Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 30. Ditahan


__ADS_3

Tidak ada aktivitas apapun membuat Irya santai sekali. Tidur dan main saja yang di lakukan oleh Irya. Sepulang dari bepergian nya Irya masuk ke dalam dengan santai. Di ruang tamu sudah ada beberapa orang yang asing wajah nya menurut Irya. Ketiga orang itu berdiri saat melihat Irya.


"Den, ini ada yang nyariin Aden... kata nya dari pihak kepolisian." Bibi Jenab menghampiri Irya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Irya ingat bahwa saat dirinya di skorsing Pak Rahmat pernah mengatakan jika akan ada pihak kepolisian yang datang untuk memeriksa kasus tawuran waktu lalu.


"Iya Bu, Irya temui mereka dulu. Terimakasih ya Bu." Ucap Irya tersenyum pada bibi Jenab.


"Tapi den... Aden ada masalah apa kok ada kepolisian yang datang ?" Bibi Jenab terlihat dari raut wajahnya yang khawatir pada Irya.


"Enggak ada apa-apa Bu. Ada keperluan sedikit aja. Sebentar ya Irya ke sana dulu. Ibu masuk aja lanjutin kerja nya." Irya memegang bahu bibi Jenab menenangkan asisten rumah tangganya yang sudah dianggap nya sebagai ibu.


"Iya den ibu masuk dulu tapi beneran kan den enggak ada apa-apa ?"


"Iya Ibu semua baik-baik aja." Irya tersenyum. Tidak ada wajah yang terlihat membuat orang lain khawatir. Wajah tenang yang Irya tunjukkan.


Setiap apapun yang dilakukan pasti akan ada konsekuensi nya Irya tahu itu. Dengan tenang berjalan menemui 3 orang dari pihak kepolisian yang menggunakan pakaian preman yang sudah berdiri dari duduknya saat melihat Irya. Mereka bersiap untuk mendekati Irya takut jika Irya akan kabur. Di luar dugaan mereka Irya kooperatif dan sadar akan apa yang harus dilakukan.


"Selamat siang Pak. Maaf silahkan duduk kembali." Irya membuka suara ketika sudah berada di ruang tamu. Dengan sopan mempersilahkan tamunya duduk kembali.


"Selamat siang saudara Irya. Kami dari pihak kepolisian datang ke sini untuk melakukan tugas kami. Berdasarkan surat perintah kami harus membawa Anda ke kantor untuk melakukan pemeriksaan terkait aksi tawuran." Salah satu dari pihak kepolisian memberikan surat perintah yang mereka bawa.


Irya menerima dan membaca nya. Tidak ada perlawanan dari Irya. Surat itu kembali diberikan kepada polisi.


"Baik Pak, mari." Ucap Irya menyerahkan tangannya di hadapan polisi.


"Maaf saudara Irya, mari silahkan jalan saja kami tidak akan memborgol tangan anda. Anda cukup kooperatif kami menghargai itu."


"Terimakasih Pak. Tapi maaf apa boleh saya berpamitan terlebih dahulu pada ibu saya. Salah satu dari kalian boleh menemani saya." Pinta Irya pada polisi sebelum mereka pergi meninggalkan rumah.


"Baik silahkan, salah satu anggota saya akan menemani anda."

__ADS_1


Berjalan dengan dirangkul pundak nya oleh polisi bertemu dengan bibi Jenab di dapur. Melihat kedatangan Irya, bibi Jenab mengentikan pekerjaan nya.


"Bu, Irya pergi dulu sebentar ada yang harus Irya selesaikan masalah sekolah." Pamit Irya pada bibi Jenab. Wajah keriput itu memang menampakkan wajah khawatir sedari tadi perasaan nya memang tidak enak dengan kedatangan orang-orang itu. Mata bibi Jenab berkaca-kaca tahu bahwa orang yang bersama Irya adalah anggota kepolisian.


"Ada masalah apa ini den, Pak kenapa ini den Irya dibawa ?" Tanya bibi Jenab air mata nya sudah mengalir tak bisa ditahan lagi. Hati nya sedih dan takut Irya dibawa oleh polisi.


"Ibu, Irya nggak kenapa-kenapa. Irya cuma sebentar, ibu jangan nangis seperti ini." Irya mengusap air mata bibi Jenab dan memeluk wanita tua itu.


"Maaf Bu, kami bawa sebentar anak nya nanti kembali lagi kok." Polisi itu ikut menenangkan bibi Jenab ada rasa kasihan melihat bibi Jenab menangisi Irya.


Saat mereka datang ke rumah Irya bibi Jenab yang membukakan pintu saat bertanya keberadaan Irya, bibi Jenab mengatakan jika majikan nya sedang pergi tidak tahu kemana karena dirinya hanya seorang pembantu di rumah ini. Tapi polisi itu melihat bagaimana Irya memperlakukan asisten rumah tangga membuatnya tersentuh. Sebenarnya Irya anak yang baik hanya salah pergaulan saja pikir polisi itu.


Irya melepaskan pelukan bibi Jenab dan mengusap sisa air mata di pipi Jenab. "Sudah ya, ibu jangan nangis. Irya pamit dulu." Tangan bibi Jenab masih memegang lengan Irya yang perlahan terlepas darinya air matanya kembali menetes deras, meraung menangis nama Irya.


