Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 11. Mak Isah


__ADS_3

Beberapa orang saat memiliki masalah banyak sekali cara yang mereka lakukan untuk sekedar meredam atau melupakan sejenak. Irya memilih meredam suasana hati nya yang tak baik-baik saja dengan berkeliling menyusuri jalan tanpa arah tujuan yang jelas.


Menghabiskan tenaga bagi tipe orang yang bergerak produktif, menghabiskan bensin bagi tipe orang yang pelit dan berhemat. Semua yang dilakukan Irya saat ini terlihat tak bermanfaat dan sia-sia sekali.


Berbeda bagi Irya setidak nya fokus ke jalanan membuat nya sedikit melupakan suasana tak nyaman yang mendera batin nya.


Mengarahkan motor memasuki area SPBU, apa lagi tujuan utama nya jika bukan untuk mengisi bensin. Tak hanya isi bensin saja sebagai tujuan utama nya, rest area di SPBU membuat lelaki itu memutuskan untuk beristirahat sejenak.


'Haahh... ternyata muter-muter capek juga ya, padahal yang jalan ban motor gue bukan kaki gue.' Gumam Irya dalam hati.


Melihat ada minimarket Irya masuk ke dalam nya dan membeli air mineral serta satu bungkus rokok. Bangku yang disediakan pemilik SPBU dan rest area memberikan sedikit kenyamanan bagi tubuh Irya untuk beristirahat.


Meneguk air mineral hingga tersisa setengahnya saja. Satu batang rokok dinyalakan sebagai teman santai nya sembari memainkan ponsel.


'Males banget pulang ke rumah, kemana ya gue ?'


'Ke rumah Danar... nggak asik yang ada gue makin stress sama dia. Akhir-akhir ini si Danar berisik banget dah.'


Memperhatikan penampilan nya saat ini masih menggunakan seragam sekolah. Sungguh tidak keren, berputar-putar mengelilingi jalan menggunakan seragam sekolah. Ini bukan konvoi kelulusan sekolah.


'Gue kaya nya harus ganti baju, kalau nggak yang ada nanti gue kena razia pol PP lagi. Mana di tas gue nggak ada baju ganti."


Gumaman demi gumaman terus Irya suarakan dalam hati nya. Duduk seorang diri akan membuat orang lain memandang nya sebagai orang gila jika diri nya berbicara mengeluarkan suara sendiri.


Pertama yang kini harus dilakukan oleh Irya adalah mengganti baju seragam nya. Tak mau mengambil resiko terjaring razia yang kapan saja bisa terjadi tanpa pemberitahuan kepada nya.


Swalayan kecil pinggir jalan menjadi pilihan siswa SMA itu. Harga murah tak jadi masalah bagi nya, yang penting bisa ganti baju dulu. Kaos oblong dan celana training panjang serta sendal jepit susah digunakan Irya.


"Oke let's go..." Irya bermonolog.


Memasang kembali helm full face nya. Jaket nya yang dibawa sejak dari rumah melapisi tubuh nya yang terbalut kaos oblong.


Menghidupkan mesin motor nya dan melakukan nya dengan kecepatan sedang. Kini Irya bukan lagi tanpa tujuan, melainkan satu tempat yang sudah tergambar jelas dalam pikiran nya.


Semakin lama laju motor semakin kencang. Menerobos jalanan yang padat dengan berbagai macam model kendaraan. Bunyi klakson motor dan mobil menjadi sebuah irama yang tak terpisahkan di jalan raya.


Jalanan yang akan dilalui Irya tampak nya sudah sedikit berubah. Banyak bangunan baru yang menyamarkan bangunan yang menjadi patokan bagi Irya untuk mengingat jalan menuju rumah Aris.


Aris merupakan keponakan bibi Jenab. Dulu sewaktu SMP, Irya sering sekali ikut bersama bibi Jenab pulang ke kampung halaman nya. Disitu lah awal mula Irya mengenal Aris.


"Waduh gue kemana nih ?" Tanya Irya pada dirinya sendiri yang mulai bingung dengan arah jalan.


Berhenti sejenak di pinggir jalan. Irya mengingat-ingat jalan mana yang harus di lewati nya. Dengan ragu Irya mencoba mengambil keputusan. Beberapa kali dia harus salah jalan, tempat itu benar-benar menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu. Hari semakin sore, langit semakin gelap.

__ADS_1


Irya kembali menghentikan motor nya dan turun dari motor tersebut. Terlihat sebuah konter dengan dua orang perempuan yang menjaga nya.


"Misi Mbak, mau tanya jalan ke alamat kalisawi RT.7 mana ya ?" Tanya Irya pada penjaga konter.


'Ya ampun ganteng banget ini cowok.' Batin salah satu penjaga toko berambut panjang.


"Mbak,halloo... Mbak ?" Irya melambaikan tangan nya mencoba membuyarkan lamunan gadis itu.


"Eh Jamilah, Lo dipanggil noh, benar-benar ya kagak bisa lihat yang beningan dikit, bikin malu gue aja." Ucap penjaga konter yang lain yang usia nya lebih tua dengan memukul cukup keras lengan teman nya.


