
Melihat Irya tertidur di sofa, Danar masuk kembali ke kamar nya. Anin berbaring di atas ranjang, gadis itu tak bisa tertidur kembali karena sudah terlanjur bangun. Dia memainkan ponsel hingga melihat kedatangan kekasih nya di dalam kamar.
"Sayang, Irya sudah pulang ?" Tanya Anin lembut, ponsel di tangan nya diletakkan kembali di samping bantal.
"Belum, tuh anak tidur di sofa. Kesel banget sama tuh anak. Kamu lagi sibuk apa sih sama ponsel kamu." Danar berkeluh kesah pada kekasih nya perihal kelakuan Irya.
"Sabar aja yank, kamu yang paling tahu bagaimana sifat dia. Ini aku abis chatting an sama Nesha. Kaya nya minggu depan aku baru mulai kerja di cafe kamu deh yank nggak apa-apa kan ?"
"Iya aku tahu bagaimana sifat nya, dia kaya gitu karena apa juga sedikit banyak aku paham sih, cuma kadang suka kesel aja yank." Danar bergerak memposisikan diri untuk berbaring berbantalkan paha Anin.
"Terserah kamu aja mau kapan masuk nya, buat kamu mah bebas yank. Nanti kan kamu juga owner nya." Colekan dagu diterima oleh Anin dari jari telunjuk Danar.
"Apa sih yank, belum tentu juga kan." Ucap Anin santai.
"Maksud kamu apa yank. Kamu nggak serius sama hubungan kita ?" Danar yang sudah kesal bertambah kesal, salah tangkap dengan maksud Anin.
"Bukan gitu lho yank. Kita sih boleh berencana cuma nanti tetep kan Tuhan yang menentukan. Aku serius menjalin hubungan sama kamu kalau enggak, nggak mungkin aku bisa setia sama kamu. Buktinya aku setia cuma sama kamu aja itu karena aku juga berharap nanti kita bisa sampai ke tahap yang lebih serius sayang." Ucap Anin panjang lebar agar Danar tidak salah paham. Tangan halus nya membelai lembut rambut Danar, dia paham suasana hati Danar sedang tidak baik-baik saja akibat kelakuan Irya.
"Iya yank, kita berdoa aja biar hubungan kita di kasih kelancaran. Kamu kaya nya seneng banget mau kerja bareng sama Nesha."
"Dia gadis yang baik dan aku lihat dia juga nggak neko-neko anak nya. Suka aja yank, emang kamu mau aku main sama anak-anak yang suka aneh-aneh gitu."
"Ya enggak lah yank. Jangan... kamu harus jaga diri harus pintar pilih teman. Aku aja berusaha mati-matian jagain kamu masa kamu mau main sama anak-anak yang suka aneh-aneh yang ada kamu ngumpanin diri sendiri."
Anin hanya tersenyum mendengar ucapan kekasih nya, dia tahu apa yang dimaksud Danar. Memang benar kenyataannya Danar begitu mati-matian menjaga Anin dari orang-orang yang menggoda Anin bahkan godaan dari dirinya sendiri Danar benar-benar menahan diri agar tak menyentuh Anin.
"Aku lapar yank, bentar deh aku mau masak dulu buat makan siang." Anin berusaha mengalihkan kepala Danar dari pangkuan nya tapi Danar tetap tidak mau menggeser kepalanya. "Nggak usah masak yank, kita pesan aja. Lagian nanti kalau kamu masak tuh anak kebangun denger suara panci-panci di dapur."
Anin hanya menggelengkan kepalanya, meski kesal Danar tetap memiliki rasa kasih terhadap sahabatnya itu. Terlihat wajah lelah Irya membuat Danar tak tega mengganggu tidur pria itu.
"Lagian kenapa nggak disuruh tidur di kamar aja sih yank, kasihan dia badannya pasti capek tidur di sofa." Ucap Anin.
