
Selesai dengan pengurusan administrasi akhirnya Angga sudah bisa pulang ke rumah nya. Dengan menggunakan kursi roda Angga di samping oleh kedua orang tua nya dan Nesha.
Senyum mengembang dibibir mereka. Tampak bahagia sekali seperti keluarga yang sangat harmonis. Kepulangan Angga ternyata tak sengaja terlihat oleh Irya melalu kaca jendela nya yang menghadap jalan utama keluar masuk rumah sakit.
Irya tersenyum miris melihat kebahagiaan yang Angga dapatkan. Berandai-andai yang duduk di kursi roda itu adalah dirinya sendiri pasti sangat bahagia sekali.
"Enak jadi dia pulang aja di jemput rame-rame kaya mau demo." Gumam Irya seketika senyum miris itu berubah menjadi senyum sinis. Bukan sini terhadap Angga melainkan pada hidupnya sendiri yang terlihat mengenaskan.
Irya memalingkan muka nya menghadap televisi yang menyala. Peringatan dokter yang melarang keras dirinya keluar dari kamar rumah sakit membuatnya tak bisa lagi ngeyel untuk mencuri waktu keluar sendiri dari rumah sakit.
***
Saat akan memasuki mobil, Nesha teringat jika ponselnya tertinggal di nakas samping brankar Angga saat membantu Angga turun dari ranjang. Gadis itu sering sekali teledor dalam meletakkan benda penting seperti ponsel.
"Eh sebentar Ma... Ponsel aku ketinggalan. Aku ambil dulu Ma." Ucap Nesha sedikit panik, takut jika ponsel nya akan hilang. Hasil dari kerja keras nya bekerja part time selama ini.
"Oh ya udah kita tunggu di mobil ya. Cepat ambil sana Nes." Ucap Mama Angga.
Keluarga Angga menunggu di dalam mobil. Nesha berlari segera ke arah bekas kamar rawat Angga. Berdoa dalam hati semoga ponsel nya masih berada di sana dan tidak ada yang mengambil nya.
"Duh... teledor banget aku sering tinggalin ponsel sembarang." Nesha merutuki q dirinya sendiri yang teledor.
Nafas nya ngos-ngosan akibat lari dari parkiran menuju bekas kamar rawat Angga. Ada suster yang merapikan ruangan itu.
"Permisi sus... apa ada ponsel saya yang tertinggal di nakas.?" Tanya Nesha ngos-ngosan.
"Oh ini ya ? Maaf saya kantongi karena akan saya serahkan ke bagian informasi nanti. Ternyata punya mbak nya ?" Ucap suster dengan sopan.
"Iya sus itu punya saya ketinggalan tadi. Terimakasih ya sus sudah di amankan." Bersyukurlah sekali Nesha ponsel nya terselamatkan. Dia sudah takut jika ponsel nya hilang. Banyak kenangan-kenangan bersama keluarga dan sahabatnya di dalam ponsel itu.
Nesha kembali keluar menuju parkiran, saat di koridor rumah sakit menuju parkiran ada suster yang memanggil Nesha sehingga langkahnya terhenti.
"Mbak... Maaf ini buah untuk suami Mbak tadi minta untuk di antarkan. Saya lupa harus ke bagian farmasi dulu." Ucap suster.
"Hah ? Maaf sus maksud nya bagaimana ini ?" Tanya Nesha bingung tiba-tiba di hentikan dan disodorkan nampan berisi semangkuk berisi potongan buah kecil-kecil.
__ADS_1
"Iya ini buah yang dipesan atas nama pasien Irya. Kata suster Fitri itu yang disana, mbak ini istrinya pasien maka nya saya minta tolong titip karena saya harus ke bagian farmasi dulu." Suster dihadapan Nesha menunjuk suster yang bernama Fitri. Arah pandang Nesha menuju suster Fitri. Tidak salah itu suster kepo tukang gosip yang mabok cairan infus.
Nesha menghela nafas memutar mata nya jengah. "Sus saya lagi buru-buru ada keperluan suster antar sendiri saja ya." Karena merasa keluarga Angga pasti sudah menunggu di salam mobil. Tidak enak mereka menggunakannya taksi pasti kargo akan terus berjalan.
"Mbak, maaf sekali saya minta tolong. Ini darurat mbak. Sekalian mbak kan juga ketemu sama suami nya." Paksa suster dengan memohon karena memang darurat menurut nya. Suster itu menyodor-nyodorkan nampan ke arah Nesha.
"Eh... i-iiya bentar-bentar saya telepon keluarga saya dulu. Soal nya mereka udah nunggu saya di luar." Nesha mendorong nampan yang ada di depannya sedikit dan menghubungi Mama Angga mengatakan jika dirinya ada urusan sebentar di toilet jadi tidak perlu menunggu karena kargo taksi akan terus berjalan dan akan semakin mahal untuk membayar nya.
Mama Angga memaksa untuk menunggu saja tapi Nesha juga memaksa untuk meninggalkan nya saja nanti akan menyusul. Akhirnya Mama Angga pasrah menyetujui permintaan Nesha.
"Ya udah sini sus." Ucap Nesha menahan kesal nya. Mau menolak tapi sister itu mengatakan jika ini adalah darurat.
