
Dalam aktivitas yang cukup menyenangkan akan membuat seseorang tidak merasakan berapa lama waktu yang sudah mereka habiskan. Setiap kegiatan yang menyenangkan akan terasa lebih cepat berakhir ketimbang hal-hal yang tidak menyenangkan.
Ruangan yang tadi nya rapi kini sudah tak tertata lagi, meja dan sofa yang sudah bergeser akibat malang nya nasib menjadi properti untuk memperlancar kegiatan. Bantal-bantal sofa yang sudah berserakan di lantai serta televisi yang sudah diabaikan keberadaan nya.
Entah sudah berapa kali dan berapa lama pasangan kekasih itu melakukan pertemuan mereka dalam balutan keringat. Nafas memburu akibat beradu cepat menuntaskan hasrat. Keduanya saling memuaskan satu sama lain bisa dibilang simbiosis mutualisme antara mereka berdua. Memiliki tujuan masing-masing yang pada akhirnya tujuan itu menjadi sama.
Irya masih memeluk sang kekasih yang masih berada di atasnya dengan tubuh tanpa sehelai benang. Mereka berdua masih tidur di atas sofa, nafas keduanya masih memburu. Irya dapat merasakan nafas Agnes yang belum beraturan akibat gerakan halus dada Agnes untuk menghirup oksigen.
"Capek yank ?" Tanya Irya lembut pada Agnes yang hanya diangguki oleh Agnes karena terlalu lemas. Irya mengusap lembut punggung polos kekasihnya. "Ya udah istirahat dulu yank."
"Yank kamu nggak berat aku bobo di sini ?" Tanya Agnes yang juga merasakan dada Irya masih berusaha mengatur nafas. "Kalau berat sih nggak masalah yank, cuma nanti takut yang dibawa bangun lagi." Ucap Irya, mata nya menatap langit-langit ruang tamu Agnes.
Dalam setiap percintaan dengan kekasih nya Irya tak benar-benar menggunakan cinta nya semua dia lakukan atas dasar dorongan hawa nafsunya saja tanpa perasaan yang sebenarnya.
Agnes yang memang agresif pasti saja selalu mampu menjawab setiap ucapan Irya dengan kata-kata yang menggoda. Bersama Agnes Irya harus lebih keras menahan diri tapi seringkali pertahanan dirinya ambruk akibat Agnes yang terlalu pintar menggoda.
"Tidur di kamar yuk yank, aku ngantuk banget nih." Ucap Irya yang memang merasa lelah dan sudah mengantuk.
"Lemes yank, gendong ya." Pinta Agnes dengan manja nya. Irya hanya menuruti saja apa maunya Agnes. Berdiri dari sofa dan menggendong sang kekasih ala bridal style menuju kamar Agnes. Tanpa menghiraukan pakaian mereka yang masih berserakan di lantai ruang tamu.
Mata Irya sudah tinggal lima persen, rasa lelah dan kantuk mendera. Tapi Agnes meski mengatakan lemas wanita itu masih sempat mencium bibir Irya dengan ganas. Irya hanya merespon sekedar nya saja.
"Yank, aku udah ngantuk banget. Peluk dong mau bobo nih." Pinta Irya pada Agnes, mata pria itu sudah terpejam. Agnes yang menyayangi Irya pun menuruti mau nya pria tampan di sampingnya.
Keduanya tidur siang dengan saling memeluk dan berselimut tebal, tak lupa Agnes menyalakan AC nya dengan suhu terendah. Irya sudah tertidur pulas. Setidaknya dengan tertidur dirinya sejenak melupakan permasalahan hidup yang sedang dirasakannya saat ini.
...****************...
Siang ini Nesha berangkat ke cafe dengan diantar oleh Angga sahabatnya. Banyak yang mengira jika Angga adalah pacar Nesha. Sikap mereka yang sangat dekat lah yang membuat banyak orang salah paham. Hanya orang-orang tertentu saja yang paham akan status mereka.