__ADS_1
"Iya sih tapi udah lah terlanjur dia udah tidur juga. Nggak tahu tuh anak dari mana kaya nya kelihatan capek banget. Bentar mana ponsel ku mau pesen makan dulu. Kamu mau makan apa yank ?" Tanya Danar, Anin menyodorkan ponsel Danar yang ada di atas nakas.
"Apa aja samain sama kamu aja yank." Anin percaya Danar tahu apa yang disukai oleh nya.
Danar memesankan makanan sebanyak 3 porsi karena ada Irya dan pasti anak itu setelah bangun tidur akan mencari makan. Danar sudah sangat hafal dengan Irya jika berada di apartemen nya.
Makanan sudah datang, Danar dan Anin makan siang terlebih dahulu. Mereka tak membangunkan Irya sebab terlihat lelap sekali pria itu tidur. Beberapa jam kemudian Irya terbangun dengan sendirinya. Seperti dugaan Danar sahabatnya pasti kelaparan dan mencari makan. Anin menyiapkan makanan untuk Irya. Pria itu makan dengan sangat lahap, sejak pagi keluar dari rumah Mak Isah dia belum makan sama sekali. Sungguh miris kehidupan Irya dia orang kaya tetapi seperti orang tidak mempunyai rumah, makan pun seperti orang kelaparan beberapa hari tidak makan. Danar hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Anin hanya tersenyum melihat Irya.
Selesai dengan makan, Danar dan Irya duduk bersama kembali di sofa. Danar kembali menanyakan dimana keberadaan Irya selamat beberapa hari kemarin dan Irya menceritakan nya kepada Danar minus kejadian saat bersama Mita. Danar pun juga menceritakan apa yang terjadi selama Irya pergi banyak sekali pesan dan telepon dari para kekasih Irya yang mencari pria itu bahkan Danar seperti di teror oleh mereka yang mencari keberadaan Irya. Mendengar itu Irya tertawa terbahak-bahak sungguh mengesalkan bagi Danar.
Tak lama menceritakan para kekasih Irya, ponsel Irya berbunyi. Agnes salah satu kekasih Irya yang paling agresif dan posesif dari para kekasih Irya yang lain menghubungi Irya. Karena malas Irya tak mengangkatnya, Irya dan Danar saling pandang saat Irya mematikan ponsel nya.
"Cih... apa gue bilang cewek Lo yang satu itu emang lebih agresif dari yang lain." Ucap Danar mencibir.
"Itu gara-gara Lo nyuruh gue balikin barang mantan Lo yang ketinggalan waktu itu." Jawab Irya santai merasa tak terbenani dengan keagresifan dan keposesifan Agnes bagi nya wanita itu hanya kesenangan semata untuk nya tak benar-benar mencintai wanita itu.
"Pacaran sama tuh cewek sih enak di gue hahaha." Irya tertawa mengingat selama pacaran bersama Agnes banyak sekali yang diuntungkan bagi Irya. Entah mungkin wanita itu terlalu mencintai Irya sehingga apa saja yang Irya inginkan selalu dituruti nya asalkan Irya juga mau menuruti keinginan nya. Menurut banyak orang keinginan yang bodoh karena Agnes selalu menginginkan Irya untuk menyentuh nya.
Sedangkan bersama Agnes, Irya bisa bertahan lebih lama yakni 5 bulan bila dibandingkan dengan kekasih Irya yang lain hanya bertahan selama 1 bulan saja. Mereka yang bertahan bulan adalah kekasih Irya yang masih menyandang status pelajar SMA berbeda dengan Agnes yang sudah menjadi seorang mahasiswi semester 5 sama seperti Danar.
