
Di dalam warung tenda itu banyak pasang mata yang menatap ke arah Nesha dan Angga. Mereka pikir keduanya sepasang kekasih karena mereka terlalu ceria dan bahagia bersama.
Perilaku Angga yang selalu lembut pada Nesha membuat Nesha merasa disayang oleh seorang kakak maka dari itu Nesha terkadang manja pada Angga.
"Mau nambah ?" Tawar Angga pada Nesha dengan lembut.
"Enggak udah kenyang. Kamu mau nambah lagi ?" Tanya Nesha. Angga menggeleng karena dirinya juga sudah kenyang. Sudah beberapa kali menambah nasi untuk menghabiskan lauk yang ada.
"Bungkus buat Papa sama Mama nggak ? Biar aku bilang ke ibu nya dulu. Bungkusin aja kali ya sekalian aku juga mau beli buat orang rumah." Ucap Angga beranjak menuju tempat berdiri Bu Sentot. Angga meminta beberapa bungkus pecel lele untuk dibawa pulang.
"Ga.. nggak usah sih tadi, kamu kan harus nabung kenapa jadi traktir Mama sama Papa juga." Ucap Nesha tidka enak hati.
"Nggak santai aja, kan masih kerja juga masih bisa nabung. Sekali-kali beliin buat Mama sama Papa." Angga tersenyum manis dihadapan Nesha. "Ish... nggak usah manis-manis gitu senyum nya nanti pengunjung disini pada diabetes liat nya." Ucap Nesha tertawa menggoda Angga.
"Hahaha orang senyum nya sama kamu. Kalau mereka diabetes nggak apa-apa biar dokter sama suster nggak nganggur." Angga terkekeh pelan.
Saat mereka sedang bersama memang akan selalu ada canda dan tawa. Entah itu cerita lucu atau saling menggoda yang mengundang gelak tawa.
"Ya ampun seneng nya kalau punya cowok kaya gitu. Beruntung banget tuh cewek punya pacar kaya cowok itu." Ucap pengunjung yang masih bisa di dengar oleh Angga dan Nesha.
"Ssstt... tuh kamu di taksir sama mbak-mbak baju merah hihi. Uuhh jadi cowok idaman nih yee.." Goda Nesha pada Angga.
Angga pun membalas godaan Nesha. "Ciee yang beruntung dekat sama cowok kaya aku haha."
"Ish... pede banget tapi iya sih beruntung. Kamu baik.. iya, ganteng.. iya.. idaman cewek-cewek.. iya bukti nya tuh banyak mbak-mbak yang lirik kamu haha." Angga tersenyum malu digoda oleh Nesha bahkan tak menengok kanan kiri dengan malu.
"Hahaha malu ya ciee.. malu... ciee.." Nesha menutup mulutnya menahan tawa melihat Angga yang terlihat malu-malu.
"Mas, ini pesanan nya semua nya 90 ribu." Ucap Bu Sentot sambil memberikan 2 bungkus plastik pesanan yang sudah dipesan oleh Angga.
Angga membayar dengan uang pas 50 ribuan satu lembar dan 20 ribuan 2 lembar. Setelah membayar mereka berdua pulang ke rumah.
Tetap dalam perjalanan masih selalu ada canda dan tawa. Seakan mereka tak lelah untuk tertawa bersama.
Sampai di depan rumah Angga memberikan satu kantong plastik berisi 2 porsi pecel lele untuk kedua orang tua Nesha.
"Ini punya Mama sama Papa. Salam ya buat mereka. Aku pulang dulu." Pamit Angga.
__ADS_1
"Makasih banget Ga... nanti aku sampaikan salam nya. Kamu hati-hati di jalan ya. Nanti kabarin kalau udah sampe rumah." Nesha memegang kantong plastik nya dan melambaikan tangan pada Angga, mengiringi kepulangan Angga.
Nesha masuk ke dalam rumah, kedua orang tua nya masih terjaga di depan televisi. Ayah Nesha rupanya baru saja selesai mengerjakannya pekerjaan nya.
"Malam Ma... Pa... Nesha pulang." Nesha tersenyum pada kedua orang tua nya dan menyalami mereka.
"Angga nggak mampir ?" Mama Nesha tahu pasti yang menjemput putri kesayangannya adalah Angga sahabat anaknya yang juga sudah dianggap anaknya sendiri.
"Enggak Ma udah malam, kayaknya Angga juga mau istirahat. Salam aja dari Angga sama Ini pecel lele dari Angga Ma." Nesha memberikan pecel lele pada Mama nya.
"Ya ampun dapat oleh-oleh. Pa.. makan dulu ini dapat oleh-oleh dari anak laki-laki mu." Ucap Mama Nesha yang memang sudah sangat menyayangi Angga karena selalu menjaga dan menemani Nesha.
"Wah kayaknya enak nih. Bentar Papa bereskan pekerjaan Papa dulu." Ayah Nesha memang sedari tadi sibuk membereskan pekerjaan nya.
***
Irya sudah sampai di area apartemen nya, memarkirkan motor di basement dan berjalan masuk menuju lift. Wajah datar dan dingin sepanjang perjalanan menembus lorong-lorong apartemen.
Miranda hanya bisa mengikuti Irya dengan diam. Tiba-tiba tangan Irya menggandeng tangan Miranda. Terkejut dan juga senang atas perlakuan Irya.
Tapi ingat sikap hangat dan lembut Irya lakukan jika memang ada yang diinginkan nya dan dalam keadaan intim saja.
