
Rasa lelah mendera Irya setelah melakukan hukuman nya atas kesalahan yang di lakukan nya sendiri. Yaa... Irya memang sadar jika semua ini adalah ulah nya sendiri. Namun entah mengapa dia justru tidak jera untuk terus mengulang kesalahan yang sama. Seakan udah menjadi kebiasaan yang tidak bisa hilang untuk Irya.
Ya bagaimana bisa hilang jika kebiasaan-kebiasaan itu selalu berulang di lakukan nya sejak menginjak bangku SMP.
"Haahh.. capek juga mana laper lagi. Habis ini mau ngapain lagi gue males banget kalau udah begini." Irya bermonolog.
Seketika itu juga ide Irya muncul. Berjalan cepat menuju ruang BK. Melihat ke kanan dan ke kiri tampak sepi dan kosong. Diambil nya tas milik nya yang tergelak di sofa pojok ruang BK.
Kembali berjalan menuju arah toilet yang sudah dibersihkan nya tadi. Menunggu seseorang yang masuk ke dalam toilet. Irya begitu meyakini jika tidak mungkin toilet tidak akan mendapatkan kunjungan dari siswa di sekolah nya. Karena toilet adalah salah satu alasan bagi setiap siswa saat bosan mendengarkan materi pelajaran.
"Nggak mungkin kan toilet ini nggak laku, kalau gue jaga toilet ini terus gue taruh kotak amal disitu pasti juga penuh tuh kotak."
Irya duduk dengan santai di wastafel yang ada di dalam toilet pria sembari memainkan ponsel nya. Benar tak lama ada siswa yang masuk ke dalam toilet. Irya memperhatikan nya dan menunggu siswa tersebut hingga keluar.
"Woi sini Lo." Panggil Irya pada siswa tersebut.
"Iya kenapa kak ?" Tanya siswa tersebut, rupa nya dia adik kelas dari Irya.
"Lo bisa bawa motor ?" Tanya Irya.
"Iya bisa kak, kenapa ?"
"Semua motor ?" Tanya Irya memastikan.
"Maksud nya ?" Tanya siswa tersebut malah bingung dengan pertanyaan Irya.
"Ck... maksud gue Lo bisa bawa motor kopling nggak apa cuma motor ompong doang yang Lo bisa." Ucap Irya.
"Oh bisa kok kak."
Irya membisikan sesuatu pada siswa tersebut, terlihat siswa tersebut mengangguk tapi dengan ragu.
"Nanti kalau ketahuan gimana kak ?" Tanya siswa tersebut dengan cemas.
"Ck elaaahh...Lo tinggal ikutin apa kata gue aja."
Siswa itu mengangguk saja kalau pun menolak dia juga takut dengan Irya.
"Lo ikut gue, nih bawa. Lo bilang sama kaya yang gue bisikin tadi." Ucap Irya.
Mereka keluar dari toilet lalu kedua nya berpisah. Siswa tersebut masuk ke ruang guru piket sedangkan entah kemana.
Setelah berhasil siswa tersebut keluar dari gerbang sekolah tanpa hambatan sedikit pun. Berjalan menggunakan motor nya dan berhenti di pinggir jalan yang tak terlalu jauh dari sekolah nya. Irya sudah menunggu di pinggir jalan.
__ADS_1
Rupa nya lelaki itu tadi berjalan ke belakang sekolah dan memanjat tembok untuk keluar dari sekolah. Meminta bantuan pada adik kelas nya tadi untuk membawakan motor nya sedangkan motor milik Irya di tinggalkan di sekolah, lebih tepat nya bertukar motor.
Siswa tadi kemudian kembali ke sekolah dengan berjalan kaki.
"Loh kamu tadi kan keluar pakai motor, mana motor mu ?" Tanya satpam sekolah.
"Oh iya Pak, motor saya ban nya bocor jadi saya tinggal di bengkel depan terus saya balik ke sini jalan kaki. Nanti siang baru saya ambil." Ucap siswa tersebut dan satpam itu pun percaya.
Dengan seperti itu maka tidak akan ada yang tahu jika siswa tersebut membantu Irya untuk membolos sekolah. Dengan santai nya Irya berjalan mengendarai motor matic pinjaman nya kesebuah tempat.
Di parkir kan motor di dalam bangunan tua itu. Mengunci stang motor agar lebih aman. Bangunan bertingkat itu merupakan tempat yang biasa Irya dan Danar gunakan saat mereka sedang suntuk. Bangunan yang terletak di pinggir pantai, sehingga suara deburan ombak lebih mendominasi ketimbang suara-suara bising kendaraan.
Sebenarnya tempat itu adalah milik keluarga Danar yang tadi nya hendak dibangun untuk sebuah villa, namun terhenti karena sebuah alasan tertentu.
Irya naik ke atas bangunan yang sudah dicor. Duduk disana menghadap arah pantai. Di atas tiupan angin laut cukup bisa dirasakan Irya. Lelaki itu memandang jauh biru nya air laut. Rasa lapar sedikit mengganggu nya. Teringat akan bekal yang dibawakan oleh bibi Jenab, dibuka tas nya dan diambil kotak bekal itu.
