
Saat bibi Jenab sibuk menyiapkan makanan. Irya teringat jika kamar nya belum dikunci nya. Kembali lagi naik ke lantai 2 tepat menuju kamarnya. Dari luar Irya melihat Cindy, gadis itu memegang boneka Barbie yang masih berada di atas ranjang Irya.
Wajah sedih itu kembali menempel pada wajah Irya. Kenangan perih itu kenapa tidak bisa hilang begitu saja. Tidak bisa dipungkiri, meski Cindy tak berperilaku baik padanya, sejak dulu Irya menyayangi adiknya. Irya memalingkan muka saat Cindy kembali membuang boneka itu di atas ranjang.
Saat Cindy mulai melangkah menuju lemari. Irya buru-buru menghentikan langkahnya nya. Terjadi sedikit perdebatan diantara mereka, Cindy tak bisa berkutik dalam perdebatan kecil itu. Melangkah pergi saat Irya kembali mengusir nya.
Menghela nafas Irya sebelum mengunci kamar nya. "Kalau Lo tahu sebenci-benci nya gue sama Lo. Gue tetep sayang sama Lo, cuma gue benci sikap Lo." Bisik Irya dalam hati nya.
Kembali ke dapur makanan telah siap di atas meja. Irya tersenyum senang dan semangat untuk mendekati meja makan. Pria itu makan dengan lahap masakan Bibi Jenab.
"Bu, masakan ibu enak banget, juara pokoknya." Ucap Irya tersenyum bahagia.
"Aden bisa aja, dihabiskan den." Ucap bibi Jenab senang melihat nafsu makan Irya yang lahap sekali.
Selesai makan Irya mengecek ponsel nya. Informasi dari Rony seputar waktu di mulai nya pertandingan balap nanti malam.
"Ibu, Irya pergi dulu ya, nginep di rumah temen Irya." Irya berpamitan pada bibi Jenab, mencium punggung tangan ibu nya.
"Iya hati-hati den."
Melangkah keluar rumah menggunakan motor kesayangan nya. Meski ada mobil di sana tapi Irya lebih senang menggunakan motor nya. Jaket Hoodie warna hijau army celana jeans hitam dan sepatu hitam melengkapi penampilan Irya. Helm full face dan motor sport nya semakin menambah pesona Irya.
Memacu laju motornya menuju apartemen Danar, tak butuh waktu lama karena kecepatan yang tinggi membuat nya cepat sampai. Naik ke lantai apartemen Irya dan langsung masuk saja. Tapi ternyata apartemen itu kosong, mungkin Danar sedang kuliah atau sedang berada di Cafe.
Bosan berada di apartemen Danar, Irya memutuskan untuk ke cafe milik Danar saja. Disana dirinya bisa mengobrol bersama Hamka atau juga Danar si bos pemula itu ada di sana.
Baru saja sampai di cafe, dan masuk melalui pintu samping khusus karyawan. Irya sudah di suguhkan pemandangan yang tak disukainya. Shintya yang dengan perilaku bossy nya mendorong bahu Nesha dari belakang.
"Lo tuh lelet banget sih kerja nya. Bisa kerja nggak." Bentak Shintya pada Nesha.
"Kak, di depan rame banget, aku harus antar makanan satu-satu. Nggak bisa buru-buru kalau buru-buru nanti, makanan berantakan semua." Ucap Nesha memberikan penjelasan.
"Helehh....alasan aja Lo. Bilang aja males Lo kerja." Shintya menunjuk-nunjuk wajah Nesha.
"Kak, daripada kakak nyalah-nyalahin aku mending kakak bantuin aku sama yang lain. Lagian selama ini kakak cuma banyak ongkang-ongkang kaki doang kan." Ucap Nesha yang mulai berani menjawab ucapan Shintya.
"Lo berani sekarang sama gue huh ?!!" Shintya sudah mengangkat tangannya untuk melayangkan ke pipi Nesha. Nesha sudah mulai memalingkan muka nya dan memejamkan mata.
