Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 40. Terbongkar


__ADS_3

Satpam yang tinggi nya tidak seberapa dengan perut buncit, rambut botak pada bagian tengah nya dan kumis tipis tidak ada kesan menakutkan pada satpam rumah sakit itu.


Suara cempreng untuk ukuran laki-laki mampu membuat orang-orang yang ada disana tersenyum geli saat berusaha melerai Agnes dan Ranti.


Beberapa orang datang ikut melerai. "Lo pegangin nih yang baju item, gue pegangan yang baju pink." Ucap satpam memegang lengan Ranti dan pengunjung memegang lengan Agnes.


Disini yang menyerang terlebih dahulu adalah Ranti karena merasa kesal Irya memutuskan nya dan saat ini menjalin hubungan dengan Agnes.


Agnes yang tak terima diserang berusaha menendang Ranti tapi lengan nya terus digeret mundur menjauh dari Ranti. Sedangkan sang lawan pun sama berusaha keras mengejar Agnes. Terpaksa satpam memegang perut Ranti karena tenaga perempuan itu masih cukup kuat.


Setelah cukup kondusif lengan Agnes dilepaskan oleh pengunjung yang melerai. Sedangkan satpam masih memegang Ranti takut perempuan itu mengamuk lagi.


"Heh, Lo apaan sih meluk-meluk gue. Lepas !!" Ranti menggeliat risih di pegang oleh satpam. Reflek satpam melepaskan pegangannya.


"Cari-cari kesempatan Lo kumis kucing." Desis Ranti pada satpam itu.


"Bukan cari kesempatan mbak, situ nya aja yang di pisahin susah banget." Satpam menolak tuduhan mencari kesempatan. Tapi memang nyatanya Ranti dan Agnes susah untuk dipisahkan.


"Kalian berdua ikut saya ke pos keamanan." Ucap Seseorang yang baru saja tiba, rupanya dia adalah kepala keamanan rumah sakit.


Dengan kesal mereka berdua berjalan digiring oleh satpam menuju ruang keamanan. Nesha berlalu meninggalkan taman saat melihat para cewek Irya pergi mengikuti satpam.


"Astaga... ribut kaya gitu di tempat umum cuma gara-gara tuh cowok playboy mesum. Ish enggak banget deh." Gumam lirih Nesha yang berjalan menuju kamar Angga.


"Lagian mereka berdua juga ngapain disini, apa si cowok tengil itu sakit ? Nesha menebak-nebak keberadaan dua perempuan tadi. "Ish ngapain juga mikirin tuh anak." Nesha menyadarkan diri.


***


Irya terbaring di ranjang rumah sakit sembari mengobrol bersama Danar. Tak lama Rony datang bersama aji dan beberapa teman yang lain. Sebenarnya teman nongkrong Irya itu banyak hanya saja cuma beberapa orang saja yang dekat dengan Irya.


Irya tak ingin terlalu dekat dengan orang yang tak bisa dia percaya. Sifat Irya yang sebenarnya cuek, dingin dan datar membuat orang lain segan untuk lebih dekat lagi dengan nya kecuali Irya sendiri yang mendekati mereka.


"Bro gimana keadaan Lo ?" Tanya Rony sudah masuk di dalam kamar rawat Irya.


"Biasa aja begini. Lo lihat sendiri." Ucap Irya cuek.


"Dimana motor gue ?" Tanya Irya. Dia lebih memikirkan motor kesayangan nya daripada kondisinya sendiri. Motor dari hasil keringatnya sendiri.


"Motor Lo aman, udah kita bawa ke bengkel koh Bobby." Ucap Aji.


"Ini hasil rekaman dari kamera di motor Lo." Rony menunjukkan rekaman video dari kamera yang terpasang di motor Irya.


Irya dan Danar melihat isi rekaman itu. Dengan tatapan datar Irya memandang isi rekamannya. Terlihat memang disaat balapan berlangsung, Exel berusaha menendang motor Irya tapi tidak bisa lalu tanpa putus akal Exel membenturkan ban depan nya ke motor Irya bagian belakang sebelah kiri sehingga Irya oleng dan ambruk hingga terseret beberapa meter meski tidak terlalu jauh.

