Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 14. Cerita


__ADS_3

Kamar Aris sudah bersih dan rapi, seprei juga sudah diganti yang baru oleh Irya. Selesai menjemur seprei yang baru saja di cuci, tak lama Aris dan Pak Udin suami Mak Isah pulang ke rumah. Sudah pukul 12 mereka sudah pulang dari pasar.


"Kok sepi ya Pak, Irya mana ada motor nya tapi orang nya nggak ada."


"Coba kamu cek aja di belakang siapa tahu lagi kamar mandi."


Baru saja akan melangkah ke kamar mandi, Irya sudah muncul di depan Aris.


"Ris, udah pulang ?"


"Iya Ir... Lo dari mana ? Baru aja mau gue cari."


"Dari belakang tadi."


"Pak... baru pulang ? mau minum ? Irya ambilkan dulu." Ucap Irya sopan.


"Iya ini baru pulang, makasih ya Ir."


Irya masuk ke dapur mengambil air putih untuk Pak Udin. Aris mengikuti langkah Irya untuk mengambil minum nya sendiri.


"Tadi gue liat mbak Mita, apa dia dari sini ?"


Deg !! mendengar nama Mita, Irya kembali teringat dengan pergulatan nya.


"Mita ? Em iya tadi ada perempuan yang datang ke sini dia bilang istri keponakan Mak Isah."


"Iya Ir, dia istri bang Fikih kadang suka ke sini. Tapi gue kurang suka sama dia."


"Emang kenapa Ris ?" Tanya Irya penasaran.


"Nanti gue ceritain di dalem. Udah antar dulu air minum buat Bapak."


Satu gelas air minum Irya antar untuk Pak Udin yang sedang duduk bersantai di kursi ruang tamu. Terlihat wajah lelah Pak Udin.


"Ini Pak minum nya." Irya meletakkan gelas itu di atas meja ruang tamu.


Aris pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, seperti biasa pulang dari pasar. Irya menawarkan pijatan untuk Pak Udin, dengan senang hati Pak Udin menerimanya. Irya memijat pundak Pak Udin. Hal yang tak pernah Irya lakukan selama ini, semua Irya lakukan karena Irya mendapatkan kehangatan dalam keluarga Mak Isah. Seperti memiliki keluarga yang sebenarnya. Hampir lima belas menit Irya memijat Pak Udin dan berhenti saat Aris selesai mandi. Kini giliran Pak Udin yang membersihkan diri.


"Lo mau cerita apa tadi Ris ?" Tanya Irya penasaran dengan cerita perempuan sepermainan nya tadi.


"Sini ikut gue ke dalem."


Irya mengikuti Aris masuk ke dalam kamar nya. Menutup pintu agar ayah nya tak mendengarkan.


"Lo madep sana gue mau pake celana. Jangan ngintip." Ucap Aris.


"Dih ngapain gue ngintip nggak doyan gue sama punya Lo. Udah sana cepetan ganti nya abis itu ceritain ke gue."


"Loh ini seprei kenapa jadi beda gini ?" Tanya Aris setelah selesai mengganti baju. Hendak duduk di ranjang tapi melihat ada yang berbeda dengan ranjang nya.

__ADS_1


"Gue cuci tadi ketumpahan ada kucing ngijek kasur, mana kotor lagi tuh kaki nya. Ya udah gue ganti trus gue cuci." Ucap Irya beralasan.


Irya memang pandai sekali menutupi kelakuan nya, karena sudah terbiasa bagi nya untuk urusan menutup hal itu. Seakan tak pernah melakukan apapun.


"Udah cepat kata nya mau cerita." Irya mengalihkan pembicaraan.


"Kok Lo jadi kepo gitu." Ucap Aris memicingkan mata nya.


"Lo sendiri yang bilang nggak suka sama istri sepupu Lo sendiri jadi ya gue kepo lah." Ucap Irya santai.


"Oke..oke.. gue ceritain. Jadi, si Mita itu sejak sering di tinggal sama bang Fikih kerja di pulau B, di sering banget tuh datang ke sini. Tujuan dia cuma mau ngecengin si rivan duda anak satu. Rumah nya tepat di depan rumah ini. Kadang kalau nggak ada orang di rumah ini dia suka bawa masuk si duda itu."


"Kok Lo tahu dia suka bawa masuk laki-laki ke rumah ini ?" Tanya Irya penasaran.


"Tahu lah... orang gue sendiri yang lihat. Malah gue juga lihat yang begituan gila nggak tuh cewek."


Irya menetralkan ekspresi nya saat Aris menceritakan itu, dia tahu apa yang dimaksud Aris.


"Maksud Lo begituan ?" Tanya Irya memastikan.


"Heleh... masa Lo nggak tahu, nggak mungkin lah muka Lo buka muka cowok-cowok polos Ir." Aris tersenyum miring.


"Bukan gitu Ris, gue kan mau mastiin doang, nanti Lo kira otak gue kotor lagi."


"Emang otak Lo kotor kan hahaha." Aris tertawa terbahak-bahak.


"Sialan Lo..." Irya menoyor kepala Aris.


"Hahaha sorry...sorry bro... iya sesuai pikiran Lo yang begituan. Maklum lama di tinggal suami."


'Gila tuh cewek doyan main juga dia. Nggak salah sih feeling gue. Pantes aja bringas gitu.' Gumam Irya dalam hati kembali terbayang pergulatan nya dengan Mita.


"Heh Lo ngapain ngelamun ? Ngelamun jorok Lo ya ?" Tebak Aris yang terkesan meledek. Pria itu juga mendorong bahu Irya.


