Lelaki Misterius

Lelaki Misterius
Mahar dan Pernikahan Diana


__ADS_3

"Boleh aku menemani Diana malam ini?"


"Tidak boleh!" Reyhan langsung menatap ku.


"Tapi dia butuh seorang pendamping sekarang, hatinya sedang kacau dan bingung, aku tidak ingin terjadi apa-apa yang tidak diinginkan" aku terus memohon.


"Hemm, pergilah, pastikan dia baik-baik saja" Akhirnya Reyhan membolehkanku setelah beberapa menit terdiam.


"Tentu"


Aku langsung keluar, berjalan kearah kamar Diana, empat pengawal sudah berjaga ketat diluar, bahkan mereka yang membuka pintunya yang terkunci.


"An"


Diana masih tidur dikasurnya, tapi aku tidak yakin dia tertidur pulas.


"An" aku terus memanggilnya.


"Aku tidak pantas jadi sahabat mu" Benar dugaan ku, Diana hanya bersembunyi dibalik selimutnya.


"Kau tidak salah, kau tidak menghianatiku, kau selamanya tetap sahabat baikku" Diana terdiam.


"Sahabat baik apa yang mau menikah dengan suami sahabatnya sendiri, semua orang akan mengecam ku penghianat, menjadi orang ketiga, atau bahkan dicap sebagai pelakor" katanya masih berucap didalam selimut.


"Tidak, aku tidak pernah berfikir seperti itu, aku tahu sifat Reyhan, akulah yang salah, aku yang selalu membuat Reyhan marah dan membuat dia mendapatkan keputusan ini, aku mohon bangunlah, aku ingin berbicara dengan melihat mu"


Diana masih belum bergerak, hanya selimutnya yang masih kembang kempis karena nafasnya.


"Aaan"


Diana mulai bergerak, membuka selimutnya, terhenti sampai gulu, melihatkan wajahnya yang sembam karena terus menangis.


Aku mendekatinya, memeluk Diana dalam balutan selimutnya. Dia mulai menangis lagi.


"Lo akan jelek jika terus menangis" kataku, sedikit bercanda. Tapi Diana justru semakin kencang tangisannya.


"Sudah, tenanglah, kau jangan hanya menyalahkan dirimu sendiri, aku juga menjadi penyebab ini terjadi"


Diana mulai tenang, walaupun masih ada isak tangisnya yang belum tuntas.


"Tenanglah"


Aku mengelus punggung Diana. Diana memeluk ku dengan erat. Nyeri sekali hati ini melihat Diana begitu tertekan, dulu kalau Diana punya masalah, dia selalu bisa menyelesaikannya dengan mudah, atau aku selalu memberikan pengetahuan apapun yang dia belum tahu, dia akan semangat mendengarkan, melupakan dengan cepat masalahnya.


Dia adalah guruku, kecerdasannya tentu melebihi aku, tapi Diana anak yang rendah hati, dia sangat suka mendengarkan siapapun yang mengatakan pengetahuan, walaupun apa yang orang itu katakan dia sudah tahu semuanya.


Aku ingin menghiburnya sebisaku.


"Makanlah dulu, Lo makan ngga makan pernikahannya akan tetap berlangsung Na, dari pada Lo kelaparan, ya kan?" Kataku berusaha membuatnya tersenyum.


"Suapiiin" Aku tersenyum.


"Aaaa, aem. Habisin yah" Diana hanya menjawabnya dengan anggukan, walaupun masih ada sisa-sisa air mata yang berjatuhan.


"Reyhan sudah mengabulkan mahar mu Na" kataku disela-sela makannya.


"Mahar? Kapan gue minta mahar El? Aku nikah aja kalau aku bisa, bakal aku tolak El" Diana mulai pake kata gue.


"Mahar Lo, Lo dulukan pernah bilang waktu kita pulang sekolah tentang mahar yang Lo inginkan"


"Apa?"


"Coba deh Lo inget-inget"


Diana terdiam, matanya melihat keatas tanda bahwa Diana sedang berfikir masa lalu.


"Ya Tuhan mobil itu?"