__ADS_1


"Jadi, dia sengaja mau buat gue celaka. Apa alasannya ? Selama ini baik-baik aja habis gue tanding sama dia." Batin Irya.


"Dilihat dari isi video itu, kayak nya Exel sengaja celakain Lo bro. Lo mau kasusin masalah ini ke kantor polisi nggak bro ?" Tanya Rony.


"Nggak usah biarin aja." Putus Irya. Memilih diam karena Irya masih memikirkan banyak hal. Pertama, dirinya sendiri jika melaporkan pada polisi akan menghabiskan waktunya sia-sia. Exel pasti akan dibantu oleh keluarga nya sedangkan dirinya hanya sendiri.


Irya tak mau menyusahkan dirinya sendiri lagi berurusan dengan kepolisian. "Tapi dia sengaja nyelakain Lo Ir, masa iya Lo diam aja." Rony tak mengerti kenapa Irya tidak bertindak.


"Biar gue sendiri yang cari tahu alasan dibalik dia nyelakain gue. Gue mau sembuhin kaki gue dulu." Tutur Irya.


"Irya bener Ron, biar dia sembuhin kaki nya dulu habis itu biar Irya memikirkan langkah selanjutnya." Imbuh Danar yang menyetujui keputusan Irya.


"Oke gue paham. Emang lebih baik Lo sembuh aja dulu baru nanti kita urus. Lo bisa minta bantuan gue sama anak-anak." Ucap Rony.


"Thanks Ron." Ucap Irya tersenyum tipis.


"Oh ya, Ir... gue harus ke cafe dulu ada yang mau gue urus. Ron, Lo masih lama kan ? Gue titip Irya dulu." Ucap Danar.


"Tenang gue jagain Irya, Lo kalau mau pergi nggak apa-apa. Gue sama anak-anak disini." Ucap Rony. Danar sudah sedari semalam menjaga Irya kasihan bila tidak diberikan waktu istirahat pikir Rony.


"Oke, Ir gue pergi dulu nanti gue bakal kesini lagi." Pamit Danar, Irya mengangguk paham.


"Hati-hati Lo." Ucap Irya.


***


"Ini nih antar kemeja nomor 20. Kerja yang bener jangan kaya temen Lo tuh kerjaan nya bolos kerja mulu." Ucap Shintya dengan nada memerintah.


"Aku habis ngantar makanan, habis ini mau bersihin meja depan. Kamu aja yang antar lagian kamu nggak ngapa-ngapain kan." Ucap Anin memang benar kenyataannya, Shintya tidak melakukan apapun bisa nya perintah sana sini saja.


"Lo berani ngebantah gue huh !!" Shintya mendorong bahu Anin.


Danar geram melihat kelakuan Shintya pegawai nya yang memang paling mencolok dibandingkan yang lain. Shintya berani kasar pada Anin bahkan Danar saja tidak pernah berbuat kasar pada Anin, gadis itu tidak pernah ada yang bermain kasar pada nya karena tutur kata yang sopan dan perilaku yang baik.


Apanyang dikatakan kekasih dan sahabat nya memang benar adanya. Danar sudah membuktikan nya sendiri. Danar berjalan mendekati Shintya di belakang perempuan itu.


"Ada apa ini ?" Tanya Danar, suara tegas nya keluar, menahan rasa geram melihat sang kekasih diperlakukan seperti itu.


Sejak memutuskan bekerja menjadi pegawai di cafe Danar, Anin memang sudah mengatakan pada Danar agar tidak memberitahu kan status nya sebagai kekasih Danar. Anin jarang sekali berkunjung di cafe Danar jika tidak penting, banyak pegawai silih berganti membuat mereka tidak menyadari jika Anin adalah kekasih Danar. Yang tahu jika Anin kekasih Danar hanyalah Hamka dan Nana. Ya, Nana si koki cantik itu diam-diam tahu jika Anin kekasih Danar karena saat Nana pergi bersama kekasih nya pernah melihat Danar dan Anin yang sedang berkencan.


