
Pagi menjelang...
Matahari menyinari memasuki celah lubang udara dan jendela. Aris dan Pak Udin sudah berangkat ke pasar sejak tadi subuh. Hari ini Irya memutuskan untuk kembali ke kota nya. Ponsel nya telah dinyalakan nya. Begitu ponsel menyala banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan yang masuk.
Banyak sekali panggilan dan pesan dari para kekasih Irya dan Danar. Ponsel nya tak berhenti berbunyi, Irya melihat satu persatu isi pesan yang masuk. "Ck... apa-apaan mereka." Gerutu Irya saat melihat banyak pesan yang masuk.
π© Agnes
Sayang kamu dimana ?
π© Agnes
Irya kamu dimana sih, aku nyariin kamu lho sayang.
π© Agnes
Iih kok nomor kamu nggak aktif. Kamu selingkuh ya ? π€
π© Agnes
Sayang, kamu dimana sih aku kangen sama kamu.
Agnes
π 50 panggilan tak terjawab.
π© Rizkia
Beb, aku kangen kok kamu nggak bisa dihubungi sih ? π
π© Rizkia
Beb..
π© Rizkia
Beb, hallooo... kami kemana sih beb ?
Rizkia
π 20 panggilan tak terjawab.
π© Sania
Yank, kamu dimana, ponsel kamu mati ?
π© Sania
Yank, kita jalan yuk, kangen nih. Kamu udah hampir 4 hari nggak ke rumah aku lho."
Sania
__ADS_1
π 38 panggilan tak terjawab.
π© Sania
Nomor kamu kok nggak aktif yank ?
Danar
π 55 panggilan tak terjawab.
π© Danar
Woi Ir kemana Lo ? Cewek Lo pada nyariin nih.
π© Danar
Irya, Njir Lo kemana sih. Jangan buat gue stress gara-gara semua cewek Lo nyari Lo ke gue.
π© Danar
Sumpah ya gue gampar Lo Njir kalau ketemu. Nomor Lo nggak aktif Lo kemana sih Ir.
Home
π 15 panggilan tak terjawab.
Dan masih banyak lagi notifikasi yang lain masuk ke dalam ponsel Irya. Untuk para kekasih nya Irya tak membalas sama sekali hanya pesan dari Danar saja yang dibalasnya dan menelepon nomor rumah nya karena Irya yakin nomor rumah yang menelpon nya adalah bibi Jenab bukan yang lain lagi.
Semua baju sudah dimasukkan nya di dalam tas nya. Saat berada di rumah Mak Isah Irya sempat membeli sepasang pakaian lagi untuk nya berganti, meski ada baju Aris tapi dia tetap mau membelinya sendiri.
"Mak..." Irya menghampiri Mak Isah Yanga ada di dapur. "Ada apa Ir ? Kok kamu udah rapi begini ?" Tanya Mak Isah, penampilan Irya sudah rapi menggunakan jaket dan celana panjang.
"Mak, maaf kalau mendadak Irya mau pamit pulang hari ini."
"Hah ? Loh kok mendadak memang ada apa Ir ?" Tanya Mak Isah bingung.
"Enggak ada apa-apa Mak, cuma bibi Jenab udah nyariin Irya jadi Irya harus pulang."
"Oalah gitu, tapi Aris belum tahu kan kalau kamu mau pulang. Bapak juga belum tahu Ir."
"Tadi malam sih sempet bilang sama Aris, Mak. Tapi kayaknya nggak denger soal nya dia udah mulai ngantuk gitu. Nanti biar Irya yang susul mereka ke pasar buat pamitan." Ucap Irya.
"Ya sudah nggak apa-apa. Tapi maaf Mak nggak bisa bawain oleh-oleh buat kamu habis kamu pamit nya mendadak jadi Mak nggak sempet belanja oleh-oleh buat kamu." Ucap Mak Isah sedih karena Irya harus pulang tapi tak bisa membawakan oleh-oleh yang harus dibawa Irya kembali ke kota.
"Nggak usah Mak, Mak udah terima Irya nampung Irya disini aja udah seneng. Besok Irya main lagi ke sini. Pamit ya Mak." Irya mengambil tangan Mak Isah, menyalami dan mencium punggung tangan Mak Isah.
"Iya Irya, kamu hati-hati ya di jalan. Besok jangan lupa main lagi ke sini. Pasti Mak kangen banget sama kamu." Mata Mak Isah berkaca-kaca, wanita paruh baya itu memeluk Irya sangat erat seakan tak rela melepaskan anak nya pergi jauh. Mak Isah memang sudah menganggap Irya sebagai anak nya sendiri sama seperti Aris.
Hati Irya sungguh terharu akan perlakuan Mak Isah. Seseorang yang bukan siapa-siapa nya mampu memperlakukan nya seperti ibu yang sangat menyayangi anak nya takut kehilangan anak nya. Air mata Irya pun berkaca-kaca. Mak Isah justru sudah menangis pada akhirnya. Irya melepas pelukan Mak Isah dan menghapuskan air mata Mak Isah.
Dengan tersenyum Irya menenangkan Mak Isah. "Mak, jangan nangis dong. Kan Irya cuma pamit mau pulang besok kalau libur Irya main lagi nginep lagi disini. Kita bakalan ketemu lagi Mak." Ucap Irya dengan lembut. Irya pun menyayangi Mak Isah sama seperti menyayangi bibi Jenab. Dipeluk kembali Mak Isah oleh Irya, diusap lembut punggung Mak Isah layak nya anak memeluk ibunya.
