
Sejak kejadian tadi hingga Agnes keluar dari apartemen Anin tampak diam tak bersuara. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Anin tahu bagaimana masa lali Danar yang hampir mirip dengan Irya. Dada nya terasa sesak saat membayangkan apa yang dilakukan Danar dengan mantan kekasih nya dulu.
"Anin... kamu tidak apa-apa ? Apa yang kamu pikirkan sekarang ?" Tanya Nesha lembut. Dia tahu teman nya ini sedang tak baik-baik saja sejak kejadian tadi.
"Nggak apa-apa kok Nes. Justru aku minta maaf sama kamu gara-gara aku sama Danar minta tolong kamu bantuin aku jaga Irya. Kamu jadi dituduh yang enggak-enggak sama cewek tadi." Ucap Anin tersenyum menutup apa yang sedang dipikirkan nya.
"Anin, Danar udah baik banget sama aku, kasih aku kerjaan juga jadi aku tidak masalah kalau kalian meminta bantuan ku. Kita juga teman kan ? Tidak perlu sungkan buat minta tolong." Nesha menenangkan Anin agar tidak merasa bersalah atas kejadian tadi. Bukan Anin ataupun Danar yang salah tapi perempuan itu yang salah datang dengan tidak sopan dan menuduh bahkan bertindak kasar pada tuan rumah. Meski Anin bukan pemilik apartemen ini tapi Anin lebih berhak dari yang lain untuk memutuskan siapa yang diijinkan masuk dalam apartemen Danar.
" Makasih ya Nes... aku beruntung berteman dengan mu. Kamu orang yang baik, lembut dan tulus. Seseorang yang mendapatkan mu pasti beruntung." Anin mencoba membuat suasana lebih ceria lagi. Memendam apa yang dirasakan nya sendiri.
"Ish... apa sih kok jadi kesitu ngomong nya haha. By the way amin deh nanti bisa dapet yang terima aku apa adanya hahaha." Nesha juga sudah terbawa suasana ceria yang Anin mulai ciptakan.
"Ya udah aku lanjut bikin kue dulu sebelum Danar pulang." Putus Anin melanjutkan kegiatan nya yang belum selesai akibat ulah Agnes.
"Aku bantu ya Nin." Nesha menawarkan diri saat Anin mengangguk terdengar suara gaduh di kamar Irya. Haduh ada apa lagi dengan orang itu pikir Nesha.
"Nes, tolong ya itu si Irya di cek." Pinta Anin yang di angguki Nesha.
Nesha masuk ke dalam kamar Irya, terlihat Irya sudah berdiri hampir mencapai pintu tak sengaja tangan nya menyenggol vas bunga di nakas dekat pintu.
"Kenapa bisa jatuh ?" Tanya Nesha melihat vas itu sudah berada di lantai untung saja vas terbuat dari kayu sehingga tidak pecah.
"Mau kemana ?" Tanya Nesha lagi Irya sudah jauh dari ranjang. Bagaimana bisa pria itu tidak bisa diam saat kaki nya sedang dalam masa pemulihan yang tidak diperbolehkan banyak bergerak yang beresiko untuk kesembuhan kaki nya.
"Gue mau keluar nemuin kalian." Ucap Irya.
"Harus nya nggak usah keluar tinggal panggil kita aja. Balik lagi ke kasur. Jangan ngeyel kasihan Anin nanti." Ucap Nesha mendekati Irya. Nesha memapah Irya menuju ranjang kembali. Sedikit susah karena tubuh Irya yang tinggi dan jelas berat badan nya juga lebih besar ketimbang Nesha.
"N-Nes.." Panggil Irya. Baru pertama kali Irya memanggil nama Nesha bahkan mereka belum sempat berkenalan secara resmi. Tapi Irya dan Nesha sudah sering mendengarkan nama satu sama lain dari Anin maupun Danar.
Nesha menatap Irya menunggu pria itu berbicara. Ada apa memanggil nya, tidak mungkin jika tidak ada alasan.