"Makasih ya Ga.. Kamu hati-hati pulang nya." Ucap Nesha tersenyum manis seperti biasa pada Angga.
"Iya... sama-sama santai kali Nes." Ucap Angga tersenyum, kebiasaan nya selalu mengusak rambut Nesha yang otomatis menimbulkan protes dari sang pemilik rambut.
"Iihh Ga... kebiasaan deh ah." Nesha merapikan rambutnya kembali dengan jari-jari lentiknya.
"Hahaha... aku balik dulu deh. Nih." Angga menyodorkan tangannya untuk disalami Nesha. Gadis itu menatap heran saat Angga menyodorkan tangannya.
"Kamu nggak mau salaman sama aku ?" Tanya Angga yang masih setia menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Ish... tumben amat minta salaman segala." Tapi Nesha tetap mengambil tangan Angga untuk disalami nya. Angga mengangkat tangannya agar Nesha mencium punggung tangan nya.
"Ish apaan sih Ga... Ah." Nesha memukul lengan Angga, pria itu tertawa lebar melihat Nesha kesal.
"Hahaha latihan menghormati calon kepala keluarga." Canda Angga pada Nesha, pria itu tersenyum manis.
"Ish... siapa yang jadi calon kepala keluarga siapa. Udah ah sana balik kamu masuk kerja kan hari ini ?"
"Ya aku lah bakal jadi kepala keluarga nanti kalau bisa sih kepala keluarga buat kamu hahaha. Iya nih aku pulang dulu ya." Angga masih saja mengeluarkan candaan nya yang terkesan menggoda Nesha. Gadis itu hanya tersenyum geli. Bagaimana bisa sahabat nya nanti bisa menjadi suamiku, pasti akan terlihat aneh pikir Nesha.
"Udah sana, hati-hati pulang nya Ga.. Kalau ada apa-apa kabarin." Ucap Nesha melambaikan tangan berdada ria pada Angga.
"Iya siap tuan putri. Bye..." Angga melanjutkan motornya yang sebelumnya membunyikan klakson motor nya.
Dari arah dalam Hamka memperhatikan interaksi Nesha dengan Angga dengan lekat. Ada perasaan kurang nyaman yang Hamka rasakan saat melihat mereka. Sejak pertama melihat Nesha, pria itu tertarik dengan paras ayu yang Nesha miliki. Kelembutan dan keramahan gadis itu mampu memikat hati Hamka.
Nesha masuk ke ruangan loker dimana dirinya bisa menyimpan semua barang-barang pribadi nya saat bekerja. Menggunakan celemek dan bersiap untuk bekerja.
"Nesha, kamu sudah sampai ternyata." Sapa Hamka yang melihat Nesha keluar dari ruangan loker.
"Eh kak... iya kak, kakak mau masuk ?" Tanya Nesha menunjuk kebelakang ruang loker dengan jari telunjuknya.
Wajah cantik itu terasa tidak akan pernah membosankan untuk Hamka. Perlahan Hamka ingin mendekati Nesha. Pria itu berjalan beriringan dengan Nesha menuju dapur. Shintya melihat kedatangan Nesha bersama Hamka membuat wanita itu semakin naik pitam.
"Sial tuh cewek deketin Hamka. Nggak ada yang boleh deketin Hamka selain gue." Batin Shintya. Jiwa sok penguasa dalam diri Shintya meronta-ronta. Tangan nya sudah gemas dan gatal ingin mengacak-acak rambut Nesha bahkan rasanya ingin menambah wajah mulus Nesha.
Shintya melirik sinis ke arah Nesha dan Hamka, mereka melihat arah mata Shintya namun mereka hanya diam saja tidak menghiraukan itu. Nesha berusaha cuek dengan sikap menyebalkan dari Shintya. Sedangkan Hamka juga cuek dengan lirikan Shintya, pria itu terus berjalan bersama Nesha.
