Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 62. Dua Wanita Tak Penting


__ADS_3

Kebodohan Miranda membuat Irya mengamuk dan memutuskan untuk kembali pulang dari liburan mereka. Keinginan tahuan Miranda yang membuatnya dengan lancang membaca seluruh isi chat pada ponsel Irya.


Sampai di apartemen Miranda tak langsung pulang ke rumahnya melainkan masih mengikuti Irya di apartemen lelaki itu. Irya membaringkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.


Sedari perjalanan pulang tadi sikap Irya yang biasanya sedikit manis pada Miranda kini kembali dingin dan datar. Ketenangan hidupnya sudah diganggu oleh Miranda.


Miranda ikut berbaring di ranjang Irya dan mencoba merangkul tubuh Irya yang berbaring menghadap langit-langit kamar nya. Mata pria itu sudah menutup.


"Sayang, kamu masih marah sama aku ? Aku minta maaf sayang." Tanya Miranda dengan wajah sendu dan semakin mendekatkan diri pada tubuh Irya.


"Ck... Miranda, gue nggak mau bahas ini Lo udah minta maafkan tadi." Ucap Irya cuek dan masih memejamkan matanya.


"Iya... tapi maafin aku sayang... kamu kayak nya masih marah gitu sama aku." Miranda kini memainkan jari telunjuk nya pada dada Irya. Wajahnya masih menunjukkan kesedihan seperti seorang perempuan yang menyesali kesalahannya pada sang kekasih pada umumnya.


"Gue mau istirahat, gue mau tidur." Ucap Irya dingin dan datar lalu membalikkan tubuhnya menjadi posisi miring membelakangi Miranda.


Miranda tentu saja tak putus asa, dia masih saja terus mencoba meluluhkan hati Irya yang dirasakannya masih marah dengannya. Miranda masih mencoba memeluk Irya dari belakang.


"Sayang..." Panggil Miranda dengan nada manjanya, pelukannya dieratkan pada tubuh Irya hingga dua tumpukan daging itu terasa terhimpit oleh punggung Irya.


"Miranda !!! Lo budeg huh ?!! Gue mau istirahat tidur nanti malam gue ada acara.!!" Sentak Irya bersamaan dengan tangannya menghempaskan tangan Miranda yang sedari tadi memeluk tubuhnya.


Miranda terkejut dengan perlakuan Irya, selama berpacaran dengan Irya baru kali ini dirinya mendapat bentakan dari seorang Irya yang menjadi kekasihnya.


"Mending Lo pulang sekarang. Gue mau tidur. Lo disini cuma ganggu waktu istirahat gue." Usir Irya pada Miranda tanpa perasaan.


Mata indah Miranda yang berbalut softlens warna biru itu melebar bersamaan dengan mulut nya yang terbuka dan alis yang terangkat naik ke atas. Terkejut Irya mengusir dirinya saat ini dengan tanpa perasaan.


"Yank ? kamu ngusir aku ? Cuma karena aku buka chat kamu sama si putri putri yang nggak ada apa-apa nya dibandingkan aku itu huh ?" Pertanyaan yang diakhiri dengan tawa tak percaya Miranda.


Bila dibandingkan dengan Putri menurut Irya memang Miranda lebih dari kekasih pertama nya itu yang memiliki tubuh bohai dan permainan ranjang yang hebat.


"Pulang !! Gue udah pernah bilang sama Lo jangan ngatur hidup gue apalagi melanggar privasi gue." Irya sudah berdiri dari ranjang nya menghadap Miranda.

__ADS_1


"Seenggaknya Putri tahu diri dan tahu sopan santun depan gue. Elo jangan cuma karena gue suka permainan ranjang Lo jadi ngelunjak." Ucap Irya dingin dan menatap tajam ke arah mata Miranda.


Nyali Miranda menciut karena tatapan tajam yang mengintimidasi itu. Arah pandang Miranda sudah goyah dan tak fokus pada Irya sebisa mungkin menghindari tatapan mata Irya.


"Pulang." Satu kata yang berarti Miranda memang harus pulang sekarang juga. Nada suara yang datar dan terkesan dingin dan tegas dibarengi dengan tatapan tajam Irya.


Dengan cepat Miranda mengambil tas nya yang ada di ranjang Irya. Berjalan dengan langkah kaki cepat, Irya menatap punggung Miranda dengan bulatan padat pada bagian belakang itu.


"Shit !!" Umpatan yang keluar dari bibir Irya.


Rasa kesal dan marah itu masih saja membekas dalam hati Irya dan masih belum bisa memudar.


