Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 19. Bercerita


__ADS_3

"Hhaahh... akhirnya selesai juga ini cucian piring nya." Gumam Nesha lirih. Mengelap tangan basahnya pada celemek yang tadi urung dilepaskan nya.


"Hei.." Suara berat diiringi dengan tepukan di bahu kanan Nesha. Sontak saja bahu kecil itu terjingkat kaget. Gadis itu menoleh untuk mengetahui siapa yang menepuk bahunya.


"Eh iya kak ? Ada apa ?" Nesha memperhatikan pria itu. Wajah tampan kulit putih bersih dengan senyum manis menghias bibirnya. "Kamu pasti anak baru yang baru kemarin masuk ya ?" Tanya pria itu. Dan hanya diangguki saja oleh Nesha.


"Pasti yang menyuruh mu mencuci piring adalah Shintya. Benar begitu ?" Pria itu seakan tahu apa yang Shintya lakukan pada Nesha.


"Kakak tahu darimana ?" Tanya Nesha heran karena sedari tadi siang dia bekerja tidak melihat pria itu. Bahkan penampilan pria itu bukan seperti seperti pegawai di cafe Danar. Tapi kenapa bisa masuk ke dapur pikir Nesha. Tidak mungkin juga orang setampan ini menjadi pelayan di cafe Danar.


"Semua pegawai disini aku mengetahui nya. Kamu yang sabar saja dia memang orang nya seperti itu." Ucap pria itu berusaha menguatkan Nesha akan tingkah Shintya. Kembali Nesha hanya mengangguk. "Aku tidak masalah, karena menurut ku apa yang dilakukan nya membuat ku mengerti akan tugas-tugas yang harus ku lakukan." Ucap Nesha dengan santai tanpa ada rasa sedih ataupun tertekan.


Pria itu tersenyum mendengar jawaban dari Nesha. "Siapa namamu ?" Tanya pria itu sepertinya dia terkesan dengan jawaban tegar dari Nesha. "Nama ku Nesha. Kakak bukan pelayan disini kan ? tapi kenapa kakak bisa masuk ke sini. Ini kan hanya boleh dimasuki oleh pegawai cafe saja."


"Aku juga pelayan disini sama seperti kamu Nesha. Nama ku Hamka." Pria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Maaf tanganku masih sedikit basah." Nesha sungkan menyambut Hamka tapi pria itu justru langsung menyambar tangan Nesha. "Tidak masalah Nesha hanya sedikit basah kan." Senyum pria itu begitu manis sehingga Nesha menatap pria itu dengan lekat.


"Kamu sudah selesai ?" Tanya Hamka sat melihat bak cucian sudah kosong hanya ada bekas air cucian saja.


"Ah sudah kak, apa ada yang bisa ku kerjakan lagi ?" Tanya Nesha takut jika memang masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.


"Tidak ada. Kamu pulang lah ini sudah waktunya kamu pulang." Hamka menyuruh Nesha pulang, Pria itu tahu jika memang Nesha hanya pegawai part time di tempat itu.


"Baik kak, aku duluan ya." Pamit Nesha pada Hamka. Anggukan pria itu diberikan untuk Nesha sesaat sebelum Nesha melenggang pergi.


Saat ini Nesha benar-benar menuju loker nya untuk mengambil tas nya dan menyimpan celemek nya di dalam loker. Saat pulang Nesha melihat Shintya mengantarkan makanan ke meja pelanggan. Seharian ini Nesha baru melihat Shintya mengantarkan makanan karena sedari tadi dirinya dan pegawai yang lain yang bekerja. Wanita itu justru duduk di dekat meja kasir bersama pegawai kasir.

__ADS_1


Tak mempedulikan Shintya, Nesha keluar cafe sesekali di perjalanan keluar Nesha menyempatkan untuk menyapa dan berpamitan pada yang lain dan di balas dengan ramah oleh yang lain.


Di luar Papa nya sudah menunggu di atas motor sembari bermain ponselnya. Entah apa yang dilakukan oleh pria paruh baya itu dengan ponsel nya.


"Papa.." Panggil Nesha pada ayah nya. Saat perhatian Papa nya teralihkan pada nya Nesha menyalami punggung tangan Papa nya.


"Nesha, sudah selesai sayang ?" Ayah Nesha mengecup kening putri tunggalnya yang sangat disayangi nya itu.


"Iya Pa... maaf ya pasti Papa menunggu ku lama tadi ada pekerjaan yang belum selesai jadi Nesha harus menyelesaikan nya terlebih dahulu." Ucap Nesha sedikit tidak enak pada ayah nya.


