
Hari ini cuaca redup tak bersinar seperti biasa nya, matahari tidak maksimal dalam mengeluarkan sinar nya. Langit terlihat cukup mendung seperti nya matahari sedang kalah dengan awan mendung.
Sejak pagi tadi hujan deras sudah turun membasahi bumi. Hawa dingin berhembus menusuk tulang. Meski hujan turun cukup deras membuat sebagian orang semakin nyaman terbuai dalam mimpi. Nesha seperti biasa tetap bangun pagi membantu sang Mama memasak dan membersihkan rumah.
"Pagi Ma..." Sapa Nesha yang baru saja keluar dari kamar menuju dapur.
"Pagi sayang.. baru bangun ?" Tanya Mama Nesha.
"Emm enggak juga sih Ma, bangun nya sih udah dari tadi cuma mau keluar masih mager, dingin soal nya hehe."
"Kamu tuh ya... nggak apa-apa sayang. Tapi pelan-pelan di ilangin ya, biar nanti kalau kamu punya keluarga apapun yang terjadi tetap rajin, mengutamakan keluarga mu." Ucap Mama Nesha memberikan nasehat.
"Hii.. iya Maa... lagian Nesha baru masuk kuliah masih lama Ma mikirin yang begituan." Ucap Nesha.
"Iya Mama tahu sayang. Tapi ini tuh bekal buat kamu besok. Tolong ambilin tempe di dalam kulkas Nes." Pinta Mama Nesha.
Tanpa menggerutu atau menolak Nesha dengan sigap membantu Mama nya yang sedang memasak saat ini.
Makanan sederhana yang dimasak oleh Nesha dan Mama nya cukup untuk sarapan mereka bertiga nanti.
Selesai memasak Nesha membersihkan rumah nya dengan menyapu dan merapikan dalam rumah nya. Sedangkan Mama Nesha mencuci peralatan masak nya. Karena saat ini hujan maka Nesha tidak bisa menyapu halaman rumah, mengepel pun tidak dilakukan pagi ini.
"Nes... kamu hari ini masuk kuliah jam berapa ?" tanya Mama Nesha.
"Hari ini ada kuliah jam 9 Ma, tapi kaya nya aku berangkat nya jam 8 aja deh biar nggak buru-buru nanti. Mau mampir ke perpustakaan juga soal nya."
"Oh oke... nanti pulang Mama bisa minta tolong ?"
"Minta tolong apa Ma ?"
"Beli bumbu-bumbu dapur ya nanti Mama kasih catatan nya, udah pada menipis." Ucap Mama Nesha.
"Siap kalau itu mah..."
Waktu berjalan tapi seakan waktu berhenti pada saat itu juga, biasa nya ketika waktu terus bergerak semakin siang maka matahari akan semakin tinggi menyinari. Kali ini meski sudah memasuki jam 6 pagi suasana terasa masih sangat pagi dikarenakan cuaca yang mendung.
Penghuni rumah Nesha sudah siap di meja makan, kebiasaan makan pagi pukul 6 lebih seperempat karena Papa Nesha merupakan seorang guru yang harus berangkat pagi.
Keluarga kecil itu menikmati makanan dengan suasana hangat keharmonisan tercipta dalam keluarga kecil itu.
"Nes, hari ini kuliah ?" Tanya Papa Nesha.
"Iya masuk Pa, kenapa ?"
"Masuk jam berapa ? Kalau pagi bareng Papa aja berangkat nya."
"Aku kuliah jam 8 Pa, kalau bareng Papa bisa-bisa kepagian sampe kampus. Ucap Nesha.
"Padahal Papa kangen banget nganterin kamu sekolah kaya dulu." Ucap Papa Nesha tersenyum.
"Hehe lain kali ya Pa, nanti kalau pas Papa libur deh nganterin Nesha nya."
"Kalau Papa libur kamu pasti juga libur Nes." Ucap Mama mengikuti pembicaraan.
"Iya juga sih, nganterin Nesha kerja aja gimana ?" Solusi yang diberikan oleh Nesha.
"Iya tuh Pa Nesha kan kerja nya habis kuliah dan Papa juga pasti udah pulang kerja." Ucap Mama Nesha.
__ADS_1
"Memang kamu sudah dapat kerja ?" Tanya Papa Nesha.