***
Ketukan pintu terdengar menggema di kamar Irya. Ketukan itu sudah dipastikan dari bibi Jenab yang membangunkan Irya di pagi hari untuk bersiap berangkat ke sekolah. Kemarin setelah singgah di apartemen Danar hingga malam hari, Irya memutuskan untuk kembali ke rumah nya karena bibi Jenab menghubungi Danar menanyakan keadaan Irya. Pikir bibi Jenab ponsel Irya belum bisa dihubungi jadi tanpa membuang waktu bibi Jenab langsung saja menghubungi Danar.
"Den... bangun ini Bibi Jenab. Sudah siang den." Ucap bibi Jenab setengah berteriak karena wanita paruh baya itu tidak bisa masuk lantaran Irya mengunci pintu nya dari dalam.
Irya yang berada di dalam merasa terganggu tidur nya akan ketukan pintu yang tidak berhenti sedari tadi. Pria itu langsung bangkit dari ranjang nya membuka pintu kamar nya.
"Bu, ada apa ?" Tanya Irya dengan suara serak khas bangun tidur. Wajah nya pun masih terlihat mengantuk dengan rambut yang acak-acakan. Meski begitu pria itu tetap terlihat tampan.
"Sudah siang den... cepat siap-siap berangkat ke sekolah. Aden kemarin kemana saja ibu khawatir, Aden nggak ada kabar sama sekali." Tanya bibi Jenab, beliau begitu mengkhawatirkan anak majikannya yang sejak dulu dirawat semasa kecil jadi wajar saja jika bibi Jenab menyayangi Irya.
__ADS_1
"Aku kemarin ke rumah Mak Isah Bu."
"Loh kamu ke rumah Isah ? Kan jauh den... nginep disana ?" Bibi Jenab cukup terkejut karena Mak Isah juga tidak memberikan kabar pada nya jika Irya datang kerumahnya.
"Iya... habis Irya bosen Bu disini. Jadi Irya main-main sebentar disana. Maaf membuat ibu khawatir." Ucap Irya tersenyum.
"Ya sudah. Cepat siap-siap sekolah. Ibu siapkan seragam dan sarapan mu."
"Bu, Irya sudah hampir terlambat. Bolehkah ibu siapin bekal aja buat Irya nanti di sekolah." Pinta Irya dengan masih tersenyum lembut pada bibi Jenab.
"Boleh, ibu siapkan."
Bibi Jenab menyiapkannya seragam sekolah Irya setelah itu menyiapkan bekal untuk dibawa Irya ke sekolah.
Irya selesai bersiap bahkan bekal yang disiapkan bibi Jenab juga sudah dibawanya. Berpamitan dan berangkat ke sekolah dengan motor kesayangan nya.
Sampai di sekolah benar saja 5 menit setelah sampai baru saja duduk di kursinya sudah bel masuk. Guru mata pelajaran pertama masuk, tapi Irya sudah mendapatkan panggilan dari guru BK. Dengan santai Irya berjalan ke ruang BK, Bu Berty sudah menunggu di mejanya.
Tanpa harus dijelaskan Irya sudah tahu apa letak kesalahannya. "Pagi Bu, apa sudah bisa saya mulai bersih-bersih WC nya ?" Tanya Irya to the points. Bu Berty hanya menggelengkan kepala, kepala nya terasa pusing jika harus berhadapan dengan siswa nya yang satu ini.
"Irya, Ibu pusing sama kelakuan kamu. Sudah 3 hari berturut-turut kamu membolos. Sekarang kamu bantu Pak Tarjo pel lantai aula. Hari ini sampai jam istirahat pertama kamu jadi asisten Pak Tarjo bersih-bersih area sekolah." Bu Berty memegang dahinya, pagi-pagi sudah menghadapi Irya.
Irya dengan santai tanpa membantah perintah Bu Berty langsung berdiri berpamitan pada Bu Berty dan membantu tugas Pak Tarjo hari ini sampai istirahat pertama berlalu. Hal biasa bagi Irya bahkan dia sampai sudah akrab dengan tukang kebun sekolahnya.
...----------------...
Jangan lupa Vote !!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