
Anin terus merengek agar diberikan ijin oleh Danar untuk bekerja di cafe nya. Tak tega melihat sang kekasih terus merengek, akhirnya danar memberikan ijin. Kapan Danar bisa menolak keinginan Anin, jawaban nya adalah tidak pernah. Hampir semua keinginan gadis itu selalu saja dituruti oleh Danar. Keinginan dan permintaan gadis itu tidak pernah macam-macam jadi dengan mudah Danar menuruti nya.
Anin sangat manja jika berhadapan dengan Danar. Lelaki itu sangat menyayangi nya dan terus memanjakan nya. Banyak perempuan yang iri melihat hubungan Danar dan Anin. Lelaki berwajah tampan dan telah masuk dalam kategori setia saat bertemu dengan Anin memang membuat banyak wanita iri pada Anin.
"Oke boleh. Tapi harus bisa jaga diri, aku nggak setiap saat ada di cafe." Ucap Danar memberikan ijin.
"Siap bos.!!"
"Hihi makasih sayang. Emmm... jadi makin cinta aku sama kamu." Anin berpindah ke sisi Danar memeluk lengan lelaki itu dan mengecup pipi lelaki nya. Senyum Danar mengembang melihat wajah ceria sang kekasih.
"Iya... aku tahu kamu cinta sama aku karena aku juga cinta sama kamu yank. Selama di cafe jangan macem-macem." Peringatan yang sering diberikan oleh Danar "Jangan macam-macam" selalu ada setiap saat dimana pun Anin berada. Dan gadis itu tahu serta mematuhinya dengan baik, bukan baik tapi sangat baik karena dirinya juga tak ingin kehilangan Danar, lelaki yang sangat mengerti, menyayangi dan mencintai diri nya.
"Iya...Iya... kamu tenang aja yank. Udah punya kamu ngapain macem-macem. Percaya sama aku."
"Nggak aku nggak percaya sama kamu." Ucap Danar santai.
"Loh, jadi selama ini kamu curiga sama aku kalau aku macem-macem ?" Tanya Anin dengan ekspresi terkejut, kening nya mengerut.
Danar tertawa melihat ekspresi kekasihnya. "Hahaha... kalau aku percaya sama kamu aku dosa dong yank. Aku percaya sama Tuhan hahaha." Danar tertawa terbahak-bahak dan berhasil mendapatkan pukulan dari Anin. Pukulan itu cukup panas bersarang di lengan Danar.
"Ish... sakit kali yank." Danar mengusap-usap lengan nya, meringis kesakitan.
"Bodo amat... kamu nyebelin banget sih." Anin cemberut, ternyata kekasih nya itu hanya mengerjai nya saja. Dia sudah merasa takut terjadi salah paham jika kekasihnya memiliki kecurigaan pada nya padahal selama ini dia tak pernah berbuat macam-macam.
"Hahaha... udah dong jangan cemberut gitu. Cuma bercanda kali yank. Aku tahu kamu nggak bakalan macem-macem sayangku." Danar mencubit pipi Anin dengan gemas.
"Ish sakit tahu." Anin kembali cemberut.
"Heh... sakit mana sama pukulan kamu barusan ke aku yank. Nih lihat lengan aku sampe merah kaya gini." Danar memperlihatkan lengan nya yang memerah. Anin memang memberikan pukulan cukup keras pada lengan Danar.
__ADS_1
"Ya habis kamu tuh ngeselin, aku udah takut kalau misal nya kamu ada salah paham atau apa gitu yang nggak sadar aku buat. Ya maaf yank."
"Iya... dimaafin. Udah yuk makan lagi." Danar memeluk kekasih nya dari arah samping.
Mereka memang pasangan yang romantis. Saling mengerti satu sama lain. Bahkan hubungan mereka jarang sekali terjadi masalah. Meski keduanya sama-sama memiliki rasa kecemburuan karena takut kehilangan satu sama lain tapi mereka mampu mengatasi nya dengan baik. Tidak pernah ada yang mereka sembunyikan, tapi tetap masih ada privasi yang harus sama-sama dijaga oleh mereka masing-masing.
...****************...
Di cafe de'Maha
Nesha sudah selama 2 hari bekerja di cafe milik Danar. Setelah pulang kuliah gadis itu bekerja di cafe hingga malam dan karena pulang malam maka Nesha memutuskan berangkat diantar oleh Angga dan saat pulang ayahnya lah yang menjemput. Sesuai dengan pembicaraan waktu lalu jika ayahnya sempat memiliki keinginan untuk mengantar jemput Nesha sama seperti saat masih sekolah dulu. Kesempatan ini digunakan Nesha agar sang Ayah bisa mengantar atau menjemput nya nanti.
Teman-teman satu pekerjaan di cafe de'Maha semua nya menyenangkan bagi Nesha hanya satu yang Nesha merasa tidak nyaman. Seorang perempuan cantik yang usia nya jika dilihat lebih tua dari Nesha. Wanita itu terlihat tidak menyukai Nesha entah karena alasan apa gadis itu pun tidak tahu dengan jelas. Sejak kedatangan Nesha pertama kali dia sudah menunjukkan ketidaksukaan nya pada Nesha tapi Nesha tetap bersikap cuek karena pemikiran nya disini Nesha bekerja untuk mencari uang bukan mencari keributan atau musuh.
