
Irya terdiam di dalam kamar nya. Kata-kata Danar masih terngiang dibenak nya. Apa benar dirinya memang tidak pernah berguna ? Selalu itu pikiran Irya. Memang pada fakta nya dirinya selalu membuat Danar kerepotan dengan semua ulah nya.
Irya lama berfikir apa yang harus dilakukan nya saat ini. Kalimat Danar mampu membuat nya berfikir kembali untuk menumpang di apartemen ini.
"Mending kayak nya gue jangan disini dulu. Apalagi keadaan gue yang kaya gini." Gumam Irya lirih. Senyum mirisnya kembali terlihat saat membayangkan betapa semua orang merasakan jika dirinya memang tidak berguna.
Teringat ada teman nya yang menjual apartemen dengan harga murah karena sangat membutuhkan uang untuk kegiatan yang tak berfaedah. Terlibat judi online sehingga memiliki banyak hutang membuat teman Irya menjual apartemen nya dengan harga yang sangat murah untuk menutup hutang nya pada bulan ini.
Irya mencoba menghubungi nomor teman nya itu, menanyakan kebenaran nya dan ternyata memang benar. Negosiasi terjadi antara Irya dan teman nya. Dengan tabungan yang dia miliki Irya masih cukup untuk membeli apartemen itu. Negosiasi sudah disetujui oleh masing-masing pihak. Sebagai tanda jadi Irya mentransfer uang 25% pada teman nya.
Tinggal menunggu Danar untuk membicarakannya niat nya. Dia tidak ingin seperti anak kecil yang langsung pergi begitu saja. Teringat Anin yang di tampar oleh Agnes terlebih Nesha yang dihina Agnes dan terluka akibat membantunya dari kemarahan Danar membuat nya semakin merasa bersalah dan merasa memang apa yang dikatakan keluarga nya dan Danar adalah benar.
Irya menghela nafas, menyandarkan tubuh nya di kepala ranjang. Sedari tadi dia belum sempat makan setelah kejadian Agnes yang datang mengamuk dan Danar yang juga mengamuk. Menunggu Danar pulang hingga malam hari.
Danar pulang dengan sedikit lelah, membujuk Anin yang sudah marah memang sedikit sulit. Butuh beberapa hari agar Anin mau dibujuk. Danar masuk ke kamar Irya, meminta maaf atas tindakannya tadi sore.
"Ir Lo belum tidur ?" Tanya Danar. Wajah nya terlihat lelah.
"Belum. Dari rumah Anin ?" Tanya Irya memastikan. Dia tahu pasti Anin dan Danar sedang bertengkar saat ini.
"Anin marah atas tindakan gue ke Lo sama Nesha tadi. Gue minta maaf karena terbawa emosi. Lo tahu sendiri gue nggak bisa tahan emosi kalau berhubungan sama Anin."
"Gue tahu banget gimana Lo. Ya udah mending Lo istirahat aja." Ucap Irya menepuk bahu sahabat nya.
"Iya bro, gue capek banget. Gue mau tidur dulu." Danar keluar dari kamar Irya.
Irya mengurungkan niatnya untuk mengatakan jika dirinya akan pindah ke apartemen nya sendiri. Melihat Danar yang kelelahan membuat Irya tak setega itu untuk menambah beban Danar. Tak makan dan meminum obatnya Irya langsung memejamkan matanya untu tidur.
__ADS_1
Pagi pun tiba, Irya membuka mata nya berusaha jalan menggunakan tongkat yang sebenarnya membuatnya tak nyaman lebih nyaman jika di papah oleh Nesha itu yang dirasakan oleh Irya.
Buang air hingga membersihkan diri Irya lakukan sendiri. Dirinya hanya membasuh diri menggunakan kain waslap saja menghindari luka-luka nya yang belum benar-benar kering.
Keluar kamar, Irya menuju dapur. Disana ada kue yang ternyata masih utuh sejak kemarin. Kue buatan Anin dan Nesha belum sempat tersentuh setelah kejadian kemarin. Kue itu Irya gunakan untuk mengganjal perut nya sebelum meminum obat.
"Ir Lo udah bangun." Sapa Danar batu keluar dari kamarnya.
"Eh Dan, sorry gue makan duluan. Ini kue buatan cewek Lo sama Nesha kemarin buat Lo. Enak Dan Lo cobain deh." Menawarkan kue bolu pandang kesukaan Danar dan itu juga kue kesukaan Irya sejak kecil. Justru Danar menyukai kue itu karena Irya yang sering mengajak nya makan kue bolu pandang buatan Bibi Jenab.
"Anin bikin buat gue ?" Tanya Danar, Irya mengangguk. "Iya kemarin dibantuin sama Nesha." Wajah Irya terlihat biasa-biasa saja pasca Danar marah-marah pada nya meski hati nya terluka akibat ucapan sahabat nya. Irya mencoba mengerti karena dia pun tahu bagaimana sifat Danar.