Privasi nya adalah ketenangan dan kesenangan bagi dirinya. Tidak ada yang boleh mengganggu itu. Selama ini Irya selalu mencoba mencari hal yang mampu membuat hatinya bahagia dan senang.


Kesedihan dan kesepian selalu dirasakan nya sejak dulu. Maka dari itu dia tidak ingin ada orang lain yang mengusik ketenangan dan kesenangan nya. Termasuk Miranda yang kini menjadi kekasih nya. Kekasih ? Hanya status saja tanpa ada perasaan menjalani hubungan dengan Miranda hanya rasa suka saja. Irya selalu membentengi hatinya agar tidak jatuh cinta pada perempuan mana pun.


Perasaan Irya sudah terluka karena perilaku Mama dan adiknya sendiri. Orang yang seharusnya dekat dan bisa saling memberikan cinta dan kasih sayang justru selalu melukai hati dan perasaan Irya.


Kasih sayang nya didapat hanya dari Bibi Jenab wanita paruh baya yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah Irya. Tidak adanya perhatian dari keluarga nya sendiri membuat Irya mencari kesibukan dan kesenangan nya sendiri. Kehidupan nya lebih banyak berada di luar rumah ketimbang di rumah. Jarang sekali Irya bertemu dengan Bibi Jenab.


Miranda yang sudah keluar dari apartemen Irya dengan perasaan kesal. Berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang melintasi jalan raya. Ada perasaan dend.dalam hati nya untuk kekasih Irya yang lain yaitu Putri. Rencana-rencana licik sudah mengantri dalam kepala nya untuk dikeluarkan.


Beberapa jam memejamkan mata ponsel Irya sudah kembali berdering satu panggilan masuk ke dalam ponselnya membuat tidurnya terganggu.


"Ck... siapa sih ini yang telepon ganggu aja." Gerutu Irya kesal dan malas untuk bangun tapi suara ponsel itu mengganggu nya.


Tanpa melihat siapa yang menelepon Irya mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo." Jawab Irya dengan nada malas karena masih mengantuk.


"Irya kamu dimana ?!" Suara yang tak asing bagi Irya, tidak ada kesan lembut dan manja seperti biasanya. Suara sedikit keras itu mengejutkan pendengaran Irya.


Mata Irya langsung terbuka dengan sempurna perasaan nya yang sudah kesal bertambah kesal.

__ADS_1


"Apa ? Kenapa ?" Tanya Irya kesal.


"Kamu dimana ? Pasti lagi asik jalan-jalan sama cewek itu kan ?" Tuduh Putri, pikiran nya sudah dipenuhi dengan bayang-bayang kegiatan demi kegiatan perselingkuhan Irya dan Miranda.


"Ck... apa sih, ini lagi tidur di apartemen juga. Udah lah ganggu istirahat aja." Irya langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Tentu saja Putri begitu berasa kesal dengan sikap Irya yang mematikan panggilan nya begitu saja.


"Apa iya dia di apartemen ? Kan tadi fotonya enggak di apart." Gumam Putri lirih.


"Apa aku coba ke sana aja ya ? Tapi Irya kan nggak suka diganggu kalau lagi istirahat. Nanti dia ngamuk-ngamuk lagi sama aku. Ah bodo amat deh orang dia yang selingkuh."


Putri memutuskan untuk mendatangi apartemen Irya, dengan tas selempang kecil miliknya dan penampilan yang sudah siap.


Gadis itu menuruni anak tangga kost nya. Tapi tiba-tiba saja teman nya datang dan mengajak pergi untuk menjenguk teman nya yang baru saja kecelakaan. Niat untuk mendatangi Irya bubar jalan, teman yang mengalami kecelakaan itu adalah teman baiknya.


Di apartemen Irya uring-uringan, kelakuan Miranda membuat suasana hatinya memburuk hari ini. Semuanya kacau gara-gara Miranda.


"Sialan tuh cewek... dinaikin malah ngelunjak." Gerutu Irya.


Tak bisa tidur lagi Irya memutuskan untuk mandi menyegarkan diri. Tidak buah dan pikiran nya terasa lelah hari ini. Belum lagi dirinya harus memperbaiki mood dan istirahat cukup untuk pertandingan nanti malam.


Setelah mandi tubuhnya menjadi lebih segar dan ringan. Irya mencoba untuk tidur kembali, kegiatan nya tidak boleh bubar karena kedua perempuan yang tidak penting itu.


Betapa kasihan nasib kedua perempuan itu yang tidak pernah dianggap penting oleh Irya. Tega dan kejam tapi itulah Irya sekarang yang diutamakan nya saat ini adalah kesenangan nya sendiri saja.


****


Jangan lupa VOTE !!!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.

__ADS_1


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2