Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 17. Di Telan Bumi


__ADS_3

Kedua remaja berusia 20 tahun itu tengah sibuk membersihkan lantai depan kamar bekas Fikih yang tak jauh dari dapur. Butuh waktu hampir satu jam untuk mereka membereskan tempat itu. Keringat membanjiri tubuh kedua remaja itu.


"Hhaahh... akhirnya kelar juga."


"Ternyata capek juga bersih-bersih kaya begini doang. Lu nggak capek Ir ?"


"Capek lah... tapi gue sering kalau disuruh bersih-bersih begini mah."


"Hah ? Sering ? Lu sering beresin rumah Lo sendiri ?"


"Nggak gitu Ris, gue sering disuruh bersihin WC di sekolah haha."


Aris menepuk jidatnya mendengar jawaban Irya yang sangat santai sekali. Terlihat memang jika Irya tak terlalu mempermasalahkan jika dirinya harus bersih-bersih toilet sekolah. Itu akibat dari kebiasaan buruk nya.


"Udah ah gue mau istirahat bentar abis itu mandi." Aris membereskan semua peralatan yang digunakan untuk bersih-bersih dibantu oleh Irya.


Berisitirahat sejenak sembari mengembalikan energi yang terkuras karena membersihkan ruangan sekaligus menyusutkan keringat. Mereka memilih berisitirahat di dalam kamar Aris.


"Bro... Gue masih ingat kejadian tadi sumpah gue pengen ketawa hahaha."


"Hahaha ternyata seru juga ya ngerjain orang lagi iya-iya begitu wkwkwk." Aris tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tadi hasil dari ke jahil mereka.


"Hahaha iya sumpah gue baru pertama kali ngerjain orang lagi iya-iya, eh ngomong-ngomong tadi gue nggak nyangka Lo bakal lempar mereka pake telur haha."


Irya sangat bahagia sekali bisa mengerjai Mita dan Rivan saat sedang melakukan pergulatan. Dia tidak berfikir sedikit pun jika seandainya itu terjadi pada lelaki playboy itu. Kelakuan Irya dan Rivan sama saja.


"Tadi pas Lo ambil air di kamar mandi gue ambil telur yang di simpan Mak deket kompor ya udah gue ambil aja buat nimpukin mereka."


"Itu kelakuan si Mita emang Abang Lo nggak tahu ?" Tanya Irya penasaran.


"Nggak kan dia pergi kerja di luar kota. Pernah ada yang kasih tahu sama dia kelakuan istrinya tapi dia nggak percaya, dia bilang kalau nggak lihat sendiri dia nggak percaya."


"Gila... kasihan juga ya tuh suaminya dapat istri yang kaya begitu modelan nya." Pikir Irya miris pada nasib Fikih. Dirinya yang seorang lelaki playboy berharap nanti bisa mendapatkan pasangan yang baik-baik.


Banyak yang mengatakan sebrengsek -brengsek nya laki-laki pasti menginginkan wanita baik-baik. Adil atau tidak ?? tapi rasanya tidak adil jika peran laki-laki juga tidak sedikit yang membuat para wanita kehilangan harga dirinya dengan iming-iming mulut manis dan lembut. Bukan wanita tak bisa menjaga diri terkadang terbuai mulut manis mampu menghilangkan akal sehat. Begitu pula wanita juga berharap mendapatkan laki-laki yang baik saat dirinya tak lagi dalam keadaan suci karena kesalahan itu juga mendapat peran dari seorang laki-laki. Bukan menyalahkan laki-laki ketika seorang wanita juga dengan sengaja mengumbar aurat nya. Laki-laki dan wanita sebenarnya adalah sama-sama makhluk lemah dalam hal menahan godaan dosa.


Memang harus pintar-pintar dalam mengelola emosi dalam diri, banyak yang mengedepankan ego untuk kesenangan sesaat tanpa memikirkan dampak di belakang nya seperti apa.


Irya masih saja tersenyum membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Hidup nya seakan merasa tenang di rumah Mak Isah. Jauh dari kejaran para gadis yang kecentilan, jauh dari para kekasih nya. Di tempat ini Irya tak perlu repot-repot membagi waktunya untuk para kekasih nya.

__ADS_1


Aktivitas nya seutuhnya untuk dirinya sendiri. Rasa hambar itu seakan memiliki rasa di tempat ini meski hanya sesaat karena Irya tak mungkin terus menerus tinggal di rumah Mak Isah.


Jauh di sana Danar merasa kesal dengan Irya karena hampir semua kekasih Irya menghubungi dirinya menanyakan keberadaan lelaki playboy itu. Mereka terus menghubungi Irya tapi sayang nomor lelaki itu tidak aktif sejak kemarin Danar lah yang menjadi sasaran mereka karena tahu Danar orang yang paling dekat dengan Irya.


"Ck... sialan si Irya, kemana aja sih tuh anak. Di telan bumi belahan mana dia. Di hubungi nggak bisa-bisa." Danar kesal dengan Irya, sebab sudah beberapa kali dirinya menghubungi sahabatnya itu tapi tidak bisa-bisa.


"Ck...dia yang punya pacar gue yang sibuk." Gerutu Danar.


"Kenapa jadi gue yang kena getah nya dari kelakuan tuh anak. Ponsel gue sampe lowbat gara-gara di telefonin mulu sama cewek-cewek nya si playboy." Danar terus saja menggerutu meluapkan semua kekesalannya pada Irya yang entah bersembunyi dimana.


Tak lama kekasih Danar datang, Anin datang ke apartemen milik Danar dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan.


"Sayang..."


"Loh kenapa itu muka nya kok di tekuk begitu ?" Tanya Anin. Bahkan dia melihat Danar melempar ponsel nya ke atas sofa.


