
Mobil Broto sudah melaju meninggalkan sekolah Irya. Di dalam mobil tidak ada pembicaraan apapun terasa hening. Suci fokus dengan ponsel nya mengurusi pekerjaan yang ditinggalkannya. Broto fokus pada jalanan di depan nya. Irya memandang arah luar melalui kaca jendela sampingnya. Tatapan nya kosong, pikiran nya masih menerawang bagaimana reaksi Papa nya nanti.
Berhenti dijalan sepi, Broto rasanya sudah sedari tadi menahan emosi nya. Suci menatap suaminya saat mobil berhenti melaju. Irya pun sama mengalihkan pandangannya dari luar ke arah Papa nya tapi hanya sejenak pandangannya kembali lagi menoleh arah luar.
"Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Broto dengan suara rendah namun tetap tegas. Irya hanya diam menatap luar, Suci masih menatap suaminya.
"Apa kamu tuli Irya ? Apa yang kamu lakukan !!" Suara Broto kini meningkat satu oktaf. Suci langsung menatap tajam ke arah Irya.
"Apa peduli Papa dengan apa yang ku lakukan." Irya menjawab dengan suara datarnya. Arah tatapan mata nya masih tertuju ke arah luar. Pepohonan dan daun-daun hijau itu tampak nya lebih menarik bagi Irya ketimbang menatap kedua orang tua nya.
"Anak bodoh !! Sampai kapan kamu akan mempermalukan ku dengan kelakuan -kelakuan mu itu." Broto menggebrak kaca jendela mobil nya yang masih tertutup. Suci terkejut dengan aksi suaminya, matanya terpejam bersamaan dengan suara gebrakan degub jantung nya berdetak cepat akibat merasa kaget.
Suci mencoba menenangkan suami nya dengan mengusap lembut lengan dan pundak Broto. "Irya apa kamu tidak memikirkan kelakuan kamu itu yang selalu membuat kami malu." Suci turut membuka suara dengan masih mengusap pundak suaminya. Seakan membela dan membenarkan apa yang Broto katakan.
Rahang Irya mengeras mendengarnya ucapan kedua orang tua nya. Hati nya menahan rasa yang tidak bisa diungkapkan. Mata nya berkaca-kaca tapi sebisa mungkin Irya menghilangkan itu dengan mengedip-ngedipkan mata nya.
"Apa yang bisa saya banggakan dari kamu. Anak bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya menyusahkan ku saja."
Kreesss...
Tergores kembali hati Irya mendengar ucapan Broto. Tangan kanan nya sudah terkepal dibalik tas yang menutupi tangan kanannya. Dadanya terasa sesak saat ini. Irya tak menjawab sepatah katapun dari ucapan Papa nya.
"Kamu sudah besar harus nya bisa pakai otak kamu untuk berfikir Irya. Setidaknya bergunalah sedikit untuk kami yang sudah susah payah membesarkan mu." Ucap Mama Suci.
Belum cukup goresan itu ditorehkan oleh Broto kini Suci kembali menyiram goresan itu dengan air jeruk dan garam bertambah sakit hati Irya saat ini.
"Iya aku memang tidak pernah berguna bagi kalian. Aku memang tidak pernah bisa membuat kalian bangga. Lalu untuk apa kalian masih mengurusi ku ? Jika tidak ingin malu seharusnya kalian tidak perlu datang ke sekolah." Ucap Irya yang sudah tidak tahan akan rasa diam nya, mengeluarkan secuil isi hatinya kepada Broto dan Suci.
__ADS_1
Irya membuka pintu lalu keluar dari mobil yang ditumpangi nya. Geram dengan sikap Irya yang dirasa tidak sopan Broto pun ikut keluar dari mobil.
"Anak tidak punya sopan santun. Tidak tahu di untung kamu !!! Menyesal aku membesar mu !!"
Jleb...
Satu kalimat yang sangat amat membuat hati Irya yang telah terluka dan masih menganga tertusuk kembali oleh bara api. Terasa panas dan perih yang Irya rasakan. Langkah nya terhenti saat Broto mengatakan itu.
Wajah datar Irya tersenyum miris. Broto berjalan mendekat Irya dengan langkah cepat membalikkan tubuh Irya dengan keras.
Plak...!!!
Tamparan keras dilayangkan pada pipi Irya yang kemarin sempat terluka akibat aksi tawuran. Bibir nya kembali mengeluarkan darah, sudut bibir itu kembali terluka. Wajah Irya yang terpaling akibat tamparan perlahan kembali menghadap Broto. Menatap Broto dengan senyum miring yang sangat tipis.
