
Di dalam ruang rawat nya Irya berbaring, tiba-tiba teringat dengan apa yang baru saja dilihat nya kemarin. Merasa bosan di dalam kamar karena tidak ada yang menemani. Rony dan kawan-kawan sudah berpamitan pulang. Irya meminta bantuan suster untuk menemani nya berkeliling rumah sakit menggunakan kursi roda.
Meski sudah dilarang oleh perawat, Irya tetap memaksa. Bahkan dengan rayuan maut nya suster perawat itu akhirnya luluh dan dengan senang hati membantu dan menemani Irya jalan-jalan.
"Udah gue bilang kan nggak mungkin mereka sahabatan pasti ada yang lebih di antara mereka." Gumam Irya lirih.
"Eh... ck... ngapain sih gue mikirin mereka." Irya menggerutu mengenyahkan pikiran konyolnya saat ini.
"Ponsel gue mana ya ? Bosen banget gue disini. Mana sendirian lagi."
"Coba ada keluarga gue yang perduli sama gue pasti hidup gue bakal bahagia banget." Mata Irya berkaca-kaca.
Sejenak kemudian Irya menggelengkan kepala nya mengusir pikiran yang akan menyesakan dada nya. Lebih baik dia tidur saja untuk mengenyahkan pikiran konyol nya.
Baru saja akan memejamkan mata, pintu kamar nya terbuka. Seorang perempatan datang dengan pakaian seksi nya. Siapa lagi kalau bukan Agnes. Kekasih Irya yang satu itu lebih dominan daripada yang lain.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu hem ?" Tanya Agnes dengan lembut.
"Agnes.." Gumam Irya.
Agnes datang langsung mencium bibir Irya dengan lembut. Irya tak merespon hanya diam menerima saja.
"Sayang, kok kamu bisa kecelakaan sih. Sedih tahu lihat kamu banyak luka kayak gini." Mimik muka sedih Agnes tunjukkan pada Irya.
"Aow...sshhh....sayang tangan aku sakit. Jangan di pegang dulu ya." Ucap Irya meringis luka nya tersenggol oleh Agnes yang bergelayut manja.
Berlebihan memang sikap manja Agnes pada Irya. Terkadang Irya merasa risih dengan sikap manja kekasih nya yang berlebihan. Masih bertahan karena belum ada rasa bosan yang mendera pada Irya untuk menjalin hubungan dengan Agnes.
"Eh... maaf sayang aku nggak sengaja." Sesal Agnes.
"Sayang, kamu sudah makan ? Aku suapin kamu ya."
"Aku sudah makan tadi yank." Ucap Irya.
"Em gitu. Yank kapan kamu boleh pulang dari rumah sakit ? Kamu cepet sembuh dong yank, biar kita bisa jalan-jalan lagi."
"Doain aja yank biar cepet sembuh. Aku ngantuk mau tidur dulu ya yank." Mata Irya memang sedikit mengantuk sudah siap memejamkan mata Agnes datang mengunjungi nya.
"Iya sayang kamu tidur aja biar aku yang jagain kamu disini." Agnes tersenyum mengusap lembut pipi Irya.
Irya akhirnya memejamkan mata nya, menurut rasa kantuk nya. Sebenarnya setelah jalan-jalan bersama suster perawat tadi Irya sudah memakan obat nya, dan obat itu mengandung obat tidur yang bisa membuat pasien tertidur untuk berisitirahat.
Lama Irya tertidur, Agnes pun lama-lama bosan menunggu Irya yang tertidur lelap. Mau meninggalkan nya pulang tapi rasanya tidak enak hati. Jadi, Agnes berjalan keluar sebentar untuk membeli kopi di kantin rumah sakit.
Menunggu pesanan dibuat, Agnes duduk di bangku kantin dengan memainkan ponsel nya.
__ADS_1
"Hai....maaf boleh aku duduk disini ?" Tanya seseorang yang tidak dikenal oleh Agnes. Menatap orang itu, seorang pria tampan duduk di depan nya. Mata Agnes terhipnotis untuk terus menatap. 'Gila ganteng juga nih cowok.' gumam Agnes dalam hati.
"Oh iya boleh kok silahkan." Ucap Agnes tersenyum. Senyum yang sengaja sekali dibuat semanis mungkin.
"Kamu mau makan juga di sini ?" Tanya pria itu.
"Ah enggak aku beli kopi aja. Mas nya mau makan ?" Tanya Agnes.
"Enggak juga... mau beli kopi juga. Ngantuk soal nya." Jawab Pria itu. Agnes mengangguk.
Tak lama kopi pesanan Agnes sudah jadi. Agnes membayar kopi nya dan segera pergi.
"Mari mas duluan." Pamit Agnes tersenyum. "Oh iya hati-hati." Balas pria itu.
Agnes kembali lagi ke kamar rawat Irya. Saat masuk ternyata di dalam kamar sudah ada Danar dan Anin. Pasangan kekasih itu menatap kedatangan Agnes. Irya masih tertidur akibat pengaruh obat nya.
"Lo disini juga ?" Tanya Danar pada Agnes.
"Iya tadi gue keluar sebentar beli kopi."
"Pantesan ada tas cewek di sini. Udah dari tadi Lo ?"
"Lumayan sih dua setengah jam yang lalu sebelum Irya tidur." Ucap Agnes menyeruput kopi nya dengan santai. Bahkan wanita itu tidak menawarkan pada Danar maupun Anin.