"Si Irya ngeselin banget tahu nggak yank. Di hubungi dari kemarin nggak bisa-bisa. Cewek-cewek nya pada nyariin dia ke aku."


"Loh emang dari kemarin dia nggak ada kabar, nggak chat kamu gitu ?"


"Enggak yank, maka nya aku juga stres nih nyariin tuh anak. Kalau tahu mah mana aku sibuk nyariin dia."


"Sakit mungkin yank, kamu udah nengok dia ke rumah nya belum."


"Aku udah telfon ke rumah nya yank, kata bibi Jenab dia nggak pulang dari kemarin. Bibi Jenab khawatir sama tuh anak maka nya bukan cuma gara-gara cewek nya aja yang bikin aku stres, Bibi Jenab nyuruh aku nyari dia yang nggak ada kabar."


Danar dan Anin duduk di sofa, wajah Danar memang terlihat sangat kusut, rambut nya sudah acak-acakan. Sebegitu pusing nya dia mencari keberadaan Irya. Di senderkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Kamu udah makan ? Makan dulu yuk." Ucap Anin dengan lembut.


"Belum yank. Sini dong." Danar menarik lembut Anin agar mendekat pada nya.


"Ya udah ayo makan dulu, aku bawa makanan buat kamu." Anin sudah mendekat pada Danar. Lelaki itu merangkul tubuh Anin.


"Peluk dong yank, aku lagi mumet nih." Pinta Danar pada Anin. Tanpa menunggu jawaban Anin, dia sudah memeluk erat tubuh kekasihnya.


Pelukan yang mampu membuat Danar merasa lebih tenang dan nyaman. Anin tahu pasti, jika kekasihnya sedang bermasalah dia selalu meminta pelukan dari nya untuk sekedar menenangkan diri. Tangan lembut gadis itu mengusap-usap punggung kekasihnya. Mencoba menenangkan kekacauan yang ada di pikiran Danar. Pelukan itu cukup lama mereka lakukan.


"Udah yuk yank kita makan dulu, aku udah bawain makanan buat kamu."

__ADS_1


Kata-kata lembut itu selalu membuat Danar luluh. Dia melepas pelukannya dari sang kekasih. Di tatapnya kedua mata Anin, lalu mencium kening gadis tercinta nya.


"Terimakasih yank, kamu selalu buat aku tenang. Ya udah kita makan sekarang. Kamu sendiri udah makan ?" Tanya Danar menggandeng tangan Anin menuju meja makan.


"Aku juga belum makan, sengaja ke sini bawain makan siang buat kamu. Kita makan siang bareng." Ucap gadis itu dengan tersenyum. Senyum yang menenangkan. Semua yang ada pada diri Anin mampu membuat Danar merasakan ketenangan. Tidak salah dirinya menjatuhkan hati nya pada Anindya Sari. Gadis cantik, lemah lembut dan baik hati.


Sebagai seorang yang sangat menyayangi kekasihnya, Anin menyiapkan makan siang yang dibawa nya memindahkan nya di dalam piring. Satu untuk nya dan satu untuk Danar. Mereka berdua makan dengan lahap karena memang sudah jam makan siang.


"Sayang, nanti aku mau ke cafe kamu."


"Ke Cafe ? Mau ngapain ? Tumben ke cafe sendirian, nggak ngajak aku lagi." Satu sudut alis Danar terangkat naik.


"Ish... apa kamu curiga sama aku ? Tenang kali yank, aku nggak bakal macem-macem. Aku tuh ke cafe mau bantu-bantu di cafe kamu boleh ya ?" Anin menatap kekasihnya dengan tatapan memohon seperti anak kucing yang sedang menanti makanan, terlihat menggemaskan.


"Bantu-bantu gimana maksud kamu ?"


"Ya... bantu-bantu, kaya semacam karyawan kamu gitu. Boleh ya yank... please." Tatapan nya semakin menggemaskan dengan kedua tangan menyatu di depan dada nya memohon untuk diberikan ijin.


"No... aku nggak butuh karyawan yank. Masa kamu pacar aku jadi karyawan di sana sih, enggak aku nggak mau." Danar melanjutkan makan siang nya.


"Ish... kok nggak boleh sih... emang kenapa kalau aku pacar kamu. Kamu malu aku kerja di cafe kamu hemm ?" Mata menelisik diberikan Anin untuk Danar.


"Nggak gitu yank, tapi buat apa. Kamu nggak usah deh capek-capek kerja. Nanti orang tua kamu bilang apa tentang aku kalau kamu kerja di cafe aku."


"Yank, aku tuh pengen kaya Nesha, bisa kuliah sambil kerja juga, mandiri gitu kaya dia. Lagian kerja satu tempat sama Nesha kaya nya asik. Dari pada aku habis kuliah jalan-jalan, belanja-belanja nggak jelas. Boleh ya yank, nanti masalah orang tua aku biar aku yang kasih penjelasan sama mereka."


Yaa... Anin memang memiliki keinginan bekerja karena bertemu dengan Nesha di cafe kekasih nya. Nesha mendapatkan pekerjaan itu karena tawaran yang diberikan oleh Danar saat Nesha, Angga dan Devi mengerjakan tugas kuliah mereka di cafe milik Danar kemarin.


Sepulang bekerja Nesha bertemu dengan Anin karena menunggu jemputan Papa nya yang belum datang, jadi keduanya mengobrol bersama. Baru dua kali mereka bertemu tapi sepertinya mereka memiliki kecocokan untuk berteman.


...----------------...


Jangan lupa Vote !!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.


Terimakasih atas support nya ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2