"Tidak apa-apa sayang, lebih baik seperti itu selesaikan pekerjaan baru pulang agar tidak mengganjal pikiran." Ucap ayah Nesha mengelus kepala sang putri. Nesha tersenyum, ayahnya sangat bijaksana dan sangat menyayangi nya.


"Ya sudah kita pulang sekarang ? Atau masih ada yang belum selesai ?" Tanya ayah Nesha memastikan.


"Oke cantik. Ini pakai helm kamu dulu." Ayah Nesha memakaikan helm pada kepala Nesha.


Sangat terlihat sekali ayah Nesha begitu menyayangi putri nya. Bagaimana tidak Nesha adalah anak satu-satunya yang begitu dinanti-nantikan sejak pernikahan nya dengan sang istri. Begitu terlahir yang dia miliki adalah seorang putri cantik, jadi dengan sepenuh hati, jiwa dan raga nya benar-benar menjaga Nesha. Pria paruh baya itu tidak mau putri nya kenapa-kenapa, bahkan lecet sedikit pun dia tidak menginginkan hal itu.


Ayah Nesha begitu protektif pada gadis nya yang kini sudah beranjak menjadi wanita dewasa. Setiap lelaki yang berusaha mendekati Nesha selalu mendapatkan pengawasan ketat dari ayah Nesha. Selama ini laki-laki yang bisa dekat dengan Nesha hanya Angga sahabat Nesha sejak SMA. Pembawaan Angga yang sopan dan tidak neko-neko, bisa selalu menjaga Nesha membuat ayah Nesha percaya pada laki-laki itu hingga kini.


...****************...


Malam ini adalah malam terakhir bagi Irya berada di rumah Mak Isah. Pria itu belum tidur, pikiran nya masih melayang sesuatu yang dipikirkan nya saat ini adalah hal yang membuat nya datang ke tempat ini. Menghela nafas panjang berusaha melepaskan beban yang dipikirkan nya.


"Ir... Lo kenapa belum tidur ?" Ngomong-ngomong gimana sekolah Lo kalau beberapa hari ini Lo di rumah gue ?" Tanya Aris berbaring di samping Irya. Aris pun sama dengan Irya belum bisa, dia memikirkan bagaimana nasib nya kedepan. Lelaki itu sejak lulus SMA ingin sekali melanjutkan kuliah tapi masih mengumpulkan uang dengan ikut berdagang di pasar bersama ayahnya.

__ADS_1


"Gue nggak peduli sama sekolah gue. Gue males, cuma gitu-gitu doang. Nggak ada yang bikin hidup gue berwarna." Apa yang dikatakan Irya memang terkesan cuek tapi itulah ungkapan hati nya saat ini.


"Ir, Lo beruntung dari segi materi Lo tercukupi bisa sekolah bisa beli apapun yang Lo mau. Tapi justru Lo sia-siakan gitu aja. Gue pengen sekolah aja susah Ir. Lo tahu kenapa gue ikut dagang bapak ke pasar itu karena gue mau kumpulan duit buat kuliah."


"Tapi hidup Lo lebih enak meski harus kerja keras cari duit." Ucap Irya santai. Kalimat itu membuat Aris mengernyitkan dahi dan tertawa.


"Irya... Irya... haha Lo tuh gimana sih bagian mana nya yang enak. Jadi orang susah itu ya susah Ir mana ada enak. Ada-ada aja Lo mah." Aris meninju kecil lengan Irya kekehan kecil masih bisa terdengar.


Aris tidak tahu dan mungkin tidak merasakan apa yang dirasakan dan didapati Irya selama ini. Semua orang hanya mengetahui hidup Irya itu enak dengan gelimang harta yang dimiliknya. Tapi semua nya tidaklah sesuai dengan apa yang mereka lihat.


"Iya hidup Lo enak Ris, bisa kerja sama-sama buat cari duit. Kompak gitu lah gue seneng lihat nya. Gue seneng bisa ikut ngerasain dagang bareng Bapak cuma belum sempet aja ngerasain nemenin Mak jualan keliling hahaha."


"Ya elah dasar anak kota hahaha." Ledek Aris yang hanya disambut tawa oleh Irya.


Pembicaraan antara kedua remaja yang beranjak dewasa lebih tepat nya saling bercerita satu sama lain mengenai kehidupan yang mereka jalani masing-masing. Bertukar pikiran satu sama lain mengisi kekosongan jawaban hingga larut malam dan tanpa sadar mereka tertidur.


...----------------...


Jangan lupa Vote !!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.


Terimakasih atas support nya ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2