"Iya Ir enak banget kue buatan cewek gue. Nyesel gue nggak bisa kontrol emosi. Sekarang Anin ngambek sama gue. Pasti lama dia bakalan diemin gue." Danar mencurahkan isi hati nya, Irya mendengarkan dengan baik.
"Sabar bro... cewek mah gitu ngambeknya suka lama. Lo rayu-rayu aja bro nanti juga luluh." Irya terlihat sangat santai menanggapi curahan hati sahabatnya.
"Hahaha gue tahu Lo pengalaman banget Ir." Irya tersenyum, itu memang bisa jadi fakta untuk Irya sebagai seorang playboy. "Dan, hari ini Lo kuliah ?" Tanya Irya, dirinya ingin memulai membicarakan niat nya.
Ingin menyelesaikan kesalahan pahaman yang membuat Semua sedikit rumit. "Gue juga kemarin sempat kontakan sama temen gue, dia terlibat hutang jadi gue coba bantu dia, apartment nya dijual harga nya gila bro murah banget segitunya dia butuh duit. Jadi, gue beli tuh apartemen. Hari ini gue rencananya mau lihat apartemen temen gue."
Akhirnya Irya bisa mengutarakan niatnya dengan halus agar tak membuat Danar merasa bersalah. Keputusan Irya sudah bulat untuk pindah dari apartemen Danar. "Emang lo beli berapa apartemen nya ? Tabungan Lo nggak habis ?" tanya Danar.
"Nggak, dia jual murah banget 50 juta, buat sekelas apartemen dia sih itu murah banget. Dia kepepet jadi berapapun di terima. Awalnya dia jual 45 juta tapi gue kasih 50 juta." Danar mengangguk paham. Apa yang diceritakannya Irya memang benar adanya tanpa dibuat-buat.
"Ya udah nanti sama gue aja ke sana nya. Gue juga mau lihat apartemen nya." Danar mengajukan dirinya mengantar Irya. "Lo kan kuliah Dan, gue ke sana nya nanti jam 10, orang nya baru balik dari luar kota." Waktu bertabrakan sehingga Danar tak bisa ikut menemani Irya melihat apartemen itu. Selesai sarapan dengan kue bolu. Danar berangkat ke kampus nya.
Irya menghubungi teman nya, untuk menjemputnya nya menuju apartemen yang dibelinya. Menunggu hingga jam 10 sesuai dengan rencana.
__ADS_1
Sampai di apartemen, Irya hanya mampu melihat tempat-tempat penting saja karena keterbatasan gerak nya. "Apartemen Lo bagus. Gue suka. Nanti gue transfer sisanya." Ucap Irya duduk di sofa. Rasanya lelah jika harus berdiri dengan satu kaki menggantung.
"Thanks ir Lo udah bantu gue. Lo bisa tempati ini apartemen sekarang kalau Lo mau. Barang-barang gue udah gue pindahin semua sejak gue mutusin buat jual ini apartemen."
"Serius ? Lo yakin mau jual ini ?" Irya benar-benar memastikan agar di kemudian hari tidak ada masalah. "Gue yakin. Lo tenang aja nggak usah khawatir besok gue bakal bawain notaris buat urus kepemilikan apartemen tapi sorry bro Lo yang urus semua biaya nya ya. Lo tahu sendiri gue gimana haha."
"Iya masalah itu nanti biar gue yang urus. Thanks ya Tom." Ucap Irya.
"Gue yang harusnya terimakasih sama Lo udah bantuin gue. Ya udah ini kunci nya, Lo bisa sendiri naik ke kamar nanti ? Soalnya nya nggak ada lift di dalam apartemen ini hehe."
"Gampang, gue bisa sendiri kok. Lo mau langsung pulang ?" Tanya Irya melihat Tommy teman nya itu sudah berdiri.
"Iya nanti malem gue mau ke casino lagi." Tempat julukan bagi Tommy terhadap tempat judi online nya. "Ck... kurang-kurangin Tom lama-lama habis barang-barang Lo." Irya mengingatkan tapi Tommy tetaplah Tommy.
Hari ini adalah hari baru untuk Irya menempati apartemen miliknya. Disini dirinya bisa bebas melakukan apapun tanpa harus mengalah pada siapapun. Memang menumpang di tempat orang lain kita harus lebih banyak mengalah dan tahu diri tentunya.
"Mulai hari ini hidup gue di sini. Pindah ke tempat gue sendiri. Seenggaknya gue mengurangi diri buat nggak ngerepotin orang lain." Gumam Irya.
"Udah hampir dua minggu nggak pulang. Ibu gimana kabar nya ya ? Besok coba deh gue beliin ponsel buat ibu biar gue bisa telepon ibu kapan aja."
Bibi Jenab memang tidak memiliki ponsel meski bertahun-tahun bekerja menghasilkan uang tapi uang itu digunakan nya untuk membayar hutang almarhum suami nya saat sakit dulu pernah meminjam uang untuk berobat. Setiap menghubungi keluarga Bibi Jenab menggunakan telepon rumah Irya saja.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
__ADS_1
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