Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 31. Lebih Tahu Rasanya


__ADS_3

Waktu skorsing sudah habis tapi Irya masih saja ditahan di kantor polisi. Sampai detik ini tidak ada yang menjenguk Irya. Bersama tahanan yang lain Irya melakukan kegiatan kerja bakti. Saat membersihkan rumput dan sampah disekitar nya terjadi lah aksi keributan yang dipicu saling ejek antar tahanan. Seorang tahan yang satu ruangan dengan nya sudah terbaring lemah tak berdaya tapi tahanan yang lain masih saya ingin memukul nya. Irya melihat tahanan yang masih berdiri itu hendak memukul dengan batu yang cukup besar. Melihat itu tergerak hatinya untuk menolong teman nya yang sudah tak berdaya itu, mencoba menghalangi nya dengan tubuhnya tapi kejadian itu sangat cepat sehingga terkena kepala Irya.


Rasa berdenyut sakit Irya rasakan di bagian kepalanya. Mata nya berkunang-kunang dan akhirnya tidak sadarkan diri. Tubuh Irya ambruk di samping tahanan yang sudah lemah tak berdaya. Dengan cepat beberapa tahanan yang lain membawa Irya dan Bagas nama tahan yang dibela oleh Irya. Berteriak memanggil petugas keamanan agar bisa membawa Irya dan Bagas ke rumah sakit.


Darah segar terus mengalir dari kepala samping Irya. Wajah yang selalu tampan itu kini terlihat pucat. Mobil ambulans kebawa Irya dan Bagas dengan cepat keduanya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Para tenaga kesehatan bergerak sigap menyambut Irya dan Bagas yang diturunkan dari mobil ambulans. Keduanya dibawa masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan.


Hingga hampir satu jam sepasang paruh baya datang ke rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Mereka menunggu di depan ruang IGD, keberadaan mereka di rumah sakit karena mendapatkan telepon dari pihak sipir tahanan jika putra mereka masuk rumah sakit.


Dokter keluar dari ruang IGD dan langsung disambut oleh sepasang paruh baya yang menanyakan kondisi anak mereka.


"Dokter bagaimana keadaan anak kami ?" Tanya sepasang suami istri itu dengan kompak.


"Maaf pasien atas nama siapa karena di dalam ada dua orang ?" Tanya dokter bingung.


"Bagas Pratama dokter." Ucap Erik.


Ya, Erik Pratama adalah Ayah dari Bagas Pratama tahanan yang dibela oleh Irya.


"Pasien atas nama Bagas Pratama kondisi nya baik-baik saja hanya beberapa luka lebam di bagian wajah saja dan kekurangan cairan." Dokter menjelaskan. Erik dan Amelia merasa sedikit lega karena anak nya tidak parah.


"Syukurlah, terimakasih dokter." Ucap Amelia.


"Baik kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pergi dengan terburu-buru.


Tak lama dua orang petugas tahanan datang ke rumah sakit berjalan menuju depan ruang IGD. Erik dan Amelia melihat kedatanganku kedua petugas tersebut.


"Permisi, Pak boleh kami bertanya ? sebenarnya bagaimana ini bisa terjadi ?" Tanya Erik pada petugas tahanan.


"Mari kita duduk dulu Pak." Ucap petugas.


Mereka duduk di ruang tunggu, petugas mulai menceritakan kejadian berdasarkan saksi mata di TKP. "Begini Pak, menurut keterangan para tahanan yang lain kejadian ini dipicu oleh saling ejek antara Bagas dengan tahan yang lain hingga terjadilah keributan. Bagas di keroyok oleh dua orang hingga hampir tak sadarkan diri untung saja ada satu tahanan lain yang menolong Bagas kalau tidak mungkin menurut para tahanan disana Bagas sudah tidak ada. Sekarang satu orang tahanan yang menolong Bagas juga ada di dalam Pak." Tutur penjagaan tahan.