__ADS_1
"Kondisikan tangan Lo." Tiba-tiba terdengar suara yang membuat Nesha kembali membuka matanya. Terkejut lelaki yang dibencinya datang membantunya.
"Lepasin tangan gue. Siapa Lo berani-beraninya sama gue huh ?" Shintya masih saja angkuh dan menantang. Selama ini memang Shintya tidak pernah melihat wajah irya dengan jelas karena Irya jarang sekali berkunjung di cafe Danar. Saat berkunjung pun selalu menggunakan topi. Irya salah satu pria yang hobi memakai topi.
"Lo nggak perlu tahu siapa gue, gue nggak berniat kenalan sama cewek macam Lo." Irya menghempas cengkeraman erat nya pada lengan Shintya. Lalu pergi begitu saja menuju ruangan Danar.
"Bisa-bisanya Danar punya pegawai kaya gitu." Gumam Irya lirih berjalan menuju ruangan Danar.
Saat membuka pintu ternyata benar Danar ada di dalam bersama Anin. Sepasang kekasih itu langsung menoleh melihat siapa yang datang.
"Lo kesini nggak kasih tahu gue Ir ?" Tanya Danar.
"Tadi gue ke apartemen Lo nggak ada, terus gue kesini." Irya duduk di sofa.
"Dan, kenapa Lo punya pegawai bar-bar banget sih ?" Tanya Irya
"Maksud Lo ?" Tanya Danar mengerutkan kening.
"Pegawai Lo yang kepala nya lumutan, cantik sih tapi bar-bar banget. Masa Lo nggak tahu sih punya pegawai modelan nya begitu."
"Shintya maksud Irya." Ucap Anin yang masih melihat wajah bingung kekasih nya.
"Masa sih ? tapi kok Hamka nggak pernah ada laporan sama aku ya yank ? Berarti sama kamu juga dong dia kasar nya." Wajar saja Danar tidak tahu karena semua yang ada di cafe ini lebih banyak di handel oleh Hamka termasuk urusan karyawan Hamka yang mengawasi. Danar lebih sibuk kuliah.
"Iya sama aku juga kasar, sebelum nya sama Nesha juga. Aku masih bisa ngelawan sih cuma kalau Nesha sumpah yank dia sabar banget sama tingkah si Shintya." Keluh Anin pada kekasihnya berharap Danar bisa segera menindaklanjuti sikap Shintya.
Irya mendengarkan cerita Anin mengenai sikap Shintya. "Gue heran kenapa pegawai begitu masih dipertahankan kasihan sama pegawai Lo yang lain Dan." Ucap Irya.
"Nanti coba gue tanya ke Hamka, soal nya semua urusan karyawan dia yang urus." Ucap Danar.
Mereka berbincang hingga malam, Anin sudah melanjutkan pekerjaan nya hingga waktu kerja nya selesai Anin pulang bersama Nesha. Sedangkan Danar dan Irya masih di cafe, karena cafe tutup 2 jam lagi setelah kepulangan Anin dan Nesha.
"Dan, gue pergi dulu ya ada janji sama anak-anak diluar. Temen SMA gue." Pamit Irya.
"Ya udah Lo hati-hati, gue masih disini tunggu Hamka. Mau ngurusin masalah karyawan tadi siang." Irya setelah pamit langsung pergi menuju tempat pertandingan.
Danar menunggu Hamka tapi sepupu nya itu tak kunjung datang. Padahal jam tutup cafe sudah 30 menit yang lalu. Danar turun ke bawah mengecek keadaan Cafe. Ruangan sudah tampak sepi dan gelap. Dapur pun sudah kosong. Danar menuju ruangan Hamka yang memang khusus untuk manager Cafe. Mendekati ruangan Danar mendengar suara perempuan di dalam ruangan Hamka. Tidak jadi masuk tapi Danar mencoba mencuri dengar dari luar ruangan, pintu itu sedikit di dorong oleh Danar agar bisa semakin jelas mendengar apa yang di bicarakan.