"Kalau Lo mau pulang, pulang aja nggak apa-apa biar gue sama cewek gue yang jaga Irya." Secara tidak langsung Danar mengusir Agnes dengan lembut. Danar tahu Anin tak terlalu menyukai Agnes, tidak ingin suasana hati Anin tidak nyaman jadi mau tak mau Danar berusaha agar dalam satu ruangan tidak ada Agnes dan Anin secara bersamaan.
"Oh ya udah kebetulan gue juga ada janji sama temen gue hari ini. Agnes mengambil tas nya yang ada di sofa ruang rawat Irya.
"Gue pergi dulu Dan." Pamit Agnes pada Anin.
Agnes tak berpamitan pada Anin karena dia juga tak terlalu menyukai Anin. Agnes adalah teman dari mantan Danar jadi hubungan kedua perempuan itu tidak lah baik. Anin tidak menyukai Agnes karena sikap sombong dan sembrono nya.
Saat keluar ruang rawat Irya, Agnes kembali bertemu dengan pria yang berada di kantin tadi. "Eh kita ketemu lagi." Ucap pria itu tersenyum.
"Oh iya mas hehe." Ucap Agnes tersenyum malu-malu. Seperti nya Agnes memiliki ketertarikan pada pria di hadapannya itu.
"Mau kemana mbak cantik. ?"
"Em.. ma mu pulang. Mas nya ?" Tanya Agnes.
"Mau jenguk temen. Oh iya boleh kenalan ?" Tanya Pria itu dan diangguki setuju oleh Agnes. Tanpa aba-aba Agnes mengulurkan tangannya. "Agnes..."
"Agnes... nama mu kaya artis sama cantik nya. Aku Hamka." Pria itu adalah Hamka sepupu Danar sekaligus manager Cafe de'Maha yang ikut menjenguk Irya.
"Hehe mas nya bisa aja. Ya sudah aku duluan ya." Ucap Agnes dalam hati nya merasa sebagai diajak berkenalan oleh pria tampan dihadapan nya. Meski ketampanan nya hampir sama dengan Irya. Beda nya Irya lebih terlihat Maco dibandingkan dengan Hamka.
__ADS_1
Agnes sudah berpamitan tapi tangan nya masih di genggam erat oleh Hamka. "Mas bisa dilepas dulu tangan nya." Agnes tersenyum.
"Bisa setelah dapat nomor ponsel mu." Ucap Hamka. Trik dari Hamka untuk mendapatkan nomor ponsel Agnes. Agnes semakin tersenyum lebar.
"Berikan ponsel mu." ucap Agnes. Tanpa melepaskan genggaman tangan nya Hamka mengambil ponsel nya dan diberikan kepada Agnes. "Lepas dulu, aku nggak bisa ketik nomor nya."
Melepaskan tangan Agnes dan memperhatikan wajah cantik serta tubuh seksi Agnes. Ponsel Agnes bergetar saat satu panggilan masuk ke dalam ponselnya. Agnes menghubungi nomor nya sendiri menggunakan nomor ponsel Hamka.
"Ini ponsel mu. Aku pulang dulu mas Hamka." Pamit Agnes.
"Hati-hati mbak Agnes yang cantik." Hamka menggombal yang membuat Agnes tersenyum menahan malu.
Melihat Agnes berlalu, Hamka menggelengkan kepalanya. Tubuh bagian belakang yang terlihat menggoda iman cetek Hamka. "Gila bohai bener tuh cewek." Gumam Hamka. Tersenyum senang saat mendapatkan kenalan perempuan cantik di rumah sakit.
"Nggak sia-sia gue jenguk orang sakit. Memang berkah kalau niat baik mah." Ucap Hamka tersenyum senang.
Hamka melanjutkan perjalanannya menuju kamar rawat Irya. Pintu yang tidak tertutup rapat dibuka oleh Hamka tanpa suara. Kembali kepala digelengkan nya melihat Danar dan Anin.
Pasangan itu terlihat mesra saat menjaga Irya yang tengah tertidur lelap. Sikap lembut Danar, yang pintar memanjakan Anin membuat siapa saja akan iri.
"Nggak bisa sekali aja jaga jarak satu meter gitu. Nemplok mulu kalian berdua." Ucap Hamka jengah melihat kemesraan sepupunya dan Anin.
"Ck... sirik aja Lo. Maka nya cari pacar sana. Jangan kaya teh celup doang." Sindir Danar yang langsung mengena bagi Hamka.
"Cari yang kalem kaya cewek Lo belum nemu." Ucap Hamka santai.
"Jangan bilang Lo suka sama cewek gue." Danar melotot ke arah Hamka.
"Lah emang gue bilang suka sama cewek Lo. Gue kan bilang yang kalem kaya cewek Lo. Maksudnya yang sifatnya kalem nggak neko-neko."
"Yank, udah sih nggak usah ribut. Irya lagi tidur nanti kebangun gara-gara kalian." Anin mengingatkan kekasihnya. "Iya...iya... yank.. maaf." Ucap Danar.
"Hilih... sama Anin Lo langsung kicep kaya bekicot langsung mendelep. Calon suami takut istri mah begini modelan nya." Cibir Hamka.
"Berisik Lo... Dasar jomblo teh celup. Lihat aja Lo nanti kalau dapet yang kalem-kalem. Lo bakalan kaya kepompong yang harus di kasih abab baru keluar." Ucap Danar sinis. Hamka mendelik mendengarkan ucapan Danar.
Anin hanya mampu menggelengkan kepala, jika kekasih dan sepupunya itu berdebat kecil seperti sekarang.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