Suster memberikan nampan itu dan pergi dari hadapan Nesha. Terpaksa Nesha harus mengantarkan makanan itu untuk lelaki yang sangat dibenci dan membuatnya kesal.
Sudah tahu dimana letak kamar rawat Irya, gadis itu berjalan saja dengan perasaan kesal di dalam hati nya. Seandainya dirinya orang tega terhadap orang lain maka hal ini akan ditolak nya mentah-mentah. Sayang nya Nesha sebenarnya adalah gadis berhati lembut tidak mampu menolak seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Dibuka pintu kamar Irya, pria itu sedang menonton televisi. Wajah nya datar menatap televisi. Nesha sejenak menatap wajah itu, terlihat tidak menyebalkan saat pria itu terdiam seperti itu.
Irya yang merasa pintu kamarnya terbuka langsung mengalihkan pandangannya. "Ngapain Lo kesini." kalimat Irya menyentak Nesha yang terdiam sejenak.
"Kok Lo yang nganterin, Lo ganti pekerjaan jadi pelayan disini ?" Tanya Irya. Pertanyaan itu biasa saja tapi mampu membuat Nesha kesal.
Nesha pergi setelah meletakkan nampan tapi di cegah oleh Irya. Tangan nya kembali dicekal oleh Irya. Bersamaan dengan itu suster tadi masuk ke dalam kamar Irya.
"Permisi, ini mbak obat untuk pasien. Terimakasih ya mbak sudah membantu saya. Berkat mbak nya saya tepat waktu ambil obat untuk para pasien." Ucap suster berterimakasih atas bantuan Nesha.
"Oh iya sus sama-sama." Nesha mencoba tersenyum meski sebelumnya merasa kesal.
"Ini obat nya bisa dibantu untuk berikan pada pasien. Mas nya beruntung punya istri selain cantik tapi juga baik. Kalau begitu saya permisi dulu jangan lupa makan terlebih dahulu sebelum minum obat." Suster mengingatkan dan sekaligus berpamitan pada Irya dan Nesha.
"Ah hehe iya sus terimakasih." Ucap Irya merasa lucu dengan ucapan suster.
Suster pergi, Nesha ikut menyusul tapi masih tetap di tahan Irya. "Lo nggak denger ? Lo disuruh bantu gue minum obat tadi sama suster." Ucap Irya menahan Nesha.
"Kamu nggak punya tangan ? Makan sendiri aku bukan pembantu mu. Aku mau pulang."
__ADS_1
"Lo lupa tangan gue makin luka gara-gara sikap kasar Lo sama gue."
Nesha terdiam apa yang dikatakan Irya memang benar. "Tangan gue nyeri buat banyak gerak."
Menghela nafas pelan Nesha duduk di kursi samping ranjang Irya. "Cepetan gue suap." Wajah Nesha cemberut di hadapan Irya. Tidak ada senyum ramah sama seperti saat melayani pelanggan cafe Danar.
Wajah cemberut Nesha menjadi pemandangan berbeda bagi Irya. Terlihat menggemaskan bagi Irya. Senyum tipis mengembang di bibir Irya.
Nesha menyuapi Irya makanan yang tersaji di nakas, makanan rumah sakit yang cukup enak menurut Nesha karena Irya berada di kamar VIP. Dengan telaten seperti kebiasaan nya Nesha menyuapi Irya. Entah saat disuapi oleh Nesha, Irya merasa diperhatikan hampir sama seperti bibi Jenab memperlakukan nya karena selama ini yang memperlakukan Irya dengan tulus, memperhatikan nya hanyalah bibi Jenab.
"Udah gue kenyang." Ucap Irya menolak suapan Nesha.
"Dua kali lagi habis, ayo buka mulut kamu." Ucap Nesha.
"Gue kenyang." Irya mendorong piring yang dibawa Nesha. "Makan nggak ?" Ucap Nesha pelan tapi penuh penekan. Lagi-lagi Irya tak sadar menuruti ucapan Nesha.
"Udah habis... sekarang minum obat nya." Nesha mengambilkan obat dan memasukkan ke dalam mulut Irya, pria itu manut saja.
Entah apa yang Nesha rasakan sekarang, rasa kesal nya menghilang kemana saat menyuapi Irya dan membantu meminumkan obat untuk Irya. Begitu pula Irya perasaan nya seperti senang saat Nesha mengurus nya.
"Emang nih cewek bener-bener istri idaman." Bisik Irya dalam hati tanpa sadar.
"Udah kan ? Aku mau pulang." Ucap Nesha. "Hm... thanks Lo bantuin gue." Irya mengucapkan terimakasih dengan canggung karena selama ini mereka selalu tidak pernah akur saat bertemu.
"Demi rasa perikemanusiaan it's oke." Ucap Nesha santai.
Nesha akhirnya meninggalkan Irya karena merasa sudah berpamitan. Irya menatap kepergian Nesha. Merasa sepi setelah Nesha pergi. Hari ini terasa berbeda bagi Irya saat bertemu Nesha. Adu mulut kecil dan kejahilan Irya mampu membuatnya terus mengingat kejadian hari ini.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