__ADS_1
"Shintya harus nya kamu nggak perlu kasar-kasar sama karyawan yang lain. Apalagi sama yang masih baru." Ucap Hamka mengingatkan dan memberikan pengertian.
"Ck... aku kasar gimana sih sayang. Lagian mereka aja kalau kerja lelet banget nggak ada yang bener. Kamu marah sama aku sayang ?" Tanya Shintya bergelayut manja pada lengan Hamka.
"Aku bisa aja laporin kamu ke Danar kalau kamu keterlaluan Shintya. Urusan karyawan itu tanggung jawab aku. Kalau ada apa-apa sama karyawan yang lain aku yang repot." Ucap Hamka kesal Shintya tak mau mengerti dan mendengarkan nya.
"Sayang kok kamu tega sih. Kalau aku nggak ada disini yang bakal servis ini siapa ?" Tanya Shintya menggoda Hamka. Tangan nya mulai nakal meremas adik kecil Hamka. Pria itu mendesis memejamkan mata.
"Shintya..." Panggil Hamka menahan diri.
"Apa sayang ? Oops... baru di sentuh aja udah bangun." Shintya tersenyum menggoda. Hamka menahan dirinya agar tak kalap didepan Shintya. Wanita itu memang selalu menggoda Hamka disaat-saat tertentu.
"Aku bantu kamu, kamu bantu aku seperti biasa sayang." Kalimat yang selalu digunakan Shintya agar tidak dipecat dari pekerjaannya.
Tangan Shintya sudah mengarahkan tangan Hamka untuk menyentuh dadanya. Tanpa menunggu Shintya mencium bibir Hamka dan **********. Hamka mendorong Shintya. "Shintya, kamu selalu saja berhasil menggoda ku. Untuk kesekian kali jangan salahkan aku jika ini terjadi." Shintya sudah di dorong Hamka ke lantai yang beralaskan karpet bulu. Memberikan bantal sofa pada kepala Shintya.
Tak tahan pertahanan Hamka selalu runtuh saat Shintya menggoda nya. Disingkap kaos seragam Shintya terlihat mulus gumpalan daging itu. Bermain disana hingga puas, bahkan meninggalkan jejak kemerahan di gumpalan putih mulus itu.
"Aahh... Masukin sayang." Pinta Shintya yang sudah tidak tahan.
"On the way sayang." Ucap Hamka terburu-buru melepas celana panjang nya dan Shintya.
"Udah basah, aku masuk ya." Shinto mengangguk cepat. "Aahh... enak..." Desah Shintya.
"Aku cepetin ya kaya biasa ya sayang." Sudah jelas dan pasti Shintya tidak akan menolak apa yang Hamka lakukan padanya.
Shintya sangat menikmatinya, di memiliki dua keuntungan pertama bisa bertahan di cafe de'Maha dan yang kedua mendapatkan sentuhan yang memabukkan dari Hamka. Pria tampan dan gagah perkasa. Sedangkan Hamka sebagai laki-laki tentu saja senang mendapatkan kesenangan secara cuma-cuma. Bahkan bukan dirinya yang meminta tapi justru dirinya yang mendapatkan tawaran.
Sedangkan Danar yang berada di luar ruangan Hamka mengumpat dalam hati karena mendengar dan melihat surga dunia tanpa bisa merasakan nya.
"Sialan si Hamka, gue tungguin malah main kodok-kodok an disini." Gerutu Danar dalam hati. Tak tahan melihat hal itu yang bisa jadi akan menggoda iman nya, Danar pergi dari tempat itu dan memilih pulang ke apartemen. Besok dia akan menyidang Hamka habis-habisan atas kejadian ini.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
__ADS_1
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