
Di dalam kamar Irya menangis menumpahkan kesesakan dalam dadanya. Dibawah guyuran shower Irya memukul-mukul tembok. Mencoba melepaskan semua beban dalam hatinya.
"Aaaarrhgghhh !!" Irya berteriak dada nya naik turun meluapkan emosi nya.
Apapun yang Irya lakukan selalu tidak pernah benar dimata Broto. Seringkali senyum Irya harus dilunturkan oleh Broto maupun Suci. Entah apa salah Irya hingga mereka bisa seperti itu. Bagi mereka yang bisa mereka banggakan hanya Cindy adiknya. Irya terasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Disaat keluarga nya berkumpul Irya selalu menghindar. Terakhir berkumpul bersama keluarga besar nya adalah saat masih SMP kelas 2.
Flashback On
Saat itu Broto mengadakan pesta ulang tahun untuk Cindy. Semua keluarga besar datang di kediaman Broto. Meski tidak dekat dengan Cindy, Irya tetap ikut hadir dalam acara tersebut bahkan Irya juga memiliki niat memberikan kado untuk Cindy.
"Cindy, selamat ulang tahun, ini kado untuk mu." Kado yang telah terbungkus rapi itu diberikan pada adiknya. Sebelum acara ulang tahun, Irya meminta tolong pada bibi Jenab untuk menemani nya membelikan kado untuk Cindy.
"Kamu memberikan kado apa untuk ku ?" Tanya Cindy menerima kado dari Irya, sikap Cindy yang sombong memang sudah terbentuk sejak kecil karena merasa dimanjakan oleh kedua orang tua nya.
Di buka kado itu oleh Cindy saat itu juga. Boneka Barbie dengan gaun warna pink terlihat boneka itu sangat cantik. Irya tersenyum saat Cindy membuka kado pemberian nya. Irya tahu jika selama ini Cindy suka sekali dengan boneka itu.
Klek..!!! Brak !!
Senyum Irya luntur saat boneka pemberian nya dibuang oleh Cindy dengan keadaan tangan boneka itu terpisah dari badan boneka bahkan lengan baju boneka itu robek.
"Aku sudah mau SMP, kamu memberikan boneka seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi yang harus main mainan seperti itu. Tidak bisakah kamu memberiku ku yang lebih berguna ?" Ucap Cindy mendorong Irya hingga tubuh Irya jatuh tersungkur kebelakang mengenai meja dan semua minuman serta makanan tumpah.
Irya berdiri merasa dirinya lebih tua dia tidak membalas perbuatan Cindy. Namun, hatinya terluka saat adiknya menolak dengan cara seperti itu.
"Cindy, maaf aku kira kamu masih menyukai boneka seperti itu." Ucap Irya tetap tak terpengaruh emosi.
Cindy melengos pergi begitu saja. Tak lama Suci datang dan langsung memarahi Irya. "Apa yang kamu lakukan Irya. Kamu merusak pesat Cindy adik mu sendiri. Apa kamu tidak bisa lebih berguna sedikit saja huh ?!!" Bentak Suci dihadapan semua keluarga besar mereka.
Irya tertunduk malu, anak lelaki itu sudah SMP tentu sudah bisa berfikir dan merasakan keadaan nya sekarang. Mama nya sendiri memarahi nya di depan umum tanpa melihat perasaan Irya.
"Mama tidak ingin kamu disini. Keluar kamu dari ruangan ini. Cukup kamu membuat Mama malu." Ucap Suci.
Irya menatap boneka pemberian nya yang tergeletak di atas lantai. Diambil boneka itu dan dibawanya pergi beserta kotak itu. Irya pergi dengan sepeda nya mengayuh sekencang mungkin ke sebuah gedung tua berlantai 3, gedung yang biasa dikunjungi nya bersama Danar. Irya memilih naik ke atap gedung duduk menghadap arah laut.
Memegang boneka itu dan memandangnya. Wajah nya sangat sedih mengingat Cindy membuang kado nya. Anak itu duduk termenung memandang laut dengan tatapan sedih.
__ADS_1
Flashback Off
Irya duduk di atas ranjang kedua tangannya bertumpu pada kedua pahanya, memegang boneka yang sudah beberapa tahun lamanya disimpan di dalam lemarinya. Setelah mengeluarkan emosi nya di dalam kamar mandi Irya keluar dan mencari pakaian ganti. Tak sengaja kotak yang sangat dikenalinya tersentuh oleh tangannya, diambil kotak itu.
Boneka itu adalah boneka Barbie yang sempat dibeli untuk kado ulang tahun Cindy yang ke 12. Boneka Barbie itu kenangan perih bagi Irya. Bayangan Cindy membuang kado nya otomatis melintas di kepalanya. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Cindy juga masih jelas teringat oleh nya. Sejurus kemudian tangan nya meraba bagian punggung bawah nya, bekas luka yang masih bisa terjangkau oleh tangan nya. Bekas luka saat Cindy mendorong nya kebelakang dan membentur meja meninggalkan bekas yang tak hilang hingga sampai saat ini.