Nesah hanya tersenyum memamerkan deretan gigi nya yang rapi dan bersih.
"Belum sih Pa... lagi mau cari-cari sama Angga."
"Ya sudah nanti kita obrolin lagi. Papa berangkat dulu." Ucap Papa Nesha.
Nesha mencium tangan Papa nya sebelum berangkat. Mama Nesha berdiri siap mengantar sang suami ke depan rumah.
Menggunakan motor matic nya Papa Nesha menembus hujan berlindung di balik jas hujan untuk sampai tempat kerja nya.
...****************...
Di dalam rumah yang megah tepat nya di dalam kamar yang begitu luas. Irya masih bergulung dengan selimut tebal nya. Cuaca dingin akibat hujan deras membuat nya semakin nyaman dan tertidur pulas.
Tidak ada yang mencoba membangunkan nya. Pembantu rumah nya pun sibuk dengan pekerjaan mereka. Terlebih kedua orang tua Irya mereka sibuk mengurus bisnis mereka masing-masing.
Pagi ini bukan lah hari libur jadi meskipun hujan deras sekolah tetap masuk kecuali dalam keadaan darut seperti terjadi bencana.
"Nem... den Irya bangun belum ?" Tanya Bibi Jenab.
Bibi Jenab adalah pembantu rumah Irya yang paling senior. Bahkan wanita paruh baya itu yang mengurus dan merawat Irya sejak kecil saat kedua orang tua Irya sibuk bekerja dan sibuk mengurus adik nya yang masih bayi.
"Belum Bi... dari tadi nggak lihat tuh." Ucap Inem.
Bibi Jenab langsung berjalan menuju kamar Irya bermaksud membangunkan anak majikan nya itu. Saat ini bahkan sudah jam setengah 7 lebih seperempat. Sudah di pastikan sekolah-sekolah sudah masuk sejak lima belas menit yang lalu.
Tok...Tok..Tok..
"Den sudah bangun belum, ini sudah siang den." Ucap Bibi Jenab dengan sedikit berteriak agar Irya mendengar suara nya.
Tak mendapatkan jawaban Bibi Jenab mencoba masuk ke dalam kamar Irya, pintu kamar itu tak terkunci. Dengan perlahan masuk ke dalam kamar. Benar saja anak majikan nya itu masih tertidur pulas tanpa terusik sedikit pun.
"Den... bangun den... Aden nggak berangkat sekolah ?" Tanya bibi Jenab dengan hati-hati membangun kan Irya.
Merasa terganggu tidur nya di usik, mata Irya perlahan mengerjap perlahan terbuka. Dilihat nya wanita paruh baya ada di samping nya.
"Emh.. ada apa Bu ?" Tanya Irya pada bibi Jenab.
"Den Irya nggak sekolah ? Ini sudah siang."
"Memang jam berapa ini Bu ?" Tanya Irya kembali.
"Jam 7 lewat seperempat den."
Irya memang sudah terbiasa memanggil Bibi Jenab dengan panggilan ibu karena beliau lah yang mengurus dan merawat nya sejak dulu. Bahkan Irya merasa kasih sayang bibi Jenab terhadapnya lebih besar daripada kedua orang tua nya sendiri.
"Hah ? Jam 7 lebih ? Udah telat dong Bu. Udah lah nggak usah berangkat sekalian." Ucap Irya.
"Den... lebih baik terlambat daripada tidak berangkat sama sekali. Aden sudah kelas 12 harus rajin berangkat nya." Bibi Jenab mencoba menasehati Irya.
Saat bibi Jenab menasehati nya, Irya selalu tersenyum merasakan seperti diperhatikan oleh seorang ibu.
"Ya udah aku siap-siap dulu Bu." Ucap Irya luluh dengan nasehat bibi Jenab.
"Biar ibu siapkan seragam nya den Irya dan sarapan nya dibawah ya." Ucap bibi Jenab dengan lembut.
__ADS_1
"Makasih ya Bu." Ucap Irya.
Karena buru-buru sudah terlambat Irya mandi dengan cepat menggunakan seragam yang telah disiapkan bibi Jenab. Dan turun untuk sarapan sebentar. Tapi melihat jam tak memungkinkan Irya tak sempat makan.