"Sorry, gue emang belum kenalan sama Lo tapi gue sering denger nama Lo dari Danar sama Anin."
"Nggak masalah, Danar sama Anin juga sering sebut-sebut nama kamu. Ada apa ?" Tanya Nesha.
"Sorry masalah tadi... gue bener-bener minta maaf. Gara-gara kalian rawat gue kalian jadi diperlukan kasar sama Agnes tadi." Irya memang merasa bersalah pada Nesha dan Anin.
__ADS_1
Nesha menghela nafas pelan dan tersenyum tipis. "Bukan kamu yang salah tapi pacar kamu. Harus nya lebih sopan saat bertamu."
"Terimakasih Lo udah bantuin gue dari kemarin." Ucap Irya dengan tulus. Nesha tersenyum manis dihadapan Irya. Senyum yang belum pernah Irya lihat sebelumnya.
"Sesama manusia harus saling tolong menolong. Sejahat apapun dia terhadap kita. Kalau kita bisa bantu dia kenapa enggak." Ucap Nesha bijak. Irya hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ada yang kamu butuhkan ?" Tanya Nesha sebelum berniat pergi keluar.
"Temenin gue disini sampai gue sembuh." Ucap Irya entah sadar atau tidak.
"Hem ? Gimana ?" Tanya Nesha memastikan.
"Eh.. em.. maksud gue. Selama Danar belum pulang atau nggak ada disini Lo temenin Anin disini selama gue sakit gitu. Danar nggak mau kalau gue berdua doang sama Anin." Ucap Irya mencoba meluruskan keinginan nya.
"Oh... tenang aja selama Danar sama Anin minta aku buat temenin mereka jaga kamu dan selama nggak sibuk It's oke." Nesha berkata dengan tenang.
"Nggak ada yang kamu butuhkan lagi ? Aku mau bantu Anin bikin kue dulu." Irya mengangguk, senyum tipis mengiringi kepergian Nesha. "Yang enak bikin nya Nes." Ucap Irya saat Nesha memegang handel pintu.
Deg..!!
Kejadian langka saat keduanya saling melempar senyum. Sebelum mereka selalu adu debat dan melemparkan tatapan sinis atau memasang wajah kesal satu sama lain.
Nesha membantu Anin di dapur menyelesaikan membuat kue bolu pandan kesukaan Danar. Keduanya dengan kompak saling membantu untuk membuat kue. Baru kali ini Nesha sangat dekat dengan teman perempuan hampir sama seperti kedekatan nya dengan Angga. Bahkan dengan Devi teman nya di kampus saja tidak sedekat ini.
"Kita buat berapa loyang nih Nin ?" Tanya Nesha melihat adonan cukup banyak.
"Kayak nya ini bakalan jadi 3 loyang besar deh. Nggak apa-apa sih nanti bisa dibagi-bagi. Kamu juga bisa bawa pulang nanti." Ucap Anin.
Beberapa jam akhirnya kue buatan mereka sudah selesai. Anin dan Nesha memotong satu loyang besar menjadi beberapa bagian. Mereka letakan didalam piring untuk disajikan nanti.
Tak lama Danar pulang, jadwal kuliah nya padat hari ini. Masuk ke dalam rumah tercium aroma pandan yang harum. Danar menghampiri Anin yang berada di dapur bersama Nesha.
"Sayang kamu buat apa ?" Tanya Danar merangkul pundak Anin dan mencium kepala Anin. Terlihat mesra dan terlihat sekali Danar sangat menyayangi Anin.
"Ini bikin kue buat kamu." Ucap Anin tersenyum.
Danar melihat ada sesuatu yang berbeda di wajah kekasih nya. Meraih wajah Anin dan memperhatikannya dengan lekat. "Kenapa ini ?" Tanya Danar serius. Anin terkesiap lupa untuk menutupi nya. "Nggak apa-apa yank." Anin tersenyum mencoba bersikap biasa saja. Nesha terlihat sedikit kaku, pikiran nya sibuk memikirkan apakah benar Danar akan memarahi Agnes seorang perempuan.
