
Miranda bingung apa yang harus dilakukan nya, Irya hanya diam saja sejak tadi menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok sembari memainkan ponsel nya.
"Ehem... Irya." Panggil Miranda.
"Hm..." Hanya deheman saja yang Irya berikan sembari menyesap rokok nya.
"Mmm... maksudnya negosiasi gimana ya ?" Tanya Miranda ragu.
"Maksud Lo deketin gue buat apa ?" Jawaban Irya adalah pertanyaan untuk Miranda.
"Gue...emm..." Miranda malah menggigit bibir bawahnya. Kenapa sekarang Miranda malah gerogi dan takut begini. Biasanya gadis itu dengan percaya diri mendekati pria yang sedang diincarnya.
Irya menatap datar pada Miranda, tatapan itu menjadi tatapan yang terlihat cool dimata lawan jenisnya. Menunggu jawaban apa yang akan di ucapkan oleh gadis di depannya.
"Lo buang-buang waktu gue mending Lo pulang." Usir Irya pada gadis itu. Tak suka bertele-tele dalam hal seperti ini.
"Eh... negosiasi apa yang harus gue lakuin sama Lo ?" Pertanyaan yang muncul karena kepepet jangan sampai Irya pergi dari hadapannya.
"Tujuan Lo deketin gue ?" Tanya Irya kembali.
"Lo bisa jawab atau Lo bisa pergi." Ucap Irya
"Gue tertarik sama Lo." Jawab Miranda. Irya tersenyum sinis. "Apa yang bisa Lo lakuin buat gue ?" Lagi-lagi pertanyaan yang diberikan Irya membuat Miranda tak mengerti maksud nya.
"Maksud Lo ?" Tanya Miranda. Irya menghisap rokok nya dan menghembuskan nya di wajah Miranda. "Gue udah punya cewek, dia cukup memuaskan buat gue." Irya menatap Miranda.
"Lo bisa lebih ?" Irya tersenyum sinis. "Emang gue harus apa ?" Seorang Miranda bisa mengajukan pertanyaan polos yang membuat Irya semakin tersenyum sinis.
"Lo bisa tanya sama Rony apa yang harus Lo lakuin." Kini Irya menyesap kopi nya. Miranda berpikir keras, bertanya dengan Rony sama saja memberikan dirinya untuk diremehkan oleh pria itu.
Seorang Miranda tidak pernah diremehkan oleh pria manapun terlebih dengan kemampuan yang dia miliki dalam menaklukkan pria. Baru kali ini Miranda bertemu dengan pria yang sulit bahkan malah membuatnya bingung sendiri.
Miranda nekat duduk semakin dekat dengan Irya. Kemampuan nya menggoda pria kini mulai diperlihatkan setelah membeku karena sikap Irya.
"Apapun yang cewek Lo lakuin gue bisa juga." Bisik Miranda yang semakin mendekat pada Irya. Tangan Miranda mulai berpegangan pada lutut Irya perlahan meraba semakin ke atas.
"Kalau Lo bisa gue nggak butuh disini." Ucap Irya datar. Dalam hati tersenyum sinis. Memang sangat mudah sekali menaklukan wanita tanpa harus banyak menggombal atau menggoda pikir Irya.
"Lo mau dimana ?" Bisik Miranda. "Lo yakin ?" Tanya Irya memastikan. "Gue butuh buat lihat kemampuan seseorang sebelum terima tuh orang." Imbuh Irya.
Miranda terdiam dan cukup berfikir. Mendekati Irya ternyata tidak mudah, sekali digoda langsung luluh. "Gue yakin. Sebut apa yang bisa gue lakuin." Seakan benar-benar menerimanya tantangan dari Irya.
Irya tahu perempuan model apa Miranda. Dia bukan gadis polos dan baik-baik. Tidak mungkin gadis polos kluyuran dan nongkrong di tempat seperti ini yang notabene lebih banyak pria nakal seperti dirinya daripada pria baik-baik.
__ADS_1
"Bukan gue yang harus Lo taklukkan tapi si raja gue yang harus Lo taklukin." Ucap Irya memandang ke arah bawah bagian inti nya. Miranda paham akan hal itu, dia tersenyum. "Sebelum gue taklukin, bisa gue kenalan dulu ?" Tanya Miranda tersenyum.
"Tentu, perkenalkan semua yang ada dalam diri Lo sama raja gue. Biar dia yang nilai gimana Lo nanti."
"Bisa langsung dimulai ?" Tanya Miranda. Irya tak terkejut justru tersenyum tipis. Perempuan seperti ini pasti mudah untuk di taklukkan dan pasti akan lebih mudah untuk diatur.
Irya berdiri negosiasi yang berjalan sedikit alot karena sekelas Miranda masih harus dijelaskan terlebih dahulu. Miranda mengikuti langkah Irya menuju meja Rony dan kawan-kawan.
"Hei bro... gimana rada alot nih kayak nya." Ucap Rony yang saat ini lebih tahu bagaimana sikap Irya karena bukan lagi Danar yang selalu ada untuk Irya.
"Masih harus belajar kayak nya bro." lirik Irya ke arah Miranda. "Hahaha Lo ajarin lah biar pinter." Ucap Rony tersenyum mengejek.
"Ck... kalau mau belajar jangan sama gue, sama yang lain dulu baru datang ke gue." Ucap Irya datar. Mata Miranda melebar.
"Oh iya bro yang kemarin udah bisa Lo cek." Rony menginformasikan hadiah balap liar yang kemarin Irya kemarin lakukan sudah di transfer ke dalam rekening Irya.
