
Langkah kaki Nesha terhenti saat tangannya ditarik oleh Irya. Nesha menolehkan pandangannya bertemu kembali dengan tatapan mata Irya yang dia tak tahu kenapa.irya menatap nya seperti itu. "Lepasin tangan ku." Ucap Nesha datar berusaha melepaskan genggaman tangan Irya. "Lo disuruh Danar buat ngobatin luka gue jadi Lo tuntasin pekerjaan Lo." Irya masih menggenggam pergelangan tangan Nesha.
"Tadi bilang bisa sendiri kan ? Kenapa masih harus dibantu." Nesha menghempaskan tangan nya yang di genggam oleh Irya. Nesha pergi begitu saja dari hadapan Irya. Semakin lama dirinya berada di sana maka semakin bertambah besar pula kekesalannya pada pria itu.
"Ck... tuh cewek kenapa sih lihat gue benci banget. Masa iya cuma gara-gara buku waktu itu dia jadi benci gitu sama gue. Aneh tuh cewek." Gumam Irya mengompres wajah nya sendiri dengan meringis menahan sakit.
"Ck... mana sakit lagi nih bibir gue. Sialan tuh anak untung gue udah tonjok tuh matanya."
Danar masuk ke dalam ruangan nya, melihat Irya hanya sendiri mengompres wajahnya. "Bukan nya tadi gue suruh Nesha buat bantuin Lo kemana dia ?" Melirik ruangan nya mencari keberadaan Nesha.
"Kabur tuh anak. Ssh...aww.."
"Kabur ? Pasti ulah Lo kan sampe dia kabur." Ucap Danar menyelidik.
"Enak aja gue yang disalahin. Emang dasar tuh cewek kasar aja masa iya ngobatin orang sakit kasar gitu."
"Gue tahu Nesha kaya gimana, dia bukan cewek kasar. Ada sebab kalau dia bisa sampe kasar sama Lo." Danar membela Nesha karena memang dia tahu Nesha gadis yang seperti apa. Tidak pernah bersikap kasar pada siapapun kecuali orang lain duluan yang memperlakukan dirinya dengan tidak baik.
"Pasti kelakuan Lo yang bikin dia kasar." Imbuh Danar lagi.
"Ck... udah nggak usah bahas tuh cewek..Emang dari awal dia benci sama gue." Irya selalu menjawab dengan pembawaan yang cuek.
"Nggak ada seseorang yang benci sama orang lain kalau nggak ada sebab Ir."
"Masa iya cuma gara-gara buku waktu itu dia bisa sebenci ini sama gue. Kan aneh tuh cewek."
Danar mengerutkan keningnya. "Jadi Lo pernah ketemu sama Nesha ?" Tanya Danar dan diangguki oleh Irya, dia menceritakan awal pertemuan nya dengan Nesha beberapa hari yang lalu saat kejadian berebut buku minus kejadian Nesha memergoki nya yang tengah berciuman. Pikir Irya Nesha memang membencinya saat awal pertemuan kejadian berebut buku itu.
"Masa kaya gitu sih, tapi gue rasa dia punya alasan kenapa benci sama Lo selain kejadian itu." Danar menanggapi dengan lebih bijak.
"Ck... nggak tahu gue. Ngomong-ngomong sejak kapan dia jadi karyawan Lo ?" Melihat seragam yang dikenakan Nesha yang Irya tahu dengan jelas itu seragam karyawan cafe Danar.
"Baru beberapa hari ini, dia kuliah sambil kerja. Dia cewek yang mandiri. Setahu gue dari cerita Angga, meskipun dia anak tunggal tapi dia nggak manja kaya cewek-cewek yang lain. Selain cerdas dan lembut dia anak yang mandiri." Danar sedikit menceritakan tentang Nesha pada Irya yang di ketahui nya dari Angga. Entah Danar kenapa malah menceritakan itu pada Irya, karena Danar memang tidak yakin jika Irya mengatakan Nesha gadis yang kasar dan menurut cerita Irya tidak mungkin gadis itu membenci Irya tanpa alasan yang jelas untuk anak yang tergolong cerdas seperti Nesha. Bahkan gadis itu selalu bersedia membantu siapapun yang meminta bantuannya.
__ADS_1
Irya hanya mendengarkan cerita Danar saja tanpa memberiku respon apapun pada cerita itu. "Cowok nya yang waktu lalu ikut ke pesta ulang tahun Lo ?" Tanya Irya.
"Angga sahabat nya bukan cowok nya." Danar meluruskan pemikiran Irya sejak bertemu mereka Irya selalu berpandangan bahwa Nesha dan Angga sepasang kekasih bukan sepasang sahabat. Irya menghendikan bahu nya.
"Ya udah gue mau pulang dulu Dan mau istirahat capek gue." Pamit Irya pada Danar.
"Lo nggak makan dulu disini ?" Tanya Danar sebelum Irya pulang.
"Nggak Dan gue udah keburu ngantuk. Lo suruh deh pegawai Lo nganterin gue." Perintah Irya seenak jidat.
"Ck... bikin repot Lo, udah sana turun. Gue telepon dari sini." Danar langsung menghubungi Hamka orang kepercayaan Danar di cafe ini untuk mengantarkan Irya pulang menggunakan mobilnya.
Irya turun ke bawah menunggu Hamka di kursi dekat kasir yang sering di gunakan Shintya untuk berleha-leha. Dari tempat itu Irya bisa melihat arah belakang dimana disana ada Nesha dan Shintya. Irya melihat gadis itu tengah di marahin dan di perintah-perintah oleh Shintya. Nesha hanya diam dan tak membantah sedikitpun meski Shintya juga mendorong-dorong nya dengan kasar untuk bergerak cepat.