Irya berjalan menjauh dari bibi Jenab menuju keluar rumah dengan ketiga polisi itu dan masuk ke dalam mobil. Masih dengan wajah yang tenang Irya duduk di dalam mobil menikmati perjalanan yang tidak istimewa itu.


Sampai di kantor polisi dilakukan pemeriksaan terhadap Irya atas kasus tawuran. Beberapa jam pemeriksaan itu berjalan. Setelah pemeriksaan Irya tidak bisa pulang melainkan dilakukan penahanan terhadap Irya. Dari keterangan yang terkumpul sudah jelas Irya ikut melakukan aksi tawuran. Tidak hanya Irya tapi beberapa temannya juga ditahan namun tempat penahanan mereka berbeda. Teman-teman Irya ditahan di ruangan khusus tahanan dibawah umur. Sedangkan Irya di ruang tahanan biasa karena dilihat sesuai umur Irya bukan lagi anak dibawah umur. Usia Irya sudah 20 tahun saat ini, sudah 2 kali tidak naik kelas membuat nya masih bersekolah diusia yang sudah terbilang tua bagi pelajar SMA.


Sudah 2 hari Irya ditahan di kantor polisi, belum ada seorangpun yang datang untuk menemui Irya atau mencari tahu bagaimana keadaan Irya. Danar pun tak tahu karena tidak mendapatkan kabar. Sedangkan orang tua Irya entah mereka memang tidak bisa Irya andalkan saat dirinya bermasalah.


Di rumah Irya


Suci dan Broto baru saja pulang dari tempat kerja mereka masing-masing. Broto memiliki perusahaan di bidang properti sedangkan Suci memiliki bisnis di bidang fashion, wanita paruh baya itu memiliki beberapa butik yang harus di urus nya sendiri.


"Selamat sore Tuan...Nyonya..." Sapa Bibi Jenab.


"Sore Bi... siapkan teh hangat ya Bi." Pinta Suci.


"Papa mau kopi ?" Tanya Suci pada Broto.


"Boleh Ma...Bi, dimana Cindy ? Tanya Broto yang tidak melihat putri nya.

__ADS_1


"Bi, sama kopi ya tadi Tuan mau kopi." Ucap Suci.


"Baik Tuan... Nyonya. Oh iya Non Cindy sedang ada di kamar nya. Kalau den Irya sejak kemarin tidak pulang sejak kedatangan dari pihak kepolisian yang membawa den Irya." Bibi Jenab menjelaskan keberadaan anak majikan nya.


Suci menaikkan satu alis nya mendengar Irya dibawa polisi. Ada rasa ingin tahu tapi ditahannya terlebih dahulu melihat reaksi suaminya tapi suaminya tak bergeming.


"Dibawa polisi Bi ?" Tanya Suci memperjelas apa yang di dengarnya.


"Iya Nyonya. Kemarin ada polisi yang datang mencari den Irya lalu mereka membawa den Irya hingga sampai hari ini den Irya belum pulang juga." Raut kekhawatiran masih terlihat jelas saat bibi Jenab menceritakan kejadian 2 hari yang lalu.


"Pa ?" Panggil Suci pada Broto.


"Biarkan saja. Sudah resiko nya melakukan kesalahan. Jika memang dia ditahan berarti anak itu memiliki kesalahan. Aku pusing memikirkan anak itu. Merepotkan saja."


"Tapi dia berada di kantor polisi Pa sekarang. Apa tidak mau menjenguk nya dulu setidaknya tahu bagaimana kondisinya." Ucap Suci.


"Waktu ku sudah cukup terbuang sia-sia oleh anak bodoh itu. Jika kamu ingin menjenguk nya jenguk saja sendiri. Aku lelah." Broto berlalu ke lantai dua dimana kamarnya berada.


"Bi, jangan lupa teh sama kopi nya ya." Suci mengingatkan bibi Jenab akan pesanan nya dan berlalu menyusul suaminya.


Bibi Jenab meneteskan air mata nya dan mengelus dada. Broto dan Suci bersikap acuh dan tak perduli pada Irya padahal Irya juga bagian dari keluarga Sanjaya tapi kenapa yang selalu mereka perhatikan hanya Cindy. Sejak dulu Irya terabaikan oleh mereka. Sungguh malang nasib Irya orang tuanya sendiri memperlakukan nya dengan tidak adil.


"Ya ampun tuan dan nyonya kenapa kalian tega seperti itu pada den Irya. Apa salah den Irya." Bisik bibi Jenab dalam hati. Miris sekali, di saat kesulitan nya bahkan berhadapan dengan hukum saja kedua orang tua nya tak perduli sama sekali.


"Ya Tuhan Den, semoga kelak kamu jadi anak yang sukses. Tetap kuat dan semangat den. Ibu selalu mendoakan mu." Hati bibi Jenab sangat sedih. Anak yang sejak dulu di asuhnya dengan penuh kasih sayang meski bukan anak kandung nya tapi bibi Jenab menganggap Irya sebagai anak kandung nya. Irya anak yang baik, sopan dan penuh kelembutan dimata bibi Jenab. Meski semenjak dewasa bibi Jenab tak begitu paham bagaimana pergaulan Irya tapi tetap dimata nya Irya anak yang baik.


...----------------...


Jangan Lupa VOTE !!!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.

__ADS_1


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2