Pada saat koki sudah menyiapkan makanan di atas nampan dan di letakkan di atas meja Hamka langsung mengambil nampan tersebut.
"Ini buat nomor berapa ?" Tanya Hamka pada koki.
"Oh itu meja nomor 9 Mas." Jawab koki setelah melihat kertas menu yang tertempel di samping nya berdiri.
"Oke biar saya yang antar."
"Oh oke mas, terimakasih." Ucap koki tersenyum.
Hamka adalah manager di cafe tersebut, orang yang dipercaya oleh Danar saat Danar tidak berada di cafe. Pria itu juga tak jarang membantu pegawai mengantarkan makanan.
__ADS_1
"Nes, aku antar ini dulu ya. Kamu semangat kerja nya." Hamka memberikan semangat pada Nesha dan gadis itu hanya tersenyum manis.
Hamka berlalu dengan nampan berisi makanan pesanan pelanggan. Shintya semakin kesal dan dongkol melihat Hamka bersikap ramah sekali dengan Nesha.
"Heh anak baru, nggak usah ganjen Lo jadi cewek. Murah banget tebar pesona sana sini. Ingat tuh cowok Lo." Shintya yang tiba-tiba mendorong bahu Nesha dari belakang membuat gadis itu terkejut.
"Kak, kalau ngomong di jaga ya kaya nggak punya pendidikan aja ngomong nya nggak disaring." Balas Nesha. Selama ini dia diam saja dengan perlakuan Shintya karena meski sedikit kasar tapi Nesha masih bisa mentolerir nya. Namun, jika sudah menyangkut harga dirinya Nesha tidak tinggal diam begitu saja. Shintya mengatakan dirinya murah itu melukai perasaan dan harga diri Nesha.
Tidak pernah gadis itu disentuh oleh laki-laki tapi Shintya mengatakan nya murah seakan Nesha gadis kecentilan yang mau nemplok sana sini.
"Lo berani nyolot sama gue huh ?!" Shintya mendorong kedua bahu Nesha dari depan hingga gadis cantik itu terdorong mundur hingga tak sengaja tangan nya menyenggol gelas dan jatuh hingga pecah.
Semua mata pegawai langsung menatap ke arah keduanya. Shintya mengambil minuman yang telah dibuat oleh koki sudah siap di atas nampan, hendak menyiramkan nya ke wajah Nesha.
"Shintya !! Taruh minuman itu !! Lo pikir gue buat tuh minum gampang huh, cuma tinggal nyebut nama nya langsung nongol tuh minuman." Seru koki yang juga geram dengan tingkah Shintya.
Koki yang bernama Nana itu keluar dari singgasana nya. Menatap menghadap Shintya dengan tatapan tak suka.
"Jangan karena Lo senior disini jadi Lo seenaknya sama yang lain. Kalau Lo sanggup bikin tuh minuman sendiri buat pelanggan di depan, Lo siram Nesha sekarang dan gue sama koki yang lain serahin tugas ke Lo." Ucap Nana mengeluarkan kekesalan nya. Tak tahan melihat tingkah Shintya yang semena-mena pada karyawan lain terlebih anak baru.
Shintya kesal dan menaruh kembali minuman dengan kasar hingga tertumpah. Sama saja membuat Nana harus kembali mengulang pekerjaan nya.
"Lo awas Lo berdua." Ancam Shintya.
"Lo tuh yang awas kepala Lo tuh udah lumutan maka nya nggak ada otak." Balas Nana kesal. Melihat penampilan Shintya yang banyak gaya meski memang cantik dengan rambut ombre blonde dan hijau nya. Shintya pergi begitu saja meninggalkan Nesha dan Nana dengan kesal.
"Nes, Lo kalau diperlakukan seenaknya lawan aja nggak usah takut. Anak-anak sini sebenarnya pada nggak suka sama dia cuma pada males ngeladenin aja." Ucap Nana pada Nesha.
"Iya makasih ya kak." Ucap Nesha tersenyum.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏
__ADS_1