"Ck... sakit kali." Ucap gadis itu cemberut.


Irya menghela nafa nya, dia tahu pasti akan ada gadis yang bersikap seperti itu ketika berhadapan dengan nya. Tapi saat ini masalah nya dia sudah lelah dan ingin beristirahat.


"Mbak tahu nggak alamat kalisawi RT.7 ?" Irya kembali mengulang pertanyaan nya.


"Oh iya tahu mas... masih lurus ke Utara nanti ada salon masuk aja gang samping salon nah di situ udah RT.7."


"Oke makasih mbak."


Irya meninggalkan konter itu, kembali menaiki motor nya dan melajukan motor ke arah yang sudah di beritahu kan oleh gadis penjaga konter tadi.


Mencari rumah demi rumah untuk menemukan letak rumah Aris. Dulu rumah Aris bersebelahan dengan rumah bibi Jenab. Pohon jambu air menjadi tanda yang selalu di ingat oleh Irya sejak dulu.


"Ini kaya nya, ada pohon jambu nya." Irya bermonolog.


"Permisi." Ucap Irya.


"Iya cari siapa ya ?" Tanya pemilik rumah.


"Maaf benar ini rumah bibi Jenab" Tanya Irya.


"Iya benar ini rumah bibi saya. Dengan siapa ya ?


"Saya Irya, em... anak yang dulu di asuh oleh bibi Jenab."


"Irya ? Sebentar ya saya panggil ibu saya dulu. Mas nya duduk dulu di situ."


Perempuan perut buncit itu menyuruh Irya duduk di kursi yang ada di teras rumah. Sedang perempuan itu masuk untuk memanggil ibu nya. Tak lama wanita paruh baya keluar menemui Irya.


"Maaf cari siapa ya ?" Tanya wanita paruh baya.


Irya menoleh ke arah wanita itu dan berdiri menyalami nya. Irya tidak lupa dengan wajah wanita itu.

__ADS_1


"Mak... udah lupa sama saya ? Saya Irya anak yang di asuh bibi Jenab, dulu sering ikut pulang bibi Jenab." Ucap Irya.


"Kamu Irya... Bahuwirya ?"


"Iya Mak..." Ucap Irya tersenyum.


"Ya ampun... beneran ini Irya ? Nak, kamu sudah sebesar ini, makin ganteng kamu." Ucap Mak Isah meraba wajah Irya dan menepuk-nepuk bahu Irya.


Irya hanya tersenyum mendapati ekspresi dan reaksi Mak Isah terhadap diri nya. Mak Isah dan bibi Jenab memang sama-sama memiliki kelembutan seorang ibu.


""Kamu sama siapa kesini ha ? Ya ampun... ayo..ayo masuk. Maaf ya Mak nggak tahu kalau yang datang kamu. Tadi anak menantu Mak yang buka pintu jadi dia nggak tahu."


"Irya sendiri Mak... kangen sama rumah ini jadi Irya kesini."


"Ya ampun, iya kamu sudah lama tidak main ke sini. Bagaimana kabar keluarga mu ?" Tanya Mak Isah.


Pertanyaan yang mengiris hati Irya, keadaan keluarga nya dia sendiri tidak tahu karena hampir tidak pernah bertemu dengan keluarga nya sendiri. Merek sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Keluarga sehat Mak." Ucap Irya tersenyum.


Entah tak tahu apakah benar-benar sehat atau tidak Irya tak tahu. Namun, yang dia harapkan apa yang dikatakan memang benar-benar kenyataan.


Lama berbincang hingga malam hari, Mak Isah tak membiarkan Irya untuk pulang. Dan itu memang yang diharapkan oleh Irya agar tidak kembali ke rumah. Tujuan nya datang ke tempat ini memang karena malas berada di rumah.


"Aris mana Mak ?" Tanya Irya.


"Aris lagi keluar bantu Bapak antar sayur. Nanti paling sebentar lagi pulang. Kamu tunggu aja di kamar Aris." Ucap Mak isah.


"Nggak Mak, Irya tunggu disini aja sampai Aris pulang."


"Ya sudah Mak tinggal masuk dulu ya, Mak lagi buat adonan kue donat buat besok pagi."


"Iya Mak." Ucap Irya tersenyum.


Tak lama mereka anak dan suami Mak Isah datang. Keduanya sempat bingung dengan kedatangan Irya. Namun, merasa tak asing dengan wajah Irya. Sedikit penjelasan dari Irya membuat mereka baru menyadari nya. Aris langsung mengajak Irya masuk ke dalam kamar nya.


Kedua Pria remaja yang beranjak dewasa itu berbincang ke sana-kemari membahas urusan laki-laki seperti game, motor dan lain sebagainya.


Irya menginap di rumah Mak Isah selama tiga hari lama nya tanpa memberikan kabar pada keluarga maupun teman-teman nya. Toh pikir Irya mereka tak akan mencari nya.


...----------------...


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.

__ADS_1


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2