"Sialan Lo... gue cuma nggak kebayang aja ternyata dia doyan begituan sama orang yang bukan laki nya sendiri."


"Emang tuh nggak bener dia, bahkan gila nya lagi dia pernah godain mas Sandi."


"Hah serius Lo ? Terus gimana mas Sandi ?"


"Ya mas sandi nolak lah, dia udah punya istri."


'Masa masa sandi bisa nolak Mita, secara godaan dia kaya begitu. Agresif bener tuh cewek.'


"Udah bener emang mas sandi nolak... kirain kegoda secara yaa... Lo tahu sendiri kan si Mita secara fisik kaya gimana." Ucap Irya.


"Iya gue tahu, pasti tadi pas Lo ketemu sama dia Lo ngiler kan hahaha."


"Haha gue cowok normal Ris lihat begituan ya Lo tahu lah secara Lo juga normal kan hahaha." Irya terbahak.

__ADS_1


'Bukan ngiler lagi, udah gue gasak tuh cewek. Siapa suruh main-main sama gue.'


"Iya gue tahu orang gue juga normal. Malah bukan cuma mas sandi, gue juga pernah jadi sasaran tuh cewek. Kaya nya haus belaian dari suami nya di tuh."


"Trus Lo nolak juga ?"


"Sempet... tapi mana tahan gue." Ucap Aris dengan jujur.


"Gila.. trus Lo apain dia Ris ?" Irya semakin penasaran dengan cerita Aris.


"Ya gitu lah... tapi nggak sampe kelewat batas cuma for**ay doang. Dia yang sibuk gue yang nikmatin aja hahaha. Gila tuh cewek berani bener. Emang tadi dia kesini nggak ada godain Lo gitu ? Kalau nggak kok gue nggak percaya secara tuh cewek gila sama yang begituan."


'Emang sih tuh cewek gila bener, baru kali ini gue nemuin yang kaya dia, karena udah pengalaman kali tuh cewek.' gumam Irya dalam hati.


Irya hanya menggaruk tengkuknya, melihat bagaimana cara Mita dan mendengarkan cerita Aris memang tak mungkin jika dirinya akan menyembunyikan hal itu. Dengan jujur Irya pun menceritakan nya tapi tidak secara gamblang dan rinci. Ada part yang memang disembunyikan nya demi keamanan bersama.


Aris menggelengkan kepala nya, tak heran memang jika Mita seperti itu. Kini rahasia itu menjadi rahasia umum bagi Aris dan Irya mungkin juga bagi duda anak satu yang ada di depan rumah Aris.


Mengenai Mita kedua orang tua Aris tak mengetahui nya. Aris memang sengaja tak menceritakan hal seperti itu baginya selama tak merugikan keluarga nya dia akan tetap cuek. Memang dasarnya Mita saja, bahkan wanita itu sendiri yang mengatakan jika dirinya merasa kesepian.


Pagi Menjelang .....


Untuk hari ini Irya sengaja ikut Aris dan Pak Udin ke pasar subuh-subuh. Hal ini dilakukan nya untuk mengisi waktu nya saat semua orang di rumah Aris pergi maka dirinya akan sendiri. Jika kemarin ada kegiatan yang mengisi waktu luang nya di rumah Aris maka hari ini lelaki itu tak ingin mengisi dengan kegiatan yang sama. Aris sempat memberikan tebakan nya jika wanita itu pasti akan datang kembali jika sudah menyukai apa yang di temukan nya. Bukti nya berkali-kali datang menemui duda anak satu itu. Maka dari itu Irya menghindari nya dengan ikut berdagang sayur di pasar.


Baru pertama kali Irya masuk ke dalam pasar. Dia seorang laki-laki jadi rasa mula dan jijik dengan kondisi pasar tradisional bisa ditahannya. Pagi-pagi sekali banyak ibu-ibu yang mencari sayur. Lapak Aris dan Pak Udin sangat ramai diserbu oleh para ibu-ibu rumah tangga karena harga yang murah dan sayuran yang segar. Untuk pagi ini lapak itu semakin ramai karena kehadiran Irya, wajah tampan nya mampu menyita dan memikat hati ibu-ibu rumah tangga bahkan gadis-gadis juga banyak yang berbelanja di sana.


"Duh ya ampun ganteng banget ini anak. Bisa kali ya di jadiin mantu."


"Iih sayang banget anak ku baru aja nikah coba kalau belum."


"Sama ibu aja mau nggak ganteng ?"


Dan masih banyak suara-suara merdu dari ibu-ibu pelanggan Pak Udin yang menginginkan Irya bahkan ada yang konyol menawarkan diri. Pak Udin dan Aris tertawa terbahak-bahak dengan aksi pelanggan nya. Irya tersenyum malu saat banyak sekali ibu-ibu yang mengerubungi nya.


"Wah... hari ini dagangan bapak laku keras ini Ir berkat kamu hahaha."


"Iya nih Pak coba tiap hari Irya yang dagang pasti habis ini dagangan kita hahaha."


"Kalian bisa aja... tapi emang selalu rame begini ya tiap hari ?" Tanya Irya yang melihat betapa ramai lapak pak Udin.


"Rame tapi nggak serame ini Ir... karena ada kamu maka nya ini jam 9 udah habis aja dagangan bapak." Ucap Pak Udin tersenyum senang.


Mereka membereskan barang-barang dagangan agar bisa pulang. Setelah selesai pak Udin tak langsung pulang dia harus mencari dagangan kembali mumpung masih pagi kalau siang dia akan memilih berisitirahat dan mencari dagangan sore hari. Sedangkan Irya dan Aris pulang ke rumah terlebih dahulu menggunakan motor Irya.


...----------------...


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.

__ADS_1


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2