__ADS_1
"Ya udah Irya pergi ya Mak." Irya melepaskan pelukannya. "Iya hati-hati Nak." Ucap Mak Isah yang masih menahan air matanya.
Irya keluar dari rumah dan menaiki motor nya. Mak Isah mengantar sampai depan rumah. Motor Irya susah menyala, klakson motor Irya pencet untuk pamitan terakhirnya pada Mak Isah. Lambaian tangan Mak Isah mengiringi kepergian Irya.
Pria tampan itu benar-benar menyusul Aris dan Pak Udin di pasar untuk berpamitan kepada mereka. Aris dan Pak Udin pun melepas kepulauan Irya dengan pelukan hangat ala laki-laki.
Perjalanan ditempuh Irya dengan santai. Tujuan pertama nya adalah apartment Danar. Sampai di apartemen Danar hari sudah siang. Entah Danar ada atau tidak Irya tak tahu meski pria itu tidak ada Irya masih bisa masuk ke dalam apartemen karena dirinya sudah tahu password pintu apartemen Danar.
Irya sudah sampai memarkirkan motor di basement dan berjalan masuk ke dalam lift untuk sampai di ruangan Danar. Kini dia sudah masuk ke dalam apartemen Danar tampak sepi tidak ada tanda keberadaan orang di ruang tamu. Irya mencoba mencari di kamar Danar, dibuka nya pintu kamar. Terlihat sepasang kekasih telah berpelukan tidur di atas ranjang.
"Ck... malah kelonan lagi dia. Siang-siang begini lagi." Gerutu Irya berjalan mendekati Danar dan Anin yang tengah menikmati tidur siang mereka.
"Woi Paijo bangun Lo." Irya menepuk pipi Danar hingga pria itu merasa terganggu tidur nya. Membuka mata dan melihat siapa yang datang membuat Danar kesal.
"Ck... Lo apaan sih ganggu gue aja." Suara serak khas bangun tidur terdengar dari bibir Danar.
Anin yang tidur dalam pelukan Danar pun juga merasa terganggu. Gadis itu bangun melihat Irya sudah berada di dalam kamar Danar. Merasa tidak enak Anin langsung terduduk di atas ranjang.
"Ck... Lo ngapain masuk ke kamar gue, gangguin gue sama bini gue aja Lo. Jadi kebangun kan dia gara-gara Lo." Ucap Danar dengan kesal.
"Hilih... bini apaan emang udah kawin Lo sama Anin ?" Ucap Irya dengan santai nya tanpa memikirkan perasaan Anin yang mendengar nya.
Danar memukul wajah Irya menggunakan bantal yang tadi digunakan nya. "Mulut Lo gue tampol juga Lo. Ngomong nya disaring dong ada cewek gue nih."
"Sorry Nin, maksud gue nggak gitu. Jangan Lo ambil hati deh Nin tahu sendiri kan gue kalau sama cowok Lo kaya gimana." Irya pun akhirnya merasa tidak enak hati dengan Anin.
"Nggak apa-apa. Ya udah aku keluar dulu." Ucap Anin yang sudah menurunkan kaki nya dari atas ranjang, tapi tangan nya di tahan oleh Danar.
"Yank, kamu disini aja lanjutin tidur nya, biar aku yang keluar ke depan aja sama ni anak." Ucap Danar melirik sinis pada akhirnya kalimat nya. Dan kembali menghadap Anin mengusap lembut kepala kekasih nya.
Anin menurut saja, Danar dan Irya keluar dari kamar. Saat ini Danar begitu kesal dengan Irya, kelakuan Irya yang seenaknya terkadang membuat emosi Danar meningkat. Sahabatnya itu tidak berubah, harus dengan apa merubah kelakuan seenak jidatnya agar lebih bisa menghargai perasaan orang lain terutama perasaan perempuan.
"Duduk Lo... Lo kemana aja sih ? Gue stress gara-gara Lo. Cewek Lo pada nanyain Lo ke gue mana ponsel Lo nggak aktif lagi." Ucap Danar masih dalam nada kesal nya.
Irya duduk santai di sofa Danar, menyenderkan punggungnya untuk mengistirahatkan tubuh nya yang lelah akibat perjalanan beberapa jam yang lalu.
"Hhhaaahh enak nya punggung gue bisa nyender juga." Buka jawaban yang berikan pada Danar justru meluapkan kenyamanan nya menyender di sofa. Hal itu membuat Danar semakin kesal di lempar kembali bantal sofa mengarah pada wajah Irya.
"Ck... Lo bisa serius nggak sih Ir. Dan juga lain kali Lo jangan sembarang masuk ke kamar gue kalau ada Anin. Gue nggak suka." Danar menunjukkan ketidaknyamanan nya saat Irya memasuki kamar nya ketika ada Anin di dalam kamar nya. Untung saja Anin masih menggunakan pakaian yang tertutup. Meski Danar dan Anin tak pernah melakukan apapun tapi Danar menjaga perasaan kekasihnya.
"Sorry bro... gue nggak tahu ada Anin di dalam. Lain kali nggak deh gue masuk kalau tahu ada Anin di dalam. Gue numpang tidur bentar." Ucap Irya sudah merebahkan tubuh nya di sofa panjang milik Irya. Danar hanya menghela nafas melihat kelakuan sahabatnya.
Danar tahu kelakuan itu bisa Irya lakukan karena terbiasa sejak dulu. Penyebab nya pun Danar udah paham, Irya adalah orang yang tidak bisa diberitahu dengan paksaan atau dengan kasar.
...----------------...
Jangan lupa Vote !!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya βΊοΈπ