
Hari ini saat nya Angga pulang tapi kepulangan itu bisa dilakukan nanti sore karena masih menunggu ayah Angga untuk melunasi biasa' administrasi rawat inap Angga.
Nesha dari kemarin memang sudah ijin dengan Hamka jika ada keperluan keluarga jadi hari ini Nesha pun tidak berangkat bekerja demi menekan Angga. Beruntung nya Nesha bekerja part time di cafe Danar jadi tidak terlalu kaku dalam bekerja. Sistem kerja part time di cafe Danar adalah jika semakin sering berangkat makan gaji akan semakin besar didapatkan dan sebaliknya. Berbeda dengan pegawai full time yang tidak bisa ijin sembarangan.
Seperti kemarin jika sudah ada Mama Angga Nesha bisa ijin keluar untuk sekedar mencari minum di kantin. Saat hendak menuju kantin dari arah belakang Nesha melihat pasien rumah sakit yang terjatuh. Dengan cepat Nesha membantu pasien tersebut.
"Ya ampun pak... Bapak nggak apa-apa ?" Nesha membantu pasien tersebut berdiri dari arah samping.
"Aarghh... aaoww..."
"Loh..." Nesha terkejut melihat siapa yang ditolongnya. "Elo...sshh...aow." Ringis Irya.
Nesha menolong Irya yang sedang terjatuh. Nesha kira orang yang ditolong nya adalah seorang bapak-bapak karena hanya terlihat dari arah belakang.
"Berdiri... Berdiri dulu..." Ucap Nesha nada nya terlihat grusah grusuh karena melihat seseorang yang sedang kesakitan.
"Aow kaki gue... Ssh... tangan gue jangan dipegang." Nesha melihat kaki Irya yang sedang di gips. Dan beberapa luka yang terlihat saja karena beberapa yang lain tertutup pakaian rumah sakit.
"Eehh... terus gimana kalau nggak dipegang tangan nya. Kamu tunggu sebentar aku ambil kursi roda itu." Mata Nesha melihat kursi roda yang tak berpenghuni. Dengan cepat diambilnya untuk Irya.
"Duduk sini aja." Nesha membantu Irya mendudukkan diri di kursi roda. "Ini tongkat nya dibawa." Nesha meletakkan tongkat alat bantu jalan yang digunakan oleh Irya.
Irya terlalu ngeyel untuk beristirahat, melihat tingkat yang ada di kamar nya Irya bangun sendiri dan keluar kamar sendiri. Padahal kondisi nya belum diperbolehkan untuk banyak bergerak.
"Aow... Sshh..." Ringisan Irya tak henti sedari tadi membuat Nesha bingung.
"Aduh... bentar-bentar..." Nesha mendorong kursi roda itu sekalian mencari suster jaga untuk membantu Irya.
Irya tak banyak berbicara dengan Nesha karena terlalu merasakan rasa sakit pada bagian kaki nya yang terasa nyeri.
"Suster... tolong ini dia kaki nya sakit tadi jatuh soal nya." Ucap Nesha pada suster jaga.
"Loh kok bisa jatuh... Padahal kan kalau kaki di gips jangan sampai jatuh bisa bahaya. Mbak lain kali kalau jagain pacar nya jangan sampai teledor." Ucap suster memberikan nasihat.
'What ? Pacar ? Ini suster mabok cairan infus apa bagaimana ?' Gumam Nesha salam hati.
"Sus, dia bukan pacar saya. Segera ditangani aja dia keburu mati lagi nanti." Ceplos Nesha secara sembarang, kesal dengan suster yang sembarang berbicara.
"Eh maksud Lo apa ? Aow duh sshh... Lo sembarang aja kalau ngomong." Irya yang sedari tadi diam akhirnya bersuara karena kesal dengan ucapan Nesha.
Nesha menatap Irya kesal. "Diam kamu." Ucap Nesha pelan tapi penuh penekanan seketika Irya diam mengikuti ucapan Nesha.
"Cepat sus... malah diam aja si suster. Terpesona apa gimana." Ucap Nesha. "Eeh... iya mbak sebentar saya panggil dokter. Mbak nya antar mas nya ke kamar rawat nya saja." Ucap suster melenggang pergi.
__ADS_1
"Eh sus... tunggu memang suster tahu dia di kamar mana nanti ?" Tanya Nesha heran Suter itu malah pergi begitu saja.
"Oh iya mas nya kamar apa ya ?" Tanya suster. Diam-diam dalam hati merutuki dirinya sendiri.
"Kamu kamar apa dijawab nggak punya mulut ya." Ucap Nesha kesal melihat Irya diam saja.
"Kata nya suruh diam. Kamar anggrek 2." Ucap Irya singkat.
"Dengar kan sus ?" Tanya Nesha. Suster mengangguk dan berlalu pergi mencari dokter untuk Irya.
Irya diam dengan menahan sakit di kaki nya. Entah ucapan Nesha kenapa bisa dipatuhinya. Nesha terdiam dengan ucapan Irya tadi. "Nih playboy mesum kenapa nurut sama aku ?" Gumam Nesha salah hati nya merasa bingung.
Nesha mengantarkan Irya ke kamar anggrek 2 sesuai dengan apa yang Irya katakan tadi. Keduanya tanpa bertegur sapa dalam perjalanan hingga sampai ke dalam kamar rawat inap Irya.
"Kamu bisa berdiri nggak ?" Tanya Nesha.
"Menurut Lo gimana." Ucapan Irya membuat Nesha semakin kesal.