"Maksud Anda ada tahanan lain yang menolong anak saya hingga ikut terluka ?" Tanya Amelia memperjelas pendengaran nya.


"Benar Bu, dan kondisinya justru lebih parah dari Bagas."


Amelia melebarkan matanya dan menutup mulutnya. Separah apakah perkelahian itu hingga mengakibatkan satu orang terluka lebih parah dari Bagas.

__ADS_1


"Siapa tahanan yang menolong Bagas ?" Tanya Erik penasaran.


"Namanya Irya Pak, tahanan baru beberapa hari yang lalu."


Dokter keluar dari ruangan IGD membuat dua petugas tahanan dan orang tua Bagas menoleh. "Keluarga pasien atas nama Irya apakah ada ?" Tanya dokter pada orang yang ada di depan IGD.


"Maaf dokter keluarga belum ada yang datang. Saya sebagai penanggungjawab dari lapas. Ada apa dokter."


"Pasien mengalami banyak kelihatan darah dan membutuhkan donor darah. Kepalanya ternyata terluka cukup parah tapi untung nya tidak terlalu fatal." Jelas dokter pada petugas tahanan.


"Baik segera lakukan yang terbaik saja dokter. Tapi maaf persediaan darah dengan golongan darah pasien saat ini sedang kosong. Kami harus mencari dulu kalau bisa tolong bantu kami juga untuk mencari pendonor darah untuk pasien.


"Apa golongan darah nya dokter ?" Tanya Erik yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan dokter.


"Golongan darah nya B Pak."


"Golongan B dokter ?" Tanya Erik mata nya saling pandang dengan Amelia.


"Golongan darah saya B dokter, saya bersedia mendonorkan darah untuk nya." Ucap Amelia.


"Baik mari silahkan kita periksa dulu." Dokter meminta Amelia untuk mengikutinya melakukan tes pemeriksaan sebelum melakukan pendonoran darah. Amelia cepat mengikuti langkah dokter. Sebagai balas budi karena pasien itu telah menyelamatkannya anak nya hati Amelia sebagai manusia terketuk untuk menolong.


Satu hari berlalu Amelia masih diperbolehkan menunggu Bagas, keadaan Bagas masih lemah. Sedangkan Irya masih belum sadar tak ada satupun keluarga yang datang menjenguk Irya. Menjelang sore baru Danar datang ke rumah sakit karena saat menelpon rumah Irya, bibi Jenab mengatakan jika Irya beberapa hari tidak pulang setelah dijemput oleh polisi. Jadi, Danar mencari informasi di kantor polisi dan mendapatkan informasi jika Irya dibawa ke rumah sakit karena kejadian keributan di dalam lapas.


Melihat sahabatnya yang terbaru tak berdaya di atas ranjang rumah sakit membuat hati Danar sedih. Bahkan Danar sempat bertanya pada petugas tahanan apakah ada yang mengurus masalah Irya dan menjenguk nya, Danar mendapati informasi jika sama sekali tidak ada yang datang menjenguk Irya.


"Ir, gue sih lihat Lo kaya gini. Hidup Lo terlalu miris Ir. Bahkan keadaan Lo kaya gini nggak ada satupun keluarga Lo yang jenguk." Gumam Danar memegang bahu Irya.


"Lo cepet sadar Ir, gue janji nanti setelah Lo sadar gue yang akan urus masalah Lo. Gue mohon berhenti melakukan hal-hal yang sia-sia keluarga Lo nggak bakal lihat Elo. Jadilah orang yang bisa nyenengin diri sendiri tapi dengan cara yang positif Ir." Tak terasa air mata Danar menetes. Kehidupan sahabatnya benar-benar menyedihkan. Harta dan fisik yang hampir sempurna tapi berbanding terbalik dengan kehidupan nya yang kering akan kasih sayang dan perhatian.


Memang hidup tidak pernah bisa lengkap dengan sempurna. Pasti akan ada yang kurang, sebagai manusia hanya bisa berusaha melengkapi kekurangan yang kita miliki meski tidak akan pernah bisa.