Hadiah balap liar itu lumayan besar jadi sistem pemberian hadiah nya berbeda dengan hadiah-hadiah kecil dan receh.
"Thanks bro. Gue cabut dulu." Irya pergi dengan diikuti oleh Miranda.
"Waahh gila, jadi juga tuh si Irya sama Miranda." Ucap Aji.
"Belum tentu juga, gimana kalau kita taruhan. Irya bakalan jadi sama Miranda atau enggak." Ucap Rony.
"Lima ratus ribu... ada yang mau ikut nggak ?" Rony menawarkan taruhan pada teman-teman yang lain.
Permainan yang seru dengan hadiah yang cukup menarik. Tentu banyak yang tertarik dari beberapa teman-teman Rony. Hadiah yang terkumpul lumayan banyak untuk taruhan kali ini. Bahkan bisa mencapai 7 juta hanya perlu memegang pilihan antara di terima atau tidak.
"Oke, kita tunggu besok pas kita nongkrong lagi sama tuh anak kita tanya hasil nya gimana." Ucap Rony kembali menyesap minuman dan rokoknya.
Teman-teman perkumpulan Irya memang suka melakukan taruhan, balap liar dan beberapa hal lain nya. Tapi semakin besar mereka sudah tak lagi melakukan aksi tawuran seperti dulu lagi.
***
Malam ini Nesha pulang dengan di jemput oleh Angga. Ayah Nesha sedang sibuk dengan berbagai tugas dari sekolah nya karena baru saja melakukan ujian yang mengharuskan ayah Nesha mengecek nilai-nilai siswa.
"Doorr !!" Nesha mengagetkan Angga yang sedang sibuk dengan ponsel nya. Dan benar Angga terkejut hampir saja ponsel nya terjatuh karena terkejut.
Wajah Angga terlihat sedikit pucat segera Angga menggenggam erat ponsel nya agar tidak terjatuh dan menyimpan nya di dalam saku celana.
"Hahaha ya ampun kaget wkwkwk." Nesha tertawa terbahak bahak. "Eh... bentar kok pucat sih di kagetin doang. Kamu sakit Ga ?" Tanya Nesha.
"Eh nggak lagian kamu ngagetin kan aku terkejut." Ucap Angga.
__ADS_1
"Hahaha iyaa maaf... lagian kamu fokus banget sama ponsel mu. Lama banget ya nunggu aku ?" Tanya Nesha.
"Lumayan makanya aku main ponsel biar nggak bosen nunggu kamu nya. Udah selesai kan ?"
"Udah kok, ayo pulang. Tapi aku laper kita makan dulu ya." Pinta Nesha pada Angga dengan nada memelas dan manja nya.
Dengan Angga gadis itu memang tak malu mengeluarkan semua sifat dan sikap nya. Lama berteman membuat mereka tak menutupi sifat dan kebiasaan mereka satu sama lain.
"Iya..iya... kita makan di warung tenda Bu Sentot ya. Pengen makan pecel lele nih." Ajak Angga memilih tempat makan.
"Oke... tapi traktir ya hihi." Nesha tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Beres cantik... ayo naik." Apa saja akan Angga turuti untuk Nesha. Menyenangkan hati Nesha adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuk Angga.
Mereka berdua berboncengan dengan motor matic milik Angga. Selalu saja ada pembicaraan yang membuat keduanya tertawa bersama dalam perjalanan mereka dimana pun berada.
Di jalan Irya tak sengaja bertemu dengan Nesha dan Angga. Memperhatikan pasangan sahabat itu yang tengah berboncengan mesra. Menurut Irya untuk ukuran seorang yang sedang bersahabat hal yang dilakukan Angga dan Nesha itu tergolong romantis. Meski Nesha membonceng Angga tidak berpelukan seperti Miranda yang tengah memeluk Irya.
Angga dan Nesha tak melihat jika Irya berada di satu jalanan dengan mereka. Hanya tiba-tiba motor Angga di salip dengan kencang oleh motor sport.
"Waduh... Kaget gue." Ceplos Angga saat motor sport dengan suara besar menyalip motor nya.
"Ish itu orang mentang-mentang pakai motor bagus sembarangan aja bawa motornya." Nesha juga kesal dengan motor yang menyalip nya baru saja.
"Maklum Nes... orang kaya mah gitu. Eh udah hampir sampai." Ucap Angga.
Tinggal jarak 2 meter mereka berdua sudah sampai di warung tenda Bu Sentot. Pecel lele Bu Sentot memang sangat enak dan selalu ramai setiap malam. Angga dan Nesha tidak pernah salah memilih warung makan sebagai daftar favorit mereka. Hampir semua tempat yang mereka pilih selalu jadi tempat favorit bagi banyak orang karena kelezatan nya.
"Bu pecel lele dua ya sama es teh nya juga 2." Pesan Angga pada Bu Sentot.
"Oke mas, ditunggu dulu ya." Ucap Bu Sentot.
Warung makan tenda dengan duduk lesehan sangat nikmat sekali. Terkesan sederhana tapi cita rasa makanannya tidak kalah dengan warung makan yang mahal.
Saking ramai nya pesanan Nesha dan Angga sedikit lama datang tapi pada akhirnya mereka dapat juga menikmati pecel lele Bu Sentot dengan lalapan dan sambel yang khas ala buatan tangan Bu Sentot. Angga dan Nesha lahap sekali memakan nya.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