
Selesai mengirim foto-foto itu, Miranda melanjutkan membaca pesan yang ada di ponsel Irya. Ternyata tidak hanya pesan dari Putri saja tetapi ada beberapa pesan mesra Irya dengan beberapa perempuan yang lain.
Meski cuek, dingin dan datar serta hanya ingin berpacaran dengan satu gadis saja. Tapi beberapa gadis yang mencoba menggoda Irya tetap Irya tanggapi meski tak terlalu gencar seperti dulu.
Hati Miranda sudah panas semakin panas. Tak sadar jika Irya sudah selesai mandi. Miranda masih terus membaca isi pesan itu, mata tajam Irya menatap kekasihnya yang baru saja memberikan kenikmatan untuk nya. Tahu jika ponsel yang ada di tangan kekasihnya adalah ponsel nya, rahang tegas Irya mengeras.
"Ngapain Lo sama ponsel gue ?" Tanya Irya datar. Gaya bicara yang sudah berubah. Suara berat Irya membuat perempuan bertubuh bohai itu terlonjak kaget. Gugup menyelimuti wajah Miranda, terlebih tatapan tajam Irya semakin membuatnya salah tingkah dan takut. Irya berjalan cepat dan merebut ponsel yang ada di tangan Miranda. "Ah..a-aaku nggak tadi ini ponsel kamu bunyi pas mau aku angkat udah mati." Alasan Miranda saat ketahuan membuka ponsel Irya.
Tatapan tajam masih setiap diberikan untuk Miranda. Sedetik kemudian Irya mengecek ponsel nya, saat tombol power di buka layar nya memperlihatkan aplikasi chatting yang terbuka kemudian mengecek tidak ada panggilan baru yang masuk. Tatapan tajam dan menusuk kembali diberikan pada Miranda. "Lo bohong sama gue ? Lo buka-buka ponsel gue mau apa huh ?!" Pertanyaan Irya semakin membuat Miranda takut. Nada suara yang sudah benar-benar berbeda, ada nada kemarahan di dalam pertanyaan itu.
"E-eng-enggak... Tadi nggak sengaja sayang." Miranda terus berkelit agar Irya tak marah. Tapi Irya tak percaya begitu saja. Dia paling tidak bisa jika privasi nya diganggu oleh orang lain. Ponsel adalah ranah pribadi nya hanya dirinya yang boleh mengakses nya tidak ada orang lain yang boleh menyentuh nya.
"Gue paling nggak suka privasi gue diganggu. Dan Lo dengan lancang buka-buka ponsel gue huh !!" Bentak Irya. Seketika juga ada panggilan masuk dari Putri.
Putri Calling . . .
"Hallo ?"
"Hallo, kamu dimana sekarang ?" Tanya Putri.
"Aku ada acara di luar, ada apa ?"
"Acara dimana ? Kenapa nggak bilang sama aku." Nada suara Putri yang terdengar kesal.
"Sejak kapan aku harus laporan sama kamu, aku kemana aja." Irya kesal dengan ucapan Putri.
"Kamu kemana sekarang !! Jawab !!" Tanya Putri dengan nada berteriak.
"Ngapain sih Lo teriak-teriak, gue mau kemana aja terserah gue." Bukan lagi kesal tapi Irya emosi. Gaya bicaranya sudah berubah.
"Kamu selingkuh kan, sekarang lagi pergi sama cewek kan ?" Todong Putri langsung pada tujuan nya menelfon Irya.
"Nggak usah sok tahu." Bentak Irya.
__ADS_1
"Sok tahu kamu bilang ? Aku bahkan dapat kiriman foto mesra kamu sama cewek lain." Teriak Putri. Mata Irya melebar. Foto cewek lain ? Apa maksud Putri ? Apa dia benar-benar tahu dirinya sedang liburan bersama Miranda ? Batin Irya menebak-nebak.
"Apa sih nggak jelas." Ucap Irya kesal langsung mematikan sambungan telepon.
Miranda hanya terdiam dalam pikiran menebak apakah yang menelepon Irya itu adalah Putri ? Karena bahasa Irya dalam menerima telepon tidak mesra dan juga tidak terlalu dingin.
Putri yang kesal karena sambungan telepon langsung mati, langsung saja mengirimkan foto yang baru saja di dapatkan nya. Mata Irya kembali melebar saat melihat fotonya bersama Miranda tadi di pantai. Rahang Irya kembali mengeras bahkan suara gemertak dari gigi nya terdengar.
"Lo ngapain kirim-kirim foto ke cewek gue huh ?!" Bentak Irya pada Miranda. Hati Miranda seketika sakit dan takut.
"A-aaku..." Suara gugup akibat takut terpotong saat Irya meraup kedua pipi Miranda dengan kuat hingga pipi nya terasa sakit akibat cengkraman tangan kekar kekasihnya.
"S-ssakit..." Miranda melepas tangan Irya dengan paksa. "Karena aku mau kamu putus dengan nya." Teriak Miranda dengan lantang.
"Putus atau enggak sama cewek gue itu urusan gue." Irya dengan datar bergerak mengalihkan tubuh nya menuju depan lemari dan memakai kaos nya. "Tapi aku juga pacar kamu Irya." Teriak Miranda melihat Irya sudah menggunakan kaos nya sedangkan dirinya sendiri masih polos.
