
Beberapa minggu berlalu Danar sibuk dengan kuliah nya, pria itu berbeda dengan Irya yang tidak memiliki rencana hidup. Danar lebih beruntung memiliki kehidupan yang normal meski harus banyak ditinggal oleh kedua orang tua nya mengurus bisnis namun kedua orangtuanya masih sangat peduli dengan anak mereka.
Semenjak bersama Anin, Danar sudah memiliki rencana hidup kedepannya. Menyelesaikan kuliah dan mengurus bisnisnya agar bisa mempersunting Anin setelah lulus kuliah nanti.
Tidak ingin Anin lepas darinya sehingga Danar benar-benar berusaha untuk masa depannya. Membuat wanita nya benar-benar nyaman pada nya. Apapun yang dirasakan bahkan rencana apapun juga Danar bagi dengan Anin, mereka berkomitmen apapun itu harus bisa menemani jalannya bersama-sama.
Seperti keinginan Danar untuk membebaskan Irya. Itupun diceritakan Danar pada sang kekasih. Respon positif ditunjukkan untuk keinginan Danar, selagi apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu masih dianggap baik dan positif.
"Yank, aku kasihan lihat Irya berada di tahanan. Bahkan kamu tahu ? Dia ditahan pun tidak ada keluarga nya yabg datang menjenguk mungkin hingga sampai saat ini. Dia seperti hidup sendiri."
Anin melebarkan matanya, cukup terkejut dengan apa yang diceritakan oleh kekasihnya. "Apa sampai sebegitu nya ? Setega itu mereka sama Irya ? Aku nggak habis pikir kenapa ada orang tua yang kaya gitu." Anin merespon ucapan Danar.
"Iya bahkan aku sempet mikir, apa jangan-jangan Irya itu bukan anak kandung mereka. Tapi meskipun dia bukan anak kandung tapi bukan berarti mereka bersikap seperti itu. Sama saja mereka menyiksa kehidupan Irya."
"Hush jangan gitu yank, masa iya Irya bukan anak mereka. Tapi memang aneh sih. Apa sebegitu sibuknya mereka jadi Irya sampai terlantar begitu." Ucap Anin.
"Bentar deh, aku selalu denger cerita-cerita dari kamu. Banyak banget kelakuan Irya yang aneh-aneh apa jangan-jangan itu dia lakukan buat mendapatkan perhatian orang tua nya ?" Anin tampak berfikir menganalisis apa yang selalu di dengarnya dari Danar.
"Mungkin yank, tapi dia selalu bilang apa yang dia lakukan untuk mengisi kehidupan nya yang monoton gitu. Aku pengen bebasin dia yank kasihan udah beberapa minggu di sana." Ucap Danar.
"Tapi bebasin juga pasti butuh jaminan yank, dan itu enggak sedikit." sahut Anin.
"Iya maka nya itu, aku juga masih bingung. Tabungan ku nggak cukup buat bebasin dia sekarang yank. Lagian tabungan itu juga buat rencana kita kedepannya." Ucap Danar, masih bimbang harus berbuat apa untuk menolong Irya agar bisa keluar dari tahanan.
"Nanti coba aku akan minta tolong sama om aku yank barang kali untuk masalah Irya dia bisa bantu. Lagian kasus nya Irya enggak berat kan aku yakin sih om aku bisa bantu." Anin mencoba memberikan ide yang mana nanti bisa membantu mereka.
"Om kamu pengacara ?" Tanya Danar.
"Bukan yank, tapi aku yakin kok dia bisa bantu Irya." Danar mengangguk,.dia juga berharap semoga saja om dari Anin bisa membantu Danar.
Bukan apa-apa, Danar masih anak kuliahan yang belum bekerja sepenuhnya meski kedua orang tuanya pengusaha dan orang kaya. Danar jarang sekali menyusahkan kedua orang tuanya nya dengan urusan-urusan pribadinya. Semua selalu diusahakan nya sendiri.
