengan suasananya" Renyah terus memandangi pemandangan diluar dinding kaca itu. Aku hanya melihatnya dengan remang-remang dari atas shofa.
"Apakah ini artinya dil?" Mr. Lee bertanya pada Reyhan.
__ADS_1
"Tentu" Reyhan menjabat tangan Mr. Lee. Apartemen ini resmi menjadi miliknya.
"Surat-suratnya akan saya kirim dalam dua hari kedepan Mr. Richard" kata Mr. Lee kepada Tuan Richard.
"Baik Mr. Lee, thank you"
"You're welcome"
Mr. Lee meninggalkan tempat ini setelah sepakat dengan Tuan Richard. Aku hanya melihatnya dengan posisi tidur, karena aku tidak kuat menahan tubuhku yang masih lemas.
"Bigg Bos, sebentar lagi makanan anda akan datang" Tuan Richard memberitahu.
"Hemm" hanya itu jawaban Reyhan.
Selang 10 menit, beberapa pelayan membawa makanan, menyajikan di meja bundar depan ku. Reyhan mendekati shofa yang sedang aku tiduri.
Aku memang sangat lapar, tapi hatiku sangat takut, takut kalau ternyata disalah satu makanan itu ada racun atau obat biusnya. Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Kalau kau tidak makan, jangan berharap aku juga akan memberikan makanan kepada ayahmu" ancaman Reyhan membuat aku tidak punya pilihan lain.
aku mulai memilih makanan, sangat bingung mana yang akan aku taruh dalam piring, karena ada sekitar 15 porsi makanan berbeda yang siap disantap. Aku hanya mengambil nasi dan sup iga sapi.
"Aku akan memberikan makanan pada ayah mu hanya sesuai apa yang kau makan juga" katanya karena melihat hanya sup iga sapi yang ku ambil.
Karen dia sudah mengancamku seperti itu, jadi aku mengambil empat porsi makan dan benar-benar ku habiskan semuanya.
__ADS_1
Reyhan berbisik sesuatu kepada Tuan Richard, aku tidak mendengar apapun.
"Siap Bigg Bos" Hanya itu yang aku dengar dari Tuan Richard, dan dia langsung pergi.
Kini hanya tinggal aku dan Reyhan saja didalam apartemen ini. Reyhan mendekati ku, meminta ku untuk berdiri dan mengikutinya.
Dia menyuruhku untuk berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan luar, aku bisa melihat kolam renang besar di bawah sana. Dan cahaya matahari yang remang-remang hampir tenggelam, teryata waktu sudah menunjukkan jam 6 sore.
Tiba-tiba sebuah cahaya merah kecil seperti laser, bergerak-gerak dibagian tubuhku. Aku melihat kedinding kaca, tidak ada siapapun disana, tapi dari mana cahaya laser ini? Batinku bertanya-tanya.
"Aku belum mencoba satu dinding kaca itu anti peluru atau tidak, jadi aku menyuruh seorang sniper untuk mencobanya, jika dinding kaca itu anti peluru bahkan oleh senjata sniper tipe Barret M82A1, maka kau akan selamat, tapi jika tidak, tubuh mu akan menjadi sarang dari peluru itu" katanya Reyhan dengan enteng.
Aku kaget bukan main, dia ingin aku menjadi percobaan juga. Seketika tubuhku yang sudah baik karena porsi makanan yang banyak, menjadi lemas kembali, aku mulai sedikit berjalan mundur menghindari laser merah itu.
"Kalau kau tidak mau, maka kau akan melihat ayahmu menggantikan kau berdiri disitu" ancamnya lagi, dia sudah tahu kelemahan ku sekarang, jika aku mendengar kata ayah dari mulutnya, maka aku tidak punya pilihan lain.
"Aku hitung sampai tiga, kau atau ayah mu yang berdiri situ" dia selalu memberikan pilihan ku hanya dalam hitungan tiga detik.
"Satu" Reyhan mulai menghitung.
"Aku akan tetap disini" kataku cepat bahkan sebelum Reyhan menghitung di urutan kedua.
"Baik! Selamat menikmati" Katanya.
Dan aku, aku hanya mampu memejamkan mata, bersiap apapun yang akan terjadi.
__ADS_1
Next....