Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 3. Pertemuan Kedua Tak Menyenangkan


__ADS_3

Angga sudah menyusul Nesha yang sudah berada di tempat pameran. Tujuan utama Angga adalah rak buku dimana dirinya menyimpan buku incaran Nesha. Tapi gadis itu tidak ada.


"Loh Nesha kemana ? Gak mungkin kan dia pulang duluan kan berangkat nya bareng aku." Gumam Angga.


Angga masih berkeliling mencari Nesha. Akhirnya ia menemukan sahabat cantik nya itu. Nesha berdiri tak jauh dari kasir.


"Nes... sudah selesai bayar buku nya ?" Tanya Angga.


"Bayar apaan... orang buku nya nggak ada." Ucap Nesha kesal.


"Loh kok bisa kan tadi udah aku sembunyikan di pojokan. Masa ilang sih."


"Iya emang buku nya ada di pojokan tapi tadi mak lampir yang rebut buku itu. Haaa... Anggaaaa... padahal buku itu udah aku incar dari minggu kemarin." Wajah Nesha berubah sedih mata nya berkaca-kaca.


Buku novel yang diincar nya raib begitu saja tanpa sempat dirinya membuka buku tersebut.


"Bentar...bentar... maksud kamu direbut Mak lampir gimana ?" Tanya Angga yang masih belum paham maksud Nesha.


"Buku nya di rebut sama cewek nyebelin itu tadi Gaaaa... Huuuu..."


"Direbut maksud nya di ambil dia terus yang beli dia gitu ?" Angga masih memastikan.


"Ish... iya Anggaaaa... udah ah ayok pulang." Wajah Nesha sudah cemberut tak sedap dipandang, bibir nya maju ke depan. Kata orang udah kaya Bimoli, bukan minyak ya tapi bibir monyong lima senti.


Nesha berjalan lebih dulu menuju tempat parkir dimana motor Angga di parkir kan. Mau tak mau Angga segera menyusul Nesha. Sahabat nya itu pasti sudah dalam keadaan badmood karena tak mendapatkan buku incaran nya.


Hari masih sore saat mereka pulang. Jadwal pulang kerja maka jalanan tampak lebih padat dengan banyak nya masyarakat yang berebut jalan untuk segera pulang ke rumah.


"Nes... kita makan dulu yuk." Ucap Angga.


"Mau makan dimana ?" Tanya Nesha lesu.


"Mie ayam Pak Sapto aja yuk mau nggak ?"


"Hem... terserah aja deh." Nesha pasrah saja untuk kali ini. Mood nya berantakan rasa kesal itu masih ada.


Angga tahu keadaan Nesha yang tak baik-baik saja. Paham bagaimana watak dari sahabat nya itu. Mengendarai motor ke arah warung mie ayam pak Sapto. Warung mie ayam favorit mereka berdua sejak masih masa SMA dulu.


Setiap pulang sekolah mereka sering sekali mampir mengisi perut di warung pak Sapto. Racikan bumbu mie ayam yang enak dan tentu berbeda dari yang lain membuat pasangan sahabat itu tertarik dan menjadi langganan pak Sapto.


"Ayo turun... mie ayam goreng kan ?" Tanya Angga, dia masih sibuk melepas helm di kepala nya.


"Hem..." Jawab Nesha singkat yang juga sibuk melepas helm nya.

__ADS_1


"Pak Sapto..." Sapa Angga dengan ramah dan sumringah.


"Loh mas Angga to... dari mana ini lama sekali tidak mampir." Sambutan dari pak Sapto yang terlihat sangat akrab dengan Angga.


"Maklum sibuk kuliah Pak... jalan kampus nggak searah jadi suka kelewatan mau mampir hahaha." Ucap Angga.


"Biasa ya Pak dua mangkok. Satu kuah satu kering." Pesan Angga pada pak Sapto.


"Berdua sama mbak Nesha ?" Tanya Pak Sapto yang mendengar pesanan yang masih sama seperti dulu.


"Pak Sapto..." Nesha muncul belakangan karena duduk di depan warung terlebih dulu menunggu bangku kosong akibat penuh. Maklum Mie ayam pak Sapto begitu enak sehingga sangat laris.


"Walah tenan to berdua sama mbak Nesha. Ya sudah tunggu dulu ya. Antri 5 mangkok dulu nggak apa-apa to hehe." Pak Sapto memberikan informasi agar pelanggan nya merasa tak lama menunggu.


"Siap Pak." Ucap Angga mengacungkan jempol nya sama seperti Nesha yang tak lupa senyum manisnya.


Nesha dan Angga duduk di bangku kosong, kebetulan bangku itu merupakan bangku yang sering digunakan oleh mereka saat masih jaman sekolah SMA dulu. Angga beranjak dari duduknya.


"Mau kemana ?" Tanya Nesha.


"Tunggu bentar mau keluar dulu." Ucap Angga.


Nesha tak tahu sahabatnya itu hendak kemana. Tak menyampaikan alasan yang jelas mau kemana dan mau apa. Dia tahu Angga bukan seperti lelaki lain yang biasa nya berpamitan untuk mencari rokok karena lelaki itu sejak dulu tak merokok. Itu lah yang membuat Nesha betah berteman dengan Angga. Nesha paling tidak suka dengan laki-laki perokok. Asap rokok membuat dada Nesha sesak dan juga bau nya yang apek sungguh tak menyenangkan bagi Nesha.