Beberapa hari berlalu Anin sudah menemui om nya untuk membantu sahabat Danar. Semua yang terjadi pada Irya di ceritakan dengan detail oleh Anin. Pintu hati om dari Anin semakin tergerak untuk membantu membebaskan Irya.
***
Di cafe de'Maha.
__ADS_1
Satu minggu yang lalu Anin jadi melakukan keinginan nya untuk menjadi pegawai cafe Danar kekasihnya sendiri. Dia begitu antusias dan senang berangkat bekerja terlebih bisa bekerja bersama Nesha.
"Hai Nesh..." Sapa Anin pada Nesha yang berada di dapur.
Nesha menoleh menghadap sumber suara, Anin sudah tersenyum pada nya. Nesha membalas senyum manis Anin, tapi sedetik kemudian keningnya mengekerut melihat Anin menggunakan seragam cafe Danar.
"Loh Mbak, kok disini pakai seragam ini lagi ?" Tanya Nesha terheran.
"Sst... bisa nggak sih jangan panggil Mbak berasa tua banget lho aku. Kita seumuran Nesha panggil nama aja kaya kamu panggil Danar."
Anin meletakkan jari telunjuknya pada bibir nya seakan menyuruh Nesha untuk menutup mulut. "Aku pake seragam ini karena mau kerja disini. Kamu jangan bilang-bilang kalau aku pacar nya Danar. Biar mereka tahu sendiri aja. Oke." Ucap Anin dengan berbisik pada Nesha. Meski bingung Nesha hanya mengangguk saja.
"Heh... Lo anak baru juga ? Kerja Lo disini ngapain Lo bisik-bisik ngegosip hah ?!" Seperti biasa Shintya akan bertingkah pada pegawai baru seolah dirinya pemilik cafe.
Anin menatap tak suka dengan ucapan dan tingkah Shintya yang sok-sokan. "Kenapa Lo nggak terima ? Kerja sana !! Mau dipecat Lo ? Gue senior disini jadi Lo harus nurut apa kata gue. Gue lebih pengalaman disini." Ucap Shintya dengan congkaknya.
Nesha mengelus lengan Anin agar bersabar menghadapi Shintya. Dalam hati Nesha membatin "Ini orang nggak lama lagi bakal kena batunya."
"Ayo Anin kita ke sana aja." Ucap Nesha lembut.
"Kamu sabar ya dia memang begitu apalah sama pegawai baru." Imbuh Nesha.
"Iya tapi aku biarin aja lama-lama juga dia kesel sendiri. Kata anak-anak yang lain juga dia emang nyebelin banyak yang enggak suka tapi pada di diemin aja."
Selama Anin menjadi pegawai baru terhitung satu minggu ini selalu mengamati Shintya memang berlaku bossy pada semua pegawai terutama pegawai baru. Anin pun tak tahu kenapa kekasihnya masih mempertahankan pegawai seperti itu.
Hari ini Anin bekerja seperti biasa bersama Nesha kedua gadis itu sangat kompak sekali. Saling bantu membantu untuk pekerjaan mereka sehingga semua dapat terselesaikan dengan sangat baik.
Para pengunjung juga menyukai kedua gadis itu yang sepenuh hati melayani mereka. Berbeda jika Shintya yang melayani pasti banyak yang mengeluh karena wanita itu menampakkan wajah yang menyebalkan bagi pelanggan. Tidak ramah dan tidak bisa sabar pada pelanggan.
"Nesh, aku bentar lagi mau ijin keluar dulu sama Danar." Bisik Anin pada Nesha.
"Loh mau kemana ?" Tanya Nesha penasaran.
"Mau ke kantor polisi. Mau urusin sahabatnya Danar."
"Sahabat Danar ? Memang kenapa dia ?" Tanya Nesha kembali.
__ADS_1
"Iya sahabat Danar, kaya nya kamu juga pernah lihat dia kok. Itu waktu acara ulang tahun Danar disini, nama nya Irya yang waktu kamu pamitan pulang dia duduk dekat Danar. Kamu inget nggak ?" Nesha tampak berfikir mengulang ingatan nya. Mata nya sedikit melebar.