"Yes, Lamborghini Huracan LP610-4"


"Tapi itukan sangat mahal"


"Di Indonesia mobil itu termasuk yang murah kata Reyhan, tapi masih memiliki stok yang terbatas, yah untuk ukuran kita mobil itu pasti mahal, kira-kira harganya sekitar 8,5 miliar"

__ADS_1


"8,5 miliar? Aku memegang uang 10 juta saja belum pernah El"


"Iya sama, kita hanya masih punya harga diri, setidaknya pernikahan itu lebih baik dari pada sebagai simpanan"


"Kau benar, kenapa kita bisa mengalami nasib seperti ini?"


"Hanya Tuhan yang tahu, kita hanya peran. Oh iya aku juga tahu rincian tentang calon mobil mu itu, kau mau dengar?"


"Katakanlah" Wajah Diana walaupun dibalut kesembabanya tapi dia masih punya wajah yang serius.


"Lamborghini Huracan LP610-4 menggunakan mesin V10 berkapasitas 5.2 Liter yang mampu mengeluarkan torsi sebesar 413 Nm pada 6.500 rpm. Sedangkan tenaganya mencapai 610 Horsepower pada 8.250 rpm. Mesin mobil ini begitu bertenaga dan membaut Lamborghini Huracan LP610-4 mampu melaju cepat dalam kecepatan maksimal 211 mph"


"Waaah, itu mobil tercepat dari mobil-mobil biasannya" Kata Diana terkagum-kagum.


"Tepat" Aku tersenyum.


"Tapi aku tidak pernah bilang tentang mahar mobil itu, kalau boleh, apa aku bisa menukar pernikahanku dengan mobil itu, aku tidak perlu menerimanya, kita bisa batalkan saja pernikahannya"


"Ma'af Na, aku tidak bisa membantu"


"Kau istrinya El, kenapa kau biarkan suamimu menikah lagi?"


"Karena semakin kita memberontak dengan Reyhan, dia akan semakin lebih menjadi, prioritas ku sekarang adalah bayi ini, aku sudah berusaha membantu mu tapi Reyhan tidak menepati janjinya, sekarang aku hanya bisa menyelamatkan bayi ini, aku minta ma'af Na"


"Tidak apa-apa, aku yang harusnya minta ma'af, seharusnya dia hanya milikmu, semua orang juga setuju tidak seharusnya ada orang ketiga dalam rumah tangga"


"Kau sudah tenang?" Aku tidak mau membahas ini lagi, aku takut giliran aku yang tak kuat membendung air mata ini.


"Sudah"


"Kalau begitu kita istirahat saja, ada hari yang besar menanti kita besok"


"Heeem, kau istirahatlah dulu, aku akan menyusul mu nanti"


"Baiklah, ingat! apapun yang terjadi kau tetap sahabatku, aku tidak pernah menyalahkan mu Na"


"Terimakasih El"


Aku hanya membalasnya dengan senyuman, sebelum mata ini sudah tidak sanggup menompangnya sendiri. Walaupun Diana belum tidur tapi dia ikut terbaring, dan aku memeluknya.


"Na, kau cantik sekali" Aku terpesona melihat Diana dalam balutan gaun pengantin yang menawan.


"Apa aku pantas mendapatkan ini El?" Wajah Diana masih terlihat sedih.


"Pantas" Kata Reyhan, dia sudah berdiri didepan pintu.


"Ayo Rubah kecil kita ketempat acara" Tambahnya, mengajakku untuk hadir ditempat resepsinya.


"Aku, aku boleh tinggal disini bang, aku menemani Diana" aku gugup. Reyhan terlihat sangat tampan dalam setelan jasnya yang elegan.


"Baiklah" Reyhan pergi begitu saja.


"Kenapa laki-laki itu bisa setega ini sama kamu El, dia mengajak mu untuk melihat acaranya, bagaimana dia tidak memperdulikan perasaan mu El?"


"Aku baik Na, kau tidak perlu khawatir"


"Bohong!" Diana membentak ku dan berdiri tepat di depanku.


"Aku tahu siapa kamu, kamu belum rela dengan semua ini, kamu terpaksakan El"


"Aku, aku baik, ini hanya perlu waktu, aku yakin semuanya akan baik" kata-kataku bergetar. Aku memang gugup, sakit sekali melihat Reyhan akan menikah lagi. Tapi aku yakin, aku hanya perlu waktu.


"Nona, anda dipersilakan untuk keluar, acara akadnya sudah selesai" kata seorang pelayan.


"Akadnya sudah selesai?"


"Iya nona, saya permisi" pelayan itu pergi.


"Selamat Na, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, ayo aku antar kamu kesana"


"El" Diana menahan tanganku, kepalanya menggeleng, dia menolak untuk datang.