Irya menggeret lengan Miranda masuk ke dalam apartemen nya. Menutup pintu dan mengunci nya. Menyudutkan Miranda di tembok samping pintu. Tanpa basa-basi Irya ******* bibir Miranda beberapa detik. "Lo yakin buat perkenalan malam ini ?" Tanya Irya kembali. Jika tidak yakin Miranda bisa pergi dari apartemen nya tapi tentu Irya tidak akan mengantarkan nya pulang biar saja Miranda pulang sendiri. Meski malam sekalipun Irya tidak akan perduli, bukan dirinya yang meminta Miranda datang ke apartemen nya.
"Gue nggak akan mundur setelah masuk di tempat eksekusi." Ucap Miranda dengan nada menggoda nya. Irya kembali tersenyum tipis.
"Jangan nyesel setelah ini. Gue belum tentu terima Lo kalau performa Lo dibawah cewek gue." Bisik Irya di samping telinga Miranda. Sejurus kemudian lidah Irya menyapu cuping telinga gadis itu membuat Miranda meremang seketika.
Suara decikan berkali-kali terdengar saat Irya dan Miranda saling berbalas ******* di bibir. Tangan Irya mulai aktif kemana-mana. Bagaimana bisa Irya bisa tenang diam saja jika kegiatan seperti ini sedang berlangsung.
"Manjakan aku sayang." Suara Irya yang terdengar lembut menggoda iman. Miranda seketika terbuai hanya dengan kalimat lembut yang baru saja di dengarnya. Permintaan Irya yang mampu membuat hati nya bersorak sorai bisa menyentuh seorang irya yang tampan rupawan.
"Dengan senang hati sayang." Balas Miranda. Mendorong Irya ke atas sofa, sentuhan jari yang lembut Miranda berikan mulai dari dada bidang Irya hingga berjalan menurun dimana sang raja bersemayam.
Irya menikmati kemampuan Miranda kali ini. Segala kemampuan gadis itu kerahkan untuk menyenangkan seorang Bahuwirya Sanjaya seorang playboy yang berubah lebih ekstrim dalam menikmati mangsanya.
Jauh dari bayangan, baru pemanasan Miranda sudah mampu mendapatkan bintang empat dari Irya. Dalam hati Irya tersenyum puas ada yang jauh lebih baik dari kekasih nya yang selama satu bulan ini menjadi pemuas nya.
__ADS_1
Menyodorkan gumpalan daging bagian depan ke bibir Irya, perempuan ini lebih agresif hampir sama seperti Agnes mantan nya dulu. Tak menyia-nyiakan tentu saja, bagaimana makanan lezat bisa ditolak begitu saja.
"Aahmmhh..." Miranda menggeram nikmat saat bagian atas dan bawah nya begitu terasa nikmat oleh sentuhan tangan Irya.
"Lakukan sekarang sayang. Pertunjukan utama mu dimulai. Senangkan raja ku." Perintah Irya mengecup bibir Miranda.
Perintah Irya seperti MC acara yang memandu pertunjukan untuk sang bintang. Miranda benar-benar menunjukkan kemampuan nya dihadapan Irya. Mulai dari tempo lambat hingga cepat Miranda tunjukkan.
Miranda begitu menikmati kesenangan nya malam ini. Hati nya berbunga-bunga, pikiran nya melayang saat ini hanya satu yang dirasakan nya hanya sebuah kenikmatan.
Hingga hampir sampai pada puncak nya, Irya melepaskan diri. Dia tidak bodoh melepaskan bibit nya di tempat yang tidak dia inginkan. Sadar tak menggunakan pengaman, Irya tak mau bertanggungjawab atas perbuatan yang tidak benar-benar dijalaninya dengan perasaan dari hati nya. Lebih baik bibit itu terbuang sia-sia daripada nasib nya sendiri yang menjadi sia-sia hidup bersama Miranda.
"Pertunjukan mu selesai sayang. Buka dan berikan aku jalan. Giliran ku sekarang." Perintah Irya yang sudah siap dengan pengaman nya. Miranda sama seperti Putri yang mudah sekali terbodohi oleh wajah rupawan Irya.
Nafsu sudah menguasai Irya, permainan Miranda menggugah selera bermain nya malam ini. Setan akan selalu memanfaatkan kelemahan manusia yang satu ini.
"Aahh Irya sayang..." Panggil Miranda dalam kungkungan Irya. Raut wajah Miranda meringis nikmat "Ya sayang aku disini." Jawab Irya yang masih sibuk.
"Milik mu nikmat sayang. Aku suka." Puji Irya. Salah satu kebaikan yang Irya berikan saat hal itu terjadi. Pujian Irya membuat Miranda terbang, terbayang kepala Miranda saat ini seperti balon udara yang siap terbang melambung sampai ke langit.
Lenguhan, desahan dan kecipakan akibat benturan antar kulit tubuh terdengar merdu malam ini. Keringat tak menghalangi mereka justru semakin menarik untuk ditatap karena tubuh yang tampak mengkilap.
Entah sudah berapa kali terjadi, mereka bekerjasama bahu membahu satu sama lain bergantian tempat. Sama-sama mendapatkan pelepasan beberapa kali.
"Bintang empat dari si raja untuk mu." Ucap Irya masih mengatur nafas. Miranda tersenyum bahagia.
"Kemampuan mu lebih dari kekasih ku. Aku suka." Ucap Irya kembali.
Sungguh setan sangat lebih bahagia dari rasa senang yang mereka dapatkan karena mampu menyesatkan manusia ke jalan yang salah.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