Cara Irya untuk mencari kebahagiaan nya selalu salah dan selalu berbuntut kesialan bagi nya. Tetapi pria itu tetap saja terus melakukan nya seakan tidak pernah kapok dan takut. Irya hanya butuh orang yang bisa mendukung, memperhatikan dan menuntun nya ke jalan yang lurus saja.


Fokus pada lamunan nya akan nasib dan takdir Irya yang miris. Lamunan itu buyar oleh gerakan tipis di bahu Irya.


"Ir Lo udah sadar ? Bentar gue panggil dokter." Danar beranjak memanggil dokter untuk memeriksa Irya.

__ADS_1


Setelah memeriksakan keadaan Irya. "Syukurlah pasien sudah sadar, tapi masih tetap harus disini untuk perawatan nya karena luka kepala yang cukup parah." Ucap dokter pada Danar dan salah satu petugas tahanan.


"Baik dokter terimakasih." Ucap petugas tahanan. Dokter pamit undur diri meninggalkan kamar rawat inap Irya dan Bagas.


"Pak, saya masih diperbolehkan menjaga Irya ?" Tanya Danar pada petugas tahanan.


"Boleh silahkan. Saya keluar dulu." Ucap petugas tahanan.


Danar mendekati Irya yang sudah tersadar. "Apa yang Lo rasain sekarang ?" Tanya Danar pada Irya.


"Kepala gue sakit, pusing dan."


"Apa yang terjadi sampai Lo bisa masuk rumah sakit kaya gini ?"


"Gue cuma nolongin teman satu sel gue, dia di hajar habis-habisan sama tahanan lain. Pas gue lihat dia mau nimpuk temen sel gue, gue hadang pake badan gue. Nggak tahu kepala gue kali yang kena." Cerita Irya suara nya masih lemah tapi tetap dengan santai dia bercerita.


"Kenapa Lo selalu ngelakuin hal-hal konyol yang ngerugiin diri Lo sendiri sih ?"


"Lo nggak tahu rasanya diabaikan saat diri Lo udah bener-bener susah. Nggak ada yang perduli, nggak ada yang nolongin. Gue setiap saat ngerasain itu Dan. Nggak ada yang nolongin dan perduli sama keadaan dia yang udah sekarat, gue ngelakuin itu karena gue tahu rasanya kaya gimana." Irya menerawang menatap langit-langit kamar rawat nya.


Bayangan kehidupan nya yang terabaikan oleh orang-orang disekitar nya selalu bisa diputar berulang-ulang kali oleh Irya. Dadanya sesak seperti terhimpit runtuhan batu besar. Sekuat hati menahan agar tak meratapi kemirisan hidupnya. Sebagai laki-laki Irya tak ingin terus merengek dan menangis. Tidak mau dianggap lemah oleh siapapun.


"Lo jangan bilang siapa-siapa kalau gue ada disini. Jangan bilang ke keluarga gue, karena akan sia-sia buat gue. Justru bakal memperberat kehidupan gue di lapas. Terutama jangan bilang ke ibu Jenab gue nggak mau buat dia sedih. Gue udah bilang sama dia kalau gue baik-baik aja." Ucapan Irya mampu membuat Danar berhenti dari keterdiaman nya.


"Gue bakal bantuin Lo nanti, tapi Lo harus sabar gue nggak bisa cepet buat ngeluarin Lo dari sel." Ucap Danar dengan yakin.


"Thanks Dan tapi gue rasa nggak perlu, gue lebih nyaman tinggal di sel banyak temen gue disana." Ucap Irya tersenyum tipis senyum miris tepat nya.


Bahkan Irya lebih betah tinggal di sel daripada di rumah nya sendiri yang seperti neraka untuk Irya. Setidak nya di sel masih ada teman-teman nya yang saling memperhatikan satu sama lain.


...----------------...


Jangan Lupa VOTE !!!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.

__ADS_1


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2