"Dia Pak, kerja nya nggak beres. Saya tegur nggak mau malah marah-marah sama saya." Shintya mengeluarkan jurus aktingnya. Tapi sayang Danar sudah melihat sendiri.


"Perempuan licik memang pantas saja bisa bertahan disini." Batin Danar.

__ADS_1


"Lanjutkan kerja mu. Jangan membuat keributan malu sama pengunjung. Anin ikut saya."


Shintya dalam hati sangat senang, pikirannya pasti Anin akan ditegur habis-habisan oleh Danar. Anin mengikuti Danar berjalan ke ruangan Danar. Semua pegawai memandang Anin, batin mereka kasihan dengan nasib Anin. Shintya yang bersalah tapi Anin yang dipanggil.


Di dalam ruangan nya Danar menutup pintu dan menguncinya. Danar mendekat pada Anin dan memeluk tubuh gadis itu. "Sayang kamu nggak apa-apa ?" Tanya Danar dengan suara lembut.


Anin menggeleng dalam dekapan Danar. "Udah beberapa kali jadi nggak apa-apa." Anin mengadu pada kekasih nya. Danar sudah tahu sendiri jadi tidak ada yang harus ditutupi lagi.


"Keterlaluan perempuan itu. Aku aja nggap pernah kasar sama kamu. Dia berani-beraninya kasar. Nggak tahu dia yang dikasarin bos cafe ini juga." Ucap Danar mengusap lembut kepala Anin.


"Aku nggak apa-apa yank, aku masih bisa lawan dia. Nesha tuh yang kasihan diam aja kalau di kasarin Shintya. Hari ini dia nggak masuk, biasanya dia yang lerai kita."


Danar melepas pelukannya, mencium kening Anin dan berpindah mencium bibir Anin sekilas ******* nya. "Ijin kemana dia hari ini ?" Tanya Danar menggandeng tangan kekasihnya dan duduk di sofa. Danar memangku Anin tak membiarkan duduk sendiri. "Duduk disini aja, biar aku bisa peluk kamu." Ucap Danar, Anin menurut.


"Nggak tahu yank, mungkin pamit sama kak Hamka."


Danar menggunakan waktunya untuk bersama sejenak dengan kekasihnya. Sejak Anin bekerja di cafe nya, waktu mereka sedikit berkurang untuk bermanja-manja berdua. Danar selalu memperlakukan Anin dengan lembut dan penuh cinta.


"Sayang nanti pulang nya sama aku aja ya, Irya masuk ke rumah sakit."


"Loh kok bisa ? Gimana ceritanya ?" Anin terkejut mendengar Irya masuk rumah sakit lagi.


Pasangan kekasih itu memang memperlakukan Irya dengan baik, seperti saudara mereka sendiri.


"Kecelakaan kemarin. Biasa balap motor."


"Ck... dia kenapa hidup nya menyedihkan sih yank. Kasihan dia tuh." Ucap Anin bergelayut manja melingkarkan tangan nya di leher Danar.


"Iya yank, nggak tahu lah. Kaya nya dia butuh seseorang yang bisa buat hidup nya lebih berarti dan lebih terarah."


"Semoga aja dia nemu yang cocok yank, si Agnes emang nggak bisa gitu bimbing dia." Tanya Anin.


"Irya nggak cinta sama Agnes yank, nggak tahu deh tapi bisa paling lama gitu pacaran nya."


"Ya udah kamu lanjut kerja lagi nanti yang lain curiga lagi. Aku mau panggil Hamka dulu." Imbuh Danar. Sebelum Anin turun dari pangkuan nya, pria itu mendekatkan wajah nya pada Anin, memegang tengkuk Anin dan mencium hingga ******* bibir Anin yang kenyal, keduanya saling ******* satu sama lain menyalurkan rasa cinta mereka.


...----------------...


Jangan Lupa VOTE !!!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.

__ADS_1


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2