Angga tidak bekerja di cafe Danar karena lelaki itu sudah mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu di toko buku yang waktu lalu sempat mengadakan pameran. Ternyata toko itu juga sedang membutuhkan pegawai part time, tidak banyak pegawai part time disana hanya beberapa saja jadi beruntung lah Angga bisa menjadi salah satu pegawai part time di toko Gamamedia selain bisa membagi waktu kuliah di tempat itu pun gajinya cukup banyak.
Nesha tidak merasa iri atau marah Angga karena berbeda tempat kerja justru Nesha sangat mendukung sahabat lelaki nya itu. Mereka saling mendukung satu sama lain, bahkan Angga yang selama 2 hari ini mengantarkan Nesha berangkat ke cafe sebelum dirinya berangkat ke Gamamedia. Beruntung nya mereka satu arah jadi sekalian saja berangkat bersama.
Merasa masih baru Nesha hanya mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Shintya tanpa membantah. "Baik kak, meja nomor 4 kan kak ?"
Maksud hati Nesha memastikan agar tidak salah meja saat mengantarkan makanan.
"Iya lah nomor 4, Lo budeg ya ?" Ucap Shintya ketus dan tersenyum sinis. Nesha hanya menatap seniornya itu dan bergumam "Astaga, aku kan cuma tanya mau memastikan kok dia malah ngomong nya kasar gitu."
Tanpa menghiraukan lagi perkataan Shintya, Nesha mengambil nampan yang berisi makanan tersebut dan mengantarkan nya ke meja nomor 4. Dengan ramah Nesha meletakkan satu persatu pesanan pelanggan nya.
"Silahkan dinikmati ibu, semoga suka dengan menu kami. Dan jika membutuhkan sesuatu ibu bisa memanggil kami kembali, kami siap melayani dengan sepenuh hati. Permisi." Ucap Nesha dengan begitu lembut dan ramah. Hal itu Nesha lakukan agar pelanggan nya merasa nyaman dan merasakan dilayani dengan baik. "Terimakasih mbak ? Maaf siapa nama nya ?" Tanya pelanggan itu. "Nama saya Nesha ibu." Jawab Nesha dengan senyum manis nya. Pelanggan itu tersenyum mengangguk. "Terimakasih mbak Nesha atas bantuannya." Ucapan terimakasih didapatkan Nesha dari pelanggan nya. Dan benar faktanya pelanggan meja nomor 4 merasa sangat puas dengan pelayanan Nesha.
Nesha kembali ke belakang, ternyata sedari tadi Shintya memperhatikannya. Wanita itu semakin tidak suka melihat sikap Nesha yang berhasil membuat pelanggan menyambut pelayanan Nesha dengan senyum hangat.
__ADS_1
"Heh Lo, sekarang beresin itu meja-meja yang kosong." Perintah Shintya dengan ketus. Nesha tak menjawab ucapan Shintya, dia berlalu begitu saja melakukan apa yang dikatakan oleh Shintya.
Maju lagi kedepan untuk membersihkan meja yang kosong. Mengangkat piring-piring kotor membawanya ke belakang lalu membersihkan kembali meja tersebut, menyemprotkan cairan pembersih dan mengelap nya hingga bersih kembali.
Nesha bekerja dengan telaten, ini masih hari baru bagi Nesha. Dia tidak ingin mengotori hari nya dengan bertengkar dengan sesama pegawai. Tidak ingin penilaian buruk didapatkan nya saat baru saja mendapatkan pekerjaan baru.
Hari ini pekerjaan yang dilakukan Nesha cukup menguras tenaganya sebab hampir semua nya dikerjakan gadis itu atas perintah dari Shintya tapi dia tak mengeluh justru menjadikan itu semua sebagai bagian dari training nya mungkin untuk beberapa hari kedepan. Dengan begitu juga Nesha dapat mempelajari semua pekerjaan yang harus dilakukan nya nanti.
Hari mulai gelap dan cafe justru semakin ramai. Nesha begitu bersemangat melayani para pelanggan nya. Penindasan yang dilakukan Shintya tak dihiraukan nya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang seperti Shintya justru menunjukkan sikap semangat. Cafe itu buka hingga pukul 11 malam tapi karena Nesha pegawai part time yang masuk jam 1 siang maka pukul 9 malam Nesha sudah bisa kembali pulang.
Nesha bersiap-siap untuk pulang sudah melepaskan celemek yang sedari siang menempel di badan nya. Tapi hal itu urung dilakukan nya.
"Mau kemana Lo ?" Tanya Shintya ketus.
"Mau pulang kak."
"Enak aja Lo pulang. Belum waktunya pulang. Sana cuci piring sebelum Lo pulang." Kembali Shintya memberikan perintah pada Nesha seakan-akan dirinya adalah pimpinan bahkan pemilik Cafe.
"Tapi kak ini kan jam nya aku pulang." Nesha tetap mempertahankan hak nya.
Shintya yang semula melipat kedua tangannya di dada tiba-tiba mendorong bahu Nesha. "Lo anak baru denger ya. Disini tuh elo anak baru dan anak baru wajib melakukan apa yang gue perintahkan. Ngerti Lo !!" Mata Shintya mendelik tak suka pada Nesha.
Tak ingin memperpanjang masalah berlama-lama berdebat yang akhirnya akan memperlambat waktunya untuk pulang. Nesha mencuci piring dengan hati-hati dan telaten. Sedikit mempercepat gerak nya agar sang ayah tidak terlalu lama menunggu.
...----------------...
Jangan lupa Vote !!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
__ADS_1
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