"Bu.. Mama sama Papa udah pada pergi ya ?" Tanya Irya.
"Sudah sedari tadi pagi den. Ini sarapan nya dimakan dulu." Ucap bibi Jenab.
"Udah telat banget Bu, aku langsung berangkat aja ya."
"Tunggu dulu, ibu bawakan bekal aja."
Bibi Jenab dengan cepat memasukkan sarapan yang telah disiapkan kan nya tadi ke dalam kotak makanan untuk bekal Irya nanti di sekolah.
"Ini nanti dimakan, nanti den Irya sakit kalau nggak makan." Ucap bibi Jenab memberikan kotak bekal berwarna biru. Irya tersenyum dengan perhatian bibi Jenab.
"Makasih ya Bu. Irya berangkat dulu." Pamit Irya mencium punggung tangan bibi Jenab.
Memasukkan bekal ke dalam tas nya. Irya segera berjalan cepat menuju garasi mengeluarkan motor sport nya untuk menuju ke sekolah. Lelaki tampan itu buru-buru menancapkan gas motor nya dengan kecepatan cukup tinggi.
Jalanan terasa sepi akibat hujan yang baru saja mereda membuat jalanan itu tampak tak seramai biasa nya. Maka dari itu Irya dengan bebas menancapkan gas dengan kecepatan cukup tinggi.
Saat akan melewati perempatan itu Irya menurunkan gas motor nya tapi tetap saja masih terasa kencang untuk ukuran motor sport. Tak sadar jika ada juga motor yang akan melintasi perempatan itu. Irya dari arah selatan berbelok ke arah ke arah barat sedangkan orang tersebut dari arah barat lurus menuju timur.
"Eeh... " Dengan cepat orang itu mengerem motor nya begitu pula dengan Irya.
Orang itu adalah Nesha yang akan berangkat ke kampus nya. Nesha membuka helm nya demikian pula Irya turun dari motor membuka helm nya.
Tatapan sengit terjadi diantara kedua orang tersebut. Nesha yang memang tak menyukai Irya semakin memperlihatkan ketidaksukaan nya. Irya yang kesal karena harus mengerem mendadak pun menatap tak suka pada Nesha.
"Heh Lo bisa bawa motor nggak sih ?" Bentak Irya pada Nesha.
"Elo... elo... enak aja. Lo tuh yang nggak bisa pakai motor, dimana-mana kalau mau belok pakai lampu sein. Nggak lihat gue jalan nya lurus hah ?" Nesha kembali membentak Irya membalas perlakuan Irya tadi.
Saking kesal dan marah nya pada Irya, Nesha yang biasa nya berbicara menggunakan aku kamu pada orang lain entah berhadapan dengan Irya dia bisa berbicara menggunakan bahasa elo gue. Bahasa yang menurut Nesha kasar selama ini.
"Gue udah pelan Lo nya aja nggak pake mata main nylonong- nylonong aja." Ucap Irya tak mau kalah.
"Lo tuh yang salah. Udah salah nggak ngerasa lagi. Kebiasaan nggak punya aturan." Ucap Nesha dengan sarkas.
"Untung aja Lo cewek kalau bukan udah abis Lo sama gue." Ucap Irya berucap dengan kasar.
Irya langsung meninggalkan Nesha yang masih menatap nya dengan tajam, memperlihatkan sorot ketidaksukaan dan kebencian pada Irya. Lelaki itu meninggal kan Nesha dengan menarik gas dengan kecepatan tinggi.
'Hampir aja gue nabrak tuh cewek, gila ya tuh cewek nyolot banget sama gue.' Gumam Irya dalam hati.
Sedangkan Nesha pun dengan perasaan kesal melanjutkan perjalanan nya. Mengelus dada dan menghembuskan nafas nya kasar. Pagi-pagi sudah mendapatkan kesialan saja.
"Untung aja masih di lindungi malaikat, hampir aja kalau nggak bukan nya ke kampus malah ke rumah sakit. Gila emang itu orang udah salah nggak merasa bersalah lagi. Emang nggak punya aturan nggak pernah di didik aturan sama orang tua nya tuh." Nesha sepanjang jalan mengomel sendiri melupakan kekesalannya pada Irya.
...----------------...
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏
__ADS_1