"Ayo Na, sekarang dia juga suami mu, apapun yang terjadi kau harus patuh"

__ADS_1


Aku mendampingi Diana keluar, hati berdetak sangat kencang.


"Kuatkan aku melangkah Tuhan" Tubuhku sedikit lemas.


Kami melangkah melewati lorong hotel, berjalan menuju ruang utama, Diana terus saja melihat kearahku, aku membalasnya dengan senyuman kecil.


"Jangan takut" kataku pada Diana.


Tepuk tangan yang sangat meriah menyambut kedatangan kami. Disana aku melihat Reyhan berdiri dengan gagahnya, didampingi pengawal pribadinya yang tepat berdiri disamping Reyhan.


"Suamimu sudah menunggu mu" kataku melepas pegangan tangan Diana.


Saat itu Reyhan juga turun, menjemput Diana, aku seharusnya bahagia melihat senyumnya yang menawan padaku, tapi hati ini terlalu pedih untuk membalas senyumannya.


Reyhan mengulurkan tangannya pada Diana, mengajaknya untuk naik diatas singgasananya sekarang.


"Ayo, aku akan mengantar mu kesana" Kata Reyhan.


"Ya Tuhan, jangan biarkan aku menangis" Hatiku sakit sekali melihat Reyhan menggandeng Diana keatas.


Seragam Reyhan begitu pas dengan Diana, mereka begitu serasi.


"Ini, aku serahkan pada pangeran" Kata Reyhan, dia melepas genggaman pada Diana, dan turun begitu saja, aku melihatnya berjalan kearah ku.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau tidak duduk disana bersama Diana" Aku sedikit memarahi Reyhan.


"Aku? Untuk apa duduk disana?" Reyhan dengan santainya bertanya itu padaku.


"Untuk apa? Kau suaminya sekarang, kau harus menemaninya bang"


"Bukan aku"


"Maksud abang"


"Lihat baik-baik sahabat mu itu, aku keluar dulu" Reyhan benar-benar pergi begitu saja.


"Kau mau kemana" Reyhan tidak menjawab pertanyaanku, dia pergi meninggalkan ku dalam kebingungan. Aku mulai melihat kedepan, melihat Diana berdiri disana hanya ditemani pengawal pribadinya Reyhan.


"Ana" Pengawal itu memanggil Diana, dengan nama kecilnya.


"Apa kau lupa dengan aku?" Tanyanya pada Diana, aku melihat Diana masih dalam kebingungan.


"Jons" Diana memanggil pengawal itu.


"Iya, ini aku"


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku, aku yang sudah menikahi mu"


"Apa?" Aku berdiri dengan cepat karena keterkejutan ku. Membuat hampir semua orang melihat kearahku.


"Apa yang kau lakukan?" Reyhan berdiri disampingku.


"Bang lihat bang, pengawal Abang mengaku kalau dia yang sudah menikahi Diana, cepat bang datang keatas bang, jelaskan yang sebenarnya" aku mendorong Reyhan untuk datang pada Diana.


"Memang dia yang menikahinya" Aku terdiam, masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Pengawal pribadiku itu, dia teman kecil Diana, dia sudah mencari Diana bertahun-tahun katanya, dia menemukan saat Diana datang ke Singapura, kau ingatkan saat acara Singapore Open Pencak Silat Championship, dia melihatnya dan kau tahu apa yang dilakukan pengawal pribadiku itu?"


"Apa?" Aku semakin penasaran. Tapi aku masih bingung dengan semua ini.


"Dia sampai bersujud dikakiku, memintaku untuk membantu mendapatkannya, ku pikir pengawalku itu orang yang ditakuti oleh seluruh musuhku, tapi dia bisa sangat lemah dihadapan wanita, karena aku tidak ingin diganggunnya terus jadi aku membut rencana ini"


"Kau, kenapa abang bisa setega ini, Abang seharusnya meminta persujuan dulu dengan Diana, bagaimana kalau Diana tidak menyukai pengawal itu"


"Kita lihat saja"


"Bang"


"Kita bisa membahasnya setelah semua ini selesai, ayo kita harus ikut berfoto bersama"


Aku masih bingung dengan semua ini, aku harus meminta penjelasannya lebih detail, aku harus bersabar untuk menunggu acara ini sampai selesai.

__ADS_1


Next....


__ADS_2