
Makan bersama mereka telah selesai, Angga sudah kembali bekerja. Anin dan Nesha masih stay di food court. Masih ingin berkumpul berdua karena setelah sampai rumah pasti mereka akan sama-sama sepi.
"Nes, kamu lihat Irya tadi ? Dia beda banget ya kaya nggak kenal kita." Ucap Anin menceritakan apa yang dirasakan nya.
"Bukan nya memang aku nggak pernah kenalan sama tuh orang." Gumam Nesha dalam hati merespon ucapan Anin.
"Yaaa... aku kurang tahu sih Nin, kan aku nggak terlalu kenal sama dia. Waktu itu aku hanya sempet bantuin dia beberapa kali aja."
Anin mengangguk membenarkan apa kata Nesha. "Eh iya juga sih. Tapi kamu bisa lihat kan dari cara bicara nya tadi beda dengan yang dulu. Dingin dan datar. Pokok nya beda lah sama yang dulu." Keluh Anin.
"Beda apa nya dari dulu sampai sekarang juga sama aja suka mesum dibalik rak buku." Kembali Nesha bergumam dalam hati.
"Apa dia juga marah dan benci ya sama aku gara-gara Danar pukul dia dulu." Anin masih mengungkapkan apa yang dia rasakan. "Udah lah Nin, nggak usah di pikirin. Terserah dia mau apa lagian juga nggak merugikan kamu kan. Pulang yuk." Nesha mencoba memberikan masukan.
"Ya udah pulang aja yuk." Anin setuju. Mereka menggamit kantong plastik mereka masingmasing yang berisi buku belanjaan mereka.
Menggunakan motor matic Nesha mengantar Anin ke rumah kekasih Danar itu. Nesha mulai belajar membersamai diri untuk pulang pergi malam hari meski terkadang rasa takut itu ada. Takut jika tiba-tiba ada preman atau orang jahat yang menggangu nya.
"Makasih ya Nes udah nganterin aku, kamu nggak mampir dulu ?" Ucap Anin.
"Udah malam Nin, besok aja lah ya. Aku takut kemalaman. Aku pulang ya. " Tolak Anin secara halus, dia justru melambaikan tangan dan memutar arah motor nya.
"Ya udah hati-hati ya di jalan. Kalau ada apa-apa kamu langung kabarin aku." Anin melambaikan tangan saat Nesha mulai melajukan kendaraannya.
***
Apartemen Irya.
Sepulang dari jalan-jalan mereka di toko buku dan makan di luar Putri ikut pulang bersama Irya di apartemen pria itu. Irya menemani Putri mencari buku referensi untuk kuliah nya.
"Sayang, aku tidur sini ya." Ucap Putri bergelayut manja pada lengan Irya. Dada nya yang padat menempel dengan jelas pada lengan Irya.
"Aku nanti ada acara sama temen-temen. Kamu pulang aja." Irya tidak ingin Putri terlalu sering tidur di apartemen nya. "Tapi aku pengen tidur disini. Bobo sama kamu sayang." Rengek Putri, nada manja nya dipergunakan untuk menarik simpati Irya.
"Kamu mau tidur sama aku ?" Tanya Irya datar melirik Putri sejenak lalu kembali menyesap batang rokok nya. Putri mengangguk semangat berharap malam ini bisa menginap di apartemen Irya.
Menghembuskan asap rokok ke wajah Putri membuat perempuan itu sedikit menolehkan wajah menghindari asap rokok. Irya tersenyum miring, lalu mematikan rokok nya di dalam asbak.
Meraup bibir Putri dengan kasar dengan bibir nya yang sudah berbau rokok. Meski kasar Putri tetap tak menolak apa yang Irya lakukan. Hingga Putri kesulitan bernapas baru dirinya memukul dada Irya untuk melepaskan ******* itu.
__ADS_1
"Kenapa ?" Tanya Irya tanpa rasa berdosa dan tidak ada kehangatan dalam pertanyaan itu.
"Aku susah nafas tahu, kamu kasar banget cium nya." Protes Putri dengan kesal. Irya tersenyum miring.
"Kamu tidak suka ? Kalau tidak pergi lah." Ucap Irya santai. Tentu saja Putri gadis bodoh itu tidak akan pergi. Rugi bagi nya jika meninggalkan pria tampan seperti Irya.
"Nggak aku nggak mau pergi aku mau sama kamu." Putri masih saja menempel pada Irya.
"Puaskan aku." Ucap Irya dengan santainya. Sangat tahu jika kekasihnya itu akan melakukan apa saja agar bisa dekat dengan nya.
Irya menurunkan celananya dan menarik tengkuk Putri menghadap sang raja yang penuh kekuasaan kali ini. Pusat inti nya sudah menantang untuk di taklukkan. "Taklukan dia dengan cara mu sayang." Kalimat itu penuh penekanan akibat menahan hasrat.
Demi Irya kekasih hati yang telah merasuk ke dalam relung hati. Putri menunjukkan keterampilan nya yang menurut Irya masih standar bila di banding Agnes.
Tak masalah asalkan mampu memuaskan nya saat ini. Mata Irya merem melek menikmati permainan lidah Putri dibawah sana. Sesekali menggeram menahan kenikmatan.