Hembusan pelan tapi terlihat seakan menekan sesuatu itu Irya lakukan saat memandang kotak bekal nya. Tersenyum membuka kotak itu, ada rasa senang dan ada rasa teriris dalam hati nya.
"Masakan ibu memang juara. Nasi goreng ini enak banget menurut gue." Irya bermonolog saat memakan nasi goreng buatan Bibi Jenab.
"Besok gue minta bawain bekal aja kali ya, dari pada gue jajan. Ini lebih enak dari makanan kantin sama warung-warung."
Irya menghabiskan isi kotak bekal nya tanpa tersisa sedikit pun. Memasukkan kembali kotak kosong itu ke dalam tas nya.
"Ini motor Lo, udah gue isi bensin." Ucap Irya.
"Oke kak, thanks ya." Ucap siswa tersebut.
"Sama-sama. Udah sana balik nanti dicari nyokap Lo lagi." Ucap Irya.
Lelaki itu melenggang pergi menggunakan motor sport nya. Berputar-putar tak tentu arah, suasana hati nya sedang tak baik-baik saja saat ini.
...----------------...
Senang sekali rasa nya mendapatkan teman baru kembali. Semenjak Nesha bertemu dan berkenalan dengan Devi, kemanapun pergi nya Devi terkadang bisa menemani nya. Seperti saat ini Nesha harus kembali lagi ke perpustakaan untuk meminjam buku yang masih dirasa kurang dan Devi menemani nya setelah kegiatan mereka mengisi perut.
Angga masih sibuk dengan mata kuliah nya mungkin akan selesai nanti saat jam makan siang.
"Udah ketemu nih Dev, apa kita nyicil aja kali ya ngerjain tugas nya disini." Ide itu muncul di kepala Nesha karena merasa tidak ada lagi kegiatan setelah meminjam buku.
"Boleh tuh... kita nyicil garap tugas disini." Devi menyetujui ide Nesha.
Kedua gadis itu memutuskan untuk mengerjakan tugas mereka di perpustakaan. Mengerjakan di tempat itu ada keuntungan bagi mereka jika ada materi yang tak bisa di temukan maka mereka bebas untuk mencari buku tidak perlu bolak balik.
__ADS_1
Mereka begitu serius mengerjakan tugas mata kuliah Pak Toro. Saling bekerjasama untuk menemukan materi yang diperlukan.
Saat sedang serius mengerjakan tugas pundak Nesha di tepuk oleh seseorang membuat fokus nya teralihkan.
"Loh Ga... kok kamu kesini ?" Tanya Nesha.
"Iya lah kan udah selesai kuliah nya." Ucap Angga santai.
"Lah emang ini jam berapa kok udah selesai ?" Tanya Nesha.
"Udah jam setengah 12. Kalian serius banget ngerjain tugas nya."
"Biar cepat kelar Ga." Jawab Devi.
"Tugas Pak Toro malah baru tadi di kasih ke kelas ku." Ucap Angga.
"Ya udah kita kerjain bareng aja." Ucap Nesha.
"Boleh.. tapi sekarang laper nih, kita makan dulu yuk." Ajak Angga.
Tak terasa waktu sudah siang. Angga, Nesha dan Devi pergi mencari warung makan. Padahal Nesha dan Devi tadi sudah makan tapi demi menemani Angga mereka tetap makan.
"Habis ini mau pada pulang ?" Tanya Devi.
"Kaya nya iya deh soal nya aku dapet titipan dari Mama buat belanja nanti." Ucap Nesha.
"Sama kaya nya aku juga harus pulang." Ucap Angga.
Mereka makan dengan lahap tentu yang paling lahap disini adalah Angga yang sudah kelaparan sejak tadi sedangkan Nesha dan Devi lahap karena makanan yang mereka pesan sangat enak dan dalam porsi kecil.
Kebanyak makanan enak itu selalu porsi nya kecil. Tapi entah lah apa saking enak nya jadi berasa porsi nya kecil atau memang benar-benar penjual nya menekan biaya pengeluaran untuk mendapatkan keuntungan banyak secara makanan yang mereka jual rasa nya enak, meski porsi kecil bakal banyak yang beli.
Selesai dengan makan siang bersama, ketiga mahasiswa itu akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Nesha pergi ke pasar yang dekat dengan rumah nya, membeli bumbu dapur yang sudah di catat di dalam kertas kecil. Belanja di pasar bukan hal baru bagi Nesha. Tidak merasa jijik atau geli saat memasuki area pasar tradisional. Sejak kecil Mama Nesha selalu membawa putri nya belanja di tempat itu. Bahkan Nesha kecil sangat senang jika diajak ke pasar, dulu membeli ayam warna-warni adalah alasan paling kuat untuk Nesha ikut pergi ke pasar.
...----------------...
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏
__ADS_1