'Jangan-jangan...' Gumam Nesha dalam hati.
Nesha mengangguk. "Kenapa memang dia ?" Tanya Nesha.
"Dia di tahan polisi karena kasus tawuran, masih anak SMA. Tapi dia kasihan tahu Nes, orang tuanya nggak ada yang perduli sama dia. Teman-teman nya udah pada bebas beberapa hari setelah di tahan karena dibebaskan orang tua mereka. Tapi Irya sahabat Danar masih tetap di sana karena nggak ada yang bebasin bahkan di jenguk aja nggak." Anin sedikit menceritakan pada Nesha.
Nesha terdiam. "Jangan-jangan beneran cowok playboy mesum itu yang di maksud Anin. Dia kan tengil jadi bisa aja dia ikut tawuran. Dan Anin bilang orang tuanya nya nggak perduli sama dia. Pertengkaran waktu lalu itu juga sama Papa nya." Nesha bermonolog dalam hatinya. Menghubung-hubungkan semua cerita Anin dengan apa yang dia pahami dan lihat.
Anin menggoyang tangan nya di depan wajah Nesha dan menepuk bahu Nesha hingga gadis itu tersentak kaget. "Nes... kok kamu ngelamun sih ?"
"Maaf Nin, ya udah kamu udah ijin sama kak Nana ? Dia salah satu senior disini juga. Dari pada kamu ijin sama kak Shintya pasti akan dipersulit."
"Iya ini aku mau ijin dulu. Danar udah jemput di depan soalnya. Aku sengaja nggak suruh dia turun. Ya udah aku duluan ya." Nesha mengangguk. Anin menuju dapur untuk meminta ijin pada Nana si koki andalan cafe yang juga senior di sana. Dia lebih baik dan lebih ramah daripada Shintya.
Saat ini Anin dan Danar sudah berada di kantor Polisi. Mengurus kebebasan Irya, Anin benar-benar meminta bantuan pada om nya. Bahkan om nya sudah mengurus nya kemarin sehingga Danar dan Anin hanya menjemput Irya saja. Mereka datang dengan pengacara kepercayaan keluarga Om dari Anin.
"Saudara Irya, anda ikut saya." Ucap petugas tahanan. Membuka pintu sel dan meminta Irya keluar dari ruangan dan mengikuti nya. Petugas membawa Irya menuju ruangan khusus pertemuan tahanan dengan pengunjung.
"Saudara Irya, Anda dinyatakan bebas hari ini dengan jaminan. Jadi anda sudah bisa pulang hari ini." Ucap petugas.
"Serius Pak ? Beneran ? Siapa yang membebaskan saya ? apakah Papa saya ?" Tanya Irya beruntun tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan. Dia akan bahagia bila Papa nya perduli dan membebaskan nya.
"Seorang pengacara yang juga pernah datang mengurus kasus disini. Mereka ada diluar, saya akan memanggil mereka masuk."
Danar, Anin dan seorang pengacara masuk ke ruang temu tahanan. Tidak ada sosok orang tua Irya. "Ir, sorry gue lama bantuin Lo keluar dari sini. Lo bebas hari ini berkat bantuan om nya Anin. Dan ini Pak Adnan pengacara yang mengurus kebebasan Lo dari om nya Anin." Ucap Danar.
"Oh Lo sama Anin yang bebasin gue. Makasih ya bro. Nin makasih ya Lo udah bantuin gue." Ucap Irya tersenyum. Danar menyambut dengan pelukan. Anin tersenyum melihat kekasih dan sahabat kekasih nya saling berpelukan.
Hari ini Irya benar-benar bebas dan bisa menghirup udara segar di luar sana. Bisa beraktivitas kembali seperti biasa sesuka hatinya. Pasti kekasih-kekasih nya sudah sibuk mencari keberadaan dirinya yang suka sekali menghilang tanpa kabar.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
__ADS_1
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