__ADS_1
"Jangan bohong !! Kenapa ini ? Nesha apa yang terjadi ?" Tanya Danar. Nesha sedikit terkejut akibat sibuk sendiri dengan pikiran nya.
"Ah itu..." Nesha melirik Anin. Gadis itu tak ingin Nesha mengatakan nya, memberikan kode dengan gelengan kecil untuk Nesha.
"Aku tidak tahu." Ucap Nesha pada akhirnya. "Nesha aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Jangan mencoba berbohong pada ku jika masih ingin bekerja di tempat ku." Ancam Danar pada Nesha.
"Sayang, jangan seperti itu." Anin tidak ingin Nesha terkena imbasnya. "Anin, bisa kamu diam." Jika Danar sudah menyebut nama Anin sudah pasti pria itu sangat serius atau sangat marah. Anin terdiam tak berani berbicara. "Bicara Nesha. Sekarang." Ucap Danar menekankan kata terakhir nya.
Ragu dan takut yang dirasakan Nesha saat ini. Tidak pernah melihat raut wajah Danar yang seperti ini. "T-tadi... ada... pacar Irya yang datang dan mengamuk hingga menampar Anin." Sesekali menghela nafas tipis Nesha ragu mengatakan nya, hingga kalimat nya berubah lancar pada kalimat terakhir nya akibat takut di pecat.
Rahang Danar mengeras, berjalan cepat ke kamar Irya. Nesha dan Anin cepat mengikuti Danar takut terjadi yang tidak-tidak. Irya masih dalam keadaan sakit, belum sembuh total.
Irya terbangun saat Danar membuka pintu dengan kasar. Susah payah Irya bangkit dari tidur nya. "Dan, Lo udah pulang. Kenapa ?" Tanya Irya. Sebenarnya Irya sudah was-was melihat wajah Danar yang berbeda. "Kenapa Agnes bisa kesini ? Lo tahu cewek gue nggak bisa satu tempat sama Agnes. Lo lihat cewek Lo nampar cewek gue. Bahkan gue nggak pernah tampar dia. Gue nggak pernah kasar sama cewek gue." Ucap Danar marah. Kerah kaos Irya sudah di tarik oleh Danar.
Anin menahan Danar sedangkan Nesha membantu Irya, merasa kasihan dengan kondisi pria itu yang sedang sakit. "Dan, tolong jangan begini kasihan dia lagi sakit." Ucap Nesha sedikit panik.
"Sayang, udah aku nggak apa-apa. Bukan salah Irya, yank." Ucap Anin dengan lembut mencoba menenangkan Danar. "Nggak apa-apa gimana, kamu lihat kaca pipi kamu merah gara-gara cewek murahan itu." Ucap Danar tak bisa mengendalikan kata-kata nya.
"Gara-gara Lo cewek gue kena sial nya. Bisa nggak hidup Lo lebih guna dikit buat kita huh ?!"
Deg..!! Kalimat yang sama terlontar dari bibir kedua orang tua nya kini terlontar dari bibir sahabat nya yang selalu ada untuk dirinya. Hati Irya terasa nyeri.
Irya tersenyum tipis. "Sorry Dan, gue nggak tahu Agnes bakal kesini. Lo boleh pukul gue buat ganti tamparan Agnes ke Anin." Ucap Danar tenang meski di dalam sana hati nya tak setenang ini.
Cengkraman Danar semakin kuat di kerah kaos Irya, urat tangannya terlihat menonjol. Nesha mencoba melepaskannya tapi Danar yang sudah terbawa emosi tak sadar mendorong Nesha hingga kepala Nesha terantuk nakas. Anin menjerit melihat Nesha terbentur kepala nya.
"Danar !!" Bentak Anin. Gadis yang biasanya lembut itu bisa membentak Danar. Danar tersadar dari emosi nya. Melihat ke arah Anin yang mendekati Nesha untuk menolong nya.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏
__ADS_1