"Gue udah bilang, kalau Lo nggak suka Lo bisa pergi. Jangan ngatur-ngatur gue." Irya berusaha bersikap tenang meski emosi nya masih setiap bersemayam di hati nya akibat Miranda yang dengan lancang merambah masuk ke ranah pribadi nya.
Sedangkan jauh disana Putri yang masih menjadi kekasih Irya menangis merasa sakit di hatinya melihat foto mesra Irya dengan perempuan lain. Bahkan pesan terakhir nya mengirim foto bukti perselingkuhan Irya saja tidak dibalas oleh kekasihnya.
Miranda terdiam saat kalimat terakhir meluncur dari bibir Irya. Sejak awal memang pria itu sudah mengatakan nya. Dan dirinya tak membantah kalimat itu sejak awal.
"Kamu nggak mikirin perasaan aku Irya ?" Tanya Miranda, hati nya terasa nyeri kini. "Perasaan yang mana ?" Jawaban yang diberikan adalah sebuah pertanyaan untuk Miranda.
"Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu Irya. Aku nggak mau ada perempuan lain saat kita bersama." Ucap Miranda dengan beraninya.
"Ya itu perasaan Lo sendiri. Nggak usah tanya gue mikirin perasaan Lo atau nggak. Lo sendiri mikir nggak sama perasaan putri waktu Lo deketin gue ? Pertanyaan menohok untuk Miranda. Bagaimana Irya mau memikirkan perasaan nya jika dirinya pun sama tak memikirkan perasaan perempuan lain saat mendekati lelaki yang sudah memiliki kekasih.
"Maksud kamu ? Jadi kamu nggak sayang sama aku ? Kamu lebih punya perasaan ke si Putri...Putri.. sialan itu ?" Kegeraman di hati perempuan bohai itu terus mencuat saat menyimpulkan Irya lebih menyayangi perempuan lain.
Irya sedari tadi sudah menahan emosi akibat kesalahan yang menurut lelaki itu fatal. Berdiri mendekati Miranda dan menyibakkan selimut yang menutupi Miranda. Tangan nya meremas dada Miranda hingga perempuan itu mendesih sakit. " Lo dengerin gue baik-baik. Selama ini gue deket sama cewek, gue nggak pernah pake perasaan kayak gitu. Gue lebih milih pake logika gue. Gue lebih milih pake perasaan gue buat nikmatin apa yang harus gue nikmatin."
"Kalau Lo masih mau sama gue, gue masih bisa terima. Kalau Lo mau pergi silahkan." Ucap Irya datar.
__ADS_1
"Pake baju Lo... kita pulang sekarang." Irya mengangkat tas nya yang berisi pakaian beberapa potong. Rencananya liburan beberapa hari sudah ambyar akibat kelakuan Miranda.
"Nggak... kita masih liburan 2 hari lagi disini." Miranda turun dari ranjang nya dengan heemmm mempertontonkan body aduhai nya.
"Maaf... aku minta maaf kalau aku salah." Miranda mencoba meluluh hati Irya yang sudah memanas. Memeluk dengan manja tubuh Irya. "Aku nggak bakal buat kamu marah lagi. Kamu mau kan maafin aku ?" Miranda mengusap lembut punggung Irya.
Benda kenyal yang menempel itu sangat berbahaya untuk Irya. Salahkan saja otak Irya yang sudah lama tidak di cuci dengan detergen. Begitu kotor dan ngeres, hingga tak mampu menyaring keadaan.
Menghembuskan nafas dengan kasar. Tas yang berada di tangan nya terjatuh seakan jari-jari Irya melemah. Kemudian melepaskan pelukan Miranda dan mendorong tubuh bohai itu ke atas ranjang.
"Gue maafin Lo kali ini. Say thank ke badan Lo yang udah bikin gue luluh." Ucap Irya secara terang-terang an jika dirinya mampu memaafkan karena tubuh bohai Miranda.
Dua buah melon yang selalu dibawa Miranda itu mampu meluluhkan laki-laki playboy seperti Irya untuk memberikan maaf. Ujung yang menantang diputar-putar dengan lidah basah Irya. Karena hanya memiliki satu lidah bagian yang lain dikerjakan oleh jari-jari nya. Melahap dengan rakus seperti anak bayi yang kehausan.
"Ahh..." Desahan Miranda saat aset nya dimainkan oleh Irya.
Puas dengan kegiatan yang mampu meredakan emosi nya. Irya berdiri kembali dari ranjang.
"Bangun dan mandi. Kita pulang." Keputusan Irya tetap sama. Rasa ketertarikan nya untuk liburan lebih lama sudah hilang sejak Miranda membuat nya emosi.
"Tapi sayang... aku kan udah minta maaf." Miranda masih saja berharap agar Irya masih mau melanjutkan liburan mereka.
"Ada urusan lain yang lebih penting. Mau ikut pulang atau nggak itu terserah." Sikap dingin dan datar itu kembali.
Tak ada pilihan lain mau tak mau Miranda menuruti Irya. Mau pulang dengan apa dia jika tidak bersama Irya. Miranda merutuki kebodohan nya yang justru asik mengotak-atik ponsel Irya. Kan tujuan nya sudah jelas hanya ingin mendapatkan nomor Putri saja kenapa justru ada keinginan lain yang mengundangnya berjalan lebih.
...----------------...
Jangan lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