"Ini buat kamu." Angga menyerahkan satu es krim cone rasa coklat pada Nesha dan tisu nya sekaligus.


Angga tahu mood Nesha sedang tak baik-baik saja. Lelaki itu memilih es krim coklat untuk mengembalikan mood Nesha agar lebih baik.


"Kok beli tisu segala mana udah di buka lagi." Ucap Nesha dengan wajah berkerut.


"Haha... lupa tadi kalau disini pasti ada tisu. Nggak papa biar kamu nggak usah buka udah aku bukain tinggal pake aja." Ucap Angga dengan santai nya.


Tak lama pesanan mereka datang dan mereka kembali meracik sendiri tambahan saos, kecap serta sambal yang tersedia di depan mereka sebelum menyantap mie ayam favorit mereka.


Antara enak dan lapar menjadi satu dalam menikmati makanan tersebut. Bahkan rasa mie ayam itu bertambah enak berkali lipat. Hari sudah semakin malam setelah membayar mereka pulang ke rumah. Angga mengantar Nesha hingga sampai depan rumah gadis cantik itu.


...****************...


Beberapa hari setelah kejadian Nesha tak berhasil mendapatkan buku novel incaran nya. Gadis itu merapikan buku-buku yang sedang di pamerkan bagi para pengunjung sambil mencari-cari kembali buku novel tersebut siapa tahu ia kembali menemukan nya.


"Eh... kamu pernah lihat novel Kehidupan Tak Terduga nggak ?" Tanya Nesha pada salah satu teman SPG nya.


"Kaya nya pernah di rak sebelah ujung sana tapi sepertinya udah habis itu novel nya. Dengar-dengar buku nya dicetak terbatas sih." Ucap teman Nesha.

__ADS_1


Nesha semakin drop merasa sedih tak mendapatkan buku itu. Pernah membaca di aplikasi noveltoon dan novel itu akhirnya dirilis dalam bentuk cetakan fisik yakni dalam bentuk buku. (Khayalan author ini mah 😅)


"Ya sudah aku ke sana dulu ya." Ucap teman Nesha.


"Ya ampun tahu gitu aku suruh Angga buat bayarin dulu." Gumam Nesha lirih.


"Ish... nyebelin banget sih tuh orang." Nesha masih merasa kesal dengan sepasang kekasih yang merebut buku incaran nya.


Beranjak dari tempat nya berdiri dan kembali melanjutkan pekerjaan nya. Terdengar suara dengan nada-nada manja masuk ke dalam pendengaran Nesha. Tak hanya itu Nesha dibuat terkejut dengan pandangan nya.


"Sayang, buku yang aku cari enggak ada. Habis ini kita mau kemana ?" Tanya gadis itu dengan nada manja nya.


Mata Nesha terbelalak melihat sepasang kekasih itu. Pasangan itu saling berciu*man dengan panas dibalik rak buku yang sepi karena berada di pojokan. Hanya ada Nesha dan pasangan itu saja.


'Astaga dasar nggak pernah belajar budi pekerti ya mereka.' Gumam Nesha dalam hati.


'Ya ampun mata ku ternoda dengan adegan live streaming begini.' Nesha masih menggumam dalam hati.


Karena deg-degan melihat adegan itu di depan mata nya, tangan Nesha gemetar. Buku yang dibawa nya terjatuh. Pasangan itu terkejut dan Nesha pun ikut terkejut.


Wajah gadis itu memerah karena malu sedangkan lelaki itu menatap Nesha dengan tatapan tajam dan dingin.


"Sayang, aku ke toilet sebentar." Ucap gadis itu menahan malu di depan Nesha dan berlalu begitu saja.


'Itu pacar nya? tapi muka nya beda bukan cewek menyebalkan kemarin.' Gumam Nesha dalam hati.


"Menggangu." Gumam Irya lirih masih bisa di dengar oleh Nesha.


Ya lelaki itu adalah Irya yang beberapa hari lalu merebut buku incaran Nesha. Lagi-lagi lelaki itu tak ada rasa bersalah setelah kepergok oleh Nesha sedang bercumbu di balik rak buku. Lebih tepat nya tak sengaja kepergok karena Nesha yang justru deg-degan panas dingin dan merasa malu sendiri.


"Ish cowok gila... bisa-bisa nya berciu*man di tempat umum begini." Nesha membalas gumaman Irya dengan gumaman lirih nya dan juga masih bisa didengar oleh Irya.


Irya masih menatap Nesha dengan tatapan aneh yang kini justru tak bisa diartikan oleh Nesha.


Senyum miring di tunjukkan Irya pada Nesha saat menatap gadis itu cukup lama


"Apa kamu lihat-lihat." Ucap Nesha kesal dengan wajah Irya yang menyebalkan menurut nya.


"Kenapa wajah mu memerah ?" Tanya Irya pada Nesha, langkah kaki nya semakin mendekat pada gadis itu otomatis Nesha menghindari lelaki di depan nya itu.


Nesha semakin kesal dan benci melihat Irya. Tak pernah dirinya bertemu dengan seseorang seperti Irya yang sudah salah tapi masih tetap dengan rasa percaya diri nya yang tinggi tak menunjukkan rasa bersalah. Tatapan Nesha bukan takut melainkan menyorotkan ketidaksukaan pada Irya. Tak menjawab pertanyaan Irya, Nesha langsung pergi meninggalkan lelaki itu begitu saja.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2