"Tunjukkan kemampuan mu sayang." Suara yang angkuh keluar dari bibir Irya. Seakan dirinya menyewa seorang wanita malam. Kejam memang menganggap kekasih sendiri seperti itu tapi mau apa ? Begitulah Irya sekarang, mau bertahan dengan nya harus lakukan perintah nya jika tidak mau silahkan pergi.
Kurang berasa bagi Irya, tangan nya turut membantu Putri, kepala kekasih nya di angkat dan dorong nya agar lebih masuk lagi. "Uhuk hok.." Putri sampai tersedak dengan kelakuan Irya. Senyum sinis mengembang dibibir Irya.
Putri tak bisa apa-apa, menurut dan hanya menurut rasa cinta nya pada Irya tak mampu membuatnya membantah. Merasa tidak dihargai ? Jangan harap seperti itu jika sudah bersedia menjadi kekasih Irya.
Tak perlu bermain lebih untuk saat ini cukup permainan kecil sekali saja. Irya tak memiliki banyak waktu, sudah ada yang menunggu nya saat ini.
"Bersihkan milik ku lalu bersihkan dirimu sendiri." Perintah Irya. Suasana hatinya sedang tak baik-baik saja saat ini. Ingin bersenang-senang dengan teman-teman nya tapi kekasih nya itu justru membuat nya kesal karena terus menempel dan meminta untuk menginap di apartemen nya.
Brumm...Bruumm...
Suara motor sport yang menggelegar terdengar terparkir berjajar rapi dengan beberapa motor yang lain. Penampilan yang sangat mempesona dan keren, jaket hoodie, celana panjang dan sneaker serta tak lupa topi yang selalu jadi andalan penampilan Irya. Hanya sesimpel itu penampilan nya sudah cukup membuat para kaum hawa meleleh.
"Woi Broo..." Sapa teman-teman yang lain.
"Lo lama banget sih Ir." Tanya Rony yang duduk menyesap kopi nya.
Irya tersenyum tipis. "Biasa bro.." Irya menyalami semua teman-temannya ala anak gaul.
"Minum dulu deh Lo mau pesan apa nih ?" Tawar Rony pada Irya. "Kopi biar sama." Ucap Irya.
Akhirnya Irya bisa berkumpul bersama teman-teman nya setelah mengurus kekasihnya dengan cara nya sendiri. Tidak ada yang tidak bisa Irya lakukan hanya untuk mengurus seorang perempuan. Sudah pasti apa yang akan dilakukan nya bisa menaklukkan para perempuan.
__ADS_1
Malam ini mereka berkumpul untuk membahas akan diadakan nya pertandingan balap liar untuk besok. Tentu Irya akan mengikuti nya dari situ Irya bisa mendapatkan penghasilan. Pendidikannya yang terbengkalai dengan keterangan tidak lulus SMA apalagi yang bisa dilakukan nya untuk mencari pekerjaan.
Keluarganya saja tak perduli dengan masa depan nya. Lalu harus apalagi untuk melanjutkan pendidikan nya. Hanya buang-buang uang saja sama seperti apa yang sering Broto katakan.
Uang hasil balap liar nya sangat besar, meski harus bertaruh nyawa itu tak masalah untuk Irya kemampuan nya hanya itu saat ini untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sejak memutuskan hidup sendiri dan jarang pulang Irya mencari biaya hidupnya sendiri. Perkataan orang-orang sekitar nya selalu terngiang membuatnya tak ingin merepotkan mereka lagi.
"Hai Irya..." Sapa seorang gadis dengan tubuh seksi nya.
Memang banyak gadis yang menongkrong di sana bersama Irya dan teman-teman nya tapi Irya sama sekali tak mengenal mereka.
Sapaan gadis itu tak dijawab sama sekali oleh Irya hanya lirikan saja. "Wiihh... kenapa Lo bro biasanya kalau ada yang bening Lo langung nyosor paling nggak gombalan Lo langung kaya jalan tol." Ucap Aji.
Rony menepuk bahu Aji. "Lo nggak tahu sekarang, Irya beda sama yang dulu Bro. Dia sekarang mana mau sibuk ngebacot sama cewek-cewek. Udah berubah dia mah."
"Dia Miranda Bro... cewek seksi bulan ini haha." Ucap Aji mengering Miranda.
Miranda mendelik sebal, bulan ini ? berarti bulan depan akan ada yang lebih seksi gitu ?
"Terus kalau dia seksi emang kenapa ?" Ucap Irya datar tanpa ekspresi.
"Hahaha... Aji...Aji... Lo kocak banget. Hai Mir... Lo mau deket sama Irya ?" Tanya Rony menatap mengejek pada Miranda. Gadis itu kesal seakan Rony meremehkan nya.
"Lo kasih sampel dulu lah sama Irya mana tahu di approve sama doi." Ucap Rony menahan senyum mengejek nya.
Aji dan yang lain termasuk Miranda mengerutkan kening. Irya santai saja dengan ponsel nya.
"Negosiasi di persilahkan bos." Ucap Rony memberikan waktu untuk Irya dan Miranda. "Kita pindah meja guys." Rony mengajak Aji dan teman-teman yang lain berpindah tempat memberikan waktu pada Irya dan Miranda.
Irya memang tak sama seperti dulu yang suka sekali menggombal untuk mempermainkan wanita. Sekarang dirinya lebih banyak diam, dan lebih ekstrim dalam mendapatkan mangsanya. Dengan bernegosiasi untuk menentukan apakah sesuai kriteria atau tidak.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