Hingga akhirnya Nesha membantu Irya berdiri. "Aow jangan pegang tangan gue sakit." Irya berkeluh kesah.
"Ya terus gimana berdiri nya kalau buka di pegang tangan nya... hiiihhh ngeselin banget sih." Nesha geregetan dengan sikap Irya yang membuat Nesha jadi bingung menolong nya.
"Lo gendong kek apa gimana gitu." Ucap Irya dengan santainya.
"Maksud Lo apa mau ngatain gue gila ?" Irya tidak terima dengan ucapan Nesha.
"Kamu pikir badan mu kayak anak TK nyuruh-nyuruh gendong. Gila."
"Ya Lo bantu gue berdiri dari depan sini." Irya menyuruh Nesha berada di depan nya, Nesha menurut saja agar bisa cepat selesai. Saat berada di depan Irya. "Majuan dikit terus nunduk dikit." Irya kembali memerintah. Dengan bingung seperti orang melamun Nesha mengikuti arahan Irya.
Irya mulai merangkul kan tangan nya pada leher Nesha untuk berdiri. Tapi Nesha tersadar dan terkejut lalu menghempaskan tangan Irya.
"Aduuhh... Aow..." Tangan Irya terasah perih saat Nesha menghempaskan tangan nya.
"Heh apaan nih nggak... nggak bisa." Ucap Nesha menolak cara yang diberikan Irya.
"Lo mending keluar aja kalau nggak mau nolongin gue. Badan gue tambah sakit semua." Irya benar-benar kesal dengan Nesha.
Terjadi lah perdebatan kesal diantara Nesha dan Irya hingga suster dan dokter masuk ke dalam kamar Irya. Melihat perdebatan itu dokter dan suster menghentikan nya.
"Sudah... Sudah... mbak sama mas jangan bertengkar." Ucap suster melerai.
"Mbak, sabar ya memang merawat orang sakit itu harus sabar apalagi kalau suami nya manja di saat sakit itu terkadang sering terjadi." Ucap dokter yang sempat melihat Irya yang merangkul kan tangan ke leher Nesha dan mengira mereka sedang berpelukan.
__ADS_1
Nesha semakin merasa kesal saat dokter mengatakan itu pada nya. Hampir saja Nesha mengeluarkan uneg-uneg nya tapi ditahannya. Nesha menghela nafas, dirinya masih normal untuk tetap bersih sopan terlebih pada orang yang lebih tua.
"Ayo sus kita bantu angkat mas nya ke atas ranjang. Mbak pegang kaki nya yang di gips supaya tidak terantuk ranjang." Ucap dokter.
"Hah ? enggak dokter saya takut malah patah lagi kaki nya nanti." Ceplos Nesha yang sebenarnya memang takut nanti justru bertambah parah kaki Irya.
"Lo sembarang aja kalau ngomong." Ucap Irya kesal.
"Ya sudah Mbak nya pegang badan mas nya saja. Biar suster yang bantu pegang kaki nya." Putus dokter. Nesha membantu dokter dan suster itu dengan hati-hati hingga terbaring sempurna.
"Mbak tunggu disini saja, biar saya periksa kaki suami nya." Ucap dokter tua itu.
Dalam hati Nesha merutuki kebodohan si dokter tua itu yang sembarang berbicara. Irya menahan sakit tapi justru otak nya yang tidak beres itu mendapatkan ide jahil untuk mengerjai Nesha yang sudah membuat nya kesal.
"Wah ini kaki nya bakal lebih lama sembuh karena harus nya mas nya tidak boleh banyak gerak dulu." Ucap dokter memeriksa kaki Irya.
"Ini bagaimana ceritanya mbak nya tidak memperhatikan suami, harus belum boleh keluar kamar dulu mbak."
Nesha semakin jengah dengan dokter tua itu. "Dok, dia itu bukan..."
"Maaf dokter, saya yang memaksa istri saya untuk jalan-jalan keluar kamar soal nya saya bosan di kamar. Tapi istri saya malah melepaskan pelukannya jadi saya tidak seimbang lalu terjatuh." Ucap Irya dengan cepat memotong ucapan Nesha. Nesha mendelik kesal pada Irya.
"Enggak bukan seperti itu dokter ceritanya." Nesha hendak meluruskan cerita ngawur dari Irya. "Oke... tidak apa-apa mbak saya sudah perbaikan gips nya, setelah ini jaga baik-baik suami nya. Jangan sampai lalai lagi."
"Terserahlah dokter, kayanya dokter sama suster disini udah pada gumoh cairan infus." gerutu Nesha dalam hati.
"Kalau begitu kami permisi dulu mbak mas, kalau ada apa-apa lagi bisa panggil suster jaga." Pamit dokter dan suster. Mereka pergi dari kamar Irya.
Nesha melepaskannya nafas dengan kasar hingga bahu nya terhentak. Mata nya memutar jengah dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Lalu Nesha memutuskan untuk meninggalkan kamar Irya.
Saat hendak melangkah Irya menarik tangan Nesha. "Eh... istri gue mau kemana sih ? Masa iya suaminya nya ditinggal sendirian." Goda Irya yang semakin membuat Nesha kesal setengah mati.
"Ck...Lepasin tangan aku." Ucap Nesha kesal. Tapi Irya tak melepaskan nya semakin membuat gadis itu kesal lantas menghempaskan dengan kasar tangan Irya hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan karena tangan nya terantuk pinggiran ranjang.
Darah merembes dari lengan baju panjang Irya. Mata Nesha melebar melihat darah itu keluar mengotori lengan baju Irya. Dengan cepat Nesha memanggil suster jaga.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