Bukan hanya bekas luka di punggung nya tapi bekas kalimat-kalimat menyakitkan pun masih membekas di hati nya. Sejak saat itu Irya tak pernah lagi mau mengikut kegiatan atau pertemuan bersama keluarga besar nya. Jika ada pertemuan Irya akan memilih pergi menghindar dan lebih sering pergi bermain ke rumah Danar atau jika Danar tidak ada dia akan betah sendirian di gedung tua itu.
"Apa gue memang sangat memalukan dan nggak berguna ?" Gumam Irya lirih. Meletakkan boneka itu Irya beralih menyangga keningnya.
Irya berbaring hingga siang di atas ranjang memejamkan matanya, mencoba menenangkan emosi tapi tetap tak kunjung hilang. Semua bayangan menyakitkan itu terus berputar-putar jika dia masih berada di rumah ini.
Ponsel berdering, Rony menghubungi dan mengatakan jika ada tantangan balap liar dengan hadiah yang cukup tinggi. Sebenarnya Irya malas hari ini melakukan apapun Tapi dia kembali berpikir ulang, daripada di rumah yang akan membuatnya semakin pusing belum lagi jika nanti kedua orang tua nya pulang Irya sudah memastikan pasti nanti akan terjadi keributan.
Memutuskan menerima tantangan itu, balap liar yang akan dilakukan nanti malam. Rony senang Irya mau menerima tantangan karena lelaki itu tahu Irya pasti memenangkan pertandingan.
"Lebih baik gue ke apartemen Danar aja. Sebelum mereka pulang." Gumam Irya.
Bersiap mengganti pakaian dan keluar begitu saja dari kamar nya. Irya buru-buru pergi agar tak bertemu orang tua nya. Dia malas jika harus bertengkar lagi, pasti dirinya yang akan terluka pada akhirnya.
"Eh mau kemana Lo ? Lo pikir ini hotel keluar masuk seenak jidat." Ucap Cindy.
Irya tak menggubris sama sekali, dirinya tidak ingin beradu debat dengan adiknya sendiri. Berjalan turun ke bawah mencari bibi Jenab di dapur.
Terlihat wanita tua itu tengah sibuk membersihkan dapur. Meski sudah mulai berumur bibi Jenab masih sehat dan gesit dalam bekerja.
"Ibu, lagi sibuk ya ?" Tanya Irya yang sudah berada di belakang bibi Jenab.
"Aden, nganggetin ibu... ada apa kesini ? Mau makan ? Kok udah rapi mau kemana lagi den ?" Tanya bibi Jenab.
"Irya mau keluar Bu, boleh Irya makan masakan ibu dulu ?"
"Boleh... tunggu di meja makan biar ibu siapin."
Menunggu dengan tenang di meja makan, bibi jenab sibuk menyiapkan makanan untuk Irya.
__ADS_1
Sedangkan di lantai 2 Cindy memasuki kamar Irya pintu yang tak terkunci membuat nya mudah masuk ke dalam sana. Cindy tak pernah masuk ke kamar Irya selama ini karena pria itu selalu mengunci pintu kamar nya.
"Apaan nih." Alis Cindy terangkat melihat boneka Barbie yang tergeletak di atas ranjang. Dia seperti mengenali benda itu, beberapa saat dia teringat itu adalah kado dari Irya untuknya yang pernah dibuangnya dulu.
"Ngapain tuh anak masih aja nyimpen barang rongsok kaya gini." Cindy kembali membuang boneka itu ke atas ranjang.
Penasaran dengan isi kamar Irya Cindy berniat menyusuri kamar Irya. Kaki nya mulai melangkah untuk membuka lemari Irya.
"Ngapain Lo di kamar gue." Suara Irya membuat Cindy terkejut. Gadis itu gelagapan tapi dengan cepat menguasai wajah nya yang tampak terkejut.
"Kenapa nggak boleh ?" Ucap Cindy songong.
"Nggak ini kamar gue. Keluar Lo." Usir Irya.
"Cih kamar Lo ? Lo lupa ini bukan rumah Lo tapi ini rumah Papa jadi semua yang ada disini punya Papa dan otomatis gue berhak sama semua yang ada disini." Cindy seakan menantang apapun yang katakan.
"Kapan gue pernah ganggu Lo ? Kapan gue pernah kasar sama Lo ? Apa ada ucapan gue yang nyakitin hati Lo ? Apa pernah gue masuk kamar Lo ? Apa Lo pernah dimarahin Papa sama Mama gara-gara gue ?" Pertanyaan beruntun yang Irya layangkan untuk Cindy. Semua pertanyaan itu mengacu pada semua perlakuan Cindy pada Irya.
Gadis itu terdiam tak bisa menjawab karena semua pertanyaan itu tidak pernah Irya lakukan padanya justru semua itu yang dirinya lakukan pada Irya.
"Lo punya hati ? Kalau jawaban Lo punya itu sama kaya gue. Lo manusia atau robot ? Kalau jawaban Lo manusia itu sama kaya gue." Irya terdiam sejenak. Tidak ada jawaban dari Cindy.
"Keluar dari kamar ini kamar yang dipinjamkan Papa buat gue." Ucap Irya dengan penekanan.
Cindy keluar dari kamar Irya dengan kesal. Berdebat dengan Irya yang akhirnya dirinya yang kalah. Cindy memang merasakan apa yang Irya katakan. Irya keluar kamar mengunci pintu kamar nya.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏
__ADS_1