"Ck... tuh cewek kenapa diam aja diperlakuin begitu. Nggak ngelawan sama sekali padahal sama gue aja tuh cewek bisa kasar." Batin Irya saat mengamati Nesha dan Shintya.
Tak lama Hamka keluar menemui Irya dan mengantarkan pria itu pulang ke rumah nya. Dalam perjalanan hening tak ada pembicaraan hanya ada suara musik saja yang terdengar.
"Ham, cewek yang rambut ijo itu siapa ?" Tiba-tiba Irya membuka suara memberikan pertanyaan yang membuat Hamka bingung.
"Yang di cafe tadi yang rambut ijo." Pertanyaan yang dimaksud oleh Irya adalah Shintya wanita cantik seusia Hamka yang berpenampilan modis selalu mengikuti trend. Rambut nya yang di cat ombre blonde dan hijau serta selalu dibuat curly hair.
"Kenapa Lo suka ? Dia lebih tua dari Lo 5 tahun. Mau Lo sama dia ?" Tanya Hamka yang sudah tahu bagaimana kebiasaan dan kelakuan Irya dari Danar.
"Ck... nggak gue nggak minat. Gue mau tanya aja tuh cewek jabatannya di cafe apaan."
"Karyawan biasa sama kaya yang lain. Kenapa sih ?" Hamka penasaran karena tiba-tiba Irya mempertanyakan hal itu biasanya dia tidak perduli dengan para pegawai cafe Danar.
"Gue kira atasan. Gaya nya sok banget eneg gue lihat nya."
"Haha mungkin karena dia senior di cafe jadi kaya gitu." Memang banyak yang merasa tidak suak dengan sikap Shintya tapi entah kenapa masih bisa bertahan di cafe itu.
"Tadi gue lihat dia perintah-perintah pegawai baru di cafe."
__ADS_1
"Pegawai baru, Nesha maksud Lo. Gue juga heran sama tuh anak nggak kaya pegawai lain yang mau ngelawan. Dia kuat banget ngadepin Shintya, sikap nya lembut banget nggak bar-bar kaya yang lain, pelanggan cafe pada suka sama dia banyak yang mau dilayanin sama Nesha karena keramahan tuh cewek."
Irya hanya mendengarkan saja apa yang diucapkan oleh Hamka. Sama seperti saat di ruangan Danar, dia tak merespon cerita mengenai Nesha.
Tak berselang lama Hamka dan Irya sampai di rumah Irya. Terlihat adik Irya keluar dari rumah mata nya berbinar saat melihat Hamka. Adik Irya yang bernama Cindy Sanjaya memang menyukai sosok Hamka yang tampan, putih bersih dan bertubuh kekar. Sungguh lelaki idaman bagi Cindy.
"Kak Hamka... ada apa kesini ?" Tanya Cindy dengan ramah dan sedikit manja.
"Nganterin kakak Lo." Ucap Hamka cuek.
'Nggak mampir masuk dulu kak ?" Tanya Cindy berharap Hamka akan mampir ke rumah nya.
"Maaf masih ada pekerjaan lain. Ir gue duluan ya." Pamit Hamka pada Irya. Hamka tak berpamitan pada Cindy karena sejujurnya Hamka sedikit kurang menyukai Cindy yang manja dan sombong terhadap orang lain.
"Oke Ham... Makasih ya, hati-hati Lo." Ucap Irya melepaskan topi nya tanpa melepas masker nya.
Terlihat kening Irya yang tertempel plester dan ada perban kecil juga menempel disana. Mobil Hamka sudah menghilang, Cindy memperhatikan kakak nya tanpa bersuara. Irya tak memperdulikan adik perempuannya itu masuk ke dalam tanpa berbicara sedikitpun pada Cindy. Hubungan keduanya memang tak baik, jika tidak ada yang sangat penting maka mereka tidak akan bertegur sapa. Sifat Cindy yang membuat Irya tak menyukai adik nya.
Irya masuk ke dalam kamar nya melepas masker dan membaringkan diri secara telentang. Kedua tangan nya digunakan sebagai pengganti bantal di kepalanya. Menatap langit-langit kamar nya. Pikirannya kembali berputar mengingat ucapan Danar dan Hamka.
"Kok bisa ya mereka bilang tuh cewek lembut padahal di depan gue malah berbanding terbalik."
"Sama gue dia berani ngelawan kenapa sama si rambut ijo nggak mau ngelawan udah jelas-jelas di dorong-dorong begitu."
Pikiran Irya saat ini tertuju pada gadis cantik, berkulit putih dengan rambut sebatas bahu yang hitam legam. Perhatian Irya terfokus pada fisik Nesha, secara fisik gadis itu memang menarik. Tidak kalah dengan para kekasih Irya yang lain. Ingatan saat awal mula bertemu dan pertemuan-pertemuan selanjutnya antara dirinya dan Nesha selalu saja terputar.
"Ck...haiisshh... kenapa jadi gue mikirin tuh cewek." Irya merasa kesal dengan dirinya sendiri. Mengacak-acak rambut nya, menggelengkan kepala mencobanya menghilangkan pikiran-pikiran yang menurutnya konyol karena memikirkan Nesha. Bukan keinginan Irya jika rekaman otak nya bisa kembali memutar semua tentang Nesha tidak sengaja terpikirkan bagi Irya.
...----------------...
Jangan lupa Vote !!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
__ADS_1
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