"Apa yang Papa lakukan ?" Tanya Irya menahan luka. Mata nya sudah memerah menahan sekuat mungkin agar tak menangis, agar tak terlihat lemah.
Suci hanya bisa melihat aksi Broto terhadap Irya. Dirinya pun sama malu nya dengan Broto atas tingkah laku Irya yang sering membuat masalah. Bahkan pekerjaan nya sering terbengkalai akibat ulah Irya.
"Jika Papa masih tidak puas, Papa bunuh saja aku biar aku pergi selamanya jadi Papa tidak perlu merasa malu karena memiliki anak seperti ku." Ucap Irya yang sudah tidak bisa menahan emosi nya. Setiap kalimat yang diucapkan Broto selalu menancap dalam hatinya.
Plak...!! Tamparan kedua dari Broto kembali mengenai pipi Irya yang masih terasa panas. Kembali Broto ingin melayangkan pukulan pada Irya tapi anak itu masih bisa menahan tangan Papa nya. Suci yang melihat kondisi akan memburuk jika dibiarkan maka wanita paruh baya itu berlari memisahkan Irya dan suaminya.
"Kamu memang anak yang tidak tahu sopan santun Irya. Pada Papa mu saja kamu berani." Ucap Suci menatap tajam ke arah Irya. Apa maksud dari wanita itu adalah Irya harus suka rela menerima setiap pukulan dari Broto.
Semenjak SMP Broto sudah mulai berani memberikan hukuman pada Irya dengan pukulan demi pukulan hingga Irya beranjak besar bahkan kedua nya sempat beberapa kali duel adu jotos.
Irya tak menjawab ucapan Suci, bagi Irya suci tetaplah Mama nya meski Suci juga kerap menyayat hati nya dengan perkataan pedas nya Irya tidak melawan terhadap Suci. Tapi dengan Broto dia masih bisa melawan sikap Broto yang lebih keras lah yang terpaksa membuat Irya melawan.
__ADS_1
Suci sudah berhasil membawa Broto masuk ke dalam mobil dan keduanya meninggal Irya begitu saja di jalan sepi itu. Menatap kosong pada mobil yang melaju kencang meninggalkan Irya.
Irya membanting tas nya ke jalanan dan terduduk di pinggir jalan. Wajahnya dibenamkan pada kedua tangan nya yang bertumpu pada kedua lutut nya yang tertekuk. Air mata nya sudah tak bisa ditahan lagi, Irya menangis meluapkan sesak dalam dadanya. Tak lagi diperdulikan nya jalanan itu, lagi pula jalan itu jalan sepi dan kosong. Jarang sekali orang yang lewat, karena jalanan itu hanya jalan pintas bukan jalan utama.
Dari kejauhan sedari tadi seseorang melihat pertengkaran kedua orang tersebut. Merasa tidak enak dan takut jadi orang itu bersembunyi di balik pohon yang cukup besar mencoba memperhatikan apabila terjadi sesuatu nantinya dia bisa mencari bantuan.
Orang itu perlahan mendekati Irya yang tengah duduk dengan wajah terbenam. Suara tangis lirih terdengar pilu. Jarang sekali seorang pria sampai menangis seperti itu. Orang itu meringis mendengar nya dan ragu untuk menyapa atau sekedar menanyakan keadaan Irya. Tapi dia mencoba untuk memberanikan diri menyentuh bahu Irya.
Irya tersentak kaget saat ada seseorang yang menyentuh bahunya dari belakang. Mengingat jalanan yang sangat sepi spontan dia menoleh ke belakang.
"Lo.. Lo ngapain disini." Tanya Irya datar saat melihat siapa orang itu. Dia adalah Nesha yang sedari tadi mendengar dan melihat pertengkaran keluarga. Di dekat jalan itu terdapat danau dan rumah pohon yang sering Nesha kunjungi bersama Angga. Saat akan kembali Nesha tak sengaja melihat pertengkaran Irya.
"Aku ? Dari danau di sana. Kamu nggak apa-apa ?" Tanya Nesha pelan dan hati-hati karena tahu kondisi perasaan Irya yang tak baik-baik saja.
"Nggak gue nggak apa-apa." Ucap Irya ketus. Dia tak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun termasuk Nesha. Bahkan saat ini mungkin dirinya malu karena Nesha sempat melihat nya terpuruk dipinggir jalan.
"Yakin nggak apa-apa ?" Tanya ulang Nesha pada Irya. Nesha tersenyum tipis melihat tingkah Irya.
Pertanyaan konyol Nesha yang sudah jelas-jelas melihat keadaan Irya seperti apa dan kini pria itu justru menjawab dengan ketus seakan-akan dia baik-baik saja.
...----------------...
Jangan lupa Vote !!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